Jumat, lima hari sesudah Xavier berkata suruh dia melakukannya tepat waktu, dan Kaeta masih menghitung jam seperti pasien menunggu hasil lab. Ia tidak mau memikirkan itu, jadi ia memikirkan jas.
Penjahitnya laki-laki tua bertubuh kurus dengan kacamata merosot di ujung hidung, dan ia menggenggam jas putih itu seperti memegang bayi yang baru dimandikan.
"Dua senti di lengan," ucapnya, menepuk-nepuk bahu Kaeta dengan jari yang berbau kapur jahit. "Pundak sudah pas. Bordirnya tidak perlu disentuh. Siapa yang membuat nama ini? Benangnya perak, tapi benar-benar perak, bukan kilap."
"Tuan Wesley."
"Orang yang tahu benang, rupanya." Ia mundur tiga langkah dan menyipitkan mata. "Kalau begitu, berdirilah di cermin."
Kaeta berdiri di depan cermin panjang di sudut toko, dan untuk beberapa detik ia tidak mengenali perempuan yang menatap balik: jas putih sampai lutut, kerah rapi, dan di dada kiri, dalam huruf perak yang halus, Kaeta Calliope Quinn. Bukan nama Xavier. Bukan jas pinjaman dari lemari ayah. Tidak ada yang menunggu di belakangnya untuk mengambilnya kembali.
Damian menunggu di kursi dekat jendela, tangan terlipat, mata mengikuti pantulan Kaeta dari tempat yang jauh. Ia tidak bertepuk tangan, tidak memuji. Ia hanya diam, dan itu lebih lama daripada yang ia sendiri sadari.
"Kamu bengong," ucap Kaeta.
"Aku membaca namanya."
"Sudah selesai membacanya?"
"Belum. Rasanya masih ada yang kurang." Damian berdiri perlahan dan berhenti di sampingnya, pantulan mereka berdua berjajar di cermin. "Tapi aku suka bagian yang sudah kubaca."
Kaeta melepas jas itu hati-hati, menyerahkannya pada penjahit, menunggu di kursi bambu selagi dua senti itu dikerjakan di mesin jahit tua di belakang, lalu membayar dengan uang tunai sambil menolak keras segala bentuk diskon "orang spesial". Di luar, matahari Jumat siang menggantung tinggi dan hangat, dan jip hitam Damian menunggu di tepi trotoar dengan pintu kiri sudah terbuka sebelum ia sempat meraih gagang.
Di dalam mobil, Kaeta duduk menghadap ke depan, jemarinya mengetuk-ngetuk lutut.
"Dam. Aku ingin mengatakan sesuatu, dan aku ingin kamu tidak menjawab dulu."
"Baik."
"Aku tidak mau bercanda tentang darurat lagi. Dulu aku memakai 911 untuk bercanda, untuk menarik perhatianmu, untuk membuktikan aku bisa. Sekarang nomor itu bukan lelucon. Aku sudah memutuskannya sendiri, bukan karena siapa pun menyuruhku." Ia menarik napas. "Kalau aku pernah memakai kata darurat untuk bergurau lagi, kamu boleh menegurku."
"Aku tidak akan menegurmu."
"Kenapa tidak?"
"Karena kamu tidak akan melakukannya." Damian memandang lurus ke depan, kedua tangan di kemudi. "Kamu sudah memutuskan."
Kaeta menoleh. Matanya berkaca, tetapi bibirnya melengkung, dan ia mengeluarkan selembar kertas resep dari tasnya, yang sudah ia coret-coret sejak pagi.
"Kalau begitu, urusan lain. Aku meresepkan, Komandan, kontrol tiga kali seminggu seumur hidup."
"Dosisnya?"
"Satu jam setiap kali, sambil makan malam. Efek samping: jantung berdetak terlalu cepat, kebiasaan tersenyum tanpa sebab, dan kemungkinan dilamar seorang dokter."
"Dilamar dokter bukan efek samping. Itu indikasi."
"Kamu menulis balasan itu di buku catatanmu semalam, ya?"
"Nomor sebelas." Damian menyalakan mesin dan tersenyum tanpa menoleh. "Aku sudah siap. Jadwal pertama malam ini, pukul tujuh, di apartemenku. Kavea ikut menonton."
"Kavea tidak boleh memberi suara."
"Ia hanya mengeluarkan gelembung. Itu abstain."
***
Makam Nyonya Valere terletak di bukit kecil di pinggir kota, di bawah pohon maple yang daunnya mulai berwarna jingga di ujungnya. Sore itu langit bersih sama sekali, seolah badai dua pekan lalu hanya salah alamat. Xavier berjalan di depan dengan seikat lili putih dari Mars, kartu kecil tertempel di pita: Maaf. Dari kakakmu. Di belakangnya Kaeta membawa jas itu dalam kantong pembungkus bening, sepasang lengan putih tergantung di tangannya yang memegang dengan hati-hati.
Mereka berhenti di depan batu nisan kelabu yang sederhana. Nama di atasnya terukir dalam, dan Xavier meletakkan lili di tanah dengan lutut yang berderak sedikit.
"Halo, Sayang," ucapnya pelan. "Kami datang. Dua-duanya. Aku tidak datang sendirian lagi."
Kaeta berlutut di sampingnya, menurunkan kantong itu ke pangkuan, dan membuka ritsletingnya. Jas putih itu terlihat terlalu putih di antara rumput, di antara batu, di antara segala yang sudah lama diam. Ia meraba bordir namanya dengan ibu jari.
"Ma." Suaranya serak, lalu naik lagi. "Aku punya satu jas dengan namaku. Daddy bilang Mama pasti ingin melihatnya duluan, jadi aku bawa ke sini sebelum dipakai."
Angin menggerakkan daun-daun maple. Xavier berdiri diam, tangannya di bahu Kaeta, tidak menekan.
"Aku menelepon 911, Ma. Dua minggu lalu. Waktu rumah sakit Mama terbakar. Aku menelepon sungguhan, dan suaraku tidak bergetar. Aku menekan dada Paman Mars, dan dia hidup. Aku nyaris membeku di awal, setengah detik saja, tapi aku tidak membeku."
Ia menarik napas, panjang, dan kata berikutnya keluar dengan suara yang hampir terlalu kecil untuk didengar.
"Dulu aku mengira aku yang terlambat. Sekarang aku tahu bukan itu. Tapi Ma, aku mau bilang sekali saja, supaya Mama dengar: ini bukan permainan lagi."
Xavier mengusap matanya dengan punggung tangan dan tertawa kecil, serak. "Dia bangga padamu, kau tahu. Dia pasti menghitungmu dengan jarinya, satu, dua, tiga, seperti kalau dia bangga."
"Mama menghitung dengan jari?"
"Setiap kali kau berhasil, sepuluh jari sekaligus."
Kaeta tertawa, dan air matanya jatuh bersamaan, ke bordir peraknya. Ia menyekanya dengan lengan baju, hati-hati, supaya tidak menodai putih itu.
***
Di markas distrik, Jordi dan Zeta duduk berdampingan di meja rapat dengan selembar kertas besar di antara mereka, penuh coretan bolpoin biru dan merah. Magnus berdiri di ujung meja dengan kedua tangan di belakang punggung, tampak seperti ajudan yang tidak diundang tetapi dibutuhkan.
"Regu hadir pakai seragam resmi," ucap Zeta, menunjuk satu kolom. "Tuan Wesley dan Gans duduk di baris ketiga. Mars di kursi roda kalau dokter mengizinkan."
"Paman Sam sudah mengizinkan," lapor Magnus. "Dengan syarat ia duduk dekat pintu keluar."
"Daniel dan teman-temannya di baris belakang. Kavea tidak bisa hadir."
"Aku tidak keberatan Kavea hadir," sahut Jordi. "Tapi akuariumnya tidak muat di bagasi."
"Fokus. Kejutannya harus rapi. Kae tidak boleh curiga, dan Dam harus berhenti memeriksa kotak itu tiap lima menit, karena kalau ada yang melihat, kita..."
Pintu berderit. Damian masuk, mengenakan jaket dinas, rambut sedikit berantakan karena angin. Ketiganya menutup kertas serentak, seperti anak sekolah yang ketahuan menyontek, dan memasang senyum selebar mungkin.
"Kami sedang membahas kue," ucap Zeta.
"Kue apa?"
"Kue... rahasia."
Damian memandang mereka bertiga, lalu menggeleng dan pergi ke lokernya di ujung ruangan. Ia membuka pintu besi itu, mengeluarkan kotak beludru kecil dari saku dalam jaket yang tergantung, membukanya, memeriksa isinya sekilas, menutupnya, dan memasukkannya kembali ke saku.
Lima detik kemudian, ia mengeluarkannya lagi.
"Kau sudah memeriksa itu enam kali sejak aku masuk," ucap Jordi tanpa menoleh.
"Tujuh," koreksi Damian.