Taman Rumah Sakit Valere pagi itu berbau tanah basah dan sisa asap yang belum benar-benar hilang. Di seberang rumput, pita kuning polisi masih melintang di depan sayap lama yang menghitam, dan jendela-jendelanya yang pecah memantulkan matahari seperti mata yang tidak bisa berkedip. Tuan Wesley sudah menunggu di bangku kayu di bawah pohon ek, tongkat tegak di antara lututnya dan Holt berdiri satu langkah di belakang dengan map cokelat tebal di dada.
"Kamu terlambat dua menit, Nak," sapa Tuan Wesley.
"Saya datang tepat waktu, Tuan. Mungkin Jenderal diam-diam menggeser jarum jam Anda." Kaeta duduk di ujung bangku, Xavier di sisi lainnya, dan Damian berdiri agak jauh di dekat tiang lampu dengan lengan kiri masih dibebat. Zeta, Jordi, dan Daniel menggerombol di bawah pohon berikutnya dengan kopi kertas di tangan, jelas berpura-pura tidak mendengarkan.
"Hadiah," ucap Tuan Wesley, dan mengangguk pada Holt.
Holt membuka mapnya dan menyodorkan selembar gambar berukuran besar. Sebuah bangunan lima lantai berbentuk huruf L, kaca di sisi depannya, taman atap di puncak, dan di atas pintu masuk utama tertulis dengan huruf perak: Sayap Nyonya Valere.
"Bukan jas," ucap Tuan Wesley. "Jas itu hadiah untuk Kaeta. Ini hadiah untuk istri Anda, Dokter Xavier. Untuk perempuan yang membangun tempat ini dan tidak sempat melihat sayap lamanya jadi arang. Dibangun di tanah yang sama, dengan listrik yang benar."
Xavier mengambil gambar itu dan memandanginya lama. Jari telunjuknya bergerak pelan di sepanjang garis atap, berhenti di sudut kiri bawah tempat sebuah taman kecil digambar.
"Atas nama siapa?" tanya Kaeta.
"Nyonya Valere."
"Maksud saya tertulis atas nama siapa dananya."
Holt berdeham. "Dana pribadi Tuan Wesley, bukan Wesley Group. Dihibahkan kepada Yayasan Valere-Quinn. Tidak ada nama Wesley di dinding, tidak ada saham, tidak ada utang, tidak ada syarat. Saya sudah membacanya tiga kali."
"Empat," ralat Tuan Wesley.
Kaeta menimbang lembaran itu, lalu menatap Tuan Wesley. "Satu syarat dari saya, Tuan. Yayasan yang memutuskan semua hal di dalamnya, bukan Tuan, bukan Damian, bukan Holt. Kalau Tuan datang menjenguk, silakan, tapi bawa buah."
"Saya akan membawa buah. Dan ikan."
"Jangan ikan."
"Jenderal bisa dititipkan di kolam taman atap. Ia tidak mau makan sejak kebakaran itu, saya kira ia merindukan Anda." Tuan Wesley mengatakannya dengan wajah paling serius di dunia, lalu menoleh pada Damian. "Dan bagaimana kabar Kavea? Ikan itu tidak muntah gelembung lagi, kan?"
"Kavea sehat, Dad. Ia gemuk, bukan kembung."
"Bagus. Ikan yang gemuk adalah ikan yang bahagia." Tuan Wesley kembali menatap Kaeta, dan matanya menyipit penuh arti. "Dan tentang cucu..."
"Tuan." Kaeta mengangkat satu telapak tangan. "Kami baru saja melunasi kopi."
Dari bawah pohon sebelah, Zeta tersedak kopinya dan Jordi menepuk punggungnya terlalu keras. Xavier menahan tawa dengan menutup mulut dengan gambar bangunan itu. Tuan Wesley menghela napas seperti orang yang sudah menduga jawabannya dan tidak keberatan.
Lalu ia berdiri, menumpukan berat badan pada tongkat, dan mengulurkan tangannya kepada Xavier.
"Dokter Xavier. Maaf, dan terima kasih. Dengan urutan itu."
Xavier memandang tangan keriput itu, tangan yang dulu mengirimkan tagihan bunga tanpa wajah. Ia berdiri, menaruh gambar di bangku, dan menjabatnya, erat dan pendek.
"Dengan urutan itu," ucapnya. "Saya terima."
***
Mereka belum sempat bubar ketika sebuah mobil hitam berhenti di gerbang dan Vanessa turun dari kursi belakang. Lengan kirinya diperban sampai siku dan digantung dengan kain putih di leher. Rambutnya yang biasa ditata sempurna kini hanya diikat seadanya, dan ia memakai mantel abu-abu tua yang kebesaran, tanpa perhiasan sama sekali. Ia berhenti di tepi rumput dan tidak melangkah lebih jauh.
Holt langsung bergeser sedikit di depan Tuan Wesley. Daniel meletakkan kopinya. Kaeta mengangkat tangan, pelan, dan semua gerakan berhenti.
"Tante."
"Aku tidak akan lama." Suara Vanessa terdengar lebih kecil daripada yang Kaeta ingat. Ia mengeluarkan sesuatu dari balik mantelnya dengan tangan kanan: bingkai foto kecil yang tadi malam ia genggam di tengah api. Kacanya retak di satu sudut. "Aku ke sini untuk mengembalikan ini."
"Foto itu milik Tante."
"Tidak. Aku mengambilnya dari dinding lorong itu semalam karena takut ia hilang, padahal bertahun-tahun aku berdiri di depannya dan merasa berhak atas kakakku." Ia menyerahkan bingkai itu kepada Kaeta dengan kedua tangan, bahkan yang terbalut perban. Di dalamnya ibu Kaeta, masih muda, tertawa lebar dengan rambut ditiup angin. "Ini tempatnya di rumah sakit yang ia bangun. Dan kau, sayang, adalah satu-satunya orang yang pantas menggantungnya."
Kaeta menerima bingkai itu. Beratnya hampir tidak terasa.
"Satu lagi." Vanessa menarik amplop putih dari saku mantel dan memberikannya kepada Holt. "Surat pengunduran diriku dari dewan keluarga Valere, ditandatangani pagi ini. Aku tidak akan mencalonkan diri lagi. Aku tidak akan menekan siapa pun lagi." Ia menoleh pada Xavier sekilas, dan Xavier tidak membuang pandangannya. "Aku tidak meminta dimaafkan, Xavier. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku tahu."
Xavier mengangguk sekali, kecil. Itu cukup.
Vanessa menoleh terakhir pada Damian, yang berdiri membeku di tiang lampu. "Kau yang memberiku keberanian untuk menekan mereka. Kau juga yang menarikku keluar dari asap. Aku tidak tahu harus mengutuk atau berterima kasih."
"Keduanya boleh, Nyonya," jawab Damian. "Aku minta maaf untuk yang pertama."
"Diterima," ucap Vanessa, hampir tersenyum. "Sebagian."
Kaeta melangkah maju, tidak menyentuh tangan perbannya, hanya menatapnya. "Tante. Kontrol lukanya besok. Kalau tidak, aku sendiri yang akan menjemput."
"Kau mengancam bibimu?"
"Aku meresepkan, Tante. Ini beda."
***
Apartemen Damian sunyi ketika ia membuka pintu menjelang sore, kecuali gelembung lembut dari akuarium besar di sudut ruang tamu. Ia menaruh kuncinya di mangkuk, menggantung jaket dinasnya yang berbau asap, dan berjalan ke kaca yang berpendar kebiruan. Kavea mengapung di sana, oranye dan bulat, menatapnya dengan mata besar yang tidak berkedip.
"Aku pulang," ucapnya.
Kavea mengibaskan ekor sekali.
"Aku dimaafkan. Hari ini. Kamu bayangkan?"
"Dia memberi tahu seluruh dunia," sahut suara dari sofa. "Jadi ya, kami bisa bayangkan."
Damian memutar tubuh. Jordi duduk di sofa dengan kaki di atas meja kopi dan sekantong keripik di pangkuan, kunci cadangan berayun di jarinya.
"Kunci itu seharusnya kau kembalikan, Jordi."
"Nanti. Aku datang menyampaikan kabar, bukan menginap." Jordi menyuap keripik. "Rabu, markas. Aku mengundang semua orang, termasuk Zeta, yang bilang akan datang kalau ada kue. Termasuk Magnus."
"Magnus?"
"Dia akan membawa kue. Aku bilang dia tidak boleh membawa kue. Jadi dia pasti membawa kue."