Kalila menatap telapak tangan kanan Julian yang masih terulur terbuka di hadapannya. Angin malam bertiup menambah dingin dan membuat dedaunan bergoyang, menjadikan pendar remang dari lampu taman membuat bayangan jemari pria itu tampak status di atas tanah.
Kalila terdiam cukup lama, membiarkan keheningan mengurung mereka berdua di sudut taman dekat panti asuhan yang sepi. Angin malam yang berhembus kian kencang membawa hawa dingin yang menusuk kulit, tapi Kalila tetap memaku di tempatnya duduk.
Di dalam benaknya, sebuah kesadaran hukum dan moral berdering tegas, membuatnya menyadari meski dia telah menandatangani draf gugatan cerai, tapi secara hukum negara dan agama, dia masih menyandang status sebagai istri sah dari Keanu Syailendra. Belum ada sidang, pun Keanu juga tidak mau berikan talak padanya. Walau sesaat tadi, ada keinginan lemah untuk meraihnya.
Maka, Kalila lebih memilih untuk tidak menyambut uluran tangan itu. Dia tidak membalas uluran tangan Julian.
Kalila perlahan menggelengkan kepalanya dengan gerakan yang sangat halus, kemudian mendongak dan berkata lirih, "terima kasih, Dokter Julian. Tapi aku tidak ingin merepotkan lebih jauh lagi."
Julian sama sekali tidak menunjukkan raut kecewa atau memaksa. Dia bahkan tidak menghela napas tanda kesal. Dokter tampan berusia tiga puluh dua tahun itu langsung menarik kembali tangannya dengan sangat elegan, mengerti batasan norma sosial dan agama yang sangat ketat di antara mereka.
Julian hanya mengangguk pelan, membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan yang tenang. "Aku tidak merasa direpotkan, Kalila. Dan aku bisa menunggu di sini sampai kamu benar-benar siap untuk kuantar ke mana pun tempat yang kamu mau. Aku tidak akan meninggalkanmu seorang diri di sini.”
Sikap Julian yang sama sekali tidak memaksanya atau memanfaatkan momen kerapuhannya justru membuat pertahanan Kalila kian melunak. Sang dokter tidak bertingkah seperti seorang lelaki yang agresif, melainkan sebagai dinding pelindung yang sabar.
Angin malam berhembus semakin kencang. Setelah menimbang hawa dingin yang kian menyiksa tubuh ringkihnya, Kalila akhirnya menyerah. Kalila mengangguk sangat kecil. Bukan anggukan yang penuh keyakinan, melainkan anggukan seseorang yang kehabisan pilihan untuk malam ini.
"Baiklah, tapi hanya untuk malam ini saja, Dok," ucap Kalila dengan nada jernih yang memberikan batasan tegas, “besok pagi, aku akan pikirkan lagi ke mana aku harus pergi untuk menenangkan diri."
Julian menerima syarat itu tanpa komentar tambahan. Tidak ada senyuman lega yang berlebihan di wajah matangnya, tidak ada pula kilatan puas seolah dia memenangkan sebuah kompetisi dari Keanu.
Julian hanya mengangguk sekali dan memberi isyarat untuk mereka ke arah mobil jeepnya yang terparkir tidak jauh dari situ. Dia berjalan di depan, menjaga jarak satu langkah, tidak pernah menyentuh punggung atau lengan Kalila. Julian tetap menjaga marwah Kalila dengan tanpa ada kontak fisik sedikit pun di antara mereka.
Kalila mengikutinya dalam diam.
*
Perjalanan malam itu berlangsung dalam atmosfer yang canggung dan sunyi tapi anehnya terasa menenangkan bagi Kalila. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, Kalila menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menatap deretan lampu ibu kota yang perlahan memudar di balik kegelapan. Tidak ada percakapan tentang perasaan Julian, tidak ada pula bahasan mengenai surat cerai ataupun kebodohan Keanu di ruang tamu tadi. Andai saja Kalila tahu bahwa dokter tampan yang juga paman suaminya ini punya rasa yang berbeda untuknya.
Julian hanya membuka suara sekali, nadanya terdengar sangat profesional selaku dokter penanggung jawab, "jurnal terapi makanmu harus tetap diisi besok pagi, Kalila. Dan pasokan nutrisimu tidak boleh terputus."
Kalila mengangguk sebagai responnya. Sesekali Kalila mengusap lengannya membuat Julian menyadari bahwa wanita di sebelahnya ini kedinginan padahal sudah memakai jaketnya.
Julian bertanya dengan nada lembut, "apakah suhu pendingin kabin ini terlalu dingin untukmu?"
"Tidak, Dok. Ini sudah cukup," jawab Kalila pendek, mencegah Julian menaikkan suhu kabin. Julian menoleh ke arah Kalila dan mata mereka bersirobok selama dua detik yang membuat Julian menahan napas. Tapi di detik ketiga, dia berhasil menguasai diri dan kembali fokus menatap jalanan.
“Besok pagi ada jadwal kontrol untuk pola makanmu,” kata Julian datar, seperti dokter yang sedang mengingatkan pasien. “Kalau kamu masih di tempat yang sama, aku bisa atur agar tidak terlalu pagi.”
Kalila hanya mengangguk kecil. Dia tidak menjawab lebih jauh.
Selebihnya, mereka kembali tenggelam dalam diam yang panjang. Keheningan itu terasa nyaman sekaligus menekan. Nyaman karena tidak ada tuduhan, tidak ada bentakan atau keharusan untuk meminta maaf hanya untuk sekadar bernapas.. Menekan karena Kalila tahu statusnya masih istri orang.
Tiga puluh menit berlalu, SUV hitam itu berbelok memasuki sebuah kompleks apartemen berkelas di kawasan Jakarta Selatan. Julian tidak membawa Kalila ke rumah pribadi atau apartemen huniannya sendiri. Dia membawa Kalila menuju sebuah unit yang saat ini kosong dan terdaftar atas nama aset keluarga besar Baskara, sebuah tempat yang netral, steril, dan sama sekali tidak intim.
Julian membuka pintu unit apartemen berlantai parket kayu tersebut, lalu menyerahkan satu set kartu akses dan kunci cadangan ke atas meja di dapur bersih. "Ini kunci cadangannya. Kamu bisa langsung mengunci pintu ini dari dalam setelah aku keluar nanti."
Julian benar-benar menjaga batas kesopanan yang tinggi. Langkah kakinya tidak pernah bergerak masuk lebih jauh dari batas area ruang tamu apartemen itu. Sebelum bersiap melangkah pergi, Julian meletakkan sebungkus roti gandum utuh dan sebotol air mineral murni di atas meja.
"Aku sudah memesankan menu sup hangat via aplikasi daring untuk makan malammu. Pengantar makanan akan tiba sepuluh menit lagi. Besok pagi, seorang ART akan ke sini.”
Julian berjalan mundur perlahan, berdiri tegak di ambang pintu unit yang terbuka, menatap Kalila untuk terakhir kalinya dengan sorot mata yang meneduhkan.
Dia tersenyum kecil saat berkata, "istirahatlah, Kalila. Kalau kamu membutuhkan sesuatu, telepon saja nomor pribadiku. Aku tidak akan melayangkan satu pun pertanyaan tentang apa yang terjadi hari ini. Aku akan menunggu sampai kamu siap bercerita.”
Terdengar bunyi pintu yang menutup membuat Kalila berdiri sendirian di tengah ruangan.
Apartemen itu mendadak terasa begitu sepi. Di tengah kesunyian itu, indra penciumannya masih bisa menghidu sisa aroma parfum maskulin yang lembut dari jaket Julian yang tersampir di bahunya. Secara otomatis, tangan Kalila bergerak memegang ujung lengan jaket itu, mencengkeram kainnya dengan erat seolah sedang mencari sesuatu yang nyata untuk dipegang di tengah kekacauan hidupnya seolah dia berada di roller coaster kehidupan.
Tapi, untuk pertama kalinya sejak dia melangkah keluar dari kediaman Syailendra, d**a Kalila tidak lagi terasa sesak. Akhirnya dia bisa menarik napas dengan jauh lebih dalam dan lega.
Di dalam ruangan ini, tidak ada lagi jeritan manja Dania yang memuakkan. Tidak ada tatapan mata Keanu yang selalu penuh dengan curiga dan tuduhan kejam. Dan yang paling penting, tidak ada tekanan dari siapa pun yang memaksanya untuk segera menjelaskan apa yang terjadi.
Tetapi, bersamaan dengan rasa lega yang akhirnya dia rasakan, ada perasaan lain yang mendadak menyapanya dan membuat dadanya berdebar.
Rasa bersalah.
Kalila menunduk, dia sendiri tidak tahu pasti kepada siapa rasa bersalah itu ditujukan. Apakah kepada Keanu yang secara hukum negara saat ini masih menyandang status sebagai suaminya? Atau kepada dirinya sendiri karena telah nekat menerima bantuan dari paman suaminya? Ataukah pada batasan-batasan kesopanan yang dia sendiri tahu sedang perlahan menipis malam ini?
Kalila perlahan menurunkan tubuhnya, duduk di tepi sofa minimalis yang dingin. Jaket milik Julian masih setia menghangatkan tubuhnya yang kurus. Di atas meja, sebungkus roti dan sebotol air mineral itu tergeletak diam, menunggu untuk disentuh.
Kalila menarik kedua kakinya, memeluk lututnya sendiri dengan erat di atas sofa. Dia menundukkan kepalanya dalam dan untuk pertama kalinya sepanjang malam yang melelahkan itu…, dia membiarkan keheningan apartemen yang asing benar-benar meluruhkan seluruh sisa pertahanannya.
Apakah memang sebaiknya dia selamanya pergi dari rumah itu dan berada di tempat lain? Di sini misalnya?