Pukul tujuh pagi, meja makan Quinn sudah penuh kartu indeks berwarna kuning. Kaeta menulis tiap angka dari berkas utang rumah sakit dengan huruf besar dan tegas di satu sisi kartu, lalu menjelaskan artinya dalam bahasa manusia di sisi sebaliknya. Zeta, yang bertugas membaca keras-keras dan menggambar, duduk bersila di kursi dengan spidol di mulut.
"Kartu satu," ucap Zeta. "Pokok utang. Artinya?"
"Uang yang dipinjam dulu. Belum berkurang satu sen pun." Kaeta membalik kartu itu dan menyodorkannya. "Kartu dua. Bunga setahun."
"Bunga setahun..." Zeta membaca angkanya, lalu mengeluarkan spidol dari mulut perlahan. "Kae. Ini sama dengan gaji jaga malam untuk tiga puluh perawat selama setahun penuh."
"Itu yang tertulis di baliknya."
"Aku tidak mau lihat sisi baliknya lagi." Zeta tetap membalik, lalu menggambar di sudut kartu itu sesosok hantu berdasi yang sedang memeluk tumpukan koin. "Utang ini punya wajah sekarang. Namanya Pak Hantu Bunga."
"Jangan beri nama pada musuh. Nanti kita sayang."
"Terlambat."
Kaeta tertawa pendek dan merasa heran bahwa ia masih bisa. Lalu ia mengambil kartu ketiga, yang paling tebal ditulis, dan membaca isinya dalam hati sekali lagi: Perbaikan listrik sayap lama. Ditunda: empat tahun. Alasan: uang hanya cukup untuk bunga.
***
Damian tiba pukul sepuluh kurang dua menit, membawa kotak arsip yang berat dan wajah yang tampak sudah memikirkan tiap kemungkinan tentang cara masuk ke rumah itu. Pelayan membawanya ke ruang makan, dan Xavier, yang duduk di ujung meja dengan kacamata baca dan kedua tangan terlipat, mengangguk satu kali tanpa senyum.
"Tuan Damian. Silakan."
"Dokter Xavier."
Paman Sam sudah di sana dengan jas hujan di sandaran kursi dan map cokelatnya. Holt datang sepuluh menit kemudian, tepat waktu menurut hitungan jam pasirnya, dan duduk dengan tas kulit di pangkuan tanpa berkata apa pun. Kaeta berdiri di ujung meja satunya, di depan seluruh kartu kuning yang kini disusun berderet.
"Terima kasih sudah datang," ucapnya. "Aku tidak akan membahas pasal. Aku tidak mengerti pasal, dan menurutku kalau kita semua mengerti pasal, rumah sakit ini tidak akan sampai di sini. Aku akan membahas angka, dan apa artinya bagi orang yang bekerja di dalamnya."
Ia menjelaskan kartu demi kartu. Holt membenarkan satu kali, dengan satu kata: "Tepat." Damian mengeluarkan dokumen dari kotaknya tiap kali Kaeta menunjuk sebuah angka, menjelaskan asal-usulnya dengan suara datar tanpa pembelaan. Ia menyebut siapa yang menyetujui, kapan, dan di bagian mana ia sendiri terlibat. Xavier mengamati wajahnya tiap kali ia berbicara, mencari retakan, dan tidak menemukannya.
Zeta, yang duduk di sudut dengan setumpuk kartu kosong, mengangkat tangan seperti murid di kelas.
"Tuan Holt. Kenapa hantu bunga bertambah gemuk tiap bulan, padahal tidak ada yang memberinya makan?"
"Itu disebut bunga majemuk, Nona Zeta."
"Itu disebut sihir hitam."
"Secara teknis, keduanya benar." Holt tidak tersenyum, tetapi ujung pulpennya mengetuk kertas dua kali, dan Kaeta berani bersumpah itu tawa dalam bahasa pengacara.
Damian menyodorkan satu map ke arah Xavier tanpa menyentuh pinggir meja Xavier. "Dokter, ini catatan semua yang pernah dibayar rumah sakit sejak pinjaman pertama. Ada dua halaman yang bagi saya tidak tampak wajar, kemungkinan kesalahan penagihan, dan saya tandai dengan klip merah. Saya tidak tahu apakah itu disengaja."
Xavier membuka halaman bertanda klip itu, membacanya cukup lama, lalu menutup map. "Anda menandai kesalahan yang menguntungkan pihak Anda sendiri."
"Itu yang harus ditandai."
"Saya masih belum menyukai Anda, Tuan Damian." Xavier menyerahkan map itu kepada Holt. "Tetapi saya mencatat bahwa Anda membawa kotak ini tanpa disuruh dua kali."
Ketika Kaeta sampai di kartu ketiga, ruangan sunyi.
"Empat tahun," ucap Xavier pelan. "Daddy menunda empat tahun karena tiap bulan yang ada hanya cukup untuk bunga. Daddy bilang pada diri sendiri, tahun depan."
"Dad."
"Genset di sayap lama itu sudah lebih tua daripada kamu." Xavier melepas kacamatanya dan menekan pangkal hidung. "Daddy tahu. Daddy selalu tahu."
"Aku tidak menyalahkan Daddy." Kaeta mengambil kartu itu dan menunjukkan sisi baliknya kepada semua orang. "Aku menyalahkan urutannya. Kita membayar hantu bunga lebih dulu dan membiarkan listrik tua berdengung di ruangan yang ada pasien di dalamnya. Urutan itu salah. Kalau aku yang menyusun, yang pertama adalah listrik, karena itu soal nyawa. Kedua bunga. Ketiga pokok."
"Dan siapa yang membayar listriknya?" tanya Paman Sam.
Damian bergerak sedikit di kursinya. "Boleh aku menawarkan sesuatu?"
Kaeta tidak menoleh. "Tidak."
"Aku belum menyebut apa."
"Pinjaman, kan. Dari tabunganmu pribadi, bukan Wesley Group, supaya terlihat bersih." Kaeta akhirnya memutar badan dan menatapnya. "Jawabanku sama. Aku tidak mau rumah sakit ibuku berutang kepadamu dengan alasan apa pun, hari ini atau kapan pun."
Damian menutup mulutnya. Ia mengangguk perlahan, dan Xavier, yang mengamati dari ujung meja, menurunkan bahunya seinci, sesuatu yang tidak ia lakukan sejak Damian melewati pintu.
"Aku yang menanggung perbaikan listriknya," ucap Paman Sam. Semua kepala menoleh. "Perusahaanku menjual panel dan kabel dengan harga pabrik, bukan harga rumah sakit, dan aku bisa membayar tukangnya dulu. Nanti dicicil kapan pun rumah sakit sanggup. Dengan bunga nol. Tertulis, Nak, supaya kau tidak mengira ini sedekah."
"Paman Sam..."
"Kau bilang tidak mau berutang pada Wesley. Berutang padaku boleh. Aku sudah dua puluh tahun memberi ayahmu nasihat yang tidak ia dengar, jadi anggap ini caraku menagih." Sam tersenyum di balik kacamatanya, matanya sedikit basah.
Bel pintu berbunyi, dan seorang maid masuk membawa seorang perempuan berusia lima puluhan dengan seragam putih IGD, rambut abu-abu yang dicepol rapi, dan sebuah buku catatan tebal di bawah lengannya. Seragamnya masih kusut bekas jaga, dan ia berjalan seperti orang yang baru pindah dari satu darurat ke darurat lain.
"Marlene," ucap Kaeta.
"Nona kecil." Marlene meletakkan buku itu di meja dan mengendus udara dengan curiga. "Rumah ini bau roti hangus. Jangan bilang itu sarapanmu."
"Aku makan roti hangus."
"Itu tidak masuk hitungan." Marlene membuka bukunya pada halaman yang sudah ia lipat. Nadanya berubah menjadi nada orang yang membawa kabar yang tidak diinginkan siapa pun. "Dokter Xavier, Nona, Tuan Sam. Ini catatan uji genset sayap lama. Selama bertahun-tahun ia batuk sekitar sebelas detik tiap pagi sebelum menyala. Dua minggu terakhir menjadi sembilan belas. Tadi pagi, lampu panel ruang peralatan berkedip dua kali."
Tidak ada yang berbicara. Kaeta menatap angka sembilan belas di halaman itu, lalu menatap kartu ketiga di tangannya, yang tiba-tiba tampak lebih berat.
"Terima kasih, Marlene," ucapnya akhirnya. "Paman Sam, kapan teknisimu bisa mulai?"
"Besok sudah bisa kukirim penilai. Mengerjakannya perlu beberapa hari."
"Kalau begitu besok." Kaeta meletakkan kartu itu di tengah meja, di atas semua kartu lainnya. "Urutan pertama. Listrik."
Ponselnya bergetar di saku jas. Ia melihat layar, membeku sekejap, lalu mengangkat tanpa berpindah dari tempatnya.
"Paman."
Suara Mars terdengar kering dan singkat. "Senin. Rumah sakit. Aku mau bicara denganmu. Sendiri."
"Jam berapa?"
"Pagi. Kau tahu di mana aku akan menunggu." Sambungan terputus.