"Keanu! Jawab aku! Apa yang terjadi di sana?! Kalila kenapa?!" Suara bariton Julian terdengar kencang dan memaksa dari balik pengeras suara ponsel yang masih digenggam Keanu.
“Keanu?” Suara Julian di seberang terdengar semakin tegang, "aku tanya sekali lagi, Kalila di mana?”
Keanu menelan ludahnya yang terasa getir. Dia berdehem kecil, memaksa pita suaranya bergerak, mengatur intonasi agar terdengar stabil. "Kalila gak papa, semuanya baik-baik saja di sini."
“Jangan bohong.” Nada Julian berubah jadi lebih rendah dan lebih tajam. “Aku bisa dengar napasmu tidak beraturan dan cepat, itu tanda kamu ketakutan. Jujru padaku, ada apa di rumahmu?”
Sebelum Keanu sempat menyusun kalimat kebohongan baru, tubuh Dania yang di dalam dekapannya mulai menggeliat pelan. Kesadaran wanita itu perlahan terkumpul dari pengaruh kantuk ekstrem obat CTM. Jemari mungil Dania bergerak meremas kemeja kantor Keanu kian erat, menyembunyikan wajah pucatnya di balik d**a Keanu.
"Keanu... d-dingin... jangan tinggalkan aku..." gumam Dania dengan suara mengi yang samar, memecah ketegangan di antara saluran telepon.
Fokus Keanu jadi terpecah. Tangan kanannya menopang bahu Dania yang gemetaran, tangan kirinya mencengkeram erat ponsel yang masih terhubung dengan pamannya, sementara sepasang mata elangnya terus melirik liar ke arah pintu tadi Kalila pergi yang sekarang tertutup rapat. Keangkuhannya runtuh saat itu juga. Dia tidak menjawab Julian segera dan ini salah besar.
“Keanu...” Suara Julian terdengar semakin tegas, “keep your eyes on her! Aku akan sampai rumahmu dalam waktu lima belas menit!” suara Julian di telepon terdengar sangat dingin sebelum sambungan itu diputus secara sepihak.
Kepanikan seketika melanda Keanu, "tidak perlu ke sini, Julian? Paman Julian! Aaargh berengsek!" panggilan Keanu sia-sia saja, hanya menyisakan layar ponsel yang menggelap.
*
Saat Dania bergerak kian merapat mencari kehangatan, Keanu secara refleks menggerakkan jemarinya untuk mengusap punggung Dania. Sebuah gestur penenang yang otomatis muncul dari alam bawah sadarnya.
Tapi, tepat saat telapak tangannya menyentuh baju Dania, gerakan tangan Keanu mendadak membeku.
Sentuhan itu memicu kilasan ingatan yang mendadak muncul di kepalanya. Dia teringat pada malam-malam awal pernikahan, saat Kalila terbangun di tengah malam karena lelah mengurus katering dan dia akan selalu mengusap punggung istrinya dengan cara yang sama persis seperti ini.
Detik berikutnya, bayangan dapur yang dulu selalu ramai oleh kicau dan senyuman tulus Kalila, aroma kopi di pagi hari dan kehangatan jemari Kalila yang dulu selalu dia genggam erat... , semuanya berputar cepat, menyiksanya.
Keanu menarik napas dalam yang terasa begitu mencekik parunya. Dengan gerakan yang perlahan tapi kaku, dia mulai mendorong bahu Dania, mencoba menjauhkan tubuh wanita itu dari dadanya. Sialnya Dania justru semakin merapat, mencengkeram kemejanya seolah ketakutan dia akan ditinggalkan begitu saja jika dilepaskan.
Rahang Keanu mengeras. Sorot mata elangnya berubah menjadi sangat dan redup. Dia menatap lurus ke depan dengan tatapan hampa, seolah baru saja tersadar dari sebuah mantra, menyadari betapa gilanya posisi dirinya saat ini.
Bayangkan saja, dia sedang memeluk wanita lain, di saat istri sahnya pergi membawa seluruh sisa rasa yang telah mati.
*
Keanu menghela napas, pikirannya kembali ke Julian yang akan segera sampai di rumahnya. Dengan gerakan yang terkesan buru-buru, Keanu mengangkat tubuh Dania dan memindahkannya ke atas sofa panjang di dekat ruang kerjanya. Setelah memastikan Dania bersandar, Keanu langsung berdiri, membalikkan tubuhnya menghadap pintu keluar.
Dia jadi sangat gelisah memikirkan rencana juga alasan. Keanu melangkah dua kali menuju sofa, menatap Dania yang masih lemas, lalu berbalik melangkah ke arah pintu tadi Kalila pergi dan berniat mengejarnya.
Kebingunan malah membuatnya bolak-balik sebelum akhirnya langkah kakinya berhenti di tengah ruangan dengan kedua tangan mengepal erat di sisi tubuhnya. Terlambat, dia terlambat mengambil pilihan yang benar.
*
“Keanu…” suara lirih Dania membuat mata Keanu beralih.
Dania kini telah tersadar penuh. Efek CTM dosis tinggi itu masih menyisakan rona merah di wajahnya, namun matanya sudah bisa terbuka lebar. Isak tangis pelannya pecah, memenuhi sunyinya kediaman Syailendra.
"Keanu... aku takut," tangis Dania, jemarinya kembali terulur berusaha menggapai kemeja Keanu. "Jangan pergi ke mana-mana ya.Tolong tetap di sini bersamaku. Napasku sesak sekali..." Kata Dania dan entah sengaja atau tidak, dia membuka kancing teratas bajunya hingga menampakkan kulit mulus dadanya.
Rahang Keanu mengetat hingga urat pelipisnya menyembul. "Aku di sini, Dania. Jangan banyak bergerak," jawab Keanu singkat dan dingin bahkan tumben hampir terdengar kasar karena pikirannya yang sedang berpacu gila dengan waktu. Itu sempat membuat Dania terhenyak kaget dan tangisnya semakin keras.
Tapi meskipun suaranya ketus, kaki Keanu tetap memaku di tempat, menolak untuk benar-benar melangkah keluar meninggalkan wanita titipan almarhum sahabatnya itu. Tadi matanya sempat terpaku dua detik ke arah d**a Dania tapi suara mbok Darmi membawa kesadarannya kembali.
Beruntung mbok Darmi muncul di saat yang tepat. Dia masuk sambil membawa segelas air putih hangat. Pelayan tua itu melihat pemandangan Dania yang menyedihkan, sedang terisak di sofa dan Keanu yang berdiri kaku di dekatnya.
Tanpa mengucapkan satu kata pun, Mbok Darmi hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam, meletakkan gelas itu di meja lalu buru-buru mundur kembali ke area belakang.
Ckiiit!
Suara derit ban mobil yang mengerem tajam di atas kerikil pelataran depan rumah terdengar sangat nyaring.
Jantung Keanu seolah berhenti berdetak di detik itu juga. Suara blam pintu mobil yang ditutup kasar terdengar, kemudian disusul oleh suara ketukan sepatu pantofel yang tegas dan berirama cepat menuju ke arahnya.
Brak!
Pintu utama yang kokoh itu didorong paksa dan terbuka lebar dari luar.
Julian berdiri tegak di ambang pintu, membingkai siluet tubuh jangkungnya di bawah pendar cahaya lampu teras luar. Dia masih memakai seragam dokternya, menandakan dia sangat terburu-buru untuk bisa secepatnya sampai di rumah Keanu. Wajah tampan Julian tampak teramat kaku, dingin dan tanpa terbersit pun keramahan sebagai keluarga.
Sepasang mata tajam di balik kacamata tipis milik Julian bergerak, menyapu seluruh isi ruangan. Dan dalam satu detik yang krusial, dia menatap Dania, dengan kancing atas yang terbuka, yang menangis tersedu di sofa, kemudian menatap Keanu yang berdiri kaku bagai patung di dekat Dania. Keningnya berkerut, merasakan ada sesuatu yang janggal sudah terjadi.
Julian maju satu langkah, auranya seketika menekan seluruh ruangan. Dia menatap lurus ke dalam manik mata elang keponakannya dengan satu kalimat pelan, berat, namun tajamnya sanggup menguliti seluruh sisa keangkuhan Keanu.
"Di mana Kalila, Keanu?"