Damian sudah ada di atap Rumah Sakit Valere ketika Kaeta mendorong pintu tangga darurat pukul delapan kurang dua menit, dan ia tidak berdiri di dekat pagar seperti dulu. Ia duduk di bangku besi paling jauh dari pintu, kedua tangan terletak di atas lutut, sebuah permen mint tunggal diletakkan di tengah bangku seperti persembahan yang diukur dengan penggaris.
"Satu," ucap Kaeta, berhenti tiga langkah dari bangku.
"Satu. Jordi sempat membujuk aku membawa empat, katanya untuk jaga-jaga. Aku bilang kamu menyuruh satu."
"Kamu menurut."
"Aku belajar mendengar." Damian menggeser sedikit ke ujung bangku, memberi ruang, dan tidak menatapnya. "Duduklah kalau mau. Berdiri juga boleh."
Kaeta memilih duduk di ujung lain bangku itu, dengan permen mint di antara mereka. Angin malam itu aneh. Hangat di sekitar pergelangan, tetapi lembap di tengkuk, membawa bau besi dan debu seperti sesuatu di kejauhan yang sedang menyiapkan diri. Langit di barat berwarna kelabu kemerahan, dan lampu-lampu kota menyala satu per satu, tampak lebih dekat daripada biasanya.
"Kamu bilang ada yang ingin dikatakan," ucap Kaeta. "Silakan."
Damian mengambil napas dalam-dalam, dan Kaeta menyadari ia sedang membaca sesuatu di kepalanya, sesuatu yang sudah ia latih berkali-kali dan tampaknya tetap terasa asing.
"Besok aku duduk di belakang, bersama Holt, sesuai syaratmu. Aku tidak akan bicara kecuali kamu memanggilku. Aku tidak akan menjelaskan apa pun yang kamu belum minta dijelaskan." Ia berhenti. "Tapi aku ingin kamu tahu apa yang tidak akan kulakukan. Aku tidak akan mengambil kredit. Kalau yayasan itu berdiri, itu karena kamu menyusunnya di buku catatan. Kalau rapat itu menang, itu karena kamu duduk di barisan depan. Aku hanya ingin ada di ruangan itu, bukan di fotonya."
"Itu semuanya?"
"Ada satu lagi." Suaranya menurun. "Aku tidak meminta dimaafkan besok. Atau lusa. Atau kapan pun kamu tidak siap. Aku meminta izin untuk tetap ada selama kamu menentukan waktunya."
Kaeta mengambil permen mint itu dan memutarnya di antara jari, belum membuka bungkusnya.
"Aku mau jujur," ucapnya. "Aku belum sepenuhnya maafin kamu. Udah kucoba ngitung kayak hutang, berapa persen udah lunas, berapa sisa, tapi hitungannya salah melulu. Kadang pagi-pagi aku bangun dan ngerasa udah sembilan puluh persen, terus inget suara rekaman yang diputar Mars itu, dan angkanya langsung anjlok ke tiga puluh."
"Aku mengerti."
"Kamu tidak perlu mengerti. Dengarkan saja." Ia menarik napas, dan mendengar suaranya sendiri turun setengah nada. "Yang paling sering kupikirin bukan rekamannya, Dam. Tapi ruangan Daddy. Kamu duduk di sana dari jam sepuluh sampai hampir setengah dua belas, siap ngaku, dan aku lagi di restoran, dengerin orang lain bilang duluan. Itu bagian yang gak bisa kuhitung."
"Itu salahku." Damian menjawab tanpa jeda. "Seharusnya kamu mendengarnya dariku dua minggu sebelumnya. Aku menunda, dan setiap penundaan punya alasan yang terdengar masuk akal, dan tidak satu pun benar."
"Kamu pernah bilang begitu di markas."
"Aku akan bilang lagi kalau perlu. Setiap hari."
"Gak usah tiap hari." Kaeta menggigit bibir. "Sekali lagi besok, kalau Mars nanya. Selebihnya, lakuin aja."
Ia menunduk ke permen di tangannya, lalu mengangkat wajah. "Tapi ada satu hal yang gak ada hubungannya sama persen. Aku gak mau ngadepin besok tanpa kamu."
Damian menoleh akhirnya. Matanya terang di bawah lampu atap yang remang, dan ia tidak mengatakan apa-apa, karena kalimat apa pun yang terlintas di kepalanya akan terlalu besar atau terlalu kecil.
"Jadi kamu duduk di belakang," lanjut Kaeta. "Tapi aku mau tahu kamu ada di sana. Aku akan menoleh sekali saja. Kalau aku menoleh dan kamu tidak ada, aku akan marah selama seminggu."
"Aku akan ada."
"Dan satu lagi." Kaeta menunduk, membungkus permen itu kembali di genggaman. "Jas itu masih tergantung di lemariku. Yang dari ayahmu, dengan namaku di dadanya. Aku belum pernah memakainya. Rencananya, aku pakai di upacara jas putih, sebentar lagi. Aku mau kamu tahu itu, karena kalau besok semuanya berjalan buruk, aku mau ada seseorang yang tahu jas itu masih menunggu."
"Ia akan menunggu," ucap Damian. "Jas itu bukan benda yang bisa ditunda."
Hening yang hangat turun di antara mereka. Di kejauhan, entah dari lantai berapa, terdengar bunyi roda brankar yang didorong pelan. Kaeta memandang kota di bawah, dan untuk pertama kalinya sejak malam di markas, ia merasa dadanya longgar.
"Dam."
"Ya?"
"Aku ingin dipeluk." Ia mengatakannya cepat, lalu menambahkan lebih lambat, dengan nada orang yang sedang mengatur tombol: "Aku yang bilang kapan berhenti. Boleh?"
Damian berdiri perlahan, sangat perlahan, seakan takut setiap gerakannya akan memecahkan sesuatu. Ia berhenti satu langkah dari Kaeta dan membuka kedua lengannya setengah, telapak menghadap ke atas, tidak menutup. "Boleh. Kamu yang mulai."
Kaeta berdiri. Ia melangkah ke dalam jarak itu, memiringkan kepala, menaruh dahinya di bahu kemeja Damian, dan baru kemudian lengan Damian turun, melingkari punggungnya dengan sangat hati-hati, seperti seseorang memeluk sebuah gelas yang terlalu penuh. Aroma sabun dan sedikit asap dan jeruk. Detak jantungnya terasa di pipi Kaeta, tidak teratur, terlalu cepat.
"Jantungmu," bisik Kaeta.
"Aku tahu."
"Diagnosis tetap sama."
"Aku tahu, Dokter."
Kaeta tertawa, tertahan di kain kemeja, dan merasakan bahu Damian ikut bergetar. Lalu terdengar bunyi lain dari balik menara air: suara pelan sekali, nyaris tidak ada, bunyi sepatu menggesek beton.
"Dokter, kalau pelukannya lewat sepuluh detik, kita batuk atau tidak?" bisik suara perempuan yang sangat dikenal Kaeta.
"Tidak. Kita bernapas dengan tenang," balas suara berat yang sama kenalnya. "Dan jangan berdiri di tempat yang kena lampu."
Kaeta mengangkat kepala dari bahu Damian tanpa melepaskan pelukan, dan memicingkan mata ke arah menara air berkarat itu. Dua bayangan menempel di sisi bayangan ketiga, dan salah satu bayangan itu memakai jas dokter.
"Daddy. Zeta."
Hening. Lalu Xavier melangkah keluar dari balik menara, jas dokter terbuka, wajah merah, tangan menggenggam sebuah senter yang mati. "Daddy sedang memeriksa tangki air."
"Aku asisten pemeriksaannya," tambah Zeta, muncul di belakangnya dengan roti panggang di tangan. "Kami menemukan tangkinya baik-baik saja."
"Dengan roti panggang?"
"Itu... alat uji."
Damian akhirnya melepaskan pelukan, selangkah ke belakang, dan menunduk memandang sepatunya dengan wajah orang yang berusaha serius dan gagal. Kaeta menghitung sampai lima, membiarkan Xavier dan Zeta mundur ke pintu tangga dengan langkah yang berusaha tampak tidak tergesa. Pintu besi berdecit, lalu terdengar tawa tertahan Zeta di tangga.
Ketika atap itu kembali sepi, Damian berdeham.
"Kae. Besok pukul sepuluh pagi, di kantor ayahku. Penandatanganan. Aku akan menjemputmu kalau kamu mau, atau aku datang sendiri."
"Aku diantar Daddy," ucap Kaeta. "Kita bertemu di sana."