Kaeta menelepon dari balik tiang koridor anatomi, tepat empat menit sebelum pintu kelas Profesor Sterling dikunci, dengan napas sepenuhnya disisakan untuk percakapan yang tidak bisa menunggu. Dua kali nada sambung. Lalu suara Paman Sam, tenang dan sedikit berat, seperti suara seseorang yang baru selesai menggosok kacamata.
"Nak. Kau menelepon pagi-pagi. Ada yang sakit?"
"Tidak ada yang sakit, Paman. Aku butuh bantuan membaca sesuatu." Kaeta menekan ponsel ke telinga dan membuka foto yang ia ambil hari Senin dengan tangan lain. "Aku memotret sebuah kemasan obat. Tulisannya kecil sekali. Satu nama panjang, berawalan A, dengan kandungan dalam miligram di bawahnya. Aku ingin tahu itu obat apa dan untuk apa."
"Siapa yang meminumnya?"
"Aku tidak bisa bilang."
"Kau tidak meminumnya?"
"Bukan aku."
Hening di ujung sana. Kaeta menunggu, dan menunggu, dan menyadari bahwa jenis hening ini bukan hening sinyal buruk. Itu hening orang yang sedang menimbang apa yang boleh dikatakan.
"Bacakan namanya," ucap Paman Sam akhirnya.
Kaeta membacakannya, huruf demi huruf, sambil memicingkan mata ke layar yang sudah ia perbesar. Di seberang telepon terdengar bunyi napas yang berubah, pendek, lalu panjang, lalu terkendali.
"Nak."
"Ya, Paman?"
"Aku tidak akan menjawab pertanyaan tentang obat milik orang yang tidak ada di ruangan ini. Itu aturan pertama yang kupelajari sebelum aku belajar apa pun tentang jantung. Dokter yang membuka rahasia pasien lewat telepon bukan dokter."
"Aku tidak menyebut pemiliknya."
"Kau tidak perlu." Suara Sam lembut dan tegas bersamaan, seperti tangan di bahu yang menahan sekaligus melindungi. "Tanyakan langsung pada orangnya, Kaeta. Kalau ia menolak menjawab, kembalilah padaku dan kita bicara lagi, tetapi aku tidak mau menjadi orang yang membukakan pintu itu untuknya."
"Paman bisa bilang obat itu berbahaya atau tidak?"
"Obat itu bukan racun, dan menurutku orang yang meminumnya bukan sedang menyakiti dirinya." Sam berhenti sebentar. "Itu yang bisa kukatakan. Sisanya bukan hakku."
Telepon ditutup. Kaeta berdiri lama di balik tiang, menatap foto kecil di layar, sampai bunyi kunci diputar di pintu kelas membuat jantungnya melompat, dan ia berlari menyusuri koridor dengan tas terayun di bahu, menyelip masuk satu detik sebelum Profesor Sterling menutup pintu.
"Satu detik, Nona Quinn. Pintu saya hampir memakan tas Anda."
"Satu detik itu tadi detak jantung saya, Profesor. Seharusnya dihargai."
Sterling menatapnya di atas kacamata setengah bulatnya, mengangkat satu alis, dan menunjuk kursi dengan pulpen. Reyhan di barisan kedua mengacungkan permen seperti bunga ucapan selamat datang kembali, dan Kaeta duduk dengan wajah panas, memikirkan satu nama berawalan A yang tidak bisa ia keluarkan dari kepala selama dua jam penuh pelajaran saraf.
***
Siang itu, di kantin kampus, Zeta menaruh nampan berisi dua mangkuk sup dan sepotong roti di meja dengan ekspresi orang yang hendak membacakan putusan pengadilan.
"Aku memberi Jordi tenggat," ucapnya.
"Tenggat apa?"
"Sampai Jumat. Dia punya sampai Jumat untuk meminta maaf secara resmi, di depan kamu dan aku, di markas, dengan kata-kata yang tidak mengandung lelucon." Zeta menyendok sup. "Aku balas pesannya semalam. Panjangnya tiga kata: Jumat. Markas. Resmi."
"Dan dia jawab?"
"Dua belas pesan dalam sepuluh menit. Yang terakhir berbunyi: Aku akan memakai dasi." Zeta menutup mata sebentar. "Aku tidak tahu dia punya dasi."
Kaeta tertawa, kemudian mengerutkan dahi ketika melihat tangan Zeta yang menggenggam sendok sedikit gemetar. "Kamu baik-baik saja?"
"Aku marah dan aku menyukainya dan dua perasaan itu berbagi kamar yang sama." Zeta mengangkat bahu. "Tapi tenggat ini bukan untuk menyiksanya. Aku mau dia belajar bahwa maaf itu butuh waktu. Kalau dia menyesal Jumat sama dalamnya dengan menyesal hari ini, baru aku yakin."
"Itu rencana yang bagus."
"Itu rencana yang kupelajari dari kamu." Zeta menyodorkan roti. "Makan. Kamu pucat."
***
Bukit itu tidak berubah sejak terakhir kali Kaeta ke sana: rumput tinggi yang dipangkas sepihak oleh angin, satu pohon tua dengan bangku kayu yang diukir inisial orang-orang yang tidak pernah bertemu, dan kota di bawah sana yang tampak seperti maket. Daniel sudah duduk di bangku itu ketika Kaeta tiba, sepeda motor besarnya terparkir miring di dekat jalan setapak. Ia mengenakan jaket kulit hitam di atas kaus abu-abu, rambut berantakan seperti biasa, dan memegang dua gelas kopi kertas.
"Satu untukmu," ucapnya. "Tanpa gula, karena kamu bilang gula adalah konspirasi."
"Aku bilang kopi dengan gula itu pengkhianatan terhadap kopi."
"Itu yang kumaksud." Daniel menyerahkan gelas dan menggeser bokongnya supaya ada ruang. Mereka duduk berdampingan, dengan jarak yang tidak dibahas, dan sama-sama menatap kota.
"Aku sudah bicara dengan Paman Damian," ucap Daniel setelah beberapa saat. "Bukan bicara. Aku dikirimi surat. Tiga halaman. Isinya permintaan maaf resmi karena menyuruh orang mengurus pertukaran pelajaranku dan tidak mengatakannya terus terang. Ia tidak minta dimaafkan."
"Orang itu sedang demam surat."
"Kupikir juga begitu." Daniel menyesap kopinya. "Surat Jerman itu sudah kusobek jadi empat. Aku tetap di sini, kuliah di kelas yang sama denganmu, dan Nico kalah taruhan tujuh puluh ribu karena dia kira aku bakal ngambek sampai semester depan." Ia diam sebentar. "Aku memutuskan memaafkannya. Pelan-pelan. Seperti menarik plester, sedikit sedikit, supaya tidak berdarah. Dia tetap pamanku, Kae. Aku tidak mau anak-anak kami nanti punya cerita tentang dua orang keras kepala yang tidak bicara selama dua puluh tahun."
"Anak-anak kami."
"Maksudku anak-anakku dan anak-anaknya. Terpisah. Dalam keluarga yang sama." Daniel mengusap tengkuk, wajahnya memerah. "Aku masih garing, ya."
"Sangat." Kaeta tersenyum lalu memandangi kopinya yang beruap. "Dan, Dan. Aku mau cerita sesuatu."
Daniel diam. Ia tidak menyela, dan itu membuat Kaeta bersyukur, dan hampir tidak sanggup melanjutkan.
"Mama meninggal waktu aku masih kecil. Malam itu aku bersamanya, di kamarnya. Kami sedang bermain. Aku mengira masih main." Ia menelan ludah. "Itu saja yang bisa kuceritakan sekarang. Sisanya belum."
Beberapa detik berlalu, hanya angin dan suara jauh sebuah klakson.
"Terima kasih sudah bilang," ucap Daniel, tulus dan sederhana, tanpa satu pun gombalan di dalamnya. "Aku tidak akan bilang apa pun yang pintar. Aku cuma mau kamu tahu, kalau suatu hari kamu butuh tiang untuk menahan pintu, aku punya tinggi seratus delapan puluh senti."
Kaeta tertawa, dan air matanya ikut menetes bersama tawa itu, dan Daniel menyodorkan sapu tangan tanpa berkata apa pun.
Ia berdiri lebih dulu, menepuk debu dari celananya, dan menyampirkan kunci motor di telunjuk. "Aku pergi dulu. Kuliah sore. Dan Kae?" Senyumnya lebar dan hangat, senyum yang tidak lagi menunggu apa pun. "Kamu hebat hari ini."