Pagi datang menyapa. Kalila merasa kepalanya sedikit pusing akibat tidak bisa tidur dengan nyaman dan nyenyak. Dengan kepala sedikit berputar, usai mandi dia duduk tenang di dekat jendela dengan secangkir teh sereh yang dia buat sendiri.
Dia membuka daftar kontak, scroll pelan, lalu berhenti di satu nama yang sudah lama tersimpan.
Pengacara yang biasa dia percaya untuk mengurus legalitas bisnis kateringnya. Kalila menatap nama itu selama beberapa saat. Jari-jarinya sudah tidak gemetar, tapi napasnya agak dalam. Akhirnya dia menekan tombol panggil.
Beberapa dering berlalu sebelum suara di seberang mengangkat.
"Selamat pagi, Bu Kalila. Ada yang bisa saya bantu untuk operasional studio?" tanya suara dari seberang telepon dengan sikap profesionalnya yang biasa.
“Pagi, Pak,” jawab Kalila singkat. Suaranya tenang dan mantap, “Bapak ingat waktu itu kita pernah diskusi tentang draf gugatan cerai? Saya ingin membicarakan sesuatu yang penting. Saya sudah memutuskan untuk mengajukan gugatan cerai. Saya butuh langkah awalnya dimulai hari ini juga, Pak.”
Ada jeda singkat di seberang.
“Baik. Saya mengerti. Kita bisa siapkan dokumen kuasa dan rancangan gugatan terlebih dahulu. Apakah Ibu sudah cukup yakin? Karena sekali proses ini berjalan, biasanya sulit ditarik kembali tanpa konsekuensi.”
Kalila menatap jendela, menjawab mantap, “saya yakin.”
Malah si pengacara yang menghela napas karena akan berhadapan dengan nama Syailendra. Sebagai pengacara yang matang, dia mengajukan beberapa pertanyaan singkat untuk memastikan kondisi mental dan kesiapan Kalila, sebelum akhirnya menjanjikan bahwa tim hukumnya akan segera menyiapkan berkas final draf dokumen awal siang ini.
Setelah menutup telepon, Kalila meletakkan ponselnya di atas meja. Dia hanya duduk diam memandang kejauhan. Tidak ada air mata yang jatuh membasahi pipinya yang pucat, tidak ada rintihan sepi yang meluncur dari bibirnya. Tidak juga ada penyesalan.
Hanya ada sebaris tarikan napas yang terasa agak berat dan dalam, sebuah tanda alami dari tubuhnya yang sadar bahwa langkah pertama perpisahan telah diambil dan anehnya, dia merasa mantap.
Tidak lama setelah sambungan telepon dengan pengacaranya terputus, layar ponsel Kalila kembali berkedip-kedip. Rentetan pesan singkat dari Keanu mulai masuk secara beruntun, merusak ketenangan pagi harinya.
Kalila membuka beberapa baris teks di bagian atas. Isinya masih sama, lagi-lagi permintaan untuk bicara berdua, tuduhan defensif yang menyalahkan Kalila karena dianggap “membesar-besarkan masalah remeh”, hingga sebaris kalimat egois yang menyinggung bahwa Dania ikut mengkhawatirkan kondisinya di rumah.
“Pulang, Kalila. Jangan kekanak-kanakan menuruti emosimu. Dania bahkan ikut menangis dan khawatir karena merasa bersalah padamu.”
Kalila menatap nanar pesan-pesan itu. Semula dia merasa biasa hingga kembali muncul nama Dania yang membuatnya mendesah lelah.
Cih, lagi-lagi Keanu lebih memikirkan Dania yang khawatir dibanding memikirkanku yang selama ini dia abaikan! Pikir Dania, kesal.
Kalila membaca bait kalimat itu dengan seulas senyuman yang teramat tipis dan hambar. Dia tidak membalas satu kata pun, bahkan sengaja membiarkan sisa pesan di urutan bawah tetap berada dalam kondisi tidak terbaca. Bahkan ketika panggilan masuk berkali-kali, dia hanya menatap layar sampai akhirnya berhenti.
Tekanan mental dan tuduhan yang dilemparkan Keanu lewat teks pagi ini tidak membuatnya goyah, malah menjadi bahan bakar yang membuatnya kian yakin bahwa melangkah keluar dari rumah Keanu adalah keputusan terbaik untuk menyelamatkan sisa kewarasannya.
*
Di sisi lain kota, Keanu melangkah bolak-balik di ruang kerjanya. Dia masih belum ke kantor demi menemani Dania agar tidak lagi terserang panic-attack. Wajahnya tegang. Setelah beberapa kali menelepon Kalila tanpa diangkat, dia mengeratkan rahang.
“Dia benar-benar tidak tahu diri,” gumamnya.
Di sofa, Dania duduk dengan selimut di pangkuan. Wajahnya terlihat khawatir.
“Keanu… jangan terlalu keras. Mungkin dia masih emosi,” kata Dania pelan.
Keanu mengusap wajahnya, lalu duduk di sampingnya, "Kalila benar-benar sudah keterlaluan, Dania," ucap Keanu dengan suara yang meninggi.
Keanu terdengar sangat defensif dan protektif terhadap dirinya sendiri, seolah-olah dia adalah pihak yang sedang diserang secara tidak adil. "Dia sengaja mematikan ponselnya untuk mengabaikanku. Kenapa sih, dia selalu membesar-besarkan masalah ini seolah-olah aku melakukan kesalahan besar padanya? Padahal aku hanya menepati janji pada mendiang Tanto!"
Dania menunduk, memegang ujung selimut, berkata lirih, “aku takut ikut andil jadi penyebabnya…”
“Bukan salahmu,” potong Keanu cepat. Suaranya otomatis melemah pada Dania, “kamu tidak salah.”
Sesungguhnya dalam hati, Keanu merasa khawatir. Wajah tampan keruhnya tidak mampu menutupi hal itu. Sepasang mata elangnya menatap nanar ke arah layar ponsel pintar di genggamannya. Pesan demi pesan yang dia kirimkan sejak berjam-jam lalu tidak mendapatkan respons sama sekali. Jangankan berbalas, pesan terakhirnya hanya menampilkan centang abu-abu saja, bahkan tidak berubah menjadi biru. Kalila benar-benar menutup pintu komunikasi dan mengabaikannya.
Di tempat yang berbeda, Julian sudah mendapatkan kabar bahwa Kalila resmi memulai langkah hukumnya pagi ini. Tapi, Julian tidak lantas tepuk tangan dan memanfaatkan situasi itu untuk datang berkunjung ke apartemen Kalila secara impulsif.
Dia sangat menghargai ruang privasi wanita yang jiwanya sedang terluka parah tersebut. Sebagai dokter konsultas psikosomatis sekaligus pria yang menghormati etika, dia memilih menahan diri dan menunggu waktu yang tepat.
Julian menerima pesan singkat dari Kalila. Isinya sudah dia duga sejak semalam bahwa Kalila sudah menghubungi pengacara.
Julian tidak membalas dengan pertanyaan panjang. Dia membalas sebagai seorang dokter, mengingatkan kesehatan Kalila.
“Pastikan suplemen nutrisimu dari rumah sakit sudah diminum setelah sarapan pagi ini, Kalila. Dan jangan biarkan lambungmu kosong. Fokuslah pada kesembuhanmu.”
Tidak lebih.
Secara elegan, Julian memberikan perlindungan dari jarak aman, tanpa sepeser pun tuntutan yang bisa memberatkan batin Kalila.
Sore harinya, Keanu sempat datang ke area apartemen. Dia berdiri di lobi dengan wajah tegang, mencoba meminta izin menemui Kalila, istrinya. Petugas keamanan menolak dengan sopan setelah mengecek instruksi bahwa Kalila tidak bersedia menemuinya. Keanu tidak berhasil naik.
Kalila tahu Keanu datang dari laporan singkat satpam melalui interkom. Dia hanya mengucapkan terima kasih dan tidak turun.
Sore harinya, saat semburat warna jingga mulai meredup di langit Jakarta, ponsel Kalila kembali bergetar. Kali ini, panggilan masuk dari pengacara. Kalila mengangkatnya dengan perlahan.
"Halo, Pak, bagaimana perkembangannya?" tanya Kalila.
Ada jeda dua detik yang menegangkan dari seberang telepon sebelum suara si pengacara terdengar jauh lebih serius dari biasanya. Sebuah informasi baru meluncur, membuat gerakan tangan Kalila yang sedang memegang gelas air putih langsung terhenti di udara.
“Bu Kalila, saya sudah mulai menyiapkan dokumen awal sesuai permintaan Ibu,” suara di seberang terdengar profesional, “tapi ada satu hal yang perlu Ibu ketahui. Sepertinya pihak suami sudah lebih dulu mencoba menghubungi beberapa rekan di lingkaran yang sama.”
Kalila terdiam.
Jari-jarinya yang memegang ponsel sedikit menegang, “begitu? Saya mengerti,” jawabnya akhirnya, suaranya tetap tenang, “lanjutkan saja prosesnya.”
Setelah panggilan berakhir, Kalila meletakkan ponsel di meja. Dia menyandarkan punggung ke sofa dan menatap langit-langit unit.
Baru beberapa detik kemudian kesadaran itu menyapanya, Keanu tidak pasrah.
Kalau pihak Keanu sudah bergerak lebih dulu, berarti proses ini tidak akan berjalan mulus. Gugatan yang dia mulai pagi tadi kemungkinan besar akan dipersengketakan. Akan ada jawaban sekaligus perlawanan dari Keanu.
Akan ada proses yang lebih panjang dari yang dia bayangkan saat menekan tombol panggil ke pengacaranya.
Kalila pejamkan matanya yang lelah.
Langkahnya memang baru saja dimulai, tapi Keanu ternyata sudah mulai menggunakan seluruh gurita kekuasaan finansial dan koneksi korporasinya untuk menjegal jalannya.
Kalila tahu, perjalanannya menuju kata cerai yang merdeka akan berjalan teramat berat. Keanu adalah pria angkuh yang tidak terbiasa kalah dan dengan status Syailendra Corp yang memegang kendali atas banyak sektor bisnis di kota ini, Keanu bisa dengan mudah menekan pengacara independennya, memersulit birokrasi persidangan, hingga mengancam kestabilan studio katering barunya agar Kalila kehabisan modal dan terpaksa merangkak pulang kembali kepadanya.
Dada Kalila terasa semakin berat. Hanya satu nama yang bisa membuat Keanu Syailendra tunduk, tapi dia hanya merasa tindakan itu tidak benar.