Vanessa tidak terganggu sedikit pun oleh kedipan lampu tadi. Ia mengangkat satu tangan berkuku rapi dan menunjuk deretan kursi kosong di sisi kanan meja panjang itu.
"Masuklah, Holt. Dan siapa pun yang kau bawa. Kita semua keluarga di sini."
Kaeta melangkah masuk lebih dulu, diikuti Xavier, lalu Tuan Wesley dengan tongkatnya yang berketuk pelan di lantai. Dua belas kepala keluarga Valere duduk mengelilingi meja, sebagian dengan jas hujan yang masih meneteskan air di sandaran kursi. Seorang bibi bercincin tiga memicingkan mata pada Tuan Wesley seperti memeriksa harga di etalase. Di sudut paling jauh, Mars duduk dengan punggung lurus dan kedua tangan terlipat, tidak menoleh pada siapa pun.
Kaeta duduk. Ia menoleh satu kali ke barisan belakang, dan Damian ada di sana, di antara Daniel dan Zeta, menunduk padanya sedikit, lalu menatap lurus ke depan lagi. Kaeta menghela napas yang tidak ia sadari sudah ia tahan sejak lobi.
"Terima kasih sudah datang di tengah badai," ucap Vanessa, suaranya lembut dan terlatih. "Kita duduk beberapa langkah dari lorong tempat foto kakakku tergantung, dan aku ingin kita ingat itu: rumah sakit ini dibangun dengan cinta, bukan dengan utang. Malam ini kita memutuskan apakah orang yang membiarkannya hampir runtuh pantas terus memegangnya."
"Maksud Tante, Daddy saya," ucap Kaeta.
"Maksudku kelalaian, sayang. Orangnya hanya kebetulan duduk di sebelahmu."
Xavier menggosok cincin kawinnya dengan ibu jari dan tidak menjawab. Holt berdiri, merapikan kacamatanya yang tanpa bingkai, dan membuka mapnya.
"Sebelum rapat dilanjutkan, ada dua dokumen yang wajib dibacakan." Suaranya datar, seperti pembawa berita cuaca. "Pertama, surat pembebasan utang Rumah Sakit Valere kepada Wesley Group, ditandatangani pagi ini pukul sepuluh lewat dua puluh. Seluruhnya, tanpa syarat. Kedua, pengembalian hak kepemilikan rumah sakit kepada Yayasan Valere-Quinn. Salinan ada di depan Anda masing-masing."
Kertas-kertas berdesir di sekeliling meja. Paman berkumis putih di sebelah kiri Kaeta membaca baris pertama dengan bibir bergerak, lalu mengangkat wajah.
"Jadi utang itu sudah tidak ada?"
"Sudah tidak ada, Tuan."
"Sejak pagi tadi?" Vanessa tersenyum, tetapi senyum itu menipis di tepinya. "Rapat ini dijadwalkan sebulan lebih yang lalu, Holt. Surat undangannya sudah kukirim ke semua orang."
"Itu sebabnya tanggalnya tidak kami geser, Nyonya. Menunda berarti Dokter Xavier dianggap lalai menghadiri rapat keluarganya sendiri." Holt membalik halaman. "Tetapi karena hak rumah sakit sudah beralih ke yayasan, rapat ini tidak lagi memiliki kewenangan mencabut apa pun dari siapa pun. Itu bunyi lembar ketiga."
Hening. Tuan Wesley berdiri tanpa diminta, menumpukan kedua tangan di tongkat.
"Utang itu saya yang membiarkan membengkak," ucapnya. "Putra saya salah, dan saya lebih salah lagi karena menutup mata. Semuanya sudah saya cabut. Itu saja."
Ia duduk. Bibi bercincin tiga mengedipkan mata dua kali, jelas tidak menduga seorang Wesley bisa menyelesaikan pidato sebelum ada yang sempat menyela.
***
Di barisan belakang, Zeta sudah menemukan piring kue kering di meja kecil dekat dinding dan menggeser satu ke sebelah Damian dengan hati-hati, seperti menyerahkan barang bukti.
"Makan," bisiknya. "Orang yang tegang kalau tidak makan nanti pingsan, lalu Kae harus mengurus dua pasien."
"Aku tidak tegang."
"Jarimu mengetuk lututmu sejak kita masuk. Tiga ketukan, jeda, tiga ketukan."
Damian menunduk memandang jarinya sendiri, lalu menghentikannya. Daniel di sisi lain tertawa tanpa suara. Ia mengambil kue pertama, memandangnya sebentar, dan meletakkannya kembali di tempatnya, tangan Damian tetap kosong.
Di depan, Vanessa sudah berdiri. Ia memutar cincin di jarinya sekali, dan nada suaranya berubah, tidak lagi lembut.
"Baik. Yayasan. Hak. Pembebasan. Semua indah di atas kertas." Ia mengeluarkan map tipis dari tasnya dan menaruhnya di meja. "Tetapi keluarga Valere punya satu keputusan yang jauh lebih penting daripada urusan Wesley, yaitu tanah seratus lima puluh hektar itu. Sudah ada pembeli. Sudah ada kontrak. Dua belas dari kita sepakat bahwa rumah sakit tidak bisa hidup dari kenangan, dan delapan di antara kalian sudah berjanji padaku."
"Kontrak yang mana, Tante?"
Kaeta bertanya pelan, hampir ramah. Ia membuka mapnya sendiri dan mengeluarkan selembar salinan dengan satu klausul digarisbawahi pensil biru. Vanessa menatap kertas itu, lalu menatap Kaeta, dan untuk sesaat wajahnya kosong sama sekali.
"Penjualan baru berlaku setelah kewenangan rumah sakit yang sekarang dicabut dalam rapat," baca Kaeta. "Itu bunyinya. Dan kewenangan itu sekarang sudah tidak di tangan Daddy saya, Tante, dan tidak di tangan rapat ini. Tanahnya tertulis di lembar ketiga: tidak dapat dijual atau dijaminkan oleh siapa pun."
"Dari mana kau dapat salinan itu?"
"Dari orang yang membaca sampai halaman terakhir."
Kursi berderit di ujung meja. Mars berdiri.
Ia tidak tinggi dibanding orang lain di ruangan itu, tetapi semua kepala menoleh juga, seperti ketika seseorang menjatuhkan sendok di rumah ibadah. Wajahnya agak pucat di bawah cahaya kuning, dan sebutir keringat tipis meluncur di pelipisnya, aneh untuk ruangan yang sedingin ini. Tangan kanannya sekilas menyentuh saku jas tempat sebuah kotak kecil menonjol, lalu turun lagi.
"Aku yang memberi salinan itu padanya," ucap Mars. "Dan sebelum ada yang menghitung suara, aku nyatakan suaraku. Suara keluargaku mendukung yayasan. Mendukung Xavier. Dan mendukung anak ini."
"Mars." Suara Vanessa pecah di tengah. "Kau tidak pernah memihak siapa pun."
"Aku memihak sekarang."
Ia berjalan sepanjang meja, melewati kursi-kursi, melewati bibi bercincin tiga yang sudah menurunkan pandangannya. Di depan lembar yayasan ia mengambil pulpen Holt, tidak menatap siapa pun, dan menandatangani kolom yang selama ini dikosongkan: wakil keluarga. Gerakannya cepat, lalu napasnya tertahan setengah detik di tengah, dan ia menyelesaikan goresan terakhir dengan bahu agak tegang.
"Paman baik-baik saja?" tanya Kaeta, hampir tanpa suara.
"Aku sedang membuat sejarah, Kaeta. Jangan merusaknya dengan diagnosis."
"Aku belum bilang apa-apa."
"Wajahmu sudah."
Paman berkumis putih berdeham keras. "Kalau begitu, tanah itu tidak jadi dijual?" Ia menoleh ke kanan dan kiri, mencari dukungan. "Aku tidak pernah suka kontrak itu. Aku hanya takut dibilang tidak peduli."
"Aku juga," sahut bibi bercincin tiga, cepat, dan lima kepala lain mengangguk bersamaan.
Delapan suara yang dihitung Vanessa sebulan lalu menguap di depan matanya satu per satu, tanpa pertengkaran, tanpa teriakan, hanya dengan deham dan anggukan kecil. Vanessa berdiri sangat tegak dengan tangan di sandaran kursi. Ia terlihat jauh lebih tua dalam dua menit daripada dalam dua minggu terakhir.
"Baik," katanya akhirnya, hampir berbisik. "Baik. Kalian semua menang."
"Kami tidak menang, Tante," ucap Kaeta. "Rumah sakitnya yang selamat."
Di luar, jendela putih menyala. Petir menyambar begitu dekat hingga gelasnya bergetar di nampan, dan suaranya merobek langit tepat di atas atap. Lampu padam. Seluruh lampu, di ruang rapat, di lorong, di tangga, di lantai bawah, hilang dalam satu napas, dan seseorang menjerit pendek di ujung meja.
Dalam gelap, terdengar suara Zeta, jelas dan sangat pelan. "Aku tidak makan kuenya. Sumpah."
Lalu dari bawah lantai, jauh di dalam perut sayap lama, genset berdengung.