Profesor Sterling mengunci pintu laboratorium anatomi tepat satu menit setelah jam sembilan, dan Kaeta, yang masuk dengan kecepatan orang yang sudah menghitung langkahnya sejak gerbang, mendengar klik logam itu di belakang punggungnya seperti bunyi pistol start. Tiga puluh mahasiswa duduk berjejer di bangku tinggi. Di depan tiap bangku tergeletak selembar kertas ujian terbalik dan, di atas meja panjang di tengah ruangan, sebuah model jantung resin sebesar kepalan dua tangan.
"Ujian praktik," ucap Sterling. Ia berjalan di antara bangku, tangan di belakang punggung, kacamata setengah bulatnya bertengger di ujung hidung. "Tiap orang dipanggil sendiri ke meja ini. Tunjukkan, jelaskan, dan jawab satu pertanyaan saya. Pertanyaan itu tidak ada di buku catatan Anda. Pertanyaannya ada di kepala Anda, kalau Anda belajar dengan benar."
Zeta di bangku sebelah menyikut Kaeta dan berbisik: "Kalau ia bertanya tentang kancing baju, aku pura-pura pingsan."
"Jangan pingsan di ruangan yang pintunya terkunci."
"Itu justru alasan bagus."
Mahasiswa pertama maju dan menyebut atrium kiri sebagai "ruang tamu darah". Sterling mengangkat satu alis, menunggu, lalu menuliskan angka dengan pulpen merah tanpa komentar. Mahasiswa kedua menjawab benar, tetapi dengan suara begitu kecil sehingga Sterling menyuruhnya mengulang tiga kali. Reyhan, yang ketujuh, berdiri di depan model jantung selama setengah menit penuh, menatapnya dengan khidmat seperti pada benda suci, lalu bertanya apakah boleh menjawab dalam bentuk gambar. Sterling bilang boleh. Reyhan menggambar. Sterling mengambil gambar itu, mengamatinya dari dekat, dan berkata datar bahwa ini adalah jantung paling optimis yang pernah ia lihat.
Nama Kaeta dipanggil sebagai yang kesebelas. Ia berjalan ke meja dan merasakan dua hal sekaligus: telapak tangannya dingin, dan lututnya sama sekali tidak gemetar. Itu aneh, dan ia mencatatnya di kepala untuk dipikirkan nanti.
"Nona Quinn. Sistem konduksi jantung. Tunjukkan."
Kaeta mengangkat model itu dan menunjuk bagian demi bagian dengan ujung pulpen: nodus sinoatrial, nodus atrioventrikular, berkas His, serat Purkinje. Ia menjelaskan jalur listrik itu dengan suara yang rendah dan jelas, tanpa menengok catatan, sambil membayangkan petunjuk-petunjuk itu sebagai lorong berlampu yang ia kenal. Sterling mendengarkan dengan kepala sedikit miring, kadang menggumam pelan.
"Cukup. Satu pertanyaan." Ia mengetukkan jari ke meja. "Seorang pria dewasa rebah di lorong. Tidak bernapas. Tidak berdenyut. Anda satu-satunya yang ada di sana. Apa yang Anda lakukan, berurutan?"
Ruangan hening. Zeta di bangkunya berhenti menggigit kuku.
Kaeta meletakkan model jantung itu pelan-pelan di atas meja. Ia tahu pertanyaan itu bukan pertanyaan untuk semua orang. Ia tahu Sterling melihat sesuatu padanya yang tidak dilihat siapa pun di ruangan itu, dan hampir tertawa.
"Pertama, pastikan tempat itu aman," ucapnya. "Saya tidak boleh jadi korban kedua. Kedua, goyang bahunya dan panggil keras. Kalau tidak ada respons, saya tidak melanjutkan sendirian. Saya menunjuk satu orang dan berkata: panggil 911, ambil AED. Kalau tidak ada orang, saya sendiri yang menelepon, menaruh ponsel di speaker, lalu mulai kompresi. Dua jari di atas ujung tulang dada, kedalaman lima sentimeter, seratus kali per menit. Tidak berhenti sampai AED datang atau tim medis mengambil alih."
Ia menarik napas.
"Dan saya tidak bercanda saat menelepon, Profesor. Itu bagian yang paling penting."
Sterling menurunkan kacamatanya perlahan. Selama beberapa detik ia tidak mengatakan apa-apa. Ketika ia bicara, suaranya lebih lembut dari yang pernah didengar siapa pun di ruangan itu.
"Sembilan puluh empat. Dan bukan karena Anda hafal urutannya, Nona Quinn. Banyak yang hafal. Anda menyebut siapa yang harus Anda telepon lebih dulu sebelum menyentuh pasien." Ia mengambil pulpen merahnya. "Itu perbedaan antara orang yang tahu dan orang yang siap."
Kaeta menunduk. "Terima kasih, Profesor."
"Jangan berterima kasih pada saya. Berterima kasih pada tangan Anda. Tangan itu tidak membeku."
Zeta, sekembalinya Kaeta ke bangku, menggenggam pergelangan tangannya dari bawah meja dan tidak berkata apa-apa. Jari Zeta sendiri gemetar sedikit lebih daripada jari Kaeta.
***
Di koridor luar, pukul sebelas, Daniel bersandar di dinding dengan jaket kulit tersampir di bahu dan Reyhan di sisinya mengunyah sesuatu yang berbunyi keras. Mereka memotong jalan Kaeta begitu ia keluar dari lab, dan Daniel langsung menyodorkan satu cangkir kopi kertas.
"Tanpa gula."
"Daniel, kamu membeli kopi tiap kali aku selesai ujian. Kamu tahu itu membuatku curiga kamu punya saham di kafe."
"Aku punya saham di kamu." Daniel meringis. "Maksudku, di kesejahteraanmu. Dengar, kabar buruk dan kabar aneh. Kabar buruk dulu."
"Silakan."
"Reyhan, bilang."
Reyhan menelan sesuatu dan menegakkan badan. "Ramalan cuaca bilang Jumat depan badai. Bukan hujan. Badai. Dengan petir. Dan angin."
"Itu bukan kabar aneh, itu kabar basah," ucap Daniel. "Kabar anehnya, Reyhan tadi pagi menyangka badai itu nama orang."
"Aku tidak menyangka. Aku bertanya."
"Kamu bertanya siapa Badai ini dan kenapa ia datang ke kota kita."
Kaeta tertawa, benar-benar tertawa, sampai harus menaruh tangan di dinding. Ia melihat Daniel tersenyum puas, senyum yang tidak lagi menunggu apa pun. "Jumat itu rapat keluargaku, Dan. Di rumah sakit. Jam tujuh malam."
"Aku tahu. Zeta bilang." Daniel menegakkan punggung. "Aku mau ikut. Bukan masuk ke ruang rapat, aku bukan Valere. Tapi aku bisa duduk di lobi. Kalau ada yang butuh pintu ditahan, aku punya tinggi seratus delapan puluh senti, ingat?"
"Aku ingat."
"Dan Reyhan bisa jaga payung."
"Aku bisa jaga payung," ulang Reyhan, penuh kebanggaan.
"Aku bicarakan dengan Daddy." Kaeta menyesap kopinya. "Tapi kalau boleh, aku senang kamu ada di lobi."
"Boleh. Itu keputusan terbaikku minggu ini, setelah memaafkan Paman." Daniel mengusap tengkuk. "Nico bertaruh aku akan datang terlalu awal dan membawa terlalu banyak camilan."
"Berapa taruhannya?"
"Tujuh puluh ribu. Lagi."
"Kamu akan kalah."
"Aku bawa camilan secukupnya. Tujuh macam." Daniel tersenyum lebar. "Itu secukupnya menurut standarku."
Ponsel Kaeta bergetar di saku jas. Nomor yang tidak ia simpan, tetapi ia kenal. Ia melangkah dua langkah menjauh dan menjawab.
"Kaeta, sayang." Suara perempuan itu halus, bertekstur seperti beludru yang dipakai untuk membungkus sesuatu yang tajam. "Ini Tante Vanessa. Kamu pasti tidak menyangka aku menelepon."
"Saya sudah menyangka sejak surel Tante, Tante Vanessa."
"Pintar. Ibumu juga pintar. Dan ibumu kakakku." Ia berhenti satu ketukan, seolah memberi ruang pada kalimat itu untuk menancap, atau untuk dikasihani. "Aku hanya ingin bicara. Hanya kita berdua. Tidak ada ayahmu, tidak ada pengacara, dan tidak ada pria berseragam yang belakangan ini tak pernah jauh darimu."
Kaeta menatap langit-langit koridor, dan menghitung dalam hati sampai lima. "Kapan?"
"Besok. Sendirian. Aku kirim alamat nanti. Kamu tidak akan menyesal."