"Aku akan telepon Kalila sekarang juga. Tidak perlu berlebihan sampai seperti ini," ucap Keanu. Suaranya terdengar kesal saat dia buru-buru mengambil ponsel dari meja nakas.
Julian masih berdiri diam, menatap tajam ke keponakannya setelah melayangkan ancaman dingin tadi. Di depannya, Keanu terlihat mulai terlihat panik. Tapi, rasa gengsi pria itu rupanya masih terlalu besar untuk hancur begitu saja. Ada Dania di depannya, Keanu mencoba mengontrol situasi agar tidak terlihat payah.
Dia menekan nomor ponsel Kalila tepat di depan Julian. Suara nada sambung berdering di ruangan itu, satu kali, dua kali, hingga lima kali, sebelum akhirnya berganti menjadi keheningan karena panggilan-panggilan itu tidak diangkat.
Rahang Keanu mengeras karena malu sekaligus cemas. Dengan jemari yang kaku, dia mengetik pesan singkat yang isinya ternyata masih saja bernada menyalahkan istrinya, “Kalila, kamu di mana sih? Jangan berlebihan seperti ini. Cepat pulang, Dania sedang sakit di rumah aku tidak mungkin keluyuran hanya untuk mencarimu.”
Sorot mata Julian seketika berubah menjadi sangat dingin dan kecewa karena Keanu berhenti menelepon Kalila.
Sadar bahwa situasi kian menegangkan, Keanu buru-buru memasukkan kembali ponselnya ke saku jas. "Baiklah, aku akan keluar untuk mencarinya sekarang," ucap Keanu terburu-buru.
Tapi, baru juga dua langkah berjalan menuju pintu depan, dia mendadak menghentikan kakinya. Keanu memutar tubuhnya, berjalan kembali ke arah sofa tempat Dania bersandar, lalu berbisik dengan nada yang teramat lembut. "Tunggu di sini ya, Dania. Jangan ke mana-mana sampai aku kembali."
Julian mematung, tidak habis pikir dengan tindakan kecil Keanu yang menjadi bukti nyata bagi Julian. Di saat pernikahannya sedang berada di ujung tanduk, pikiran Keanu masih saja terbagi demi memastikan kenyamanan wanita lain di rumahnya sendiri.
*
Sementara itu di pinggiran Jakarta, angin malam berhembus kencang, membawa hawa dingin yang menusuk kulit.
Kalila duduk sendirian di atas sebuah bangku kayu yang sudah agak lapuk di sudut taman kecil. Di seberang jalan setapak yang sepi, berdiri sebuah bangunan panti asuhan kuno yang jendelanya sudah gelap gulita karena malam telah menyapa.
Tidak ada tangisan dramatis atau air mata histeris yang keluar dari bibir Kalila. Yang tersisa hanyalah kesunyian di hatinya dan malam. Kalila hanya meluruskan pandangannya, menatap kosong ke arah gerbang kayu panti asuhan.
Perlahan dia menarik kedua lututnya ke atas bangku, memeluknya erat-erat demi menghalau gigilan hawa dingin yang mulai menembus blusnya yang tipis. Bahunya yang kurus tampak ringkih dan bergetar pelan di tengah kegelapan, memerlihatkan betapa lelahnya jiwa Kalila setelah memutuskan untuk melepaskan Keanu dari belenggu pernikahan mereka.
Dia punya vila kecil di sekitaran taman sepi di dekat panti asuhan ini, yang merupakan tempat yang sama di mana Julian pertama kali melihat sosoknya beberapa tahun lalu, jauh sebelum dia masuk ke dalam silsilah keluarga Syailendra.
Sementara itu, Julian mengendarai jeep mewahnya berdasarkan intuisi saja. Dia membelah jalanan pinggiran kota dengan kecepatan yang tenang dan stabil. Setelah melihat bagaimana Keanu lebih mendahulukan Dania di sofa ruang tamu tadi, Julian langsung saja meninggalkan kediaman Keanu agar tidak membuang waktu.
Julian tidak memiliki alat pelacak siber untuk menemukan keberadaan Kalila. Tapi, ada sebuah ingatan masa lalu yang membimbing instingnya bergerak menuju kawasan ini. Mata tajamnya fokus menatap lampu jalanan yang kian meredup, berusaha mengenali setiap lekuk belokan.
Julian mematikan mesin mobilnya dari jarak sekitar lima puluh meter sebelum area taman kecil tersebut. Dia menarik rem tangan, lalu melangkah keluar dari kabin mobil tanpa menimbulkan suara gaduh. Julian meraih jaket yang dia simpan di mobil dia bawa dilipat di lengannya karena tahu Kalila membutuhkannya. Dengan baju dokter putih yang masih membungkus tubuhnya, Julian berjalan mendekat menembus kegelapan taman.
Langkah kaki Julian terhenti tepat tiga meter di belakang bangku kayu yang diduduki Kalila. Dia mendesah lega saat melihat satu sosok yang duduk diam. Julian tidak maju untuk duduk di samping Kalila. Dia memilih berdiri diam dulu, memberi jeda dan ruang privasi dari jarak yang sangat aman bagi kenyamanan emosional Kalila.
"Udara malam di daerah sini selalu dingin, Kalila. Tidak bagus untuk tubuhmu yang baru sembuh," ucap Julian. Suara baritonnya terdengar sangat tenang, rendah, dan penuh kehati-hatian.
Dia sampirkan jaket yang tadi dia bawa ke tubuh Kalila. Kalila terkejut mendengar sebuah suara, lalu menolehkan wajah pucatnya ke belakang.
Julian melangkah tenang, mendekati sisi bangku kosong tanpa ada gestur yang agresif. Di pendar remang lampu taman, Julian sama sekali tidak menyinggung nama Keanu. Julian hanya berikan sebuah senyum kecil, dia tidak mengungkit perasaan suka yang selama lima tahun ini dia simpan dengan sangat rapi di balik profesi medisnya. Dia hanya memikirkan kondisi fisik Kalila saat ini.
"Kamu sudah makan malam?" tanya Julian lagi dengan nada suara yang begitu meneduhkan.
Untuk pertama kalinya sejak melangkah keluar dari rumah Keanu sore tadi, Kalila merasakan ada seseorang yang datang menghampirinya tanpa membawa tuntutan, tanpa ada bentakan, dan tanpa menyalahkannya. Dinding pertahanan es di mata Kalila perlahan goyah oleh ketulusan yang ditunjukkan Julian dan seketika bulir air mata meluruh di pipi tirusnya.
Julian perlahan menurunkan tubuhnya, duduk di bangku kayu yang sama tapi tetap menyisakan jarak satu meter yang sangat sopan di antara mereka. Julian menolak melakukan kontak fisik apa pun. Dia menyandarkan punggungnya, menatap ke arah bangunan panti asuhan yang gelap, lalu berbisik pelan.
"Kalau kamu hanya ingin diam menatap malam, aku tidak akan melayangkan satu pun pertanyaan padamu, Kalila. Aku hanya tidak ingin membiarkanmu sendirian di tempat yang sepi seperti ini."
Kalila tersenyum dan mengangguk kecil. Ketegangan hatinya mereda mendengar ucapan Julian yang meneduhkan.