Seminggu kemudian, pada Jumat pagi yang cerah tanpa awan sama sekali, aula utama fakultas kedokteran dipenuhi kursi lipat, bunga putih, dan para orang tua yang memegang ponsel setinggi dada untuk merekam semua yang bergerak.
Di balik panggung, Kaeta berdiri di depan cermin kecil yang disediakan panitia dan memeriksa kerah jasnya untuk kelima kalinya. Zeta, yang jasnya sudah terpasang dan masih bau toko, menarik lengan kirinya lurus ke bawah.
"Kamu terlihat seperti dokter."
"Aku mahasiswa tahun pertama."
"Itu urusan nanti. Hari ini kamu terlihat seperti dokter." Zeta mundur selangkah dan memiringkan kepala. "Dan kamu tidak gemetar. Aku yang gemetar. Kenapa aku yang gemetar?"
"Karena kamu menikmati gemetar."
"Itu bukan alasan medis."
Xavier muncul dari sela tirai dengan setelan abu-abu terbaiknya, dasi sedikit miring, mata sudah merah sebelum acara dimulai. Ia berhenti di depan putrinya dan tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik, hanya menyentuh bordir perak di dada kiri jas itu dengan ujung jarinya.
"Daddy."
"Daddy tahu. Daddy tahu. Daddy akan menangis nanti, jadi sekarang Daddy hanya melihat."
"Daddy sudah menangis."
"Itu keringat."
Dari bawah panggung terdengar ketukan mikrofon, dan suara Profesor Sterling yang dalam memenuhi aula. Ia memanggil satu per satu, nama demi nama, dan setiap kali satu mahasiswa naik, riuh kecil menyambut di antara kursi. Kaeta mendengar nama-nama itu lewat, dan jantungnya, yang selama ini berdetak seenaknya, tiba-tiba mengikuti irama tertib seperti diatur.
"Kaeta Calliope Quinn."
Ia melangkah. Panggung kayu itu berderit di bawah sepatunya. Di depan, Profesor Sterling berdiri dengan kedua tangan terlipat di belakang punggung, dan di atas podium di sampingnya ada model jantung resin berwarna merah tua.
"Nona Quinn."
"Profesor."
"Saya mengunci pintu satu menit setelah kelas dimulai selama tiga puluh satu tahun," ucap Profesor Sterling, rendah, hanya untuk telinganya. "Anda tidak pernah datang terlambat. Saya juga tidak pernah mengunci Anda di luar, walaupun dua kali saya hampir melakukannya karena Anda masuk dengan cengiran." Ia berhenti. "Tangan yang membeku itu sekarang tangan yang menekan. Jas itu pantas untuknya."
Kaeta menegakkan punggung. Di bawah panggung, di barisan depan, Mars duduk di kursi roda dengan selimut di pangkuan dan wajah sepucat kertas, tetapi matanya terbuka lebar. Ia mengangkat satu jempol, kaku, ke arahnya. Di sampingnya Paman Sam berpura-pura memeriksa arlojinya agar tidak terlihat mengusap mata. Di baris belakang, Marlene dan Holt duduk berdampingan. Dan di kursi paling ujung, sendirian, dengan lengan kiri sudah tidak lagi dibebat, duduk Vanessa, yang ketika bertemu mata dengannya hanya menurunkan dagu satu kali.
"Selamat," ucap Profesor Sterling dengan lantang, dan seluruh aula berdiri.
***
Selesai upacara, halaman belakang fakultas berubah menjadi lautan jas putih dan keluarga yang saling mencari. Kaeta berdiri di bawah pohon besar bersama Zeta dan Jordi, yang tiba-tiba muncul dengan seragam dinas lengkap dan senyum yang terlalu rapi untuk dipercaya. Di belakang mereka, satu per satu muncul orang-orang yang tidak ia harapkan: dua belas petugas regu, berbaris dengan tangan di belakang punggung. Daniel dan teman-temannya dengan bunga. Magnus dengan kotak putih yang sekarang sudah ia kenal. Tuan Wesley dengan tongkat dan Gans di belakangnya membawa topi.
"Ini apa?" tanya Kaeta.
"Perayaan," jawab Zeta, tidak meyakinkan.
"Kenapa semua pakai seragam?"
"Karena... seragam rapi?"
Barisan itu terbelah. Damian berjalan dari ujung lain halaman, mengenakan setelan hitam dengan dasi biru gelap, rambut disisir ke belakang, kedua tangan kosong. Ia berhenti satu langkah di depan Kaeta, dan untuk sesaat seluruh halaman seolah menahan napas bersama.
"Kae."
"Dam."
"Boleh aku bertanya sesuatu? Di depan orang banyak. Kamu boleh menjawab tidak, dan hari ini tetap hari jas putihmu, tidak ada yang berubah. Dokter Xavier sudah tahu, dan beliau menyuruhku bertanya tepat waktu. Ini waktunya."
Kaeta menoleh pada Xavier yang berdiri paling dekat dengan wajah basah dan senyum lebar. Ia kembali menatap Damian.
"Boleh."
Damian merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kotak beludru kecil, yang sudah ia periksa berkali-kali pagi itu. Ia membukanya. Di dalamnya sebuah cincin sederhana dengan satu batu bening, bukan yang paling besar, bukan yang paling mahal, tetapi terlihat seperti dipilih oleh seseorang yang sudah membandingkan puluhan lainnya.
"Aku komandan damkar yang pernah menyiapkan seribu rencana untuk menghindari satu pertanyaan. Sekarang aku berdiri dengan satu rencana saja." Suaranya tidak sepenuhnya stabil. "Kaeta Calliope Quinn, maukah kamu menikah denganku? Bukan karena utang. Bukan karena rumah sakit. Bukan karena ayahku. Dan aku sudah bertanya pada Kavea, dan ia mengeluarkan tiga gelembung. Aku menganggapnya setuju."
Beberapa orang tertawa dengan mata basah. Kaeta tidak. Ia mengangkat satu tangan, telapak terbuka, dan Damian berhenti seketika.
Dari saku jas putihnya ia mengeluarkan stetoskop kecil milik ibunya, memasang kedua ujungnya ke telinga, dan menatap Damian dengan mata hazel yang tidak berkedip.
"Boleh aku mendengar jantungmu dulu? Sebelum menjawab."
"Boleh."
Ia menempelkan bagian dada stetoskop itu ke kemeja Damian, tepat di kiri. Dingin logam membuat Damian menarik napas. Halaman sunyi sama sekali. Seekor burung di atas pohon terdengar jelas. Kaeta mendengarkan, lama, dengan dahi sedikit berkerut seperti dokter betulan, dan detak di telinganya bergemuruh cepat dan keras dan sama sekali tidak teratur.
"Pasien kambuh," ucapnya. "Gejalanya sama seperti malam di ambulans itu, hanya lebih ribut."
"Penyebabnya juga sama."
"Diagnosis yang bagus." Kaeta melepas stetoskop dan tersenyum, lebar, tanpa ragu sedikit pun. "Dan jawabannya, ya."
Sorak meledak. Jordi melompat ke atas bangku dan berteriak sesuatu yang tidak terdengar. Zeta memeluk Kaeta dari samping hingga jas putihnya miring. Damian memasang cincin itu pada jari Kaeta dengan tangan yang gemetar, dan cincin itu pas, tentu saja, karena Zeta sudah mencuri ukurannya dua minggu lalu.
Tuan Wesley melangkah maju, bertumpu pada tongkat, dan berdeham keras sampai semua orang diam.
"Selamat. Saya bangga pada kalian berdua." Ia berhenti satu ketukan. "Dan mengenai cucu..."
"Tuan Wesley!" seru Xavier.
"Saya hanya menyebut. Dan Jenderal sudah bertanya tentang Kavea. Mereka bisa bertemu di taman atap sayap baru." Tuan Wesley menatap Kaeta dengan mata paling polos yang pernah dimiliki lelaki tua berkuasa. "Ikan itu juga perlu teman."
Kaeta tertawa sampai harus menyandarkan dahi di bahu Damian. Damian merangkulnya, dengan izin yang kali ini bahkan tidak perlu ditanyakan.
"Kalau jantungku berhenti karena ini," bisik Damian di dekat telinganya, "kamu tahu nomornya."
"Aku hafal nomornya." Kaeta mengangkat wajah. Matahari jatuh di atas bordir peraknya, tepat di huruf pertama namanya. "Tapi untuk yang satu ini, bukan darurat. Cuma takdir."
Dan ketika keisengan akhirnya berubah menjadi takdir, jangan panggil 911.
TAMAT