Pesta kecil itu dimulai dengan sebuah pertengkaran, karena begitulah semua hal baik di markas dimulai.
Di halaman belakang, tempat truk-truk dikeluarkan untuk dicuci setiap pagi, Jordi sudah menggelar tiga meja lipat dan menutupnya dengan taplak kotak-kotak. Di tengahnya berdiri sebuah kue cokelat setinggi dua jengkal, krimnya miring ke kiri dan tulisan di atasnya nyaris terbaca: Selamat Sudah Tidak Terbakar. Dua belas orang regu mengelilinginya dengan piring kertas, sebagian sudah mengambil sendok.
Lalu Magnus tiba, berjas hitam lengkap dengan dasi, membawa kotak putih besar dengan pita perak yang menyilaukan, dan meletakkannya di meja yang sama tanpa suara.
"Apa itu?" tanya Jordi.
"Kue."
"Itu kue besar." Jordi mengucapkannya seperti dokter menyebut penyakit yang sudah ia ramalkan sejak Minggu.
"Kau melarang aku membawa kue. Kau tidak melarang kue dari pembuat kue Tuan Wesley." Magnus membuka tutup kotak dengan dua jari. Di dalamnya, kue tiga lapis dengan lapisan marzipan putih bersih, hiasan bunga gula yang masing-masing kelopaknya tampak dipoles satu per satu. "Tiga lapis. Tanpa kompromi."
"Jadi kau menyogok markasku dengan marzipan."
"Aku tidak menyogok. Aku mengantar."
"Ini markasku!"
"Ini pos distrik milik pemerintah kota. Tidak ada yang memilikinya, Jordi."
Dua belas orang regu menoleh bergantian seperti sedang menonton pertandingan tenis, piring kertas mereka terangkat setengah. Dari ujung barisan terdengar bisikan, dua puluh ribu untuk Jordi, tiga puluh untuk Magnus, dan seseorang berbisik bahwa taruhan sudah ditutup.
"Cukup." Zeta melangkah ke tengah dengan sendok plastik terangkat seperti tongkat sulap. "Dua kue. Dua orang. Satu markas. Aku sudah menghitung, dan matematikanya mudah."
"Kuenya Jordi jelek tapi tulus," kata seorang petugas dari belakang.
"Kuenya Magnus cantik tapi kaku," tambah yang lain.
"Kalau begitu kita potong dua-duanya sama rata, taruh di satu piring, dan siapa yang berani bilang yang mana lebih enak dilarang makan selama seminggu." Zeta menatap Jordi, lalu Magnus. "Setuju?"
Jordi memandang kue marzipan itu dengan wajah orang yang sedang berusaha benci tetapi gagal. Magnus memandang tulisan miring di kue cokelat dan sesuatu di sudut mulutnya bergerak sedikit.
"Selamat Sudah Tidak Terbakar," bacanya perlahan. "Bagus."
"Kau suka?"
"Hurufnya miring. Tapi maknanya benar."
"Daftar tiga puluh dua halaman itu," ucap Jordi, memotong langsung. "Aku sudah membacanya. Semua. Kau menulis namamu sendiri di tiap halaman."
"Itu prosedur."
"Itu keberanian." Jordi mengulurkan tangan. "Aku salah soal kau."
Magnus menjabatnya dengan kaku, lalu melepasnya cepat-cepat seperti dari kompor. "Aku juga," ucapnya. "Sebagian."
Zeta menghela napas panjang sambil memotong kue cokelat. "Akhirnya. Aku berhenti jadi juri."
***
Damian sudah duduk di bangku paling ujung dengan topi dinasnya dilepas, dan sebuah rantang baja tahan karat di depannya. Tutupnya masih rapat. Di permukaannya Kaeta menempelkan selembar stiker dengan tulisan tangan: Tidak Bisa Pecah. Diuji.
"Itu bukan kue," ucap Kaeta, duduk di sebelahnya. "Itu makan siang. Aku tidak mau kau pingsan karena gula."
"Aku boleh membukanya sekarang?"
"Kau bertanya padaku soal bekalmu sendiri?"
"Terakhir kali aku membuka rantang, ia pecah di lantai."
"Karena kau menepisnya." Kaeta menyilangkan lengan, tetapi sudut bibirnya naik. "Buka."
Damian membuka tutupnya. Nasi goreng, telur setengah matang di atasnya, irisan mentimun rapi di sisi, bau bawang putih dan sedikit kecap. Seluruh regu yang tadinya sibuk dengan kue mendadak diam, seolah seseorang memencet jeda.
Ia mengambil sendok, menyuapkan satu, mengunyah pelan, dan Kaeta menunggu dengan mata menyipit.
"Tidak asin," ucapnya.
"Aku menakar garamnya empat kali."
"Kamu juga menakar cintamu."
"Gombalan itu sudah basi, Damian," tukas Zeta dari meja kue. "Tolong lebih kreatif."
"Aku makan dulu," ucap Damian, dan memakan semuanya, tiap sendok, sampai dasar rantang terlihat bersih di bawah matahari tengah hari. Dua petugas regu mengangkat ponsel untuk merekam, dan Jordi berdiri di atas bangku, mengangkat kedua tangan seperti pembawa acara.
"Hadirin sekalian! Komandan kita! Makan! Sampai habis!"
Tepuk tangan meledak. Damian menutup tutup rantang dengan perlahan dan menatap Kaeta, dan untuk sesaat ia terlihat seperti seseorang yang selama ini membawa beban kecil yang tak terlihat, dan baru saja menaruhnya.
"Terima kasih," ucapnya, hanya untuk Kaeta.
"Kembalikan rantangnya. Cuci sendiri."
Jordi masih berdiri di atas bangku. Ia menarik napas, lalu turun, lalu berjalan ke arah Zeta yang sedang membagi kue ke piring kertas dengan wajah sok sibuk. Ia berhenti di depannya, kedua tangan di belakang punggung, dan seluruh regu menahan napas lagi.
"Zeta."
"Jordi."
"Aku tidak akan melempar lelucon."
"Aku sudah mendengar itu."
"Aku mau jadi pacarmu. Resmi. Di depan regu, di depan Komandan, di depan kue." Jordi berhenti, menelan ludah, dan wajahnya yang biasa penuh canda menjadi hampa dan jujur sekaligus. "Kamu bilang setelah urusan Kae beres. Urusan Kae sudah beres. Jadi aku bertanya."
Zeta menaruh pisau kue. Ia memandangnya dari ujung rambut sampai ujung sepatu bot, perlahan, seolah sedang memeriksa suatu spesimen.
"Boleh," ucapnya akhirnya. "Tapi kau yang mencuci piring."
"Seumur hidup?"
"Sampai aku bosan."
Tepuk tangan kali ini lebih keras, dan seseorang meniup peluit tiga kali.
***
Daniel tiba pukul dua, dengan jaket kulit yang akhirnya kembali dari nenek di rumah sakit, dibawa Reyhan yang tersenyum lebar di belakangnya. Nico dan Jordan menyusul dengan kantong plastik berisi martabak. Mereka berhenti di pagar halaman, saling dorong, dan Daniel akhirnya maju sendirian.
"Paman."
Damian berdiri. "Daniel."
"Aku punya kabar." Daniel menegakkan bahu seperti anak yang berdiri di depan guru. "Aku sudah mendaftar pelatihan relawan pemadam akhir pekan di kampus. Resmi, tadi pagi, lengkap dengan tanda tangan pembinanya. Jangan khawatir, aku tidak akan minta jatah truk."
"Kau yakin?"
"Aku mau jadi dokter yang tinggal, Paman. Bukan yang pergi." Ia melirik Kaeta sekilas, tersenyum, dan senyum itu tidak lagi pahit. "Dan aku mau tahu kapan Paman mengajari aku memadamkan api. Bukan karena apa-apa. Cuma ingin tahu rasanya."
Damian tidak mengatakan apa-apa. Ia melangkah maju dan menepuk bahu Daniel sekali, keras, pelan, dengan telapak tangan yang terbuka.
"Kau akan mulai dari menggulung selang."
"Siap, Komandan."
Sore merayap ke halaman, dan matahari turun miring di atas atap markas. Orang-orang berpencar membawa piring kosong ke dalam. Damian berdiri di sisi Kaeta di dekat pagar, jarak satu lengan, tangan mereka sama-sama di saku.
"Kae."
"Hm?"
"Aku harus bicara dengan ayahmu. Minggu."
Kaeta menoleh, perlahan, dan alisnya naik sedikit. "Soal apa?"
"Soal sesuatu yang tidak bisa kutanyakan padamu dulu."