Julian sudah duduk di ujung bangku kayu itu. Tetap menjaga jarak satu meter di antara mereka berdua demi menjaga marwah Kalila, juga dirinya. Dari ekor matanya, Julian bisa melihat beberapa helai rambut Kalila yang terlepas dari ikatan, tampak bergelombang karena terkena angin malam. Kalila tidak tahu saja betapa Julian berusaha memotret Kalila untuk dia simpan dalam hatinya.
Kalila masih memilih untuk bungkam dan Julian sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin memaksa wanita di sampingnya itu untuk cepat-cepat membuka suara. Sebagai konsultan psikosomatis, Julian tidak mau memerparah tingkat stres yang diderita Kalila.
Suasana di taman kecil itu tidak yang sunyi karena di kolam di belakang mereka terdengar suara katak bersahutan. Ramai, tapi malah membuat Kalila tidak merasa tertekan. Matanya menatap jauh ke depan, bibirnya tersungging senyum kecil seolah sangat menikmati suasana seperti ini.
Tanpa banyak bicara, Julian meletakkan satu cup teh hangat dan sebungkus crackers di sisi kosong bangku, tepat di tengah-tengah jarak yang memisahkan mereka. Posisinya cukup dekat untuk Kalila mengambilnya, tapi dia sengaja tidak menyodorkan secara langsung agar Kalila tidak merasa risih.
Pria berusia awal tiga puluh itu hanya ingin duduk di sana menemani Kalila , memberikan ruang aman yang sangat dibutuhkan oleh jiwa Kalila yang baru saja hancur.
"Terima kasih, Dok," ucap Kalila lirih. Suaranya terdengar sangat lirih, hampir tenggelam oleh desah angin malam yang berhembus.
Julian mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis yang meneduhkan dari wajah tampannya saat mendengar perut Kalila berbunyi nyaring. Dia tidak mau membuang waktu dengan basa-basi yang melelahkan, melainkan langsung mengalihkan pembicaraan pada pertanyaan yang penuh perhatian.
"Kamu belum makan malam, kan? Itu perutmu keroncongan, makanlah dulu crackers yang aku bawa. Setelah dari sini, kamu berniat ingin ke mana, Kalila?" tanyanya, penuh kelembutan.
Sebelum otak Kalila sempat menyusun jawaban, ponsel yang dia letakkan di sisi kirinya mendadak bergetar berkali-kali. Suara getaran itu terdengar sangat berisik, merusak kesunyian taman dan membuat Kalila mendesah kesal.
Layar ponsel yang menyala menampilkan nama yang paling tidak ingin Kalila lihat malam ini, Keanu. Tidak hanya panggilan telepon, rentetan notifikasi pesan singkat juga masuk secara beruntun, memenuhi layar dengan desakan dan tuduhan yang egois.
Kalila hanya menatap kosong layar yang terus berkedip itu tanpa ada niat sedikit pun untuk mengangkat atau membalasnya. Wajahnya seketika mengeras, menahan gejolak perih yang kembali menusuk dadanya. Jemari tangannya mencengkeram erat pinggiran bangku kayu tempatnya duduk hingga buku jarinya memutih.
Setiap getaran dari ponsel itu seolah menjadi pengingat kejam untuknya, tentang bagaimana Keanu selalu menuntutnya untuk patuh, bahkan setelah dia melangkah keluar dari pintu rumah.
Julian melihat seluruh reaksi fisik tersebut dari sudut matanya. Tapi, sebagai seorang dokter yang berpengalaman dalam hal seperti ini, dia tidak melayangkan satu pun pertanyaan menyelidik pada Kalila.
Julian tetap mengarahkan pandangan matanya lurus ke depan, menatap gerbang kayu panti asuhan yang gelap. Pria itu ingin memberikan Kalila waktu dan ruang penuh untuk menguasai kembali emosinya yang tadi terguncang.
Setelah beberapa menit yang menegangkan, getaran ponsel itu akhirnya berhenti total. Kesunyian malam kembali datang, tapi kali ini terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.
Kalila perlahan mengendurkan cengkeraman jemarinya. Dia menarik napas dalam, lalu mulai membuka suara. Suaranya terdengar jauh lebih lirih dan rapuh dari biasanya, seperti menunjukkan dia sudah tidak sanggup lagi.
"Aku hanya... lelah, Dok. Lelah karena setiap kali aku merasa sakit atau tidak nyaman, aku selalu dianggap berlebihan." Ucap Kalila, menumpukan siku ke atas pahanya dan dua tangannya menutup wajah.
Kalila tidak menumpahkan seluruh isi hatinya secara meledak-ledak. Tapi kalimatnya meluncur dalam potongan-potongan cerita yang sangat merana. Dia bercerita bagaimana rasanya menjadi sosok yang jadi tidak terlihat di rumah besar itu. Tentang bagaimana dia selalu dipaksa untuk tampil kuat dan mandiri, tapi malahan suaminya bisa bebas mengurus wanita lain dengan alasan menjaga amanah.
Puncaknya adalah, akhirnya dia memilih untuk mengemasi pakaiannya sore tadi, karena dia menyadari bahwa di dalam hidup Keanu…, memang sudah tidak ada lagi tempat yang tersisa untuknya.
Sesekali curahan isi hatinya itu diiringi hembusan napas lelah, mengusap sudut mata yang terasa panas dan senyum getir yang menyakitkan.
Julian mendengarkan setiap bait kalimat Kalila tanpa menyela satu kali pun. Sepasang matanya tetap menatap lurus ke depan, menghargai setiap jeda napas Kalila.
Dia tidak mengomentari kebodohan Keanu, tidak pula berusaha membela keponakannya itu atas nama silsilah keluarga. Julian hanya sesekali mengangguk pelan, sebuah gestur sederhana yang memerlihatkan bahwa dia mendengar, memahami dan memvalidasi seluruh rasa sakit yang selama tiga tahun ini Kalila pendam sendirian. Terkadang, memberi dukungan itu cukup dengan mendengar tanpa menghakimi, bukan?
Saat Kalila selesai berbicara dan suasana kembali hening, Julian tidak langsung memberikan nasihat-nasihat medis yang kaku atau kata-kata penghibur yang manis. Dia tetap menjaga batas profesionalitas antara dokter dan pasien, serta harga dirinya sebagai lelaki green flag yang elegan agar tidak dituduh sebagai seorang pebinor.
"Aku mengerti jika kamu membutuhkan waktu untuk mencerna semua ini, Kalila," ucap Julian, suaranya bariton dan terdengar sangat menenangkan. "Aku tidak akan memaksa untuk menjelaskan sesuatu yang belum siap untuk dibagi. Sekarang, mari kita beralih pada pilihan yang lebih aman. Apakah kamu ingin aku mengantarmu ke suatu tempat yang bisa membuatmu beristirahat dengan tenang malam ini? Kamu tidak mungkin tidur di sini, kan?” tanya Julian penuh perhatian.
Kalila terdiam cukup lama. Matanya menunduk, menatap ujung jaket milik Julian yang tersampir di bahunya. Dengan gerakan yang sangat pelan dan ragu-jaru, jemari Kalila menyentuh ujung jaket tersebut, meremasnya sedikit demi mencari pegangan.
"Aku... hufft…, aku belum siap untuk kembali ke rumah itu, Dok," bisik Kalila, air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya meluruh juga membasahi pipinya yang pucat, “malam ini... aku hanya tidak ingin sendirian. Tapi aku juga belum siap jika harus kembali ke keramaian."
Julian mengangguk paham. Sebagai seorang lelaki dewasa yang memendam rasa berbeda pada istri keponakannya ini, dia tidak mau memanfaatkan kerapuhan Kalila. Justru itu memancarkan pesonanya sebagai seorang pelindung sejati.
Pria itu bangkit dari kursinya secara perlahan, berdiri di depan Kalila untuk menjaga jarak aman yang sopan tanpa memberikan tekanan psikologis apa pun.
"Kalau kamu mau, aku bisa mengantarmu ke sebuah tempat yang sangat tenang di dekat sini. Tempat yang aman, di mana kamu tidak perlu memutuskan hal berat apa pun malam ini," ucap Julian, mengulurkan tangannya yang kokoh dengan telapak tangan terbuka dan senyum hangat penuh ketulusan. Dia menawarkan sebuah pilihan tanpa ada paksaan.
Kalila mendongak, menatap lekat-lekat ke dalam sepasang mata teduh Julian di balik kacamata tipisnya. Untuk pertama kalinya sejak dia melangkah keluar dari kediaman Syailendra, sepasang mata jernih Kalila tidak lagi sepenuhnya tertutup rapat oleh lapisan es.