Julian baru saja melangkah keluar dari koridor lift lantai dasar, berniat menuju pelataran parkir luar apartemen kembali ke mobilnya. Tapi, tepat saat kakinya beberapa langkah lagi hendak melewati pintu kaca lobi, tiba-tiba saja terjadi kehebohan.
Brak!
Pintu kaca didorong paksa dari luar dengan hantaman yang sangat kasar. Keanu muncul di ambang pintu lobi dengan kondisi yang teramat berantakan. Kemeja yang dia pakai kusut berantakan, dasinya entah ke mana dan beberapa kancing teratasnya terbuka menampakkan napasnya yang memburu. Sepasang mata elang Keanu menyala, memancarkan amarah, kecemburuan dan ketakutan gila yang bercampur menjadi satu setelah berhasil melacak posisi Kalila melalui ponselnya.
Keanu hanya tidak menyangka kalau Kalila berada di apartemen milik eyangnya dari garis sang papa. Itu artinya, ada Julian bersamanya karena Kalila tidak mungkin berada di sini atas inisiatifnya.
Keanu menghentikan langkah kakinya tepat satumeter di hadapan Julian. Ada rasa aneh yang menyelinap di dalam dadanya saat melihat ketenangan pamannya, tapi ego lelakinya memaksa Keanu mengabaikan sinyal tersebut.
"Di mana Kalila, Julian?!" bentak Keanu, suaranya yang berat menggema di lobi apartemen yang sunyi, Keanu tidak berikan penghormatan struktural pada Julian sebagai paman, "bawa dia keluar sekarang! Kalila adalah istri sahku, dia harus pulang ke rumahku malam ini juga!"
Julian tidak menunjukkan raut wajah panik atau terkejut. Sang paman yang berusia lebih muda itu justru menggeser tubuh jangkungnya setengah langkah ke kiri, memasang badan sepenuhnya untuk memotong jalur pandang keponakannya menuju arah lift.
Julian mengunci manik mata elang Keanu dengan sepasang mata yang tidak kalah tajam, sebuah tatapan ksatria yang sangat jantan, berkelas dan penuh dengan intimidasi moral yang mampu membuat nyali Keanu menciut.
Tapi dasar Keanu yang sudah hilang akal, dia nekat bergerak hendak merangsek maju, mencoba menembus pertahanan fisik pamannya. Tapi, tepat di detik yang paling menegangkan itu, Julian memajukan tubuhnya, mengkonfrontasi dan menatap Keanu dari jarak dekat dengan suara bariton yang terdengar rendah dan dingin.
"Satu langkah lagi kamu berani maju untuk menekan fisik dan merusak mental Kalila malam ini, Keanu…," desis Julian, suaranya begitu tenang tapi tajamnya sanggup menguliti seluruh sisa kesombongan keponakannya, “aku sendiri yang akan pastikan kamu masuk ruang observasi psikiatri malam ini juga. Jadi, jangan kamu coba uji batas kesabaranku, Keanu!"
Keanu bergeming, matanya menatap nanar Julian seolah tidak terima diancam seperti itu, "berhenti, Keanu, kamu tahu pasti aku bisa menggunakan pengaruh dan kewenangan medisku untuk meminta evaluasi kejiwaan terhadapmu. Dan percayalah itu semudah membalikkan telapak tangan!"
"Jangan mengancamku dengan alasan ngawur seperti itu!" desis Keanu tidak mau kalah.
"Ngawur katamu?! Lihat dirimu, Keanu, kondismu tidak stabil secara mental dan itu bisa membuatmu ditahan sementara untuk diamati. Jangan pernah kamu melecehkan profesiku!"
Julian membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan yang teramat tenang. Namun, belum sempat dia mendorong pintu kaca lobi untuk melangkah pergi, ponsel pribadi Keanu di dalam saku kemejanya mendadak bergetar hebat. Layar yang menyala, menampilkan panggilan dari nomor mbok Darmi membuat kening Keanu berkerut.
Dengan tangan yang gemetar akibat menahan emosi yang memuncak, Keanu menggeser tombol hijau. Suara tangis panik mbok Darmi langsung terdengar melengking di seberang telepon, cukup keras hingga bisa tertangkap oleh pendengaran Julian apalagi KEanu tadi juga memakai mode pengeras suara.
"Mas Keanu! Mohon maaf, Mas, tapi Mas Keanu harus segera pulang sekarang juga!" tangis Mbok Darmi pecah dengan suara yang teramat frustrasi. "Non Dania... Non Dania mendadak bangun dan langsung menangis histeris. Terus langsung saja mengamuk di ruang tamu, membanting beberapa cangkir teh dan terus mengomel sendiri sambil berteriak kalau mbak Kalila ingin membunuhnya! Kami semua di rumah pusing dan kewalahan menenangkannya, Mas! Ini kami harus gimana?"
Keanu membeku di tempatnya berdiri. Telepon di telinganya mendadak terasa beratnya seratus kilo, sementara dadanya kian sesak.
Di seberang sana, Dania sedang melakukan hal yang paling dia kuasai, playing victim dan membuat drama histeris yang mengacaukan seisi rumah, persis di saat Keanu baru saja menemukan Kalila dan ingin mengajaknya pulang.
Julian yang menyaksikan kepanikan keponakannya hanya menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang teramat dingin dan penuh dengan kemenangan moral. Ia menatap Keanu dengan sorot mata yang sangat meremehkan.
"Kau lihat sendiri sekarang, Keanu? Kau lihat siapa sosok yang sebenarnya telah menghancurkan pondasi rumah tanggamu selama tiga tahun ini, kan?" tanya Julian, suaranya bariton, rendah, namun tajamnya sanggup menguliti seluruh sisa harga diri Keanu.
Julian melangkah melewati Keanu, lalu menolehkan wajahnya sekilas di ambang pintu kaca. "Uruslah wanita manjamu itu, Keanu. Dan ingat baik-baik kalimatku malam ini, begitu palu hakim resmi diketok dan masa iddah Kalila selesai secara hukum nanti, aku tidak akan segan-segan lagi untuk menunjukkan rasa sukaku padanya secara terbuka. Aku akan membawanya pergi dari neraka yang kau ciptakan dan berikan kebahagiaan padanya."