Keanu masih berdiri kaku. Jarak dua meter di hadapan Julian terasa seperti jurang yang memisahkan harga dirinya yang tersisa. Ancaman pamannya baru saja diucapkan, membuat napas Keanu memburu. Kedua tangannya mengepal di dalam saku jas, dia sungguh ingin maju. Ego-nya berteriak untuk menerobos tapi kaki-kakinya tidak bergerak seolah nyalinya lumpuh.
Melihat Julian yang bergeming kaku, Keanu akhirnya mundur setengah langkah. Sepatunya berdecit pelan di atas lantai. Tapi, dia menolak menyerah secara verbal.
Julian tidak bergeser. Dia tetap memotong jalur menuju lift dengan tubuhnya yang tenang.
"Kamu ikut campur terlalu jauh!" desis Keanu, giginya menggertak parah hingga urat rahangnya menyembul. "Kamu memanfaatkan situasi ini karena punya motif pribadi, kan? Kalila itu istri sahku! Dia harus pulang ke rumahku malam ini juga. Kamu tidak punya hak untuk menyembunyikannya!"
Julian tidak terpancing satu sama sekali oleh tuduhan kasar tersebut. Dokter tampan ini juga tidak menaikkan suaranya, tidak juga membalas dengan makian murahan. Justru dia menatap Keanu dengan sepasang mata yang teramat tenang yang membuat nyali Keanu kian menciut.
"Malam ini, Kalila tidak akan ditemui oleh siapa pun dalam kondisi emosionalnya yang sedang tidak stabil, Keanu," jawab Julian, suaranya rendah dan penuh dengan intimidasi, "termasuk oleh kamu yang mengaku suaminya yang datang menembus lobi ini dengan membawa amarah dan tuntutan egois."
Keanu kian frustrasi. Bahunya bergerak naik turun menahan gejolak emosi karena tidak bisa menerobos pertahanan fisik pamannya, sementara Julian tetap berdiri tegap tanpa sedikit pun naik pitam. Sungguh ketenangan Julian patut diacungi dua jempol!
Bzzzt... Bzzzt...
Di tengah kebuntuan itu, ponsel di saku kemeja Keanu kembali bergetar. Layarnya menyala, menampilkan nama yang seketika memecah fokusnya, Dania. Kening Keanu berkerut karena tadi simbok sudah menelepon, tapi sekarang ganti Dania. Mungkinkah ada hal penting?
Keanu sempat menoleh ke Julian, seolah ragu. Tapi getaran telepon itu terus berlanjut. Akhirnya ia terpaksa mengangkatnya tepat di depan Julian. Belum sempat dia menyapa, suara Dania sudah terdengar dari seberang telepon. Suara manja yang lemah, serak dan tertahan oleh isak tangis yang teramat memelas.
“Keanu… kamu di mana? Aku takut. Napasku sesak lagi, kepalaku pusing sekali. Kamu bilang gak akan lama perginya. Cepatlah pulang, aku sendirian di sini.”
Keanu memejamkan mata sejenak. Bahunya yang tadi tegang perlahan turun.
"Sstt…Dania, jangan takut. Aku di sini," ucap Keanu cepat, suaranya melemah saat dia mencoba menenangkan Dania via telepon. "Tenang ya, jangan panik. Duduklah dulu, tarik napas dalam dan buang perlahan. Aku segera pulang ke rumah sekarang."
Julian berdiri diam, mengamati seluruh perubahan itu tanpa berkedip. Cara Keanu sedikit menunduk, cara jarinya mengusap tengkuk, cara nadanya langsung berubah menjadi lembut yang protektif, semua terjadi dalam hitungan detik saja tepat di depan matanya.
Julian mendecih dalam hati melihat Keanu yang dengan begitu bodohnya kembali masuk ke dalam belenggu permainan topeng Dania dengan sangat mudah. Keponakannya itu begitu cepat menjadi pahlawan yang siaga bagi wanita lain, tapi tidak bagi istrinya.
Matanya menatap Keanu dengan pandangan yang kian meremehkan. Setelah Keanu menurunkan ponselnya dan memutus sambungan telepon dengan terburu-buru, Julian baru membuka suara.
"Kau lihat sendiri betapa hebatnya dirimu, Keanu?" ucap Julian, suaranya yang pelan justru terasa jauh lebih tajam daripada bentakan apa pun. "Kau hanya butuh waktu tiga detik untuk mengubah nadamu menjadi begitu lembut demi menenangkan wanita lain.”
“Aku bukan pasienmu, jangan menilaiku.” Ketus Keanu, menatap Julian dengan sisa amarah yang sudah tercampur rasa bersalah yang gengsi untuk dia akui.
“Aku tidak menilaimu.” Jawab Julian dengan tenangnya.
Menilai tidak akan mungkin berhasil menang akhirnya Keanu menyerah, “aku pulang dulu,” katanya pendek.
Julian mengangguk pelan, “silakan.”
Tapi Keanu belum bergerak. Dia masih mencoba mempertahankan sisa harga dirinya dengan memberi peringatan, “kamu memang pamanku tapi kamu tidak berhak mencampuri urusan rumah tanggaku.”
Julian menatapnya lurus. Suaranya tetap tenang, tapi setiap kata terasa tajam.
“Aku tidak ikut campur urusan rumah tanggamu, Keanu. Aku hanya memastikan pasienku tidak tambah stress malam ini.”
Julian memberi jeda sebentar, “baru beberapa menit lalu kamu datang dengan amarah. Kamu tadi menuntut, kamu tadi siap menerobos. Tapi begitu wanita itu menelepon…, kamu langsung siap pulang.”
Keanu melotot kesal. Mulutnya sudah membuka, siap membantah, tapi tidak ada kata yang keluar.
Julian sama sekali tidak memaki, dia murni menyampaikan fakta yang membuat posisinya tampil jauh lebih berkelas, matang dan berwibawa sebagai seorang pria sejati.
Dengan gerakan sangat tenang, Julian membetulkan letak kacamatanya, lalu kembali menekankan, "malam ini Kalila berada di bawah pengawasanku selaku dokter penanggung jawabnya. Dan aku tidak akan membiarkanmu merusak sisa kewarasannya. Jadi pulanglah, Keanu. Dania sedang menunggumu, bukan?”
Keanu benar-benar terdesak. Akhirnya, dia memilih untuk berbalik arah menuju pintu kaca. Julian tahu, Keanu pergi bukan karena dia sadar atas kesalahannya, melainkan karena panggilan manja Dania di rumah jauh lebih dia prioritas untuk dia selamatkan.
Keanu melangkah keluar dari lobi apartemen dengan langkah kaki yang terasa berat dan gontai. Sambil berjalan menembus kegelapan pelataran parkir luar menuju mobilnya, tangannya sudah kembali menempelkan ponsel ke telinga, sibuk menghubungi nomor Dania untuk memastikan mantan kekasihnya itu tidak menangis lagi.
Julian berdiri diam beberapa saat. Dia menatap arah kepergian keponakannya sampai lampu mobil menyala dan kendaraan itu menghilang dari pandangannya.
Beberapa detik berlalu dalam kesunyian, Julian perlahan memutar tubuhnya, menatap ke arah deretan pintu lift di ujung lorong lobi. Ada guratan keraguan yang samar di wajah tampannya, seolah sedang menimbang apakah dia perlu atau tidak, untuk naik kembali ke lantai lima belas murni untuk memastikan kondisi Kalila.