Gedung Wesley Group menjulang tiga puluh dua lantai dengan kaca gelap yang memantulkan langit, dan pagi itu langit di dalamnya berwarna seperti timah. Kaeta turun dari mobil Xavier pukul sembilan lewat lima puluh dua, membawa map pinjaman dari Holt yang ia peluk di dada, dan menengadah memandang puncak gedung yang separuhnya hilang ke awan rendah.
"Mendung," komentar Xavier, menurunkan payungnya yang belum terpakai. "Orang-orang radio bilang malam ini lebih buruk."
"Orang-orang radio juga bilang kemarin hari cerah dan kita basah di parkiran."
"Ramalan itu seperti diagnosis, Princess. Kadang benar, kadang hanya terdengar meyakinkan."
Di lobi marmer yang dingin, Damian berdiri di dekat patung abstrak berwarna perak dengan jas hitam yang lebih rapi daripada biasanya. Ia melihat Kaeta masuk, menunduk satu kali, lalu tidak bergerak, sebab ia sudah berjanji akan menunggu di tempatnya. Kaeta berjalan ke arahnya dan berhenti dua langkah. Cahaya lampu gantung jatuh di wajahnya, dan lingkaran gelap di bawah matanya menunjukkan ia tidak banyak tidur.
"Kamu bilang kamu akan ada."
"Aku datang tiga puluh menit lebih awal. Resepsionis menyuruhku duduk dan aku menolak."
"Kamu berdiri selama setengah jam?"
"Aku mengamati patung itu." Damian menatap patung perak itu dengan wajah serius. "Aku masih belum tahu apa maksudnya."
"Itu kursi yang dilebur."
"Oh."
Ruang rapat di lantai dua puluh dua berdinding kaca penuh, dengan meja oval panjang dari kayu gelap dan pemandangan kota yang mulai memudar di balik kabut tipis. Tuan Wesley sudah duduk di ujung meja, tongkat bersandar di sisinya, Magnus berdiri tegak di belakang kursinya. Holt berdiri di sisi yang lain, membagi map-map tipis di depan tiap kursi dengan ketepatan seorang dealer kartu.
"Satu per satu," ucap Holt, mengangkat lembaran pertama. "Surat pembebasan utang. Tanpa syarat, tanpa tenggat. Rumah Sakit Valere dibebaskan dari seluruh kewajiban kepada Wesley Group sejak tanda tangan ini kering."
Xavier menandatangani dengan tulisan yang lebih tegak daripada biasanya. Tuan Wesley menyusul, goresannya mantap. Holt mengangkat lembaran kedua: pengembalian hak kepemilikan rumah sakit, seluruhnya, kepada keluarga Quinn dan Valere atas nama yayasan yang akan dibentuk. Kaeta membacanya dua kali, baris demi baris, dan ketika sampai pada lembar ketiga, ia melihat nama yayasan itu tertulis: Yayasan Valere-Quinn. Di bawahnya, satu klausul pendek menyebut tanah seratus lima puluh hektar. Tertulis di sana, hitam di atas putih, bahwa tanah itu tidak dapat dijual atau dijaminkan oleh siapa pun.
"Kolom wakil keluarga masih kosong," ucap Holt pelan. "Itu bisa diisi sesudah rapat."
"Biarkan," jawab Kaeta. "Orangnya akan bicara sendiri."
Tuan Wesley mengambil pulpen emasnya, menandatangani lembar terakhir, dan menaruhnya dengan bunyi kecil. Ruangan hening sesaat. Lalu ia berdiri, menumpukan tangan di tongkat, dan berkata dengan suara yang sedikit gemetar: "Nak. Boleh saya?"
Kaeta tahu apa yang ia maksud. Tuan Wesley merentangkan satu lengan, tidak lebih, menunggu. Ia tidak melangkah mendekat. Kaeta melangkah sendiri, dan lengan tua itu memeluknya dengan kuat dan sedikit canggung, seperti orang yang sudah lama lupa cara melakukannya, dan sebuah napas terdengar bergetar di dekat telinga Kaeta.
"Terima kasih sudah tidak menutup telinga," bisiknya.
"Tuan juga tidak berpidato lebih dari tujuh kalimat."
"Belum. Nanti malam."
Dari sudut ruangan, Damian memperhatikan keduanya dengan wajah yang tidak bisa dibaca. Xavier, di sampingnya, melirik sekilas dan berkata sangat pelan: "Ayah Anda tidak pernah memeluk siapa pun di depan saya."
"Ayahku tidak pernah memeluk siapa pun di depanku juga, Dokter."
Itu kalimat paling akrab yang pernah mereka tukar, dan keduanya pura-pura tidak menyadarinya.
***
Hujan pertama jatuh pukul dua belas lewat sepuluh, tiga butir besar di kaca jendela, lalu berhenti, lalu turun lagi. Saat makan siang singkat di kantin gedung, Damian menaruh ponselnya di meja dengan layar menghadap Kaeta.
"Boleh aku bertanya sesuatu soal malam ini? Bukan soal keluargamu."
Kaeta menaruh sendoknya. "Tanya."
"Rapat tidak bisa dipindah. Badai tidak bisa ditunda. Aku ingin menaruh satu truk di halaman rumah sakit, mesin hidup, dengan Jordi dan empat orang regu. Mereka tidak masuk. Mereka hanya ada." Ia menggeser layar: pesan yang belum dikirim, satu kalimat pendek kepada Jordi. "Tidak ada hadiah. Tidak ada urusan Wesley. Cuma keselamatan."
"Genset batuk dua puluh dua detik. Pengendali tegangannya baru datang Sabtu."
"Aku ingat."
"Ini kamu bertanya. Bukan memutuskan."
"Aku bertanya."
Kaeta memandang pesan itu cukup lama. Di luar, hujan turun lebih rapat, dan kota di balik kaca kantin mulai kehilangan garis tepinya.
"Kirim," ucapnya. "Dan Dam. Kalau Jordi bertanya kenapa, bilang saja karena aku yang minta."
Damian menekan tombol kirim. Balasan Jordi datang dalam sepuluh detik: Siap, Bos. Truk siap, selang lengkap, dan dua kotak kue buat jaga-jaga. Mereka berdua membaca layar itu bersamaan, dan Kaeta menutup mulut dengan punggung tangan untuk menahan tawa.
***
Menjelang pukul enam, lampu-lampu jalan sudah menyala sebelum waktunya. Hujan turun tanpa jeda, dan angin menekan hujan itu miring ke arah kaca mobil. Rombongan tiba di Rumah Sakit Valere berurutan: mobil Xavier, sedan hitam Tuan Wesley dengan Magnus di kemudi, jip hitam Damian, dan di belakangnya, memasuki halaman dengan sirene yang dimatikan, sebuah truk merah dengan tulisan markas distrik di sisinya. Jordi melompat dari kabin dengan jas hujan kuning dan melambai pada Zeta, yang berdiri di bawah kanopi lobi dengan payung lebih besar dari tubuhnya.
"Kamu terlambat!" teriak Zeta.
"Aku datang tepat waktu! Hujannya yang terlambat memberi tahu!"
Daniel sudah ada di lobi, jaket kulitnya basah di bahu, dengan Reyhan memegang tiga payung yang tidak ia buka. Marlene muncul dari pintu IGD, membuka mulut untuk menyapa Kaeta, dan menutupnya lagi saat melihat jumlah orang yang masuk bersama-sama. Ia hanya sempat berbisik kepada Xavier bahwa pasien kecelakaan sore tadi sudah naik ke ruang operasi di bawah dokter bedah jaga, dan Xavier mengangguk dengan ponsel digenggam siaga. Di langit, petir pertama belum terdengar.
Mereka naik ke lantai tiga, ke ruang rapat besar yang pintunya ganda, dari kayu berat yang sudah menghitam di engselnya. Dari balik pintu itu terdengar dengung percakapan orang banyak, dua belas kepala keluarga dan para pendamping mereka. Holt berdiri di depan pintu dengan map di dada, menatap Kaeta untuk terakhir kalinya.
"Siap, Nona?"
Kaeta menoleh. Damian berdiri di barisan paling belakang, di samping Daniel dan Zeta, tidak melangkah maju. Ia menurunkan dagunya sekali, pelan, dan Kaeta menoleh kembali ke pintu.
"Siap."
Holt mendorong daun pintu. Di dalam, di ujung meja panjang, Vanessa menoleh dengan senyum anggun yang sempurna. Lalu cahaya putih menyambar jendela, dan seluruh lampu di langit-langit ruang rapat berkedip, sekali, dua kali, sebelum menyala kembali dengan cahaya yang lebih redup.