Sepatu Kaeta menghantam lantai lorong penghubung, tiga puluh langkah yang ia habiskan dalam sembilan.
Asapnya belum penuh. Ia menggantung setinggi pinggang, kelabu dan bergerak malas di bawah lampu darurat yang berkedip, dan di dasarnya, di depan bingkai foto mendiang ibunya yang miring di dinding, Mars terbaring telentang dengan satu lengan terlipat di bawah tubuh. Jas mahalnya terbuka. Sebuah kotak perak kecil tergeletak terbuka di lantai, dan dua butir tablet menggelinding sampai ke ujung sepatu Kaeta.
"Paman." Kaeta berlutut dan menepuk bahunya dengan dua tangan. "Paman Mars! Dengar saya?"
Tidak ada jawaban. Kelopak matanya setengah terbuka, bola matanya tidak mengikuti apa pun.
"Zet, tarik dari ketiak. Kita keluar dari asapnya dulu, sepuluh langkah ke pintu kaca. Satu, dua, tiga."
Mereka menyeret Mars di atas lantai licin, napas Zeta tersengal di telinga Kaeta. Di mulut lorong, tempat udara terasa agak bersih dan pintu kaca terbuka ke arah lobi, mereka membaringkan tubuh itu lurus. Kaeta menaruh pipinya dekat bibir Mars, matanya ke arah dada. Satu detik. Dua. Tiga. Lima. Dadanya tidak bergerak. Dua jarinya mencari denyut di leher, menekan, bergeser, menekan lagi. Sepuluh detik lewat, dan tidak ada yang membalas.
Di kepalanya sebuah suara kecil memanggil, Dokter Kecil, dan ia ingat tangan mungil yang menekan perut seseorang yang tertawa lalu berhenti tertawa. Tangannya sendiri melayang di atas dada Mars setengah detik. Hanya setengah. Lalu ia menaruh tumit telapak kanannya di tengah tulang dada, menumpuk tangan kiri di atasnya, mengunci siku, dan menekan.
"Zet." Suaranya terdengar kepadanya sendiri dari jauh sekali. "Panggil Daniel. AED. Dari truk atau dari ambulans pertama, apa pun yang tiba lebih dulu. Lalu balik ke sini dan hitung untukku."
"Aku..." Zeta menelan ludah, lalu berteriak ke arah lobi dengan suara yang membuat kaca bergetar. "DANIEL! JORDI! AED! SEKARANG!"
Ia kembali berlutut, dan Kaeta merasakan dasar telapak tangannya turun ke tulang dada, tubuh di bawahnya memberikan perlawanan yang ia kenal dari Rudolf, tetapi hangat, nyata, dan sedikit bergeser di bawah beban. Terdengar bunyi kecil di dalam dada itu. Kaeta tidak berhenti. Itu normal. Profesor Sterling pernah mengatakannya dengan nada paling datar di dunia: kalau kau tidak mendengarnya sekali pun, kemungkinan kau menekan terlalu pelan.
"Satu," hitung Zeta, gemetar. "Dua. Tiga. Empat."
"Lebih cepat. Seratus sampai seratus dua puluh per menit. Pakai irama lagu."
"Lagu apa? Aku tidak bisa berpikir soal lagu sekarang!"
"Lagu apa pun yang kau hafal sampai ke ruas tulangmu!"
Zeta menarik napas panjang dan mulai menghitung dengan irama yang ia pilih entah dari mana, cepat dan sedikit sumbang, dan Kaeta mendengar nada akrab yang sering diputar di kantin kampus. Ia menekan mengikuti nada itu. Lengannya mulai panas di bahu. Asap tipis menyelinap melewati kaca pintu dan perih di matanya, tetapi tangannya tidak lari ke mana-mana.
"Itu lagu disko, Zet."
"Kau yang bilang lagu apa pun!"
"Aku tidak mengeluh. Teruskan. Lebih keras."
"Dua puluh satu, dua puluh dua." Zeta menyeka hidung dengan punggung tangan. "Kae, dia belum bernapas."
"Memang belum. Itu sebabnya kita masih menekan."
"Berapa lama kita boleh?"
"Sampai ada yang menyuruh berhenti atau dia yang bangun. Hitung saja."
***
Di halaman, Jordi baru menutup kompartemen truk yang kedua ketika ia mendengar teriakan Zeta, dan ia sudah berlari sebelum otaknya selesai menerjemahkan. Tas merah dengan simbol jantung putih menghantam rusuknya setiap langkah. Daniel menyusul dari kaki tangga timur, napasnya putus-putus, jaket kulitnya entah di mana.
"Siapa?" teriak Jordi.
"Pamannya Kae! Mars!"
"Henti jantung?"
"Zeta bilang dia tidak bangun-bangun!"
"Kalau Zeta bilang tidak bangun-bangun, berarti dia sudah cukup paham untuk panik dengan sopan." Jordi menaiki tangga lobi dua anak tangga sekaligus. "Daniel, pegang pintunya. Jangan bicara kalau tidak perlu."
"Aku ikut masuk!"
"Kau pegang pintu, aku yang masuk. Ini bukan debat."
"Baik, Komandan palsu."
"Komandan asli sedang di dalam asap, jadi aku Komandan sementara!"
Daniel menahan daun pintu kaca dengan bahunya, dan Jordi melewatinya seperti peluru, menunduk di bawah lapisan asap dan membelok masuk lorong. Di depan, di lantai bersih dekat dinding, Kaeta bertumpu di atas tubuh Mars dengan wajah yang berkeringat dan kosong, bibirnya bergerak menghitung mengikuti suara Zeta.
"Dokter Kaeta," ucap Jordi. Itu nama yang ia pinjam dari sesi latihan yang kacau, tetapi malam ini terdengar jujur. "Lanjutkan. Aku pasang."
Ia merobek kemeja Mars dari kerah sampai dada dengan satu tarikan, memasang pelat perekat di bawah selangka kanan dan di bawah rusuk kiri. Alat itu bersuara datar. "Analisis irama. Jangan sentuh pasien."
"Berhenti!" seru Kaeta, mengangkat kedua tangannya setinggi bahu. Semua orang berhenti bergerak, bahkan napas. "Menjauh!"
"Kejut disarankan," ucap suara alat itu. "Menjauh dari pasien."
Jordi menekan tombol. Tubuh Mars terangkat sedikit dari lantai, lalu jatuh kembali. Tidak ada yang bernapas. Kaeta menunggu satu tarikan napas, dan di tarikan kedua, tangannya sudah berada di dada itu lagi tanpa disuruh.
"Lanjut. Dua menit lagi."
"Satu, dua, tiga, empat," hitung Zeta, dan suaranya sekarang pecah di tiap bilangan sepuluh. "Lima, enam. Kae, tanganmu."
"Aku tahu."
"Kau mau gantian?"
"Dua puluh detik lagi."
***
Marlene tiba dengan brankar dan dua perawat di belakangnya pada hitungan ke seratus delapan puluh. Ia berlutut di sisi lain tubuh Mars, menyentuh leher itu dengan jari yang tahu persis ke mana mencari.
"Kaeta. Berhenti."
"Belum."
"Berhenti. Sekarang. Nona kecil."
"Dia belum..."
"Aku tahu apa yang kulakukan. Percaya padaku sekali ini."
Kaeta menarik tangannya dari dada Mars, menahan kedua lengan yang gemetar tanpa kendali, dan menunggu.
Satu detik. Dua. Di bawah ujung jari Marlene, sesuatu berdenyut, ragu, lalu mengulang. Lalu lagi. Lalu lagi lebih mantap. Mars menarik napas panjang dengan bunyi seperti orang yang baru muncul dari dasar kolam, dadanya naik sendiri, kelopak matanya bergetar, dan sebuah erangan serak keluar dari tenggorokannya.
"Ada denyut," ucap Marlene, nyaris tidak percaya. "Ada denyut sendiri."
Zeta menutup mulut dengan kedua tangan, bahunya berguncang. Daniel di ambang pintu menghembuskan napas sampai terdengar seperti ban bocor. Jordi menunduk dan menekan kening ke pelat alat itu, seperti berterima kasih pada mesin.
Kaeta masih berlutut, menatap kedua tangannya yang berbau asap dan keringat. "Kalau ada yang bilang tadi itu lagu disko," ucapnya serak, "aku akan menyangkal sampai wisuda." Zeta tertawa dan menangis di waktu yang sama.
"Paman," bisiknya. "Paman, ini Kaeta. Bernapas yang pelan saja."
Mars membuka mata. Ia tidak berbicara, hanya menatap wajah Kaeta, lama, seperti sedang membaca sesuatu yang ditulis dengan huruf yang amat kecil. "Dia tahu aku siapa?" tanya Kaeta pelan.
"Dia tahu," jawab Marlene. "Lihat matanya, Nona kecil. Dia tahu."
Perawat mengangkatnya ke brankar dengan hati-hati.
Dari ujung lorong, dari dalam asap yang sekarang menyala jingga di tepinya, terdengar bunyi sepatu bot yang menghantam lantai dengan berat. Sesosok tinggi muncul dari kelabu itu, bahu miring oleh beban, jaket dinasnya hitam oleh jelaga. Di bahunya, Vanessa tergantung dengan lengan terkulai dan satu tangan masih menggenggam sebuah bingkai foto kecil.
Di belakang Damian, di ujung lorong yang lama, api menjilat dinding.