Alamat yang dikirim Vanessa semalam adalah sebuah kafe kecil bernama Bunga Tembaga, terselip di antara toko jam dan biro perjalanan di jalan yang tidak pernah Kaeta lewati. Pukul sepuluh kurang lima, ia menyuruh Damian memarkir jip hitam itu di seberang jalan, di bawah pohon yang daunnya mulai menguning, lalu mematikan mesin.
"Aturannya," ucap Kaeta, mengencangkan tali tasnya. "Satu. Kamu menunggu di sini. Dua. Kamu tidak masuk, apa pun yang kamu lihat lewat kaca. Tiga. Kalau aku keluar dengan wajah tertentu, kamu tidak bertanya sampai aku sendiri yang bilang."
"Wajah tertentu yang mana?"
"Yang membuatmu ingin bertanya."
"Itu hampir semua wajahmu."
"Itu dia." Kaeta menahan senyum. "Aku sudah memberi tahu Daddy dan Tuan Holt tadi malam. Janji kita, kalau menyangkut aku, aku bilang. Aku sudah bilang. Kamu tidak perlu mencemaskan apa-apa."
"Aku tidak mencemaskan. Aku menunggu dengan cemas, itu beda."
"Itu urusan kamus markas."
Ia turun, menyeberang jalan, dan mendorong pintu kaca kafe tanpa menoleh, supaya Damian tidak melihat bahwa jari-jarinya sedikit mendingin.
Vanessa duduk di meja dekat jendela belakang, mengenakan gaun hitam sederhana dengan kalung mutiara satu lapis, rambut disanggul rendah, dan bibir yang dipoles warna anggur tua. Di atas taplak putih di depannya tergeletak dua cangkir teh yang belum disentuh, dan sebuah amplop cokelat tebal tanpa nama. Cantik, pikir Kaeta, dan tidak ada yang berubah sejak foto lama di album ibunya. Hanya matanya yang lebih lelah.
"Duduklah, sayang. Aku pesankan teh melati. Ibumu suka."
"Aku tidak minum melati, Tante. Aku alergi cara Tante menyebut Mama."
Vanessa tersenyum. Itu senyum yang menganggap kalimat tadi pantas dicatat. "Kamu mirip dia kalau sedang marah. Duduk."
Kaeta duduk. Ia menaruh tas di pangkuan, dan jarinya menyentuh stetoskop kecil di saku luar tanpa ia sadari.
"Aku langsung saja," ucap Vanessa, mendorong amplop itu ke tengah meja dengan satu jari. "Di dalamnya cukup untuk kuliahmu sampai selesai, ke mana pun kamu mau menempuhnya, dan hidup layak di kota mana pun. Syaratnya sederhana. Jumat, di rapat, kamu membujuk ayahmu mundur sukarela dari kewenangan rumah sakit. Tanpa drama, tanpa pidato. Ia keluar dengan kepala tegak, dan kamu keluar dengan masa depan."
"Dan kalau tidak?"
"Maka aku membongkar lagi." Suaranya tetap manis. "Bukan hanya malam itu, sayang. Semuanya. Seorang mahasiswi yang menyamar jadi dokter dan memegang tubuh pasien. Seorang gadis yang membakar pos security demi bermain-main dengan seorang komandan. Laporan palsu ke layanan darurat yang masih tercatat di berkas markas. Aku bisa membacakannya satu per satu, di depan dua belas kepala keluarga, dan menyebutnya dokter gadungan yang mewarisi rumah sakit."
Kaeta mengangkat cangkir tehnya, melihat uapnya naik, lalu meletakkannya kembali tanpa minum.
"Silakan, Tante."
Vanessa berkedip. "Maaf?"
"Silakan membacakannya." Kaeta mencondongkan badan sedikit. "Aku sudah menceritakan semuanya, sendiri. Daddy tahu soal jas dokter itu dan pos security. Damian tahu, karena dia yang datang membawa selang. Tuan Wesley tahu. Seluruh regu markas tahu soal laporan palsu itu karena aku menebusnya dengan dua puluh jam mengajar pertolongan pertama. Malam itu, di ruang tamu rumah tua, Tante sendiri yang membuat dua belas kepala keluarga mendengar sisanya. Tidak ada lagi yang bisa Tante bongkar, selain ongkos cetak amplop ini."
"Kamu berani," gumam Vanessa.
"Aku dokter gadungan. Berani itu satu-satunya hal yang pernah kupelajari dengan serius." Kaeta mengambil amplop itu, mengangkatnya, menimbangnya di telapak seperti menimbang botol infus. "Boleh kutanya satu hal? Tanpa biaya."
"Silakan."
"Sejak aku duduk, tangan Tante gemetar di sekitar cangkir, tehnya belum diminum, dan Tante sudah tiga kali melirik jam." Kaeta meletakkan amplop itu kembali di atas taplak, tepat di tempat semula. "Tante takut apa? Hari Jumat? Delapan dari dua belas orang itu berubah pikiran? Kalau Tante mau bilang apa yang sebenarnya Tante inginkan, aku masih mau mendengar. Amplopnya tidak perlu."
Hening. Dari sudut matanya, Kaeta melihat sosok di seberang jalan, di balik kaca depan jip, sama sekali tidak bergerak.
Vanessa menarik tangannya dari meja dan melipatnya di pangkuan. Selama beberapa detik, wajahnya yang licin dan rapi kehilangan sesuatu di bagian pinggirnya, seperti plester yang mulai terkelupas. Ia membuka tas kecilnya, mengeluarkan sebuah foto yang sudah menguning di sudut-sudutnya, dan meletakkannya di atas amplop.
Dua gadis berpelukan di depan pohon natal. Yang lebih tinggi menggigit lidah karena menahan tawa, yang lebih kecil memeluknya dari samping dengan wajah belepotan kue. Kaeta mengenali yang pertama, bukan dari wajahnya, tetapi dari cara tertawanya yang menolak diam bahkan dalam foto.
"Kami berdua," ucap Vanessa, pelan sekali. "Aku sudah menua. Dia tidak. Aku selalu marah pada Xavier karena itu: ia yang membawa pergi satu-satunya orang yang tidak pernah menilai aku." Suaranya serak, hanya sedetik. "Aku tidak memeras rumah sakit karena aku jahat, Kaeta. Aku melakukannya karena rumah sakit itu satu-satunya benda yang masih bisa kusentuh dan kuubah. Tanah itu bisa kujual, rumah sakit itu bisa kuserahkan pada orang yang mau mengurusnya. Kamu tidak mengerti rasanya melihat rumah ibumu sendiri dipegang oleh orang yang membiarkannya sekarat."
"Aku mengerti rasa kehilangan Mama, Tante." Kaeta menyentuh sudut foto itu dengan ujung jari, hanya sudutnya. "Aku tidak mengerti kenapa duka harus dijual ke pengembang."
Vanessa memejamkan mata. Ia tidak membantah, dan itu lebih menyakitkan bagi Kaeta daripada bantahan mana pun.
"Foto itu ada di album Mama," lanjut Kaeta, lebih pelan. "Halaman ketiga. Mama menulis di bawahnya: Adikku yang paling bawel, paling kusayang. Aku menyimpannya di meja belajar. Tante boleh ambil kopiannya. Tidak perlu dengan amplop."
Tidak ada jawaban. Vanessa mengambil kembali fotonya dan memasukkannya ke tas, lalu mendorong amplop cokelat itu ke tepi meja.
"Pergilah."
"Terima kasih untuk tehnya, Tante. Jumat jam tujuh. Aku akan duduk di barisan depan." Kaeta berdiri dan menarik tas ke bahu. "Dan Tante, jangan bawa amplop lagi. Bawa pertanyaan."
Ia keluar tanpa menengok. Udara di luar dingin dan beraroma aspal basah, dan ketika ia menyeberang jalan, kakinya baru menyadari bahwa ia gemetar. Pintu jip terbuka sebelum ia mengetuk. Damian tidak keluar, hanya mendorong pintu dari dalam dan menunggu.
"Aku tidak bertanya," ucapnya, ketika Kaeta duduk. "Tapi wajahmu yang tadi bilang, kalau aku tidak bertanya, kamu akan lupa bernapas."
"Aku bernapas." Kaeta menyandarkan kepala ke jok, memejamkan mata. "Aku menolak amplop. Ia menunjukkan foto. Itu saja."
"Itu banyak."
"Iya. Itu banyak." Ia membuka satu mata. "Kamu menunggu dengan baik."
"Aku menunggu tanpa membakar apa pun. Tanya Jordi."
Kaeta tertawa, pendek dan serak. Beberapa detik sepi. Lalu Damian meletakkan kedua tangan di kemudi dan menatap lurus ke depan.
"Kamis. Kalau kamu mau. Aku ingin bicara sebentar sebelum Jumat. Bukan soal rumah sakit. Soal kita."
"Di atap RS," ucap Kaeta, tanpa membuka mata. "Pukul delapan malam. Bawa permen. Satu saja, bukan dua."