"Brankar!" teriak Damian. Suaranya serak, seperti digosok kertas ampelas. "Satu lagi, sekarang!"
Marlene sudah menarik brankar kedua dari belakang barisan perawat tanpa menunggu diminta. Damian menurunkan Vanessa dengan gerakan yang hati-hati sekali untuk seseorang yang barusan berlari melewati asap, dan dua perawat langsung menyergapnya dengan masker oksigen. Vanessa batuk, kepalanya terkulai ke sisi, dan matanya terbuka setengah. Lengan kirinya merah dan melepuh di sepanjang pergelangan. Tangan kanannya masih menggenggam bingkai foto kecil itu, dan ketika perawat berusaha mengambilnya, jari-jarinya mengencang.
"Jangan," serak Vanessa. "Fotonya. Jangan jatuh."
"Tidak ada yang akan menjatuhkannya, Nyonya," sahut Marlene, lembut, lalu menaruh tangannya di atas jari-jari itu. "Kau pegang saja. Kami yang mengurus sisanya."
Damian berdiri membungkuk, kedua tangan bertumpu di lutut, napasnya berat dan basah. Jelaga menutup separuh wajahnya. Kaeta melangkah ke arahnya dan berhenti dua langkah, sebab ia tahu garis yang mereka sepakati di kafe masih ada di sana.
"Kamu terbakar?"
"Lengan kiri, sedikit. Cuma kena percikan. Aku tidak sempat memeriksanya."
"Aku periksa nanti."
"Bukan sekarang?"
"Sekarang aku ada urusan lain." Kaeta menoleh pada brankar tempat Mars dibaringkan, dadanya naik turun dengan irama yang tidak lagi ia takuti. "Dam. Paman Mars."
"Aku lihat dari asap tadi. Jordi memberitahuku sambil lewat." Damian menegakkan badan, dan matanya yang merah memandang wajah Kaeta lama sekali. "Kamu yang melakukannya."
"Zeta menghitung. Jordi memasang pelat. Marlene menemukan denyutnya."
"Kamu yang menekan."
Kaeta tidak membantah. Ia hanya mengeluarkan sapu tangan Holt yang entah bagaimana ada di sakunya dan mengulurkannya, bukan menyentuhkan, pada tangan Damian yang kotor. Damian menerimanya dan mengusap pipi, dan jelaga yang tersisa malah membuat wajahnya tampak seperti topeng pesta yang gagal.
"Kamu lucu," ucap Kaeta.
"Aku baru saja menggendong seseorang keluar dari api."
"Dan masih lucu. Itu bakat."
***
Hujan masih turun ketika mereka mendorong brankar-brankar itu keluar ke halaman parkir. Truk merah memuntahkan air dari dua selang ke arah sayap lama, dan di balik tirai air itu, lidah api menjilat jendela-jendela lantai bawah yang sudah pecah. Cahaya jingga memantul di genangan, menari di wajah orang-orang yang berdiri di bawah kanopi lobi. Tuan Wesley berdiri paling depan dengan tongkat di tangan kanan dan tangan kiri mencengkeram pagar besi, dan ia tidak lepas menatap jip hitam di dekat truk, seolah mencari sesuatu yang sudah ia temukan.
"Dam," panggilnya, ketika Damian lewat.
"Dad."
"Kau mendengar aku?"
"Aku mendengarmu, Dad."
"Aku tidak bilang apa-apa."
"Tapi Dad berteriak dalam hati dari tadi." Damian berhenti dan menatap ayahnya, dan sesuatu di wajah keras itu mengendur. "Aku baik-baik saja."
Tuan Wesley mengangguk dua kali, menelan ludah, dan memalingkan wajah ke arah api karena ada hal-hal yang tidak ingin ia perlihatkan pada anak lelakinya. Magnus, di sisinya, memberikan sapu tangan tanpa bicara.
Selang di sebelah barat bergeser. Jordi berteriak komando dari puncak tangga truk, dan air mengalir deras ke dalam lubang jendela sayap lama. Dalam waktu yang terasa lebih lama dari kenyataannya, api itu mengecil, menjadi bara oranye, lalu asap hitam, lalu hanya kepulan putih yang mengepul lemas di antara hujan.
"Padam!" teriak seseorang di barisan regu.
Hening, lalu tepuk tangan, pelan dan tidak teratur, dari para kerabat Valere di bawah kanopi. Bibi bercincin tiga menangis tanpa suara. Paman berkumis putih memegangi topinya di dada.
"Genset mati total," lapor Marlene mendekat, wajahnya basah entah oleh hujan atau yang lain. "Ruang operasi pakai baterai cadangan dan genset kecil gedung utama, sudah dipindahkan. Dokter Xavier bilang cukup untuk menutup luka dan menyelesaikan operasinya. Tidak ada pasien yang terganggu."
"Dan sayap lama?"
"Kosong, Nona. Kosong sejak kau menutup rapat."
Kaeta menutup mata sebentar, hanya sebentar. Zeta sudah ada di sampingnya, berselimut seperti kepompong, rambut mencuat ke tiga arah.
"Aku sudah menghitung seratus delapan puluh," lapor Zeta. "Aku mau naik gaji."
"Kau tidak digaji."
"Itu masalah administrasi. Intinya aku mau."
Kaeta tertawa. Ia tidak bermaksud, tetapi tawa itu keluar begitu saja, pecah dan basah, dan Zeta ikut tertawa dengan cara yang hampir sama, lalu keduanya saling memeluk di bawah hujan.
Pintu lobi terbuka lagi, dan Xavier keluar dengan topi operasi masih di kepala dan masker menggantung di leher, bagian depan scrubnya basah oleh keringat. Ia berhenti begitu melihat brankar, dan wajahnya yang tadi kelabu berubah menjadi sesuatu yang lain.
"Princess. Mars?"
"Henti jantung, Dad. Kami pasang AED, sekali kejut, denyutnya kembali." Kaeta mengatakannya dalam kalimat-kalimat pendek, urut, seperti membacakan laporan. "Dia bernapas sendiri sejak sepuluh menit lalu. Ambulans akan membawanya ke rumah sakit kota karena IGD kita kehilangan listrik utama."
"Siapa yang menekan dadanya?"
"Aku."
Xavier menatap putrinya sangat lama. Ia membuka mulut, menutupnya lagi, dan akhirnya hanya mengulurkan kedua tangan, menangkup wajah Kaeta di antara telapaknya yang kasar oleh cairan sterilisasi.
"Operasi tadi berhasil," katanya, suaranya parau. "Pasien selamat. Daddy tidak bisa menyelamatkan dua orang di dua tempat berbeda, tapi ternyata Daddy tidak perlu."
"Pembagian kerja yang adil, kan?"
"Terlalu adil." Xavier mencium dahinya, cepat, lalu mundur. "Pergilah. Pegang tangannya. Daddy menyusul begitu pasien terakhir dipindahkan."
Ambulans pertama sudah menunggu dengan pintu belakang terbuka. Dua paramedis menggeser brankar Mars masuk, memasang monitor di dadanya, sementara satu lagi memeriksa Vanessa dan menaikkannya ke ambulans kedua. Kaeta berdiri di undakan belakang, menatap garis hijau di layar monitor itu, naik dan turun, naik dan turun, dan merogoh saku blazernya. Di sana ada sesuatu yang kecil dan dingin. Pagi tadi di tangga rumah ia memindahkan stetoskop mungil milik ibunya dari tas ke saku itu tanpa alasan yang bisa ia jelaskan.
Damian berdiri di bawah undakan, jaketnya basah dan bernoda. Kaeta turun satu anak tangga sehingga mata mereka sejajar.
"Dam. Boleh aku mendengar jantungmu? Sebentar."
"Boleh." Ia membuka kancing jaket dinasnya sendiri, telapak tangannya terbuka ke samping. "Kamu yang tentukan berhenti."
Kaeta memasang kedua ujung stetoskop kecil itu ke telinganya dan menaruh bagian dadanya di dada Damian, di atas kemeja yang lembap. Dingin logam itu membuat Damian menarik napas tajam. Di dalam telinga Kaeta, detak itu bergemuruh, cepat dan keras dan sama sekali tidak teratur, seperti seseorang berlari menuruni tangga.
"Detak jantung Anda terlalu cepat, Komandan," ucapnya.
"Itu karena kamu."
Kaeta mengangkat stetoskop dari dadanya dan memegangnya dalam genggaman, memandang Damian sekian lama. Ia tidak mengatakan bahwa ia memaafkannya. Ia tidak mengatakan bahwa ia belum. Ia hanya mengangguk satu kali, kecil dan pasti, lalu naik kembali ke ambulans, duduk di kursi sebelah Mars, dan meraih tangan pamannya yang dingin.
"Aku menyusul begitu apinya benar-benar selesai," ucap Damian dari bawah.
"Kamu bertanya atau memberi tahu?"
"Bertanya. Boleh?"
"Boleh."
Pintu ambulans menutup dengan bunyi berat, dan sirene meraung ke dalam hujan.