Pesan Kaeta dibaca Damian empat belas kali sebelum Jordi merebut ponselnya dan mengingatkan bahwa membaca ulang tidak menambah jawaban. Maka ia membalas dengan satu kata saja, dikirim Kamis pagi setelah tujuh versi yang lebih panjang ia hapus: Datang. Kaeta tidak menjawab lagi, dan Damian tahu itulah tanggapan yang paling tepat.
Jumat sore, pukul empat lewat tiga puluh sembilan, Damian sudah berdiri di atap Rumah Sakit Valere. Ia datang dua puluh satu menit lebih awal karena menurut hitungannya itu cukup untuk membuktikan ia serius dan terlalu cepat untuk disebut putus asa. Ia mengenakan kemeja putih polos, celana gelap, dan tidak membawa apa pun selain apa yang ada di sakunya. Penjaga pintu tangga darurat sempat menatapnya dengan curiga ketika ia bilang punya janji dengan Nona Quinn di atap, dan ia harus menunjukkan pesan di ponselnya sebelum diizinkan lewat.
Atap itu luas dan sepi. Di satu sisi berdiri menara air yang berkarat dan tiga antena yang miring, di sisi lain ada dua bangku besi yang catnya mengelupas, dan di baliknya kota membentang dalam warna perunggu sore hari. Angin membawa bau aspal panas dan sedikit bau obat dari ventilasi di bawah. Damian berjalan ke tepi pagar pengaman, lalu mundur lagi, karena ia tidak yakin apakah berdiri di tempat yang bisa dilihat dari seluruh lantai atas akan terbaca sebagai sopan atau sebagai pertunjukan.
Pukul lima kurang lima menit, pintu tangga darurat terbuka.
Kaeta keluar mengenakan jas almamater dan celana panjang, rambutnya dikepang satu longgar, dan di tangannya ada sebuah termos kecil. Ia berhenti tiga langkah dari pintu, menatap Damian dari ujung kepala sampai ujung sepatu dengan mata seseorang yang sedang menilai pasien.
"Angkat tanganmu."
Damian mengangkat tangan.
"Saku."
Satu per satu ia mengosongkan saku dan meletakkan isinya di atas bangku besi: dompet, kunci jip, pulpen hitam murah, dan sebungkus permen mint yang sudah setengah kosong. Kaeta mendekat, memeriksa tiap benda tanpa menyentuh tangannya, lalu mengangkat bungkus permen itu.
"Ini hadiah?"
"Itu milikku."
"Berapa sisa?"
"Empat."
"Aku sita dua." Ia memasukkan dua butir ke sakunya sendiri dan mengembalikan bungkus itu. "Sebagai denda. Kau datang dua puluh satu menit lebih awal. Itu mencurigakan."
"Penjaga di bawah sudah mengatakan itu."
"Penjaganya pintar." Ia duduk di ujung bangku, meletakkan termos di sampingnya, dan memberi isyarat singkat ke ujung lain. "Duduk. Jaraknya segitu."
Damian menghitung panjang bangku itu dan duduk di ujung yang berlawanan, dengan sisa ruang cukup untuk dua orang lagi di antara mereka. Kaeta membuka termos dan menuangkan sesuatu yang beruap ke tutupnya. Ia tidak menawarkan. Damian tidak meminta.
"Aku membaca lima halamanmu," ucapnya.
"Aku tahu."
"Tidak ada kata tapi."
"Aku mencoretnya semua dari draf pertama. Ada sebelas."
Sudut bibir Kaeta bergerak, sangat sedikit, lalu ia memalingkan wajah ke kota supaya tidak terlihat. "Ada hal yang ingin kuketahui, dan kau akan menjawab tanpa menimbang. Apa kamu berniat membohongiku sampai akhir? Sejak awal, maksudku. Sejak kau duduk di ruang kerja Daddy dan melihat anak perempuan yang berpura-pura jadi dokter. Apakah semuanya terencana sampai sini?"
"Tidak."
"Kau menjawab terlalu cepat."
"Karena aku sudah menanyakannya pada diriku tiap malam selama sebelas hari." Damian menautkan jari-jarinya di antara lutut. "Aku takut, Kaeta. Itu jawaban yang jujur. Aku tidak merencanakan sampai di sini. Aku merencanakan bagaimana menggagalkan perjodohan, lalu seorang gadis menyiram air ke paman sendiri di depan umum dan aku kehilangan rencanaku. Setelah itu aku hanya menunda, dan menunda adalah bentuk berbohong yang paling pengecut."
Kaeta menyeruput isi tutup termosnya. Cokelat panas, Damian menebak dari baunya. Ia tidak berkomentar.
"Aku punya syarat," ucap Kaeta. "Tiga. Dengarkan sampai habis, lalu jawab."
"Silakan."
"Pertama, tanpa hadiah. Bukan bunga, bukan kue, bukan ikan, bukan sayap rumah sakit, bukan apa pun yang kau pikir bisa menebus. Kedua, kau hadir di rapat keluarga Valere hari Jumat tiga minggu lagi. Duduk di belakang bersama pengacara ayahmu, diam kecuali kalau aku yang meminta kau bicara. Aku mau semua orang di ruangan itu melihat kau datang karena kau memang bertanggung jawab, bukan karena kau pahlawan." Ia mengangkat jari ketiga. "Ketiga, semua urusan yang menyangkut keluargaku lewat aku. Bukan Daddy, bukan Jordi, bukan ayahmu, bukan Zeta. Kalau kau butuh tahu sesuatu, kau tanya padaku. Kalau kau punya sesuatu untuk dikatakan, kau katakan padaku."
"Setuju. Ketiganya."
"Kau bahkan tidak menawar."
"Aku tidak punya hak menawar."
Kaeta menatapnya lama. Di bawah mereka, jauh di jalan, sirene ambulans meraung lalu menjauh, dan Damian melihat bahu Kaeta menegang sekilas sebelum turun lagi, kecil sekali, seperti orang yang menguji tali dan mendapati tali itu bertahan.
"Kau tahu tentang malam itu," ucapnya, pelan. "Yang dibongkar Tante Vanessa."
"Aku tahu sebagian. Jordi mendengarnya dari Zeta. Aku tidak bertanya lebih jauh." Damian memilih kata-katanya seperti memilih langkah di atas lantai licin. "Aku tidak akan bilang itu bukan salahmu supaya kamu berhenti merasa bersalah. Kamu sudah mendengarnya dari orang yang lebih berhak mengatakannya. Dan aku tidak akan pura-pura mengerti bagaimana rasanya."
Kaeta tidak menjawab, tetapi tangannya berhenti mengepal, dan Damian mengerti bahwa itu cara dia mengatakan terima kasih.
"Aku belum memaafkanmu," ucapnya akhirnya. "Aku harus bilang itu supaya jelas. Aku masih marah, dan marahku bukan jenis yang hilang dalam semalam. Tapi aku mau kau ada. Di rapat itu, di rumah sakit ini, di sekitarku. Aku mau melihat apakah kau tetap ada ketika tidak ada yang menyenangkan."
"Aku akan ada."
"Itu juga bukan janji. Aku hanya ingin melihat."
"Baik." Damian ragu sebentar, lalu bertanya dengan hati-hati. "Boleh aku berdiri di tepi sana, menghadap kota? Jaraknya sepuluh langkah dari kamu."
Kaeta mengamati ujung atap yang ia tunjuk. Angin menyibakkan ujung kepangnya. "Boleh."
Ia berjalan ke tepi dan berdiri di sana lama sekali, punggung lurus, kedua tangan di sisi tubuh, menatap kota yang sama seperti yang dilihat Kaeta. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu dari bawah, seperti seseorang menyalakan korek di lorong yang panjang.
Di benaknya ada daftar sepanjang tiga halaman tentang hal-hal yang ingin ia katakan, dan ia memeriksanya satu per satu seperti petugas memeriksa APAR: permintaan maaf kedua, penjelasan tentang Vanessa, rasa terima kasih karena ia datang. Semuanya ia coret. Kaeta tidak memintanya mengucapkan apa pun, dan hari ini, ia mulai mengerti, kejujuran terbesar yang bisa ia berikan adalah berdiri diam di tempat yang diizinkan.
Kaeta menghabiskan cokelat panasnya, menutup termos, dan berdiri. Ia berjalan ke pintu tangga darurat tanpa menoleh.
Di tangga turun, Zeta menunggu di anak tangga ketiga sambil menggigit kuku. "Bagaimana?"
"Aku menyita dua permen mint."
"Itu kemajuan?"
"Itu awal." Kaeta mengeluarkan ponsel dan mengetik dengan ibu jari yang tidak sepenuhnya mantap. Ia menunjukkan layarnya kepada Zeta sebelum menekan kirim.
Sabtu, kafe dekat kampus. Kenalan ulang.
"Kenalan ulang?" Zeta berbisik. "Kamu serius?"
"Aku mau mulai dari nol," jawab Kaeta, "dan aku punya aturan."