Julian masih berdiri mematung di lobi apartemen yang sunyi. Suara pintu kaca yang menutup setelah Keanu pergi menyisakan keheningan. Tadi dia sempat berpikir untuk kembali ke lantai lima belas tapi dia enyahkan pikiran itu.
Bukankah dia sendiri yang memeringatkan Keanu untuk tidak mengganggu Kalila?
Sementara di lantai atas, Kalila duduk bergeming di tepi sofa. Ruangan itu terlalu luas, sepi dan asing. Kalila merapatkan jaket milik Julian yang masih membungkus bahunya, menghidu aroma parfum maskulin samar yang tertinggal di sana, satu-satunya hal yang membuatnya merasa memijak bumi setelah badai di rumah sore tadi.
Bzzzt... Bzzzt...
Getaran ponsel Kalila kembali bergetar hebat. Nama Keanu muncul lagi, berkedip-kedip di layar tanpa tahu diri. Kalila hanya menatap layar itu dengan pandangan kosong. Rasa takut yang biasanya membuat dadanya berdebar panik kini telah menguap, digantikan oleh ketidakpedulian yang teramat dingin.
Dia membiarkan layar menyala sampai getaran itu berhenti. Tidak lama, terdengar notifikasi pesan masuk secara beruntun.
“Pulang, Kalila. Jangan buat ini lebih rumit.”
“Kita bicarakan baik-baik di rumah. Jangan kekanak-kanakan. Dania juga khawatir.”
“Jangan buat masalah ini menjadi lebih besar dan memermalukan keluarga.”
Kalila menatap nanar pop up pesan tapi tidak menitikkan air mata. Bukannya terhibur karena akhirnya Keanu menghubunginya, dia malah merasa kesal. Jemarinya bergerak tenang menekan tombol pengunci, membiarkan layar ponsel itu kembali gelap gulita. Dia meletakkan ponselnya jauh-jauh di ujung meja sudut. Ini menjadi batas tegas yang dia buat sendiri, malam ini, dia menolak untuk digiring kembali ke tempat yang membuatnya terhina.
Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar lagi. Kali ini panggilan masuk. Lagi-lagi dia hanya menatap nama itu sampai akhirnya berhenti. Lalu dia mematikan getaran, menyisakan mode senyap.
Julian akhirnya memilih untuk tidak naik. Sebagai seorang lelaki matang yang paham betul aturan kesopanan dan konsekuensi medis, dia tahu batasan jarak yang harus dijaga demi melindungi nama baik Kalila.
Julian merogoh ponselnya, mengetik sebaris pesan pendek yang sangat netral dan profesional.
“Makanan akan tiba dalam 20 menit. Istirahatlah. Hubungi aku jika diperlukan.”
Julian menekan tombol kirim, lalu memasukkan ponselnya ke saku jas kelabu. Dia tidak berdiri di lobi untuk menunggu balasan atau ucapan terima kasih dari Kalila. Langkah kaki tegapnya langsung bergerak melewati pintu kaca lobi, berjalan menuju pelataran parkir luar tempat mobil mewahnya berada. Sikap menahan diri yang dia lakukan itu demi menghormati Kalila dan statusnya, walau guratan di wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa cemas yang nyata.
Kalila mendengar bunyi denting pendek saat pesan Julian masuk. Dia membacanya, lalu tersenyum sangat tipis. Kalila berdiri dari sofa, menuju pintu depan, lalu memutar slot kunci ganda.
Kalila melangkah menuju balkon, menatap kerlap-kerlip lampu kota Jakarta yang berpendar di bawah langit malam. Di dalam kesunyian apartemen asing itu, Kalila mengambil sebuah keputusan besar dalam diamnya. Dia tidak akan pulang malam ini, dan dia juga tidak akan meminta Julian untuk kembali naik ke atas.
Kalila memilih untuk menenangkan diri dan berdiri di atas kakinya sendiri terlebih dahulu, meski hanya untuk beberapa jam ke depan.
Makanan datang, Kalila menyuapkan sup hangat itu ke dalam mulutnya dengan perlahan, memaksakan fisiknya untuk tetap bertahan tanpa perlu sandaran dari siapa pun.
*
Malam bergerak kian larut menembus sunyinya dini hari. Keanu yang kian frustrasi terus membombardir ponsel Kalila dengan rentetan panggilan telepon yang tidak kunjung tersambung.
Ponsel yang diposisikan jauh di ujung meja kembali menyala berkali-kali. Keanu menelepon dalam mode senyap. Layarnya menyala, mati, menyala lagi. Di sela-selanya, pesan baru masuk.
“Kalila, cukup sudah.”
“Kamu bikin aku kelihatan bodoh di depan Julian.”
“Pulang. Sekarang.”
Merasa letih oleh teror telepon dan pesan, Kalila akhirnya menekan tombol matikan daya pada ponselnya secara total. Menghapus seluruh jalur komunikasi dari Keanu.
Di sisi lain kota, mobil Julian akhirnya berhenti di pelataran rumah pribadinya. Dia tidak langsung mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Setelah membersihkan diri, Julian memilih duduk diam di balik meja ruang kerja pribadinya yang remang.
Lampu meja sengaja diturunkan intensitas cahayanya, menyisakan pendar redup yang menyinari folder medis Kalila yang tergeletak terbuka. Julian sesekali melirik ke arah ponselnya yang diletakkan di atas meja, bukan karena berharap menerima pesan balasan manis dari Kalila, melainkan untuk memastikan tidak ada kabar darurat medis yang masuk.
Keduanya terpisah oleh jarak kota yang jauh, sama-sama berada dalam kondisi tidak nyaman, tapi sama-sama memiliki kedewasaan yang kuat untuk menahan diri.
Tepat saat jarum jam dinding bergeser menunjukkan pukul empat subuh, Kalila yang sejak tadi tidak bisa tidur lelap, akhirnya menyalakan kembali ponselnya. Layar menyala, menampilkan puluhan panggilan tidak terjawab dari Keanu yang langsung dia abaikan.
Dia membuka percakapan dengan Julian. Jemari Kalila yang kini tampak tenang tanpa getaran tremor lagi, mulai mengetik sebaris pesan singkat yang sangat pendek, lugas, dan dingin untuk dikirimkan ke nomor Julian.
“Terima kasih untuk malam ini, dok. Besok aku akan menghubungi pengacara, apakah gugatan cerai resmi sudah didaftarkan ke pengadilan oleh tim hukum.”
Kalila menatap baris kalimat yang kaku itu selama beberapa detik, sebelum akhirnya menekan tombol kirim dengan kemantapan jiwa seorang wanita yang menolak menjadi korban lagi.
Beberapa kilometer dari situ, di atas meja kerja yang gelap, ponsel Julian menyala.