Ada roti ketan hitam di atas piring perak di meja kecil ruang kerja Wesley, lengkap dengan kartu bertulisan tangan Gans yang rapi: Untuk Dokter Xavier, kalau belum sarapan.
"Sudah, terima kasih," ucap Xavier kepada piring itu, kaku.
"Rotinya tidak bertanya apakah Daddy sudah sarapan," bisik Kaeta. "Daddy tinggal menggigit."
"Princess."
"Siap, diam."
Ruang kerja itu persis seperti dalam ingatan Kaeta: meja mahoni besar, lukisan leluhur yang menatap tajam dari dinding, jendela tinggi yang menghadap taman. Tuan Wesley berdiri di balik mejanya dengan tongkat di tangan. Holt, pria kurus berkacamata tanpa bingkai, duduk di sisinya dengan map-map tersusun seperti barisan tentara kecil. Dan di kursi paling ujung, dekat rak buku, Damian duduk dengan kedua tangan kosong di atas paha, sebagaimana diminta. Ia berdiri ketika Kaeta masuk, lalu duduk lagi tanpa suara setelah Kaeta menunjuk kursinya dengan satu jari.
"Tuan Damian," ucap Xavier dingin.
"Dokter."
Itu seluruh percakapan mereka, dan Kaeta menganggapnya kemajuan kecil. Seminggu lalu Xavier hanya mempersilakan Damian masuk; hari ini ia menyapa lebih dulu.
Ia meletakkan salinan kontrak Vanessa di meja. Tadi pagi ia sudah menelepon Mars untuk meminta izin; jawabannya hanya "Terserah", lalu sambungan putus, yang menurut kamus Mars berarti ya. Lalu ia menerangkan klausul bergaris biru itu dengan suara yang diatur seperti guru menerangkan hasil lab. Holt membolak halaman dengan telunjuk, mengangkat alis di tiga tempat, dan menutup map itu dengan satu hembusan napas panjang.
"Ini dibuat oleh orang yang tidak berniat membangun rumah sakit," ucap Holt. "Ini dibuat oleh orang yang berniat membangun sesuatu di atas tanah rumah sakit."
"Dan karena itu tiga langkahku," lanjut Kaeta. Ia mengeluarkan buku catatannya dan memperlihatkan tiga kotak itu. "Satu, utang dibebaskan. Dua, rumah sakit dan tanah seratus lima puluh hektar ditaruh di bawah yayasan, supaya tak seorang pun bisa menjualnya, termasuk aku. Tiga, yayasan punya wakil keluarga Valere. Yang itu belum pasti, tapi kolomnya sudah ada namanya."
"Nama siapa?" tanya Tuan Wesley.
"Mars."
Xavier mengangkat kepala. "Mars sendiri yang memberimu salinan itu?"
"Kemarin pagi, Dad. Daddy sudah kuberi tahu semalam, ingat? Daddy bilang hati-hati dan menyuruhku membawa payung." Kaeta menatap ayahnya. "Ia bilang tidak memihak. Aku tidak memercayai kalimat itu, tapi aku memercayai tangannya yang memegang map."
"Pria yang kau siram dengan air dingin itu?" Tuan Wesley mengangkat alis. "Dan ia tetap datang membawa map? Saya mulai menyukai kakak ibumu."
"Jangan menyukainya terlalu cepat, Tuan. Ia belum bilang ya."
Holt menyebut satu nama yayasan yang sudah ia siapkan dan menyodorkannya di selembar kertas: Yayasan Valere-Quinn. Kaeta membacanya dengan bibir bergerak diam-diam, lalu menatap Xavier, yang matanya mendadak basah karena melihat nama istrinya bersanding dengan nama keluarganya sendiri.
"Dan sisanya?" tanya Tuan Wesley. Suaranya serak. "Tanggungan saya?"
"Utang dilepas tanpa syarat, Tuan. Tanpa kata-kata baik di depan umum, tanpa foto." Kaeta menyorotkan mata kepadanya. "Saham pribadi Damian yang sudah dialihkan, ditaruh sebagai dana pokok yayasan. Bukan ganti rugi untuk saya. Untuk rumah sakit."
Tuan Wesley menoleh pada putranya. Damian tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk sekali, dan sang ayah, dengan wajah yang berjuang agar tidak terlihat bangga, berucap: "Saya rela."
"Kalau begitu paraf dulu," ucap Holt. "Setiap halaman draf, oleh tiap pihak. Tanda tangan resmi menyusul."
Dua pulpen muncul di udara pada detik yang sama.
Tuan Wesley menyodorkan pulpen emasnya dari sisi kanan meja. Xavier, yang duduk di kiri, menarik pulpen hitam sederhana dari saku jasnya. Keduanya berhenti, saling menatap, dan menahan pulpen itu di tengah meja seperti dua anak yang berebut sebuah bola.
"Silakan, Dokter."
"Anda yang melepas utang. Anda dulu."
"Saya yang berutang budi, Dokter. Saya mohon Anda dulu."
"Anda."
"Anda."
Damian menatap lantai, bahunya bergetar tipis. Holt melepas kacamatanya dan mengelap lensa yang tidak kotor.
"Cukup." Kaeta berdiri, mengambil kedua pulpen itu dari tangan masing-masing, dan menjajarkannya di meja. "Giliran. Daddy paraf pertama karena rumah sakit ini milik Mama. Tuan Wesley kedua karena yang melepas. Damian ketiga sebagai saksi. Tuan Holt terakhir, supaya tak ada yang bilang pengacara memakai kesempatan."
"Dan Anda, Nona?" tanya Holt.
"Aku mengawasi, supaya tak ada yang menggeser giliran."
Xavier paraf lebih dulu, halaman demi halaman, dengan tulisan rapi seorang dokter bedah. Tuan Wesley menyusul dengan goresan tegak yang mirip tongkat. Damian menandatangani bagian saksi tanpa mendongak, seperti anak yang takut tulisannya dinilai. Ketika selesai, Holt memeriksa tumpukan itu dan berkata bahwa penandatanganan resmi akan sah kapan pun mereka mau.
"Jumat pagi," ucap Kaeta. "Sebelum rapat. Bukan sebelumnya."
"Kenapa tunggu?" tanya Tuan Wesley.
"Karena kalau ditandatangani hari ini, Tante Vanessa punya lima hari untuk menyerang tanda tangan itu lewat pengacaranya. Kalau Jumat pagi, ia hanya punya sore, dan sorenya sudah dipakai untuk rapat." Kaeta menutup buku catatan. "Itu bukan strategi dokter. Itu hitungan jam jaga."
Holt tertawa pendek, satu-satunya tawa yang sempat lolos dari ruangan berwajah serius itu. Tuan Wesley menyusul dengan batuk yang dibuat-buat, dan Xavier menyembunyikan senyum di balik punggung tangannya.
"Satu syarat lagi," tambah Kaeta, kali ini menatap Tuan Wesley. "Selama lima hari ini, tidak ada yang mengirim apa pun kepada keluarga Valere. Tidak ada kue, tidak ada karangan bunga, tidak ada jam tangan antik. Kalau Tante Vanessa tahu kita bergerak, ia akan bergerak lebih dulu."
"Saya hanya berniat mengirim ikan."
"Itu juga tidak, Tuan."
"Ikan saya tidak berbahaya."
"Ikan Anda menolak makan sejak Anda marah, Tuan. Ia justru sedang berduka." Kaeta tersenyum. "Biarkan ia tenang."
Ketika pertemuan bubar, Kaeta keluar lebih dulu ke teras samping, tempat taman Wesley terbentang dengan kolam dan seekor ikan koi besar yang berenang di tepi air, mengabaikan seluruh dunia. Langkah kaki berhenti sejarak dua meter di belakangnya.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" suara Damian. "Bukan soal rumah sakit."
Kaeta menoleh. Ia tidak mengatakan apa-apa selama dua detik, cukup lama untuk membuat Damian menahan napas. "Boleh."
"Ajari aku memasak yang benar."
"Nasi goreng asin itu?"
"Aku tidak mau membuatnya asin lagi untukmu, kalau suatu hari nanti kau mau makan." Damian menatap ikan di kolam, bukan Kaeta. "Atau untuk siapa pun."
Kaeta memutar kancing jasnya, lama. Dari balik jendela ruang kerja, ia melihat bayangan Tuan Wesley dan Xavier berpura-pura tidak menguping sambil berdiri sangat dekat dengan kaca.
"Selasa," ucapnya. "Apartemenmu, pintu terbuka. Jangan beli apa pun yang bukan nasi dan telur."