Dasi Jordi berwarna hijau lumut, bergaris miring kuning, dan tampaknya dipinjam dari seseorang yang jauh lebih besar, karena ujungnya menggantung sampai ke bawah ikat pinggang. Ia berdiri di tengah halaman markas pukul empat sore dengan kedua tangan menyatu di depan perut, di atas aspal yang baru disapu, seperti terdakwa yang sudah melatih pidatonya di depan cermin dua puluh kali.
Regu damkar berbaris di pinggir halaman tanpa disuruh. Damian berdiri sedikit di belakang mereka, dekat tiang bendera, dengan tangan di punggung dan wajah yang tidak mau memihak. Zeta duduk di bangku panjang dengan tas di pangkuan dan tatapan yang tidak berkedip. Kaeta duduk di sampingnya, membawa botol air, dan berusaha keras tidak membiarkan sudut bibirnya naik.
"Saya Jordi," ucap Jordi, dengan suara yang jauh lebih resmi dari biasanya. "Saya petugas damkar tingkat satu. Saya sahabat Komandan Damian. Dan hari ini saya berdiri di sini untuk meminta maaf dengan resmi kepada dua orang."
"Mulai," bisik Zeta, tanpa menoleh.
"Pertama, kepada Zeta. Saya menyebutmu wanita jadi-jadian. Itu salah. Kamu perempuan sungguhan yang berani, pintar, dan lebih galak dari semua perwira yang pernah saya temui." Jordi menarik napas. "Saya juga membuatmu mendengar kebenaran tentang Kaeta dari mulut orang lain, bukan dari mulut saya. Saya tidak pantas mengatakannya duluan, tapi saya juga tidak pantas menyimpannya sampai terlambat. Saya tidak tahu bagaimana menghindari dua-duanya, dan itu bukan alasan."
Zeta mengepalkan tali tasnya.
"Kedua, kepada Kaeta. Saya salah menyebut sebuah nama di depan Komandan dan membuat rantang Anda pecah. Saya juga membocorkan rahasia yang bukan milik saya ke telinga Anda di hari Senin itu, padahal itu seharusnya kejujuran yang datang dari Komandan sendiri." Mata Jordi berkaca-kaca, dan ia mengedip keras supaya air itu tidak jatuh. "Mulut saya memang tidak bisa menyimpan rahasia. Itu kelemahan yang sudah lama saya tahu dan saya biarkan. Mulai hari ini saya berusaha menyimpan, dan kalau gagal, saya akan minta maaf sebelum diminta."
Hening di halaman. Seorang petugas di baris belakang batuk kecil, sengaja.
"Itu saja," tutup Jordi, nyaris tanpa suara.
Zeta berdiri. Ia berjalan ke tengah halaman dan berhenti satu langkah di depan Jordi, kepala sedikit terangkat karena Jordi lebih tinggi dua puluh senti.
"Dasimu salah ikat."
"Dipinjam dari Magnus. Ia bilang dasi itu menenangkan."
"Dasi tidak menenangkan. Dasi itu tali yang membuat kamu kelihatan seperti ikan salmon di jas hujan." Zeta menyilangkan lengan. "Aku punya tiga syarat. Pertama, kata maaf tidak boleh mengandung lelucon, dan tadi ada satu, tentang ikan, aku lewatkan. Kedua, mulai hari ini, rahasia apa pun yang diceritakan orang padamu, kamu simpan sampai orang itu sendiri yang bilang boleh dibuka. Termasuk yang remeh. Ketiga, kamu traktir bakso. Setiap Jumat, selama sebulan."
"Itu tiga syarat yang adil."
"Itu tiga syarat yang minimal." Zeta menurunkan lengan. "Aku maafkan, belum percaya. Dua hal itu berbeda."
"Aku tahu."
"Dan Jordi." Suaranya melembut, hanya setengah nada, cukup untuk membuat regu damkar di belakang mereka serentak menahan napas. "Dasimu tetap jelek."
Jordi tertawa, pecah dan basah, dan Zeta ikut tertawa meski berusaha menahannya. Regu bersorak pendek. Kaeta bertepuk tangan sendirian di bangku, satu kali, dua kali, sampai Damian di dekat tiang bendera menurunkan pandangannya ke aspal, bahunya bergetar tanpa suara.
"Hari ini Jumat," ucap Zeta, menyeka ujung mata dengan punggung tangan. "Bakso pertama. Sekarang."
"Sekarang? Aku masih memakai dasi."
"Justru itu. Aku mau semua tukang bakso melihatnya."
Mereka berjalan menuju gerbang, Zeta di depan dan Jordi di belakang dengan jarak yang masih ragu-ragu, dasi hijau lumut itu berkibar kecil di antara mereka. Di sisi lain halaman, mata Kaeta bertemu mata Damian. Pria itu tidak melangkah. Ia hanya menurunkan dagu sekali, pelan, seperti orang menyapa dari seberang sungai, dan Kaeta, yang belum siap melakukan lebih dari itu, mengangkat botol airnya setengah jengkal sebagai balasan. Itu saja. Tetapi Damian menarik napas dalam-dalam setelahnya, seakan baru diberi tiket masuk sebuah ruangan yang selama ini ia kira terkunci.
***
Magnus tiba ketika halaman mulai kosong, dengan jas hitam rapi dan map cokelat di bawah lengan, berdiri di gerbang seperti menunggu izin masuk yang tidak pernah diminta. Jordi, yang sedang melepas dasi, melihatnya lebih dulu dan membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
"Kopi?" tanyanya, akhirnya.
"Saya tidak minum kopi di wilayah yang belum diumumkan netral."
"Kita bukan musuh lagi. Aku sedang dalam fase menyesal. Tolong hargai usahaku."
Magnus menatapnya sedetik, lalu mengangguk samar. "Nanti. Setelah urusan saya selesai."
Ia berjalan ke arah Kaeta, yang berdiri di dekat bangku, dan berhenti dua langkah di depannya. Ia tidak melirik Damian, dan Damian, di kejauhan, tidak bergerak maju. Itu sudah menjadi kebiasaan baru di antara mereka: jarak yang dijaga bukan karena takut, tetapi karena hormat.
"Nona Kaeta." Magnus menyodorkan map itu dengan kedua tangan. "Daftar tertulis seluruh yang saya lakukan atas perintah Tuan Damian sejak sebelum Nona dikenal oleh Tuan. Tanggal, orang yang saya hubungi, dan isi pesan. Saya menyusunnya sendiri. Tidak ada yang memintanya."
Kaeta menerima map itu dan membukanya. Tiga puluh dua halaman, ketikan rapat, tanpa satu pun kata sifat. "Ini bukan pembelaan."
"Bukan. Saya melaksanakan perintah, dan tidak menanyakan akibatnya. Itu tanggung jawab saya, bukan hanya Tuan Damian." Magnus menunduk setengah derajat. "Saya tidak berharap dimaafkan. Saya hanya tidak mau Nona mengira ada yang tersembunyi."
"Terima kasih, Magnus."
"Saya permisi." Ia berbalik, melangkah ke Jordi, dan berkata datar: "Kopinya, dengan gula."
Jordi mengangkat tangan ke langit. "Dia minta gula. Tuhan memang adil."
Ponsel Kaeta bergetar di saku jas almamater. Nama di layar: Daddy. Ia mengangkat, dan suara Xavier terdengar tegang, rendah, seperti sedang berbicara dari balik tangan.
"Kaeta. Daddy sedang di perpustakaan RS. Tante Vanessa baru mengirim surel ke seluruh kerabat Valere, dengan tembusan ke pengacara kami. Daddy bacakan?"
"Bacakan, Dad."
Xavier membaca perlahan: pemberitahuan resmi, perihal kontrak penjualan tanah seratus lima puluh hektar atas nama keluarga Valere kepada sebuah perusahaan pengembang, dengan usulan agar persetujuan penjualan dibahas dalam rapat dua minggu lagi. Lampiran: draf kontrak, nilai penawaran dalam huruf tebal. Kaeta mendengarkan sambil memandangi aspal markas yang mulai gelap, dan mendapati napasnya lebih tenang daripada yang ia kira.
"Dia mau menjual tanahnya," ucap Kaeta. "Siapa pembelinya?"
"Perusahaan pengembang. Namanya Daddy tidak kenal. Lampirannya hanya draf, belum ada tanda tangan siapa pun, tapi nilai penawarannya... " Xavier menarik napas. "Dia membuatnya terdengar seperti jalan keluar bagi seluruh keluarga. Dia mau mengakhiri perdebatan sebelum kita sempat menyusun apa pun. Daddy tidak tahu harus..."
"Aku tahu, Dad. Nanti kita bicara. Aku di markas."
Ia menutup telepon, dan sebelum sempat memasukkan ponsel ke saku, layar itu menyala lagi. Mars, tetapi kali ini bukan suara. Hanya satu pesan teks tanpa salam, tanpa tanda seru, dengan ejaan seseorang yang mengetik dengan satu jari: Besok pagi. Kafe dekat kampus. Salinannya kubawa.