Xavier menuang kopi ke cangkir kedua dengan gerakan orang yang sedang berusaha tampak santai dan gagal total.
"Princess, Daddy ingin kamu pergi ke toko roti di ujung jalan."
"Tokonya tutup hari Minggu, Dad."
"Kalau begitu ke apotek."
"Apotekmu libur, dan aku punya stok vitamin di kamar." Kaeta menyendok sereal ke mangkuk, duduk di meja dapur dengan kaki bersilang, dan menatap ayahnya dengan mata hazel yang sama sekali tidak berkedip. "Tamu kita datang pukul sepuluh. Daddy sudah menggosok cincin kawin dua belas kali sejak sarapan. Aku menghitung."
"Daddy tidak menggosok."
"Dua belas kali, Dad. Kalau Daddy melakukannya sekali lagi, cincinnya meleleh."
Xavier meletakkan cerek dengan hati-hati. "Tuan Damian ingin bicara dengan Daddy. Sendirian. Itu saja."
"Soal apa?"
"Soal hal yang baik dibicarakan antara dua laki-laki dewasa."
"Soal kontrol jantungnya tiga kali seminggu?"
"Kaeta."
"Aku pergi," ucap Kaeta, mengangkat kedua tangan seperti tersangka, lalu membawa mangkuk serealnya keluar dapur, menaiki setengah tangga, dan duduk di anak tangga kelima, tempat bayangan pilar menutupinya dari ruang kerja. Pelayan yang lewat membawa keranjang cucian melirik, dan Kaeta menaruh telunjuk di bibir. Pelayan itu mengangguk dan berjalan terus dengan wajah sangat datar.
***
Damian tiba tepat pukul sepuluh, dan Kaeta tahu karena jam dinding di lorong berdentang sekali dan bel pintu berbunyi di dentangan yang sama. Ia mendengar langkah Xavier, suara pintu, lalu suara berat yang sudah ia hafal lebih baik dari suara apa pun di dunia.
"Dokter. Terima kasih sudah menerima saya."
"Silakan duduk, Tuan Damian."
Pintu ruang kerja tertutup. Kaeta menghitung sampai sepuluh, menaruh mangkuk di anak tangga, dan merayap turun dengan kaus kaki tanpa suara. Di bawah tangga ada lemari kecil tempat jas dokter lama digantung, dan di saku salah satu jas itu, ia tahu, ada stetoskop cadangan Xavier. Ia mengambilnya, menempelkan bagian dadanya ke daun pintu kayu ek, dan memasang kedua ujungnya ke telinga.
Suara dari dalam datang jernih dan sedikit bergema, seperti didengar dari dalam dada.
"...catatan?" Suara Xavier. "Anda membawa buku catatan ke tempat saya?"
"Pertanyaan yang kutulis semalam. Karena aku tahu kalau tidak kutulis, aku akan lupa setengahnya, dan setengah lainnya akan keluar terlalu cepat."
"Silakan."
Hening sesaat. Kaeta menahan napas, menekan stetoskop lebih dalam. Kertas dibalik.
"Aku ingin melamar putri Anda," ucap Damian. "Tidak sekarang. Bukan hari ini. Aku ingin Anda tahu lebih dulu, dan ingin tahu apa yang Anda butuhkan sebelum aku boleh bertanya padanya."
Jantung Kaeta melompat sekali, keras, sampai stetoskop itu hampir lepas. Ia menggigit bibir bawahnya.
"Menarik," ucap Xavier perlahan. "Saya punya tiga syarat."
"Aku siap mencatat."
"Jangan dicatat. Diingat." Terdengar bunyi kursi bergeser. "Pertama: tidak ada keputusan tentang Kaeta yang diambil tanpa Kaeta. Tidak oleh Anda, tidak oleh ayah Anda, tidak oleh saya. Saya pernah mengambil satu keputusan seperti itu, merahasiakan penyakit istri saya dari putri kami, dan akibatnya baru saya lihat bertahun-tahun kemudian."
"Mengerti."
"Kedua: Anda tidak melamarnya sebelum upacara jas putih. Jas pertama yang ia pakai harus jas yang namanya sendiri, bukan jas yang dikenakan karena seseorang bertanya padanya sebuah pertanyaan. Ia pantas punya satu hal yang sepenuhnya miliknya lebih dulu."
Damian tidak menjawab seketika. Kaeta bisa mendengar napasnya, tertahan lalu terlepas.
"Setuju," ucapnya.
"Ketiga. Kalau ia mengatakan tidak, itu berarti tidak. Bukan nanti, bukan bujuk aku lagi, bukan mungkin kalau Anda berusaha lebih keras. Tidak berarti tidak, dan Anda pergi tanpa membuatnya merasa bersalah sedetik pun."
"Aku tidak akan membuatnya merasa bersalah." Suara Damian mengeras sebentar, lalu rendah. "Aku sudah membuatnya merasa banyak hal lain. Aku tidak akan menambah yang itu."
Xavier tertawa sekali, pendek, kering. "Anda jujur."
"Aku harus. Aku ingin Anda tahu satu hal lagi. Aku bukan laki-laki yang pantas diberi anak Anda. Aku menekan rumah sakit istri Anda. Aku mendengar Anda menolak menyerahkan putri Anda, dan aku tetap mencoba lewat Vanessa. Itu tidak bisa kubayar dengan saham, tidak dengan rumah sakit, tidak dengan menggendong siapa pun keluar dari api. Yang kuminta bukan dibenarkan. Yang kuminta izin mencoba setiap hari, dan Anda boleh mengusirku setiap hari kalau aku gagal."
Lama tidak ada suara. Kaeta menekan dahinya ke daun pintu dan menutup mata.
"Saya juga punya yang harus saya akui," ucap Xavier akhirnya, dan suaranya berubah, lebih lembut, lebih tua. "Saya membenci Anda, Tuan Damian. Hampir tiga bulan. Saya membenci Anda karena Anda melakukan hal yang sudah saya lakukan sendiri: mengatur hidup Kaeta di balik punggungnya demi kebaikannya. Anda hanya melakukannya lebih keras."
"Itu perbandingan yang tidak adil untuk Anda."
"Itu perbandingan yang adil untuk kita berdua." Terdengar bunyi ketukan ringan di meja, jari yang digerak-gerakkan, ritme yang sama dengan yang sering Damian lakukan. Kaeta nyaris tertawa. "Saya tidak akan mengusir Anda. Tapi satu lagi, Damian."
Kaeta membuka mata. Selama ini Xavier selalu menyebut nama itu dengan gelar di depannya.
"Ya, Dokter?"
"Putri saya sedang berdiri di balik pintu itu dengan stetoskop saya, dan saya yakin ia tersenyum sekarang."
Kaeta membeku dengan stetoskop masih menempel. Di dalam ruangan terdengar gerakan, pelan, kursi digeser. Lalu suara Xavier lagi, lebih keras, jelas ditujukan kepada daun pintu.
"Princess. Daun pintu bukan alat periksa."
Pintu terbuka. Kaeta jatuh setengah langkah ke depan dan hampir menabrak dada Damian, yang sudah berdiri di ambang dengan buku catatan di satu tangan dan wajah yang sama sekali tidak berhasil menyembunyikan geli.
"Aku sedang memeriksa... kayunya," ucap Kaeta.
"Dan hasilnya?"
"Kuat. Layak dipakai lama."
Damian membalik buku catatannya dan memperlihatkan halaman terakhir pada Kaeta. Di bagian bawah, dengan tulisan tangan yang rapi seperti formulir pajak, tertera satu baris: Nomor 9: Kaeta akan menguping. Kemungkinan: sembilan puluh persen. Di sebelahnya, sebuah tanda centang.
"Kamu menulis tentang aku di buku itu?"
"Aku menulis tentang semua kemungkinan."
"Sembilan puluh persen? Kenapa bukan seratus?"
"Karena aku berharap kamu berubah pikiran." Damian menutup buku dengan wajah polos. "Aku kalah."
"Aku tidak menguping. Aku memeriksa pernapasan pintu."
"Pintu tidak bernapas, Princess," sela Xavier dari belakang.
"Daddy tidak tahu apa yang pintu lakukan di balik kayunya."
Pelayan tadi muncul lagi di ujung lorong dengan keranjang cucian yang sama, berhenti, memandang mereka bertiga, lalu berbalik dan berjalan ke arah lain dengan langkah yang jelas-jelas menyembunyikan tawa.
Xavier menggelengkan kepala, bangkit dari kursi, dan menatap Damian dari ujung kaki ke ujung kepala dengan mata yang belum selesai menilai tetapi sudah memutuskan.
"Kalau ia memang mau melamar," ucap Xavier kepada Kaeta, bukan kepada Damian, "suruh dia melakukannya tepat waktu."
Kaeta tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, dan senyum itu begitu lebar dan tak terkendali hingga ia harus menutup mulutnya dengan punggung tangan.