Zeta mengantar Kaeta sampai ambang sayap lama dan berhenti di sana seperti anjing penjaga yang diperintah tidak masuk. Lorong di depan mereka lebih redup daripada sayap baru, lantainya bermotif kotak-kotak yang sudah memudar, dan dari suatu tempat di bawah kaki terdengar dengung rendah yang mengganggu tulang.
"Itu gensetnya?" bisik Zeta.
"Itu yang bilang Marlene sembilan belas detik."
"Bunyinya seperti orang tua yang batuk di balik tembok." Zeta menyilangkan lengan. "Aku tunggu di lobi. Kalau lampunya kedip, aku teriak. Kalau aku teriak, jangan tanya kenapa. Lari saja."
"Bagus sekali. Terima kasih atas dukungan emosionalnya."
"Itu bagian dari paket." Zeta menepuk bahunya dua kali, singkat, lalu pergi dengan langkah yang terlalu cepat.
Kaeta menghela napas panjang dan memutuskan bahwa ia tidak akan membiarkan satu pun kekhawatiran Zeta masuk ke kepalanya, lalu berjalan sendiri. Pukul sembilan lewat sedikit, lorong itu hampir kosong, hanya seorang petugas kebersihan yang mendorong troli di ujung dan menghilang ke tikungan. Foto itu tergantung di dinding sebelah kiri, di antara pintu ruang arsip dan jendela yang dikerai: foto seorang perempuan tertawa lebar dengan rambut ditiup angin, dalam bingkai kayu sederhana yang catnya mengelupas di satu sudut. Di bawah foto itu berdiri seorang pria bermantel panjang, punggung tegak, tangan di belakang, memandang bingkai itu seperti memandang seorang tamu yang datang terlambat.
"Paman."
Mars tidak menoleh. "Adikku suka foto ini. Ia bilang itu satu-satunya foto di mana ia tidak berpose." Suaranya rendah dan kasar. "Datang tepat waktu seperti ibumu."
"Aku tidak ingat Mama tepat waktu."
"Ia tidak pernah tepat waktu. Itu yang kumaksud." Mars akhirnya berbalik. Wajahnya lebih pucat daripada saat di pesta, dengan lingkaran gelap di bawah mata yang tidak cocok dengan potongan mantelnya. "Aku tidak datang untuk meminta maaf."
"Aku tahu."
"Aku datang untuk melaporkan apa yang kudengar di rumah-rumah keluarga sejak Sabtu itu. Karena kau akan duduk di ruang rapat bersama mereka, dan kau lebih baik tahu siapa yang ada di sana."
Kaeta menunggu. Ia belajar dari Zeta bahwa kalau lawan bicaramu ingin berbicara, cara terbaik adalah menutup mulut.
"Ada dua belas kepala keluarga Valere yang punya suara," ucap Mars. "Vanessa menelepon tiap-tiap mereka sejak minggu lalu. Sebelum Sabtu itu, hampir separuh memihak dia. Sesudahnya delapan. Delapan dari dua belas, Kaeta."
"Dan Daddy?"
"Ayahmu dokter bedah yang tidak sanggup membayar listrik rumah sakit istrinya. Aku benci kenyataan itu, bukan karena ia bodoh. Karena aku tahu ia sudah mencoba semua yang bisa dicoba dan tetap kalah." Mars menunduk sedikit. "Jangan bilang padanya aku mengatakan itu."
"Karena kejadian di ruang tamu."
"Karena ia membuat ceritamu terdengar seperti alasan untuk mencopot ayahmu. Dua bibiku menangis di telepon. Satu pamanku bilang rumah sakit tidak boleh dikelola oleh keluarga yang tidak menjaga anak perempuannya." Mars mengatakannya tanpa perubahan nada, seperti orang membaca daftar kerugian. "Mereka tidak jahat. Mereka takut. Takut kehilangan sesuatu yang tersisa dari adikku, dan mereka percaya Vanessa bisa menjaganya."
"Dan Paman?"
"Aku tidak memihak siapa pun."
"Itu bukan jawaban."
"Itu satu-satunya yang kupunya." Mars merogoh saku mantelnya, mengeluarkan sebuah kotak perak kecil seukuran kotak kartu nama, dengan ukiran tipis di tutupnya. Ia membukanya dengan satu jempol, dan Kaeta sempat melihat ruas-ruas foil dengan tulisan kecil di dalamnya. Ia menyelipkan satu butir tablet putih ke bibir tanpa air, menelannya dengan tegukan kering, dan meletakkan kotak itu di ambang jendela di samping foto.
"Itu apa, Paman?"
"Vitamin."
"Vitamin diminum diam-diam di lorong tanpa air?"
"Aku tidak perlu menjelaskan kebiasaanku pada keponakan." Mars menekan dadanya sebentar dengan dua jari, Kaeta tidak tahu apa arti gerakan itu, tetapi ia mengenali nada suara pria itu: nada orang yang menutup pintu supaya tidak ada yang melihat isi ruangannya.
Dari kejauhan terdengar suara dengung genset menaik, sekejap, kemudian turun lagi.
"Paman membenciku, kan." Kaeta mengatakannya tenang, tanpa tuduhan, seperti membaca hasil laboratorium. "Sejak malam itu. Tante Vanessa tahu karena Paman tahu. Paman diam sejak itu, dan aku tidak pernah berani menanyakannya. Tapi sekarang aku bertanya."
Mars menatap foto adiknya. Rahangnya mengeras, mengendur, mengeras lagi. Seseorang di lorong lain menutup pintu, dan bunyinya bergema.
"Aku tidak membencimu," ucapnya, lalu berhenti. Bibirnya terbuka sebagai awal kalimat berikutnya, tetapi tidak ada yang keluar. Tangannya mengepal sekali di samping tubuh.
Kaeta menunggu lima detik. Sepuluh. Dengung genset mengisi keheningan itu seperti pembicara ketiga.
"Paman?"
"Itu saja." Suara Mars lebih serak sekarang. "Itu yang bisa kukatakan hari ini. Tanyakan hal lain kalau kau mau."
"Baik. Hal lain." Kaeta memaksakan diri tetap berdiri. "Kenapa Paman merekam Damian?"
"Karena aku tidak bisa menghajarnya." Mars mendengus, dan sudut bibirnya, entah kenapa, nyaris tersenyum. "Waktu kau menyiramku di restoran itu, aku berpikir: anak yang sanggup menyiram pamannya di depan umum demi ayahnya tidak boleh dibeli siapa pun. Termasuk oleh pria yang membawa tanah di saku."
"Dia menemuiku di restoran itu minggu lalu," lanjut Mars. "Sendirian. Membawa kertas yang menjatuhkan namanya sendiri. Aku sudah bertemu banyak orang Wesley, dan ini pertama kali ada yang menyerahkan senjata ke tanganku tanpa kuminta."
"Aku tahu. Aku membacanya."
"Dan?"
"Aku belum memutuskan, Paman. Aku sedang menimbang, sama seperti Paman."
"Bagus. Pertahankan itu." Mars mengangguk pelan, dan untuk sekejap, wajahnya menyerupai wajah di foto itu.
Ponsel di sakunya bergetar. Ia mengeluarkannya, melihat layar, dan mengerutkan alis. Dari ujung lorong, seorang pria berjas gelap, salah satu asistennya, menunjuk arloji dengan isyarat sopan.
"Aku harus pergi sebentar," ucap Mars. "Dua menit. Jangan ke mana-mana."
Ia berjalan menjauh ke arah asistennya, punggung lurus dan langkah yang sedikit lebih berat daripada yang Kaeta ingat dari pesta. Begitu ia berbelok, Kaeta menatap kotak perak di ambang jendela.
Itu salah. Ia tahu itu salah. Kotak itu bukan miliknya, dan pria itu bukan pasiennya, dan tidak ada aturan kedokteran mana pun yang mengizinkan mahasiswa tahun pertama mengintip obat orang lain. Tetapi ia juga melihat cara pria itu menekan dadanya, dan mendengar kalimat yang berhenti di tengah. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka tutup kotak dengan ujung kuku, memutar lipatan foil sampai tulisan kecil di baliknya menghadap cahaya, dan menekan tombol potret dua kali. Klik pelan, nyaris tak terdengar di antara dengung genset.
Langkah sepatu kembali dari tikungan. Kaeta menutup kotak dan mundur satu langkah. Mars muncul, melihat kotak itu di ambang jendela, lalu menatapnya.
"Kenapa kau berdiri seperti orang yang baru memecahkan vas?"
"Aku memikirkan Mama."
Mars mengambil kotak perak itu, menutupnya dengan bunyi klik, dan memasukkannya ke saku mantel tanpa berkata apa-apa lagi.