Bukannya segera menjawab, Keanu malah melengos. Dengan sengaja Keanu justru berlutut di sisi sofa beludru, mengabaikan kehadiran Julian. Dengan gerakan telaten, Keanu merapikan beberapa helai rambut Dania yang berantakan di atas bantal, lalu menyelimuti tubuh Dania agar tidak gemetar kedinginan.
Keanu menuangkan air putih ke dalam gelas dengan tangan yang juga sedikit bergetar kemudian menyodorkannya ke bibir Dania. Terlebih dahulu, dia menyangga tengkuk Dania dengan tangan kirinya agar bisa minum dengan mudah. Baru setelah Dania meneguk air dan menyunggingkan senyum lemah yang rapuh, Keanu menurunkan gelasnya.
Dia berdiri, membalikkan badannya perlahan, lalu menatap lurus ke arah Julian.
Ketegangan di dalam ruangan memuncak saat Julian melangkah maju, memerkecil jarak dengan sepasang mata yang mengunci manik mata elang keponakannya. Suara bariton Julian mengalun sangat tenang, tapi sarat akan intimidasi yang tajam, “aku bertanya sekali lagi, Keanu. Di mana Kalila?"
Keanu melipat kedua tangannya di depan d**a, mengedikkan bahunya. Dengan suara yang datar dan terdengar jelas seperti sedang melemparkan kesalahan, dia menjawab, “aku tidak tahu Kalila ke mana. Dia yang memilih pergi meninggalkanku.”
Julian melangkah kian dekat ke arah sofa. Mata tajamnya menyapu penampilan Dania. Tatapan Julian mendadak terkunci pada dua kancing teratas baju Dania yang terbuka, menampilkan lehernya yang dipenuhi bintik merah akibat histamin yang mulai mereda.
Matanya menyipit dan fokus menatap bintik-bintik merah itu, lalu mengalihkan pandangannya menatap Keanu tanpa berkedip selama beberapa detik yang membuat Keanu tersiksa.
Dania yang menyadari tatapan dingin sang dokter, seketika panik dan ketakutan. Dengan tangan yang gemetaran, dia buru-buru mengancingkan kembali bajunya, menyembunyikan kulitnya.
Julian berbicara lagi dengan suara yang teramat pelan tapi tajamnya sanggup menusuk ulu hati Keanu. “Kondisi fisik Dania sudah membaik secara klinis. Kenapa kamu malah berdiri diam di sini dan tidak bergegas mengejar istrimu? Sebenarnya yang berstatus sebagai istrimu yang mana, Keanu?”
Mendengar teguran dingin dari pamannya, sikap defensif Keanu langsung meledak. Dia tidak terima disudutkan begitu saja di rumahnya sendiri. Keanu berdiri tegak, busungkan d**a dan meninggikan suaranya satu oktaf demi menutupi rasa panik dan bersalah yang mulai merayapi dadanya.
"Kau memang pamanku, Julian, tapi kau tidak berhak ikut campur masalah rumahtanggaku dan menyalahkanku seenak udelmu! Kalila sendiri yang selalu berlebihan dalam menyikapi ini!" bentak Keanu, matanya berkilat penuh emosi yang meledak. "Kalila yang tidak pernah mau mengerti posisiku di rumah ini! Kalila selalu membesar-besarkan semuanya menjadi drama cemburu yang kekanak-kanakan!"
Keanu menunjuk ke arah parsel buah dengan gerakan kasar. "Tadi Dania ke sini untuk menjenguk Kalila dan alerginya kambuh. Salahkah aku karena sedang menepati janjiku pada Tanto untuk menjaga jandanya?! Dania tidak punya siapa-siapa lagi di kota ini. Dania sakit, dia butuh perlindunganku, sedangkan Kalila? Kalila adalah wanita yang kuat, dia mandiri, dia punya usaha kateringnya sendiri! Tapi kenapa dia harus sekejam ini pada Dania hanya karena cemburu buta?"
Julian bersedekap, tidak mau memotong kalimat panjang keponakannya. Pria berusia tiga puluh satu tahun itu berdiri diam, mendengarkan dengan tekun setiap bait pembelaan diri Keanu dengan seulas senyuman tipis yang teramat dingin.
"Wanita yang kuat, kau bilang?" tanya Julian dengan suara baritonnya yang rendah dan tenang. Tapi justru nada ketenangannya itulah yang sanggup meluluhlantakkan sisa keangkuhan Keanu. "Correct me if I’m wrong! Kau menyebut Kalila sebagai wanita yang kuat, itu murni agar hatimu tidak perlu merasa bersalah karena kau mengabaikannya demi perempuan lain, Keanu. Justru kau keliru!”
Julian menjeda untuk melihat reaksi Keanu, “Kalila tidak sedang membuat drama kekanak-kanakan. Dia hanya sedang kelelahan setengah mati karena dipaksa waras di dalam rumah yang suaminya lebih memilih menjadi pahlawan bagi wanita lain. So, Dania, wanita waras mana yang mau melihat suaminya seperti itu?” Tiba-tiba saja Julian lemparkan pertanyaan ke Dania.
Kaget karena ditanya seperti itu, membuat Dania yang bersandar di sofa langsung memanfaatkan momen tersebut untuk mengadu pada Keanu. Air matanya kembali luruh, dia terisak pelan.
Dia membekap wajahnya dengan kedua telapak tangan, “maafkan aku, Dokter Julian…, maafkan aku, Keanu. A-aku takut... aku hanya menjadi beban di antara kalian..." tubuh Dania gemetar ketakutan, kehilangan seluruh kata-katanya saat berhadapan langsung dengan wibawa dan karisma Julian yang teramat dominan di dalam ruangan.
Melihat Dania yang jadi histeris, Keanu berbalik membelakangi Julian. Dia kembali duduk di tepi sofa, mengusap puncak kepala Dania dengan gerakan yang sangat lembut tepat di depan mata sang paman, “sshtt… sudahlah, ini bukan salahmu, Dania. Kamu tidak salah sama sekali dalam masalah ini."
Dania mengulurkan tangannya yang mungil, memegang erat lengan kemeja kantor Keanu yang kusut, memanas-manasi keadaan dengan suara parau manja, "Keanu... dadaku masih sesak sekali. Aku takut di sini. Aku takut Kalila benar-benar membenciku karena kehadiranku di rumah ini..."
“Tenanglah, ada aku di sini. Ini rumahku, abaikan saja apa yang dikatakan lelaki itu,” bisik Keanu coba menenangkan Dania.
Julian mendecih melihat kepura-puraan itu, dia tidak mau berbalas pantun dengan ledakan kemarahan. Julian hanya diam, mengamati setiap pergerakan Keanu dengan tatapan mata yang teramat dingin dan menilai, seolah sedang menimbang seberapa jauh kebodohan dan keegoisan keponakannya telah merusak logika sehatnya.
“Janji ya, Keanu…, a-aku…”
Tapi tiba-tiba, Julian berjalan mendekati sofa dengan langkah yang tegap dan berwibawa. Julian duduk di pinggiran sofa, memegang pergelangan tangan Dania untuk memeriksa denyut nadinya secara profesional medis. Setelah tiga puluh detik, Julian melepaskan tangan Dania dari kemeja Keanu dengan satu sentakan halus, memaksa jarak di antara mereka terbuka.
Julian memutar tubuhnya, berkata sinis pada Keanu, “Dania tidak sedang sekarat, Keanu! Alergi Dania sudah reda karena obat antihistamin yang diberikan Kalila tadi! Dan asal kau tahu, CTM yang kau sebut sebagai racun itu adalah satu-satunya alasan mengapa wanita di sofamu ini masih bisa bernapas dengan normal sekarang!"
Julian memberi jeda satu detik. Suaranya semakin dingin dengan pandangan matanya memancarkan aura superioritas yang mematikan pergerakan Keanu.
"Belum lama ini, Kalila kolaps di lantai dapur kateringnya sampai tidak sadarkan diri dan dirawat di rumah sakit," ucap Julian, nadanya begitu tenang, "saat itu, apa yang kamu lakukan, Keanu? Nothing! Kamu membiarkan istrimu bertaruh nyawa sendirian!"
Julian bangkit, maju setengah langkah mendekati Keanu kemudian menatap tepat ke manik mata keponakannya. "Sekarang, wanita ini hanya pingsan karena efek kantuk obat, dan kamu berteriak histeris seperti orang gila seolah dunia mau kiamat?"
Emosi seketika tersulut oleh sindiran Julian. Bahunya menegang dan dia mulai berteriak meluapkan amarahnya.
"Cukup, Julian! Kamu tidak tahu apa-apa tentang apa yang aku rasakan saat itu!" bentak Keanu, wajahnya merah padam dengan urat leher yang menegang, "Kalila itu istriku! Urusan bagaimana aku memerlakukannya di rumah ini adalah hakku sebagai kepala keluarga! Kamu hanya dokter spesialis yang merawatnya, dan tidak memiliki hak hukum apa pun untuk mengadili atau mencampuri urusan rumah tanggaku!"
Julian tidak mundur satu jengkal pun akibat bentakan itu. Dia justru menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang teramat dingin dan meremehkan.
"Benar, Kalila berstatus istrimu sampai palu hakim mensahkan perpisahan kalian. Aku memang tidak memiliki hak hukum atas rumah tanggamu, Keanu," jawab Julian, tenang tapi penuh intimidasi, "tapi aku memiliki hak penuh sebagai perwakilan tertua dari mendiang ayahmu untuk memastikan nama Syailendra tidak dikotori oleh keponakan pengecut yang menunjuk wajah istrinya sendiri sebagai seorang pembunuh, di saat dia baru saja menyelamatkan nyawa mantan kekasih suaminya! Kau benar-benar tidak layak menjadi suaminya!”
“Kamu…!!” geram Keanu, tangannya terkepal dan bergetar hebat.
Julian menarik napas pendek. Dengan gerakan pelan dan penuh wibawa, dia meletakkan kunci mobil jeep mewah hitamnya di atas permukaan meja marmer hingga menimbulkan dentingan besi.
"Kalau sampai besok subuh Kalila belum kembali ke rumah ini, aku sendiri yang akan mencarinya," ucap Julian, sedikit menyeringai. Suaranya seolah mendeklarasikan perang terbuka yang teramat ksatria dan jantan.
Julian maju sehingga sekarang benar-benar berhadapan dengan Keanu, “dan mulai detik ini, Keanu Syailendra... aku resmi melepaskan statusku sebagai pamanmu dalam urusan domestik ini. Aku akan mencari Kalila dan melindunginya dengan caraku sendiri. Jadi jangan pernah kau berani menuduhku atau Kalila main api di belakangmu!”