Marlene mengguncang bahu Kaeta pukul enam lewat sepuluh, dengan jari yang tahu persis seberapa pelan mengguncang orang yang baru tidur di kursi plastik.
"Nona kecil. Bangun. Pamanmu sadar."
Kaeta tersentak. Lehernya kaku, blazernya masih berbau asap, dan di luar jendela kamar rumah sakit kota langit baru berwarna abu-abu pucat, bersih dari hujan. Di ranjang, Mars bersandar pada dua bantal dengan selang oksigen di hidung dan kabel monitor menjuntai dari dadanya. Wajahnya masih pucat, tetapi matanya terbuka lebar, dan ia sedang menatap langit-langit seakan sedang menghitung sesuatu.
"Paman."
"Kau menekan terlalu keras." Mars menggerakkan matanya pelan ke arah Kaeta. Suaranya serak. "Aku punya tiga rusuk yang tidak setuju denganmu."
"Maaf. Profesor Sterling bilang lebih baik menekan terlalu keras daripada terlalu pelan."
"Siapa yang mengajarimu?"
"Profesor Sterling dan sebuah manekin bernama Rudolf."
"Rudolf tidak dibayar cukup." Mars menutup mata sejenak, lalu membukanya lagi. Marlene mengangguk pada Kaeta dan melangkah keluar, menutup pintu sangat pelan. "Duduk, Kaeta. Dekat sini. Aku tidak mau bicara pada seseorang yang berdiri."
Kaeta menarik kursi ke sisi ranjang. Mars memandang plafon lagi, kali ini dengan rahang yang menegang seperti orang yang menyusun kalimat sulit.
"Malam itu," ucapnya. "Malam adikku meninggal. Pelayan menelepon aku dan Vanessa, dan ia bilang anak itu bermain di kamar ibunya sampai terlambat memanggil siapa pun. Aku mendengarnya dan aku mengambil kesimpulan, seperti orang yang suka mengambil kesimpulan. Aku menyalahkan anak berumur sepuluh tahun." Ia menelan ludah. "Bertahun-tahun, Kaeta. Aku duduk di pemakaman dan memandangmu seperti kau yang menutup mata ibumu. Aku salah. Aku tidak punya kata yang lebih besar dari itu."
Kaeta tidak menjawab. Ia memandang tangan pamannya, yang terbaring di atas selimut dengan jarum infus di punggungnya, tangan yang sama yang pernah menunjuk wajahnya di restoran.
"Kenapa baru sekarang?"
"Karena baru semalam aku terbangun dengan seorang anak berlutut di dadaku, dan ia sama sekali tidak ragu." Ia berhenti. "Kau mirip dia, kau tahu. Ibumu menertawakan hal yang paling ia takuti, supaya tidak perlu memikirkannya. Tapi semalam kau tidak tertawa."
"Aku tidak sempat."
"Itulah maksudku."
Pintu terbuka. Xavier masuk lebih dulu, mata merah dan masih berjas operasi di bawah jaket, diikuti Paman Sam yang membawa map tebal dan wajah orang yang sudah menyiapkan kalimatnya sejak semalam. Mereka berhenti di ujung ranjang, seperti dua orang yang sedang masuk pengadilan.
"Mars," ucap Xavier. "Ada yang harus kuceritakan, dan kau sebaiknya tetap berbaring."
"Aku tidak punya pilihan lain. Rusukku."
"Istriku, adikmu, punya kelainan irama jantung bawaan. Keturunan keluarga Valere." Xavier mengatakannya dengan suara yang rata dan hati-hati, seperti melintasi jembatan sempit. "Ia menyuruhku dan Sam merahasiakannya dari semua orang, termasuk kau dan Kaeta. Ia tidak mau ada yang melihatnya sebagai orang sakit."
Mars tidak bergerak. Garis hijau di monitor melompat sekali, lalu kembali tenang.
"Kelainan," ulangnya.
"Irama yang sama dengan yang kau punya," sambung Paman Sam, membuka map dan menunjukkan selembar rekaman. "Obat di kotak perakmu itu atenolol, Mars. Aku mengenali foilnya dari foto yang diambil Kaeta. Aku menolak menyebutnya waktu itu karena bukan hakku."
"Dua tahun aku minum tablet itu seperti pencuri," ucap Mars pelan. "Dan adikku..."
"Ia tidak pernah tahu kau mengidapnya. Kau tidak pernah tahu ia mengidapnya. Dua orang kakak-adik dengan penyakit yang sama, rahasia yang sama, saling menyembunyikan dari satu sama lain." Sam menutup map. "Malam itu, Mars, itu henti jantung mendadak. Dengan atau tanpa 911 yang datang lebih cepat, kemungkinan besar tetap tidak tertolong. Aku mengatakannya sebagai dokter yang menangani ibunya Kaeta sampai akhir. Bukan salah anak sepuluh tahun. Bukan salah siapa pun di kamar itu."
Mars menatap Kaeta. Ia tidak menangis; matanya mengkilap, tetapi tidak jatuh.
"Kau dengar itu?"
"Aku dengar, Paman."
"Aku ingin kau dengar sampai kau percaya."
"Aku sedang belajar." Kaeta menaruh tangannya di atas tangan Mars, ringan sekali, menunggu apakah ia menarik diri. Ia tidak. "Aku sudah mendengar versi ini dari Daddy dan Paman Sam. Tapi mendengarnya dari Paman rasanya lain."
***
Dua jam kemudian, di ruang EKG lantai dua yang berbau antiseptik, Paman Sam menempelkan sepuluh elektroda ke dada dan pergelangan Kaeta dan memandang kertas yang keluar dari mesin tanpa berkedip. Kaeta menahan napas selama yang bisa ia tahan dan menghitung ubin langit-langit di atas kepalanya.
"Tiga puluh satu," bisiknya.
"Hm?"
"Ubin. Aku menghitungnya supaya tidak menghitung detik."
"Kaeta." Paman Sam mencabut elektroda terakhir dan menggulung kertas itu. "Irama normal. Tidak ada tanda kelainan yang sama dengan ibumu atau pamanmu. Aku tidak mau menyuruhmu lega terlalu cepat, jadi: kontrol tahunan, selamanya. Sekali setahun, aku yang periksa, jangan menawar."
"Jangan menawar? Aku bisa menawar apa saja."
"Tidak yang ini."
Kaeta mengembuskan napas panjang, sepanjang mungkin, sampai dadanya kosong sepenuhnya. Ia duduk di tepi ranjang pemeriksaan dengan kaki menggantung. Di koridor di balik pintu, sepasang sepatu bot mengetuk lantai dan berhenti.
***
Damian duduk di bangku plastik biru di ujung koridor, jaket dinasnya terlipat di pangkuan dan lengan kirinya dibebat perban putih sampai siku. Sudah semalaman ia di sana, Jordi sempat bercerita, dan menolak masuk ke kamar Mars walau Mars sudah sadar. Ia bangkit begitu melihat Kaeta, lalu berhenti, menunggu.
"Katanya aku akan memeriksa lenganmu nanti," ucap Kaeta. "Sekarang nantinya."
"Boleh." Damian menggulung perban sendiri dengan tangan kanan dan mengulurkan lengan kirinya, telapak ke atas. Kulit di sana merah, bengkak sebesar buku jari, tetapi tidak melepuh. Kaeta mengangkatnya setinggi mata dengan dua jari, menatapnya seperti spesimen.
"Derajat satu. Kamu beruntung."
"Aku selalu beruntung kalau kamu yang memeriksa."
"Gombalanmu buruk."
"Aku belajar dari ahlinya."
Kaeta melepaskan lengan itu dan menaruh kedua tangan di belakang punggung. Koridor sepi, hanya bunyi roda troli di kejauhan.
"Dam. Aku sudah menghitung ulang."
"Persennya?"
"Selesai. Hitungannya tidak lagi perlu." Suaranya turun, pelan dan jelas. "Aku memaafkan kamu. Bukan karena semalam, bukan karena kamu menggendong Tante Vanessa keluar dari api. Karena kamu duduk di bangku ini semalaman dan tidak masuk ke kamar yang bukan hakmu masuki. Karena kamu bertanya, setiap kali."
Damian menutup mata sekejap. Ketika membukanya lagi, kesan keras pada wajahnya sudah hilang sama sekali.
"Aku mencintaimu," ucapnya. "Aku tidak akan bilang itu supaya kamu membalas. Aku hanya ingin kamu tahu."
"Aku tahu." Kaeta tersenyum, kecil. "Sejak kamu datang ke atap membawa satu permen saja."
Dua ponsel bergetar bersamaan, satu di saku blazernya, satu di jaket Damian di pangkuan. Mereka berpandangan, lalu membaca layar masing-masing, dan pesannya sama, dari nomor yang sama: Minggu pagi di taman rumah sakit. Saya bawa Holt dan sebuah map. Hadiah yang sebenarnya.