Gerobak bakso di seberang markas distrik sudah memasang spanduk baru bertulisan Langganan Tetap Pemadam, dan Kaeta menduga seseorang membayar tukang cetaknya dengan bakso gratis. Pukul empat sore, tiga bangku plastik di bawah tendanya sudah terisi: Zeta paling kiri dengan mangkuk yang belum tersentuh, Jordi paling kanan dengan dasi hijau lumut yang ternyata ia bawa lagi, dan Kaeta di tengah sebagai penyangga, atau penjaga, atau penonton. Ia belum memutuskan.
"Jumat kedua," ucap Zeta, menyendok kuah tanpa menatap siapa pun. "Bakso kedua dari empat."
"Aku hitung. Tiga lagi, termasuk yang ini." Jordi menarik dasinya setengah senti. "Aku boleh melepas dasi?"
"Tidak."
"Tukang baksonya sudah berhenti menatapku."
"Itu tandanya kamu sudah jadi bagian dari pemandangan." Zeta menggigit satu butir bakso, mengunyahnya dengan khidmat, dan menaruh sendoknya di mangkuk. "Jordi."
"Ya."
"Aku mau bicara. Kae, jangan pergi."
"Aku tidak ke mana-mana," sahut Kaeta, mengangkat mangkuknya seperti perisai. "Aku sedang makan."
Zeta menarik napas dalam-dalam, seperti orang hendak menyelam. Ia menatap lurus ke depan, ke arah spanduk Langganan Tetap Pemadam, bukan kepada Jordi.
"Minggu lalu kamu minta maaf di halaman markas dan aku bilang aku maafkan tapi belum percaya. Itu benar. Tapi ada hal yang belum kubilang." Ia mengepal sendok. "Aku menyukaimu. Bukan sebagai bahan lawakan. Bukan sebagai musuh bebuyutan. Aku menyukaimu dengan cara yang membuat aku marah kalau kamu salah dan marah kalau kamu tidak ada. Dua perasaan itu tinggal di kamar yang sama dan sudah mulai menyewa dapur."
Jordi tidak bergerak. Kaeta memperhatikan jakunnya naik dan turun dua kali, dan dua kali pula ia membuka mulut untuk mengatakan sesuatu yang kelihatannya sudah berbentuk lelucon, lalu menutupnya lagi. Pada percobaan ketiga, ia meletakkan sendoknya, mengelap tangan dengan serbet kertas, dan memutar bangku plastiknya setengah lingkaran sehingga menghadap Zeta.
"Zeta."
"Apa."
"Boleh aku mengajakmu makan malam?" Suaranya sedikit pecah. "Bukan bakso. Di tempat dengan taplak meja dan lilin yang tidak perlu dipadamkan APAR. Tanpa satu pun lelucon. Aku sudah latihan di depan Kavea tiga kali."
"Ikan itu menilai apa?"
"Dia menilai nol dari sepuluh. Katanya aku terlalu berusaha."
"Ikan itu benar." Zeta akhirnya menoleh. Matanya merah, tetapi sudut bibirnya naik sedikit, hanya sedikit. "Ajak aku sekali lagi. Kali ini terlalu tidak berusaha."
Jordi menarik napas, lalu menggaruk tengkuk. "Mau makan malam sama aku? Kalau tidak mau, ya sudah. Aku masih punya bakso."
"Itu terlalu tidak berusaha."
"Kamu yang minta."
"Aku mau." Zeta menyeka ujung mata dengan jari. "Setelah semua urusan Kaeta beres. Aku tidak mau makan malam sambil memikirkan rapat."
"Itu syarat yang adil."
"Itu syarat yang sungguhan." Zeta mengulurkan sebutir bakso di ujung garpu, menatapnya sejenak seperti sedang menimbang risiko, lalu menyodorkannya ke mulut Jordi tanpa kata. Jordi menerimanya dengan khidmat, mengunyah sangat pelan, dan menelan.
"Enak?"
"Aku tidak akan bilang. Nanti jadi lelucon."
"Bagus. Kamu belajar."
Di seberang jalan, Magnus lewat membawa dua gelas kopi kertas dan berhenti sepersekian detik ketika melihat mereka. Ia mengangkat satu gelas ke arah Jordi sebagai salam militer paling pendek di dunia, lalu melanjutkan langkah. Jordi membalasnya dengan gerakan yang sama, dan Zeta memutar bola mata.
Kaeta, di antara mereka, sudah lama berhenti makan. Ia menaruh mangkuk di pangkuan dan menatap tetes kuah di sendoknya dengan perasaan seseorang yang tidak sengaja masuk ke upacara orang lain. Tukang bakso di belakang gerobak memandang mereka dengan senyum seorang pria yang sudah melihat banyak hal di bawah tenda itu.
"Aku akan pergi," bisik Kaeta.
"Kae, jangan..."
"Kali ini aku harus. Aku ada janji." Ia berdiri dan mengambil tasnya. "Selamat, kalian berdua. Tolong jangan merayakan dengan menyuruh tukang bakso mengambil foto."
"Kenapa tidak boleh?" tanya Jordi.
"Karena kamu tidak memakai dasi dengan benar."
Ia menyeberang jalan ke markas diiringi tawa kecil di belakangnya.
***
Papan tulis di ruang jaga biasanya dipenuhi jadwal piket yang ditulis Jordi dengan huruf besar tak beraturan, tetapi sore itu Damian sudah membersihkan sebagian dan menggantinya dengan peta denah yang digambar tangan: lorong, tangga, dan sepuluh titik ditandai spidol merah. Ia berdiri di depannya dengan lengan terlipat, tanpa jaket dinas, kemeja lengan digulung, dan ketika Kaeta berhenti satu meter di belakangnya, ia tidak menoleh.
"Itu denah apa?"
"Sayap lama rumah sakit ibumu." Ia melirik sekilas dari bahu. "Dari denah teknis yang Holt tunjukkan waktu audit. Kertasnya tidak boleh keluar dari rumahmu, jadi aku menggambarnya dari ingatan."
"Kamu menggambar ruang bawah tanahnya juga?"
"Tidak. Aku tidak pernah turun." Damian mengetuk titik merah terakhir di dekat tangga belakang. "Boleh aku mengusulkan sesuatu? Bukan menyangkut keluargamu. Hanya keselamatan."
Kaeta menimbang. Aturan ketiga di kafe: kalau tidak paham, tanya, jangan menebak. Ia menyilangkan lengan. "Bilang."
"Genset itu batuk dua puluh dua detik. Marlene bilang tiga kali berkedip. Aku tidak bisa memperbaiki listrik. Tapi aku bisa memeriksa pemadam api ringan, jalur evakuasi, dan pintu darurat di lantai dua dan tiga. Sehari. Gratis. Jordi dan Zeta bisa ikut kalau kamu mau saksi." Ia berhenti. "Kalau kamu bilang tidak, aku tidak melakukannya."
"Besok pagi," ucap Kaeta. "Setelah teknisi Paman Sam. Aku yang mencatat. Daddy sudah tahu."
"Baik."
"Dan Dam."
"Ya?"
"Terima kasih sudah bertanya, bukan langsung datang."
Damian menunduk setengah derajat, menutupi sesuatu di wajahnya yang tidak berhasil ia sembunyikan. Kaeta menatap peta di papan itu. Sepuluh titik merah, dan satu garis putus-putus menuju pintu belakang yang tidak pernah ia lewati.
"Dad-mu bicara di atap hari Rabu," ucapnya. "Dengan Daddy-ku. Tanpa kamu."
"Aku tahu. Ayahku menelepon semalam. Ia hanya bilang aku tidak perlu datang." Damian meraih penghapus papan tulis dan memegangnya tanpa menghapus apa pun. "Ia bilang apa?"
"Aku tidak mau menceritakan semuanya. Itu miliknya, bukan milikku." Kaeta berpikir sebentar. "Tapi satu hal boleh kubilang. Ia menyebut perjodohan itu salahnya. Bukan salahmu seluruhnya. Salahnya juga."
Penghapus di tangan Damian berhenti. Ia tidak berkata apa-apa selama beberapa detik, rahangnya bergerak sekali, dan ketika ia menoleh, matanya tidak sepenuhnya kering.
"Dia tidak pernah bilang itu padaku."
"Mungkin ia sedang menunggu kamu yang bertanya." Kaeta mengangkat bahu. "Orang tua yang keras kepala jarang bicara kalau tidak ditanya. Ayahku contohnya. Ayahmu contoh yang lebih parah."
"Aku akan meneleponnya malam ini."
"Jangan malam ini. Kalian bertemu Jumat depan di kantornya, jadi bicaralah di sana, setelah tanda tangan. Beri dia seminggu untuk menyusun tujuh kalimatnya."
"Tujuh kalimat?"
"Aku tidak bisa menjelaskan. Percayalah saja."
Damian menaruh penghapus di bingkai papan, lalu menatap denah itu lagi. "Jumat depan. Rapatnya jam berapa?"
"Pukul tujuh malam. Dan aku lihat ramalan cuaca tadi pagi: awan berat dari barat, belum pasti."
"Genset itu batuk dua puluh dua detik di hari cerah." Damian mengetuk titik merah di dekat ruang peralatan. "Aku tidak mau tahu berapa detik di hari badai."
"Rapatnya tetap jalan, badai atau tidak. Kalau ditunda, kewenangan Daddy gugur." Kaeta menggigit bibir. "Jadi yang bisa kita ubah cuma yang ada di sekitarnya. Genset, jalur keluar, dan pintu."
"Itu cukup untuk mulai."
Ponsel Kaeta bergetar di saku jas. Nama di layar: Paman Sam.
Nak, ramalan yang kaulihat tadi pagi sudah naik jadi badai besar, Jumat depan. Persis hari rapatmu.