Mars sudah duduk di meja sudut Ruang Kopi Dua ketika Kaeta mendorong pintu kafe, lima menit sebelum pukul sembilan. Mantel panjangnya tidak dilepas, kopi hitam di depannya jelas sudah dingin, dan sebuah map cokelat tebal tertindih cangkir, seperti saksi yang dikunci supaya tidak kabur.
"Kau terlambat," ucap Mars, tanpa melirik jam.
"Aku datang lima menit lebih awal, Paman. Jam Paman yang kecepatan."
"Jam ayahmu juga selalu begitu." Mars mengangkat cangkir dan mendorong map itu melintasi meja dengan dua jari. "Baca. Jangan bicara sebelum selesai."
Kaeta duduk, menyampirkan tas di sandaran kursi, dan membuka map itu. Delapan belas halaman, kop surat perusahaan pengembang yang namanya terlalu berkilau untuk dipercaya, tanda tangan di halaman terakhir yang belum diisi. Satu kalimat di halaman keempat digarisbawahi pensil biru dengan tekanan yang membuat kertasnya nyaris sobek. Ia membacanya dua kali. Penjualan tanah baru berlaku setelah pemegang kewenangan rumah sakit yang sekarang dicabut dalam rapat keluarga.
"Jadi tanahnya tidak bisa dijual selama Daddy masih memegang," ucap Kaeta pelan.
"Dan rapat itu satu-satunya jalan untuk mencopot ayahmu. Vanessa tidak sedang memperebutkan kursi, Kaeta. Ia sedang membuka pintu uang." Mars menyilangkan lengan. "Pembelinya sudah siap. Yang kurang hanya satu syarat dan satu tanda tangan."
"Tanda tangan siapa?"
"Yang suaranya terbanyak setelah ayahmu turun. Dari dua belas kepala, delapan sudah condong padanya."
"Bagaimana Paman bisa mendapatkan ini? Tante Vanessa pasti tidak mengirimnya ke Paman dengan pita."
"Seorang paman jauh yang tersinggung karena disodori tanda tangan tanpa lebih dulu diajak bicara. Orang tua itu masih punya harga diri, dan harga diri jauh lebih setia daripada uang." Mars mengetuk pinggir map dengan buku jarinya. "Vanessa tidak tahu salinan ini keluar. Jadi jangan pamerkan di tempat yang ramai."
"Aku mengerti." Kaeta mengangguk sekali. "Tapi aku akan menceritakannya pada Damian. Kami punya janji, kalau sesuatu menyangkut aku, ia bilang, dan aku bilang. Aku tidak akan menunjukkan mapnya. Hanya isinya."
"Terserah. Kau yang menanggung kalau mulut itu bocor."
"Mulut yang itu sudah belajar menyimpan sejak kemarin, Paman. Dasinya hijau lumut."
Mars menatapnya seakan mencoba memahami kalimat itu, lalu menyerah.
Pelayan datang membawa cokelat panas pesanan Kaeta yang bahkan belum sempat ia ucapkan, mungkin karena wajahnya terbaca dari pintu. Kaeta menunggu pelayan itu pergi, lalu menutup map dan menatap pamannya lurus-lurus.
"Kenapa Paman memberikan ini padaku?"
"Aku tidak suka menjual tanah ayahku untuk membayar bunga rumah sakit adikku." Mars mengatakannya datar, seperti membaca label. "Itu bukan memihak. Itu selera. Aku tetap tidak memihak siapa pun."
"Orang yang tidak memihak biasanya tidak membawa salinan ke kafe pagi-pagi."
"Orang yang tidak memihak membawa salinan ke kedua pihak, kalau mereka bertanya." Mars merogoh saku mantelnya, mengeluarkan kotak perak kecil itu, dan membukanya dengan satu jempol. Satu tablet putih masuk ke mulutnya, dan ia menelannya dengan seteguk kopi dingin tanpa mengubah ekspresi.
Kaeta memperhatikan gerak rahangnya, gerak dua jari yang menekan dada sejenak, lalu kotak yang ditutup cepat-cepat.
"Vitamin lagi?"
"Vitamin."
"Aku sudah bertanya pada seseorang yang tahu soal vitamin. Ia bilang bertanya langsung saja pada pemiliknya." Kaeta menyesap cokelatnya. "Jadi aku bertanya, Paman. Itu obat apa?"
"Bukan urusanmu."
"Baik. Kalau begitu izinkan aku memberi diagnosis gratis, karena promonya hanya hari ini." Ia menegakkan punggung dan memasang wajah paling dingin yang ia punya, yang sebenarnya warisan dari pria di seberangnya. "Pasien laki-laki, usia dewasa lanjut. Keluhan utama: menolak mengakui apa pun. Gejala: keras kepala kronis, kambuh bila ditanya, disertai bakat membawa map ke kafe. Terapi: sabar. Efek samping: keponakan."
Sudut bibir Mars bergerak. Hanya satu milimeter, dan segera dipadamkan.
"Kau mewarisi lidah ibumu," gumamnya. "Ia juga memberi diagnosis pada tamu makan malam."
"Lalu apa kata tamunya?"
"Tamunya meminta nasi tambah." Mars berdiri setengah, lalu duduk lagi, seakan lupa sesuatu. "Aku tidak bilang ya pada apa pun, Kaeta. Ingat itu."
"Aku tidak bertanya ya. Aku sedang menyusun sesuatu, dan kalau Paman mau duduk di sini, Paman boleh melihat."
Ia mengeluarkan buku catatan bergaris dan menggambar tiga kotak berderet, memakai tangan kiri yang lebih rapi. Kotak pertama ia isi satu kata: UTANG. Kotak kedua: YAYASAN. Kotak ketiga ia biarkan kosong dulu.
"Satu," ucapnya, mengetuk kotak pertama dengan ujung pulpen. "Utang dibebaskan. Wesley Group yang melepas, bukan hadiah, melainkan koreksi. Dua, tanah dan rumah sakit ditaruh di bawah yayasan, supaya tak seorang pun, bahkan Daddy dan aku, bisa menjualnya. Tiga..." Ia mengetuk kotak kosong itu. "Yayasan butuh wakil keluarga Valere. Orang yang disegani, yang suaranya didengar dua belas kepala itu, yang tidak ikut Vanessa dan tidak ikut Daddy."
Mars menatap kotak itu lama.
"Jangan lihat aku."
"Aku tidak melihat Paman. Aku melihat kotak." Kaeta mengangkat bahu. "Kotak ini kebetulan berukuran persis Paman."
Mars mendengus, dan untuk beberapa saat hanya suara mesin penggiling kopi yang terdengar. Ia mengambil mantelnya dari sandaran kursi, mengancingkannya dari bawah ke atas, jari demi jari.
"Aku pikirkan," ucapnya akhirnya. "Tidak lebih dari itu."
"Itu lebih dari yang kuharapkan."
"Kau selalu mengharapkan terlalu sedikit lalu menang." Mars berbalik di ambang pintu. "Itu juga warisan ibumu."
Pintu berdenting. Kaeta tinggal sendiri dengan map, buku catatan, dan kotak ketiga yang masih kosong. Pelan-pelan ia menulis satu kata di dalamnya, lalu menambahkan tanda tanya kecil di ujungnya, dan membiarkan pulpennya terdiam di atas kertas.
***
Di trotoar depan kafe, matahari jatuh miring di atas bahunya, dan Kaeta menempelkan salinan kontrak itu ke dada seperti perisai. Ia mencari kartu nama krem yang terselip di dompet sejak kue ketan hitam diantar ke rumahnya. Di baliknya, tulisan tangan Gans yang rapi menuliskan sebuah nomor.
Ponselnya bergetar sebelum ia sempat menekan tombol hijau. Zeta: Hidup? Kafe? Pamanmu menggigit? Kaeta mengetik balasan dengan satu tangan: Hidup. Tidak menggigit. Menyodorkan map. Lalu ia menekan nomor itu.
Nada sambung berbunyi tiga kali sebelum diangkat.
"Kediaman Wesley."
"Tuan Gans, ini Kaeta Quinn. Saya perlu bicara dengan Tuan Wesley, kalau beliau ada."
"Nona Kaeta." Suara kepala pelayan itu berubah sedikit lebih hangat, seperti teh yang baru dituang. "Tuan besar sedang di taman, memarahi ikan. Saya sambungkan?"
"Tolong."
Terdengar bunyi langkah, bunyi pintu kaca digeser, lalu suara berat yang sangat dikenalnya. "Nak? Kamu menelepon. Apakah ada yang jatuh dari langit?"
"Belum, Tuan Wesley. Tapi saya membawa sesuatu yang bisa membuat langit jatuh kalau tidak segera dibereskan." Kaeta menarik napas. "Saya mau bertemu besok di rumah Anda. Saya akan bawa Daddy, dan saya minta Anda mengundang Tuan Holt. Damian juga boleh hadir, selama ia duduk dan tidak membawa apa-apa."
Hening. Lalu suara di seberang melembut, seperti pria yang berminggu-minggu menunggu telepon yang ia kira tidak akan datang.
"Pukul berapa?"
"Pukul sepuluh. Dan satu lagi, Tuan Wesley."
"Ya, Nak."
"Tolong pastikan ikan Anda sudah makan. Kita butuh Anda tenang." Kaeta memeluk map itu lebih erat.