Gelap itu hanya bertahan sebelas detik, dan Kaeta menghitung setiap detiknya dengan jantung yang berdebar.
Lalu lampu-lampu darurat di langit-langit ruang rapat menyala satu per satu, putih pucat dan berdengung, dan dari lantai di bawah kaki mereka terdengar getaran panjang yang dalam, bunyi mesin besar yang dipaksa bangun. Genset sayap lama. Ia menyala tanpa batuk, tanpa tersendat, dan untuk satu tarikan napas orang-orang di ruangan itu menurunkan bahu bersamaan.
"Nah," ucap Xavier pelan. "Mesinnya mau bekerja."
Kaeta tidak menjawab. Ia sedang menghirup udara, dan ada sesuatu di dalamnya yang tidak seharusnya ada. Tipis, hampir tidak terasa, seperti bau kabel yang terlalu lama dipanaskan.
"Daddy." Suaranya datar. "Ada yang mencium sesuatu?"
Bibi bercincin tiga mengendus, lalu paman berkumis putih, lalu Tuan Wesley yang mengerutkan dahi. Dari lorong di luar, seseorang berlari, dan sebuah alarm kebakaran melolong pendek, terputus, lalu melolong lagi.
Kaeta berdiri. Ia sudah memegang ponselnya sebelum sadar ia mengambilnya.
Di dalam kepalanya ada satu kalimat yang selalu ia dengar dengan suara yang tidak pernah bisa ia ulang dengan benar: kalau ini bukan permainan lagi, baru kamu panggil 911. Ibu jarinya menekan tiga angka itu. Di dalam dadanya tidak ada tawa, dan ia tidak punya rencana menertawakan apa pun.
"Sembilan satu satu, apa keadaan daruratnya?"
"Kebakaran di Rumah Sakit Valere." Suaranya terdengar sangat tenang di telinganya sendiri, seperti suara orang lain yang sedang membaca daftar. "Asap dari ruang bawah tanah sayap lama, kemungkinan ruang genset. Gedung masih berisi pasien, ada ruang operasi yang sedang berjalan. Saya Kaeta Quinn, mahasiswa kedokteran, dan ini bukan latihan. Ini bukan permainan."
"Dimengerti, Nona Quinn. Truk sedang diberangkatkan. Apakah ada yang terluka?"
"Belum. Kami mulai mengosongkan lantai. Tolong kirim ambulans lebih dari satu."
Ia menutup telepon dan menyadari semua kepala di ruangan itu menoleh padanya, dari Xavier sampai Vanessa. Tangannya tidak gemetar. Itu aneh. Ia memandangi tangannya sendiri sekilas, seperti memeriksa milik orang lain.
"Daddy ke OR," ucapnya. "Pasien kecelakaan tadi masih di meja operasi, dokter bedah jaganya cuma ditemani satu perawat, dan ruang operasi mendapat listrik dari genset yang sama. Tuan Wesley, tolong minta para kerabat turun lewat tangga utama, jangan lift. Magnus, bantu Tuan."
Xavier menangkap pergelangan tangan putrinya sebentar, hanya sebentar, dengan jari yang hangat dan kering. "Princess. Kau yakin?"
"Daddy mau menyelamatkan satu orang di meja operasi, aku mau menyelamatkan sisa gedungnya. Pembagian kerja yang adil."
Xavier tertawa pendek, hampir tersedak, lalu berlari keluar dengan jas dokter berkibar di belakangnya.
"Siap, Nona," sahut Magnus. Ia tidak menunggu perintah dari Tuan Wesley dulu, dan Tuan Wesley, yang sudah berdiri dengan tongkat, hanya mengangguk, sebab ia sendiri belum pernah melihat Kaeta berbicara seperti ini.
***
Lobi lantai satu sudah ramai ketika Kaeta tiba, berlari menuruni tangga dengan sepatu basah yang menggelincir di anak tangga terakhir. Marlene berdiri di tengah dengan papan catatan di tangan, jas perawatnya setengah terkancing, dan ia mengangkat wajah begitu melihat Kaeta.
"Nona kecil. Sembilan pasien di sayap lama, tiga bisa jalan, empat pakai kursi roda, dua harus dibawa dengan brankar."
"Pakai tangga timur. Pintu darurat lantai dua macet, engselnya berkarat, jangan lewat sana."
"Aku tahu pintunya macet." Marlene tersenyum tipis, masih tegang. "Kau yang menulis pita merahnya, ingat?"
Zeta berlari melewati mereka dengan tumpukan selimut sampai ke dagu, rambutnya mencuat dari ikat yang sudah miring. "Aku tidak sedang panik! Aku sedang berlari dengan alasan!"
"Alasannya bagus," sahut Kaeta. "Teruskan."
Daniel muncul dari lorong dengan Reyhan di belakangnya mendorong kursi roda yang bannya mencicit. Jaket kulit Daniel sudah ia lepas dan ia sampirkan di bahu seorang nenek pasien yang mengerutkan dahi, bingung dan sama sekali tidak panik.
"Ini yang ketiga dari kamar enam," lapor Daniel. "Pintu lantai dua beneran macet, Kae. Aku dan Reyhan sudah mendobrak sekali."
"Jangan didobrak lagi, ada jalan timur. Kalian berdua berjaga di kaki tangga, hitung orang yang lewat. Tiap pasien kita catat. Marlene, daftar?"
"Sembilan. Delapan sudah keluar, satu masih di kamar sebelas, ia tidur dengan obat penenang." Marlene mengangkat alis. "Aku ke sana."
"Kita ke sana bersama."
Mereka berdua berlari. Di lorong sebelah, bau itu sudah tidak lagi tipis; ia manis, pahit, menempel di langit-langit mulut. Kaeta menunduk menutup hidung dengan lengan baju, dan di belakang telinganya sirene mulai terdengar, jauh dan terus mendekat.
Di kamar sebelas, seorang laki-laki tua tidur dengan mulut terbuka, ditutupi selimut sampai dada. Marlene mengguncang bahunya dengan lembut sambil memanggil namanya, dan Kaeta memeriksa denyut di pergelangannya dengan dua jari: stabil, kuat, cukup. Bersama mereka mengangkatnya ke brankar dan mendorongnya ke lorong, meluncur lurus ke arah tangga timur yang sudah dijaga pita merah dan Daniel.
Di halaman depan, truk merah itu sudah mengeluarkan selang. Jordi melompat turun dengan helm menggantung di lengan, wajahnya sama sekali tidak tampak seperti orang yang suka melempar lelucon.
"Kae! Kami sudah di halaman sebelum kau menelepon!"
"Aku tetap menelepon!" Kaeta balas berteriak. "Hitungannya tercatat!"
"Nanti kubuatkan stempel lunas di berkas lama itu!" Jordi meniup peluit di lehernya dua kali. "Kalian semua, masker, berpasangan! Tidak ada yang masuk sendiri!"
Damian berlari dari arah jip dengan jaket dinas yang baru ia tarik dari bagasi, jas hitam rapat tadi sudah ia lempar entah ke jok jip, kancing jaketnya belum selesai ditutup. Ia berhenti satu langkah dari Kaeta, dadanya naik-turun, dan memandang wajahnya sekilas, seolah memastikan ia utuh.
"Kamu tidak apa-apa?"
"Aku baik. Sembilan pasien keluar, satu operasi berjalan. Genset menyala, tapi asapnya dari ruang bawah tanah di bawahnya."
"Aku ke dalam dengan Jordi," ucap Damian. "Boleh?"
Kaeta menatapnya. Kaeta sendiri yang memegang urusan gedung malam ini, Damian jelas tahu itu, tetapi ia bertanya juga. "Boleh. Masuk, dan keluar. Dua-duanya."
"Dua-duanya."
Holt mendekat dari belakang, kacamatanya basah, mapnya masih terselip di bawah lengan seakan lupa ia pegang. Napasnya pendek.
"Nona Kaeta, Tuan Damian. Nyonya Vanessa. Saat gelap tadi ia berbisik ia mau mengambil potret kakaknya di lorong sayap lama. Katanya takut fotonya hilang. Saya kira dia sudah turun bersama yang lain."
Kaeta menoleh ke seluruh lobi, ke kerumunan kerabat Valere yang berdiri di bawah kanopi, ke kepala-kepala basah dan jas hujan. Bibi bercincin tiga memegang tas kecilnya erat-erat di dada, sedangkan paman berkumis putih menghitung orang di sekelilingnya dengan telunjuk, dua kali, dan wajahnya makin cemas tiap kali hasilnya sama. Vanessa tidak ada. Dan di antara semua kepala itu, kursi tempat Mars tadi duduk juga kosong. Seorang kerabat menyebut melihat pria bermantel panjang itu berjalan cepat ke arah lorong yang sama, seperti menyusul seseorang.
Pintu kaca lorong penghubung sayap lama terbuka keras. Zeta menerobos keluar dengan wajah pucat, selimutnya jatuh satu per satu di belakangnya.
"Kae! Paman Mars jatuh! Di lorong, dekat foto Mama kamu, dia tidak bangun-bangun!"
Damian sudah bergerak sebelum kalimat itu selesai. Ia menerobos pintu kaca itu, melewati Zeta, dan sosoknya menghilang ke dalam asap yang bergulung tebal dari ujung lorong.