Pintu apartemen Damian terbuka lebar, diganjal sepatu bot damkar, persis seperti syarat Kaeta. Dari dalam tercium bau bawang putih yang gosong sedikit, dan suara seseorang yang berbicara serius kepada seekor ikan.
"Kamu tidak boleh mengomentari. Ini sesi pertama."
Kaeta berdiri di ambang pintu, tas di bahu dan rantang kosong di tangan. Damian berdiri di depan kompor dengan celemek abu-abu yang terlalu kecil di dadanya, spatula di satu tangan dan sendok takar di tangan lain. Di tepi wastafel menumpuk empat piring bekas dengan sisa nasi yang berbeda-beda warnanya, masing-masing diberi kertas tempel bertulisan angka.
"Percobaan semalam," jelas Damian, mengikuti arah matanya. "Jordi jadi juri. Nilai tertingginya enam."
"Dari berapa?"
"Dari sepuluh. Katanya, nasi nomor tiga mengingatkannya pada aspal."
"Itu kritik makanan yang sangat sehat." Kaeta mengecek kertas nomor empat. "Ini bertuliskan: bisa dimakan musuh, bukan teman."
"Itu tulisan Magnus. Dia mampir."
Di meja dapur berjajar rapi tiga butir telur, semangkuk nasi dingin, sebotol minyak, sebuah timbangan digital, dan stopwatch.
"Kamu membawa stopwatch."
"Kamu bilang memasak itu soal takaran."
"Aku bilang memasak itu soal perasaan. Takaran itu cuma pagarnya." Kaeta masuk, menaruh tasnya di kursi dekat pintu, dan menengok akuarium besar di ruang tengah. Kavea mengambang di tengah air, besar, oranye, sama sekali tidak kembung. "Halo, Pasien Favorit. Selamat atas keselamatanmu dari tamu tak diundang."
Kavea mengibaskan sirip. Damian menyebutnya sebagai tanda setuju.
Pelajaran dimulai dengan kegagalan. Damian memasukkan bawang ke minyak yang terlalu dingin lalu terlalu panas, menakar garam dengan sendok takar seperti apoteker menakar racun, dan mengaduk nasi dengan gerakan teratur, seakan sedang memadamkan api kecil. Kaeta bersandar di meja dan memberi komentar yang jarang membantu.
"Lebih cepat."
"Aku mengaduk dengan kecepatan standar."
"Standar siapa?"
"Standar markas."
"Kita bukan memadamkan nasi, Dam. Kita membangunkannya." Ia mengambil sendok kayu dari tangannya, tanpa menyentuh jarinya, dan memperagakan: tiga kali putar, angkat, biarkan menyentuh dasar wajan sesaat supaya berkerak tipis. "Dengar bunyinya. Kalau nasi berbunyi seperti hujan kecil, itu bagus."
Damian mendengarkan wajan itu dengan kepala miring, tampak lebih serius dibanding saat mendengar laporan kebakaran. Ketika telur dipecahkan dan garam ditambahkan hanya setengah dari takarannya sendiri, Kaeta mencicipi dengan ujung sendok, lalu menyodorkan sendok kedua kepadanya.
"Sekarang kamu."
Damian mengunyah lama. Ia menelan. Alisnya naik pelan.
"Tidak asin."
"Tidak asin."
"Aku membuat nasi goreng yang tidak asin."
"Selamat. Mulai besok kamu boleh menyebut dirimu juru masak rumahan." Kaeta mematikan kompor, dan baru saat itu menyadari ia tersenyum penuh, tanpa penjagaan, sampai Damian menatapnya dengan jenis tatapan yang membuat dadanya hangat sekaligus waspada. Ia memalingkan wajah dan mengambil dua piring.
Mereka makan di meja kecil di sudut dapur, berseberangan, piring masing-masing di depan. Hujan mulai turun di luar jendela, pelan, seperti bisikan. Kaeta menghabiskan setengah piring, meletakkan sendok, dan membuka tasnya.
Stetoskop kecil itu ia taruh di tengah meja. Logam tipis dengan selang yang sudah menguning, ukurannya cukup untuk telapak anak. Damian melihatnya tetapi tidak menyentuh.
"Itu milik Mama," ucap Kaeta. "Yang asli. Malam itu aku memakai stetoskop mainan dari plastik, bukan ini. Ini selalu kusimpan di tas."
"Kamu ingin menceritakannya."
"Aku ingin menceritakannya sekali, dengan caraku sendiri. Kalau aku berhenti, jangan melengkapi kalimatku."
"Baik."
Maka ia bercerita, dengan suara yang diusahakan datar. Tentang hujan kecil di jendela. Tentang kamar dengan lampu kuning, dan jas putih ayahnya yang kebesaran di tubuhnya yang sepuluh tahun. Tentang permainan dokter-dokteran, dan Mama yang berpura-pura jadi pasien, dan aturan yang ibunya sampaikan sambil mencium keningnya: kalau ini bukan permainan lagi, baru kamu panggil 911. Tentang bagaimana ia menunggu pasien itu bangun. Tentang satu, dua, tiga yang ia hitung sampai hitungannya sendiri tersesat. Ia berhenti dua kali, sekali untuk meminum air, sekali untuk menekan telapak tangan ke mata. Damian tidak melengkapi apa pun.
"Aku tidak membeku karena takut," ucapnya, di ujung cerita. "Aku membeku karena aku mengira masih main. Itu yang terjadi waktu simulasi di markas. Tubuhku ingat satu-satunya kali aku berdiri di samping orang yang tidak bangun, dan tubuhku menunggu seseorang bilang ini bagian dari permainan."
Hujan di luar menebal. Kavea menggerakkan sirip di balik kaca.
"Paman Sam dan Daddy bilang kemungkinan besar tidak ada yang bisa menolong Mama, kalaupun aku memanggil lebih cepat," lanjutnya. "Aku tahu itu. Aku sudah dengar, dan aku percaya. Tapi tahu dan merasa itu dua hal berbeda, Dam. Kepalaku sudah dewasa. Anak sepuluh tahun di dalamnya belum diberi tahu."
Damian lama tidak menjawab. Tangannya tergeletak terbuka di meja, di sisi piringnya, jauh dari stetoskop.
"Aku menarik orang keluar dari api yang sudah terlalu lama dibiarkan," ucapnya akhirnya, pelan. "Hampir semuanya menelepon terlambat. Orang dewasa, yang sudah tahu nomornya. Mereka menunggu satu menit lagi, karena mengira masih bisa mengatasinya sendiri, dan satu menit itu kadang yang paling mahal. Kita tidak pernah menyalahkan mereka. Kita menyalahkan api." Ia menarik napas. "Kamu bukan orang dewasa yang terlambat. Kamu anak yang percaya pada ibunya. Itu bukan kesalahan."
"Itu kalimat dari pemadam kebakaran."
"Itu satu-satunya jenis kalimat yang kupunya."
Kaeta tertawa kecil, basah, dan menyeka ujung mata dengan punggung tangan.
"Boleh aku menggenggam tanganmu?" tanya Damian, tangannya tetap di meja, tidak bergerak sejengkal pun. "Kamu boleh menjawab tidak."
Kaeta menatap tangan terbuka itu. Tangan yang sama pernah menariknya dengan kasar di parkiran kampus, pernah menepis rantangnya sampai pecah, dan setiap hari menggendong orang keluar dari api. Ia mempertimbangkannya selama satu tarikan napas penuh, lalu menaruh tangannya sendiri di telapak itu, pelan, seperti meletakkan sesuatu yang tidak ingin ia jatuhkan.
"Belum maaf," bisiknya. "Tapi mulai."
"Itu cukup."
Jemari Damian menutup sangat lembut. Tidak ada tarikan, tidak ada remasan, hanya hangat yang bertahan. Mereka duduk begitu selama sepuluh detik, mungkin lebih, dan di balik kaca Kavea berputar satu lingkaran penuh seakan memberi tepuk tangan dengan siripnya.
"Dia mengintip," ucap Kaeta.
"Dia selalu mengintip. Ikan itu tidak punya rasa malu."
"Dam." Kaeta menatap tangan mereka. "Tiga aturan kafe tetap berlaku. Ini bukan pencabutan."
"Aku tahu. Ini diberi, bukan diambil." Damian berkata begitu pelan sampai nyaris tertelan hujan. "Aku akan menaruhnya di tempat yang sama kalau kamu mau menariknya kembali."
Bunyi ketukan pelan terdengar di ambang pintu yang diganjal sepatu bot. Keduanya menoleh bersamaan.
Xavier berdiri di sana dengan jas hujan basah dan payung terlipat, napas sedikit memburu, seperti orang yang sudah menaiki tangga karena tidak sabar menunggu lift. Matanya turun ke tangan mereka di atas meja. Kaeta tidak menariknya. Damian, yang jelas ingin melepaskan dan jelas menunggu isyarat, tetap diam.
"Dad."
"Pintunya terbuka," ucap Xavier. "Syaratnya pintu terbuka. Daddy hanya memastikan pintunya benar-benar terbuka."
"Daddy membawa payung ke apartemen orang."
"Daddy membawa payung untuk putri Daddy." Xavier melirik meja, piring yang licin, dan stetoskop kecil yang tergeletak di antara mereka. Rahangnya mengeras sedetik, melembut sedetik, lalu ia mengembuskan napas panjang. "Tuan Wesley menelepon Daddy sore tadi. Ia minta bertemu besok di atap rumah sakit, Kaeta. Ia bilang ada yang ingin ia katakan, dan katanya bukan soal kontrak."