Kafe itu bernama Ruang Kopi Dua, terletak dua blok dari gerbang kampus, dan pelanggan tetapnya adalah mahasiswa yang percaya bahwa kafein bisa menggantikan jam tidur. Meja nomor satu di dekat jendela sudah ditempati Kaeta pukul sembilan lewat lima menit pagi itu, dengan secangkir cokelat panas, sebuah buku catatan bergaris, dan wajah seseorang yang sedang memimpin rapat dengan dirinya sendiri.
Damian muncul pukul sembilan lewat sepuluh. Ia datang tepat waktu menurut hitungannya dan terlambat lima menit menurut hitungan Kaeta, dan ia tidak membela diri sedikit pun. Kemeja biru tua, lengan digulung sampai siku, tangan kosong. Di pintu ia berhenti, menatap meja nomor satu, lalu menunggu.
"Silakan duduk," ucap Kaeta, tanpa mengangkat mata dari bukunya. "Kursi seberang. Bukan sebelah."
Damian duduk di kursi seberang. Pelayan datang, mencatat pesanan kopi hitamnya, dan pergi dengan langkah yang terlalu cepat untuk disebut biasa.
Kaeta menutup bukunya, meletakkan pulpen di atasnya sejajar, lalu mengulurkan tangan lurus ke seberang meja. Bukan untuk bersalaman. Telapaknya terbuka dan terulur setengah, dalam jarak yang jelas tidak akan disentuh siapa pun.
"Kaeta Calliope Quinn. Mahasiswi kedokteran tahun pertama. Mahasiswi, bukan dokter. Saya tidak punya stetoskop kecuali yang tersimpan di tas, dan itu tidak untuk dipakai bermain."
Damian memandang telapak terbuka itu lama, memahami bahwa ia sedang diuji, dan menjawab dengan menempelkan kedua tangannya di atas meja, jauh dari tangan Kaeta.
"Damian Sinclair Wesley. Komandan pemadam kebakaran. Saya tidak pernah memakai jas dokter orang lain, dan saya sedang belajar bertanya sebelum menyimpulkan."
Sudut bibir Kaeta tergelincir ke atas, sepersekian detik, lalu dikembalikan ke posisi serius. Ia menarik tangannya. "Hobi?"
"Ikan."
"Yang kembung?"
"Yang kembung."
"Makanan kesukaan?"
"Nasi goreng. Asin."
"Itu bukan kesukaan. Itu penderitaan."
"Itu penderitaan yang kuminta lagi." Damian memutar cangkirnya setengah putaran. "Hal yang paling kutakuti, kalau kau mau tahu. Pesta kejutan. Waktu aku kecil Daddy pernah menyewa badut."
"Badut?"
"Dua. Salah satunya menangis."
Kaeta menutup mulut dengan telapak tangan, bahunya bergetar. Ia terbatuk, pura-pura minum cokelat, dan mengumpulkan kembali wajah profesional yang tadi ia susun dengan susah payah.
"Kemarin," lanjutnya, kembali ke daftar pertanyaan di bukunya. "Ceritakan harimu kemarin."
"Apel pagi, laporan, patroli. Sore hari kebakaran tong sampah di gang belakang pasar. Tidak ada korban. Tong sampahnya sendiri tidak selamat."
"Kau berduka untuk tong sampah?"
"Sedikit. Ia sudah bekerja keras selama bertahun-tahun." Damian menyeruput kopinya dengan wajah datar. "Sekarang giliranmu. Boleh aku bertanya satu hal tentang harimu?"
"Satu."
"Apa yang membuatmu tertawa terakhir kali? Sungguhan, bukan yang kau paksakan."
Kaeta menimbang lama. "Zeta membuat roti panggang. Warnanya hitam di satu sisi dan putih di sisi lain, seperti papan catur." Ia berhenti, mendapati ia baru saja menjawab dengan jujur dan tidak merasa dirugikan. "Senin."
"Baik. Biodata selesai. Sekarang aturan." Ia membuka buku catatan dan menunjukkan halaman yang sudah ia tulis dengan huruf tegak. "Tiga aturan dari atap tetap berlaku: tanpa hadiah, rapat hari Jumat, semua urusan keluargaku lewat aku. Aku tambah tiga lagi, khusus untuk kafe ini dan apa pun yang datang setelahnya. Satu, kita jujur dari hal sepele. Janji kita di taman kota: kalau sesuatu menyangkut aku, kau bilang. Dulu kau menjawab 'janji' dan menyimpan sisanya. Sekarang tidak ada sisa."
"Aku mengerti."
"Dua, tidak ada sentuhan kecuali aku yang minta. Bukan kau yang bertanya dan aku jawab dengan sopan. Aku yang bilang. Kalau aku tidak bilang, jawabannya tidak, dan itu bukan penolakan, itu jadwal."
Damian mengangguk sekali. "Tiga?"
"Tiga, kalau kau tidak paham sesuatu, tanya. Jangan menebak. Terakhir kali kau menebak, kau menyimpulkan aku perisai yang bisa ditukar dengan tanah." Suaranya tidak naik. Itu yang membuat kalimat itu menusuk lebih dalam. "Aku tidak mau jadi gambaran yang kau karang."
"Aku akan bertanya."
"Bagus." Kaeta menutup buku dan mengetuk sampulnya dua kali. "Satu pertanyaan sebelum kita lanjut. Meja nomor tujuh. Pria berjaket kulit dan wanita bertopi rajut yang bersembunyi di balik koran terbalik. Kau kenal mereka?"
Damian tidak menoleh. "Aku kenal sebagian dari mereka."
"Kau kenal yang mana?"
"Jaket kulitnya."
"Itu yang paling jelas." Kaeta menegakkan tubuh dan memanggil dengan suara cukup keras untuk satu kafe: "Zeta! Jordi! Koran kalian terbalik!"
Dari meja nomor tujuh terdengar bunyi kursi yang digeser terlalu cepat, bunyi lutut membentur kaki meja, dan bisikan yang jelas bukan bisikan: "Kubilang jangan pakai koran Inggris!" Zeta bangkit lebih dulu dengan topi rajut yang miring, wajah merah sampai ke telinga, dan koran yang masih digenggam terbalik. Jordi mengikuti dengan jaket kulit, kacamata hitam, dan senyum bersalah yang bertahan kira-kira tiga detik.
"Kami tidak menguping," ucap Jordi. "Kami berlatih membaca koran."
"Kalian berlatih menguping," ucap Kaeta datar. "Duduk. Kalian saksi."
Mereka duduk. Zeta di kursi paling jauh dari Jordi, memegang menu seolah dokumen penting. Jordi menarik napas panjang, membuka mulut, dan Zeta berkata tanpa menoleh, "Belum waktunya."
"Aku cuma mau bilang..."
"Belum."
Jordi menutup mulutnya. Damian menunduk ke kopi untuk menyembunyikan sesuatu yang mencurigakan mirip tawa, dan Kaeta, yang melihatnya, merasakan dadanya melonggar sedikit, seperti kancing atas kemeja yang akhirnya dilepas setelah seharian.
***
Pukul sepuluh lewat empat puluh, Kaeta mengantar Damian sampai ke tempat parkir. Ia berjalan di sisi kiri, Damian di sisi kanan, dengan jarak satu lengan yang dijaga masing-masing tanpa perlu dibicarakan. Zeta dan Jordi tertinggal di dalam, terjebak berdua di meja nomor satu karena Kaeta menyuruh mereka menghabiskan kue yang sudah dipesan.
Di dekat jip hitam, Kaeta berhenti. Matahari mulai tinggi, dan bayangan mereka jatuh berdekatan di aspal tanpa sedikit pun bersentuhan.
"Kau hebat tadi," ucapnya. "Dalam hal bertanya."
"Aku hanya bertanya sekali. Tentang mejanya."
"Itu sudah cukup untuk hari pertama." Kaeta menyilangkan lengan, lalu melepaskannya lagi, seakan tidak yakin bagaimana berdiri di depan orang yang pernah ia ceritakan segalanya. "Ada urusan yang sudah menunggu dan aku tidak mau menundanya sampai rapat. Utang rumah sakit. Angka-angkanya. Surat jaminan, bunga, perbaikan yang tertunda. Aku mau melihat semuanya terbuka di satu meja, di depan semua orang yang terlibat, termasuk kau."
"Siapa lagi yang datang?"
"Daddy, Paman Sam, dan Tuan Holt. Aku sudah menelepon pengacara ayahmu sendiri kemarin sore. Ia menjawab dengan tiga kalimat, semuanya sopan, dan satu pun tidak memberiku alasan untuk berhenti."
"Holt tidak pernah memberi siapa pun alasan untuk berhenti."
"Itu pujian atau keluhan?"
"Keduanya." Damian hampir tersenyum, lalu bertanya hati-hati, "Termasuk aku?"
"Kau yang membuat sebagian kekacauannya. Kau akan melihat sisanya." Kaeta menatap jip itu, bukan wajahnya. "Besok datang ke rumahku pukul sepuluh. Bawa semua dokumen."