Pukul tujuh lewat lima puluh pagi, Kaeta menuruni tangga belakang sayap lama dengan termos kopi di satu tangan dan buku catatan di tangan lain, lalu berhenti di anak tangga ketujuh karena pemandangan di bawahnya terlalu rapi untuk dilewati begitu saja. Dua kursi lipat berhadapan di depan pintu besi ruang genset. Di kursi kiri, Magnus duduk tegak dengan jas hitam yang masih terkancing, tangan bertumpu di lutut, mata terbuka. Di kursi kanan, Jordi tertidur dengan kepala terkulai ke belakang dan mulut menganga, selimut abu-abu menutupi sampai dagu.
"Dia menjaga sampai pukul tiga," bisik Magnus, tanpa menggerakkan kepala. "Lalu saya menjaga sampai sekarang. Dia mendengkur dengan irama tiga-satu-tiga."
"Kamu hitung?"
"Saya tidak punya hal lain yang bisa dikerjakan di tangga."
Jordi terbangun dengan tersentak, kehilangan selimut, dan menatap Kaeta seakan ia hantu yang kebetulan membawa kopi. "Aku tidak tidur. Aku beristirahat dengan mata tertutup."
"Itu definisi tidur," sahut Magnus.
"Itu definisi strategis."
Terdengar langkah di atas, dan Paman Sam muncul di puncak tangga dengan jas abu-abu dan tas alat berwarna hitam di bahu, diikuti seorang teknisi bertubuh pendek dengan helm kuning dan kacamata tebal yang berembun. Paman Sam menepuk bahu Kaeta sekali, hangat dan singkat, lalu menyuruh teknisi itu masuk. Pintu besi dibuka dengan kunci yang digantung di leher Marlene, yang sudah menunggu di ambang sejak entah kapan.
Dengung di dalam ruangan itu terasa di gigi. Mesin genset sebesar lemari es dua pintu menempel di dinding kusam, dikelilingi pipa, kabel berselubung, dan satu panel dengan lampu merah yang berkedip tak beraturan. Teknisi itu menyalakan senter, membuka penutup, dan menghabiskan dua puluh menit tanpa berbicara sedikit pun, hanya menggumam seperti dokter yang memeriksa pasien tidur.
"Jadi?" tanya Kaeta akhirnya.
"Mesinnya sehat, Nona." Teknisi itu menutup panel. "Yang sakit adalah pengendali tegangannya. Komponen itu sudah termakan umur, dan saya tidak punya penggantinya di truk. Datang Sabtu depan, paling cepat."
"Sabtu depan," ulang Kaeta. "Setelah Jumat."
"Betul. Selama listrik kota stabil, genset hanya jadi cadangan dan aman. Kalau listrik kota padam, ia hanya cukup menyala beberapa menit sebelum sistemnya kewalahan. Saya tidak berani menjanjikan lebih."
Paman Sam menatap Kaeta dan tidak mengatakan apa-apa, dan itu lebih keras daripada kalimat apa pun. Kaeta menulis di bukunya: pengendali tegangan, Sabtu depan, aman bila listrik kota stabil. Ia menggarisbawahi tiga kata terakhir dua kali.
"Rapat Jumat tidak bisa dipindah, Nak?" tanya Paman Sam, pelan, setelah teknisi itu keluar membawa alatnya.
"Sudah kutanyakan pada Tuan Holt tadi malam. Undangan resmi sudah terkirim ke seluruh kerabat, dan kalau Daddy menunda, Tante Vanessa akan bilang Daddy lalai. Kewenangan Daddy gugur saat itu juga." Kaeta menutup bukunya. "Jadi rapatnya tetap. Yang bisa kuubah hanya yang ada di sekitarnya."
"Kalau begitu kita ubah yang ada di sekitarnya." Sam menarik napas, menatap panel yang lampunya berkedip. "Aku akan menelepon pabrik pengendali itu hari ini dan menawar kirim kilat. Mereka sudah menjanjikan Sabtu depan, Nak. Jangan berharap lebih cepat dari itu."
"Aku tidak berharap. Aku mencatat."
"Itu kebiasaan ibumu. Ia mencatat apa pun yang tidak ia percayai." Paman Sam tersenyum kecil, lalu menepuk bahu Kaeta sekali lagi.
***
Setengah jam kemudian, halaman samping sayap lama berubah menjadi markas kecil. Damian berdiri di tengahnya dengan topi dinas dan papan klip, tanpa jaket, memberi instruksi dengan suara yang cukup pelan supaya semua orang perlu mendekat. Jordi sudah mengenakan rompi oranye. Zeta mengenakan rompi oranye yang sama, tetapi dua nomor lebih besar, dengan lengan yang digulung berlapis.
"Dua orang per lantai," ucap Damian. "Periksa tiap alat pemadam: jarum di zona hijau, segel utuh, label tanggal belum lewat. Catat di lembar ini. Kaeta yang menyimpan catatan akhirnya."
"Berapa alatnya?" tanya Zeta.
"Empat puluh dua di sayap lama."
"Lomba," ucap Jordi seketika. "Siapa tercepat tanpa salah."
"Ini bukan lomba."
"Lomba," ulang Zeta, dan keduanya sudah berlari ke pintu.
Kaeta, yang berjalan di belakang Damian membawa papan klip kedua, melihat tiga hal sekaligus: Jordi mengangkat alat pemadam seperti barbel, Zeta menempelkan telinga ke tabung untuk mendengar tekanan, dan Magnus mengamati keduanya dari koridor dengan wajah seorang pengawas ujian yang kecewa pada kedua peserta.
"Alat nomor sembilan, jarum merah!" teriak Zeta dari lorong lantai satu. "Satu angka untukku!"
"Itu salah bacaku, itu jarum bayangan!" Jordi menyusul. "Kamu menggeser lampu senter!"
"Kamu menutupi dengan jari!"
"Kamu menuduhku kecurangan berdasarkan jarum?"
"Aku menuduhmu kecurangan berdasarkan kepribadian!"
Damian menatap papan kliknya dan menutup mata sebentar. "Aku membesarkan orang-orang ini sejak mereka masih takut pada selang."
"Mereka tumbuh dengan baik," ucap Kaeta datar, dan melihat bahu Damian bergetar satu kali.
Selama satu jam, empat puluh dua alat diperiksa. Tiga dinyatakan kedaluwarsa, satu bocor, dan satu ternyata kosong dan digantung hanya sebagai hiasan sejak entah kapan. Skor akhir Zeta lebih tinggi satu angka, dan Jordi menerimanya dengan mengangkat tangan seperti petinju yang kalah tetapi menolak jatuh.
Di lantai dua, di ujung lorong timur, Damian berhenti di depan pintu besi dengan batang pendorong merah di tengahnya dan tulisan EXIT di atas kusen. Ia mendorong batang itu. Tidak bergerak. Ia menambah tenaga, bahunya menekan, dan pintu hanya mengerang, seolah menolak diganggu.
"Macet," ucapnya.
Magnus menyusul dan ikut mendorong. Pintu itu bergeser dua senti, berderak, lalu kembali ke posisi semula.
"Engselnya berkarat," ujar Marlene dari belakang mereka, tangan memegang buku catatan tebal. "Sudah dua tahun begitu. Kami lapor tiap bulan. Katanya engsel baru juga datang minggu depan."
"Semuanya datang minggu depan," gumam Kaeta.
"Kalau ada kebakaran, ini jebakan," ucap Damian pelan, kepada pintu itu, bukan kepada siapa pun. Lalu, kepada Kaeta: "Jalur yang lain adalah tangga timur, di ujung lorong barat. Sembilan puluh langkah lebih jauh. Kita tandai jalurnya hari ini, tempelkan pita di lantai, dan beri tahu perawat."
"Tulis sebagai langkah satu."
"Sudah."
Kaeta mencatat di bukunya sambil bersandar di dinding lorong. Damian berhenti di sampingnya, menjaga jarak satu lengan, dan menunjuk termos di tangan Kaeta tanpa kata.
"Boleh aku minta kopinya?"
"Boleh." Kaeta menuang ke tutup termos dan menyodorkannya, dan Damian menerimanya dengan memegang pinggir tutup saja, menjaga agar jarinya tidak menyentuh jari Kaeta. Ia meneguk, lalu mengernyit.
"Ini tidak pakai gula."
"Gula itu pengkhianatan terhadap kopi."
"Aku mulai sependapat." Ia mengembalikan tutup itu dengan cara yang sama. "Terima kasih, Kae. Untuk mengizinkanku ada di sini."
"Aku mengizinkan jarum hijau, bukan kamu." Tetapi Kaeta menyembunyikan senyumnya di balik buku catatan.
Dari ujung lorong, pita merah ditempel Jordi dan Zeta sepanjang lantai, sambil bertengkar tentang garis lurus. Zeta mengangkat kepala dan berteriak melintasi lorong:
"Kae! Ujian anatomi jantung Senin! Belajar bareng malam ini? Aku bawa roti!"
"Aku bawa dasi!" sahut Jordi.
"Tidak ada yang meminta kamu membawa dasi!"