Lift Rumah Sakit Valere hanya naik sampai lantai enam, dan pagi itu lift tersebut ditempeli kertas bertulisan sedang diservis. Untuk mencapai atap, orang harus menyusuri tujuh lantai tangga darurat yang catnya mengelupas, dan itulah sebabnya Kaeta, yang menunggu di atap dengan sebuah termos teh, mendengar napas Tuan Wesley dua menit sebelum melihat orangnya.
Pintu besi terbuka dengan bunyi seperti keluhan. Magnus muncul lebih dulu, menenteng kursi lipat dengan dua tangan seakan membawa bendera upacara. Di belakangnya Tuan Wesley naik pelan, tongkat di tangan kanan dan tangan kiri menekan pinggang, wajahnya merah, dahinya basah.
"Tujuh lantai," ucapnya, terengah. "Saya sudah menawar membeli lift yang baru, tapi Gans bilang Nona Kaeta akan marah."
"Tuan tidak boleh membeli apa pun," sahut Kaeta. "Kita sudah sepakat."
"Saya menawar. Saya tidak membeli. Itu beda."
"Dalam kamus Anda saja." Kaeta menuang teh ke tutup termos dan menyodorkannya, dan Tuan Wesley menerimanya dengan dua tangan, seperti piala. "Kenapa tanpa Damian, Tuan? Aku sudah memberi tahu dia. Ia bilang tidak apa-apa, tapi suaranya seperti orang yang menahan napas."
"Karena anak itu akan berdiri seperti tiang dan mengambil semua kesalahan, termasuk yang bukan miliknya. Hari ini saya mau mengambil yang punya saya." Tuan Wesley meneguk teh. "Rasanya seperti obat."
"Itu teh jahe. Dokter yang menyuruh."
Magnus membentangkan kursi lipat, memeriksa kekokohannya dengan dua dorongan, lalu menyilakan tuannya duduk. Setelah itu ia mundur dua langkah dan berdiri tegak di dekat pagar, seperti tiang bendera tambahan. Xavier muncul dari tangga tidak lama kemudian, jas dokter masih di tubuhnya, dan berhenti di ambang pintu ketika melihat siapa yang sudah menunggu.
"Dokter." Tuan Wesley menekan tongkatnya dan setengah berdiri. "Saya minta Anda dan putri Anda datang, tanpa anak saya. Itu sengaja."
"Saya sudah diberi tahu." Xavier menutup pintu di belakangnya. "Silakan, Tuan Wesley. Saya punya sepuluh menit sebelum pasien berikutnya."
Tuan Wesley duduk kembali. Ia memandang kota di balik pagar, atap-atap abu-abu yang sejajar, dan ketika bicara, nadanya lebih rendah daripada yang pernah Kaeta dengar darinya.
"Saya menekan anak saya sampai ia mengambil jalan terpendek," ucapnya. "Perjodohan itu, Jessica itu, wiski tua dan tongkat saya yang saya hentakkan di meja setiap kali dia menolak. Saya mengira itu kasih sayang. Saya mengira saya sedang melindunginya dari hidup sendirian." Ia menelan ludah. "Ternyata saya mengajarinya bahwa kalau terdesak, pakai orang lain. Pakai perisai. Anak saya menemukan Putri Anda karena saya tidak memberinya jalan lain, Dokter. Itu bukan membela dia. Itu pengakuan bahwa sebagian dosanya adalah dosa saya."
Hening di atap. Seekor merpati mendarat di pagar, memiringkan kepala, lalu terbang lagi.
"Saya sudah menelepon ayah Jessica," lanjut Tuan Wesley. "Saya minta maaf karena menyeret putrinya ke dalam sandiwara saya. Ia tidak marah. Ia bilang putrinya lebih sibuk dengan pameran lukisan daripada dengan Damian." Sudut bibirnya bergerak. "Saya merasa sangat tidak penting."
"Itu bagus untuk Jessica," ucap Kaeta.
"Itu bagus untuk semua orang kecuali ego saya." Tuan Wesley mengangkat tangan. "Dan satu hal lagi. Jumat, saya akan hadir di rapat keluarga Anda. Saya akan berdiri di depan seluruh kerabat Valere dan mengatakan bahwa utang itu bukan kebaikan. Itu leher yang saya biarkan terikat selama bertahun-tahun, karena bunganya menguntungkan, bahkan ketika saya tahu rumah sakit ini sudah kehabisan napas."
"Tuan." Kaeta menyela, lembut. "Jangan pidato panjang."
"Sepuluh kalimat."
"Lima."
"Delapan."
"Tujuh, dan satu di antaranya boleh tentang ikan."
"Disetujui." Tuan Wesley menarik napas panjang dan menoleh pada Xavier. "Dokter, saya tahu permintaan maaf tidak membeli apa-apa. Saya hanya ingin Anda melihat saya mengatakannya, sekali, tanpa kue."
Xavier menggosok cincin kawinnya dengan ibu jari, lama. Ketika bicara, suaranya lebih serak daripada yang ia maksudkan.
"Saya juga seorang ayah, Tuan Wesley. Saya menyimpan rahasia dari putri saya sepanjang hidupnya, dan saya menyebutnya melindungi." Matanya beralih ke Kaeta sekilas, lalu kembali. "Saya tidak berhak menghakimi cara Anda menyayangi anak Anda. Saya hanya berhak menyatakan: Anda sudah berubah. Itu cukup bagi saya untuk duduk di rapat yang sama."
"Itu lebih dari yang saya harapkan."
"Itu kurang dari yang Anda butuhkan, tapi cukup untuk Jumat."
Dua pria paruh baya itu saling menatap, dan Kaeta, yang berdiri di antara mereka dengan termos teh, menyadari bahwa kedua mata mereka basah, dan keduanya berpura-pura sedang melawan angin.
Magnus melangkah maju dua langkah, memberi hormat kecil kepada Tuan Wesley, lalu menghadap Xavier dengan kaki rapat. "Dokter Xavier. Saya mengganggu pasokan dan investor rumah sakit Anda atas perintah. Saya melaksanakannya tanpa bertanya. Saya meminta maaf."
Xavier menatapnya agak lama. "Saya menerima permintaan maaf itu, Magnus."
"Terima kasih."
"Pekerjaannya tidak. Hanya permintaan maafnya." Xavier mengangguk. "Dan Paman Sam sudah membereskan pekerjaannya."
"Saya mengerti, Dokter."
Pintu tangga darurat terbuka lagi, kali ini dengan dorongan keras dan seorang perempuan paruh baya berseragam putih IGD masuk dengan napas pendek, buku catatan tebal didekap seperti perisai. Marlene mengabaikan Tuan Wesley dan Magnus, mengabaikan kursi lipat, dan mencari Kaeta dengan mata yang tidak sempat membaca suasana.
"Nona kecil. Maaf mengganggu. Genset sayap lama berkedip lagi."
Kaeta meletakkan termos di bangku. "Kapan?"
"Subuh tadi, saat uji harian. Batuknya dua puluh dua detik. Lalu lampu panel mati dan hidup tiga kali sebelum stabil." Marlene membuka halaman yang sudah dilipat. "Teknisi sementara bilang itu bisa wajar. Tapi kalau wajar, kenapa naik terus?"
Xavier sudah berjalan ke arah pintu. "Saya ke sayap lama. Tuan Wesley, maaf, pasien saya..."
"Pergilah, Dokter. Saya tidak akan ke mana-mana. Kaki saya sudah menolak turun dulu." Tuan Wesley melambaikan tongkat. Magnus melangkah memberi jalan, dan Marlene menyusul Xavier dengan langkah cepat, buku catatan masih dipeluk.
Atap itu mendadak lengang. Tuan Wesley memandang cangkir teh kosong di tangannya.
"Nak. Saya tanya satu hal, dan kamu boleh menolak menjawab." Ia berdehem. "Apa anak saya membuatmu tertawa lagi?"
Kaeta berpikir sebentar. "Selasa kemarin ia memasak nasi goreng yang tidak asin. Ia menakar garam dengan sendok apoteker dan mengaduknya dengan kecepatan standar markas."
Tuan Wesley menutup mulut dengan kepalan tangan, matanya melebar, dan tawanya pecah sebelum ia sempat menahannya. Magnus di dekat pagar menunduk, bahunya bergetar seperti orang yang berusaha batuk dengan sopan.
"Standar markas," ulang Tuan Wesley terengah. "Anak itu dulu memadamkan lilin ulang tahunnya dengan APAR."
"Tuan Wesley, aku akan menelepon Paman Sam. Tolong simpan cerita lilinnya untuk Jumat. Hitungannya masuk tujuh kalimat."
"Kamu kejam."
"Aku konsisten."
Ia berjalan ke tepi atap, menjauh beberapa langkah dari kursi lipat itu, lalu menekan satu nama yang selalu ada di baris paling atas riwayat panggilan. Paman Sam yang menanggung perbaikannya, dan ia perlu dengar langsung.
Dua kali nada sambung, lalu suara tenang yang berat itu muncul. "Nak. Aku sudah dengar. Marlene mengabari asistenku subuh tadi."
"Paman, dua puluh dua detik."
"Aku tahu angka itu." Terdengar bunyi kertas dibalik di ujung sana. "Teknisinya kukirim akhir pekan, Sabtu pagi, dan aku sendiri yang akan berdiri di sampingnya. Sampai itu terjadi, jangan biarkan seorang pun naik ke ruang bawah tanah itu sendirian."
"Baik, Paman. Terima kasih."
Kaeta menutup telepon dan berbalik. Magnus sudah berdiri dua langkah di belakangnya, tangan rapat di sisi tubuh, seperti prajurit yang menunggu perintah yang belum diberikan.
"Nona. Saya mendengar tanpa sengaja."
"Aku tahu. Kamu berdiri sedekat ini."
"Kalau tidak boleh ada yang sendirian di ruang bawah tanah itu sampai Sabtu, saya bersedia berjaga di tangga." Magnus menegakkan dagu. "Tidak sendirian. Saya akan membawa Jordi."
Kaeta menatapnya lama. "Kamu mau berjaga semalaman bersama Jordi?"
"Saya sudah memutuskan menyesali banyak hal minggu ini, Nona. Ini salah satu yang bisa saya kerjakan sambil duduk."