Seluruh rumah Wesley tahu bahwa Jenderal belum makan, dan Gans menyampaikannya kepada Damian di lorong lukisan leluhur, pukul sepuluh kurang satu menit, dengan nada orang melaporkan kebakaran di dapur. Kepala pelayan yang sejak Damian kecil selalu menyambutnya dengan senyum selebar pintu itu hari ini tidak tersenyum sama sekali. Ia berjalan setengah langkah di depan, melewati deretan bingkai tanpa menatapnya, seperti menghadiri pemakaman yang belum jelas siapa jenazahnya.
"Sudah berapa hari?" tanya Damian pelan.
"Sejak Selasa pekan lalu, Tuan muda. Tuan besar bilang ikan itu sedang berduka bersama beliau." Gans berdeham. "Dokter hewan bilang ikan tidak mengenal duka. Tuan besar bilang dokter hewannya salah."
Ruang kerja itu berbau wiski tua dan kertas. Tuan Wesley duduk di balik meja mahoni dengan tongkat bersandar di tepi kursi, dan di seberangnya, di kursi yang tampak terlalu lurus untuk disebut nyaman, duduk seorang pria kurus berjas abu-abu dengan tas kulit di pangkuan. Holt. Wajahnya persegi dan pucat, kacamatanya tanpa bingkai, dan ia mengangguk kepada Damian dengan ketepatan jam pasir.
"Duduk," ucap Tuan Wesley.
Damian duduk. Ia mengeluarkan pulpen dari saku jasnya, sebuah pulpen hitam murah yang ia beli di kios dekat markas pagi tadi, dan meletakkannya di atas meja. Tuan Wesley menatap pulpen itu lama. Sudut bibirnya bergerak, nyaris, lalu padam.
"Bacakan, Holt."
Holt membuka map pertama. Suaranya kering dan datar seperti buku peraturan, dan ia membaca tanpa hiasan: pengembalian seluruh hak kepemilikan Rumah Sakit Valere dari Wesley Group kepada pihak pemilik semula, tanpa syarat, tanpa klausul, tanpa nama Wesley tercantum sebagai penyelamat. Damian tidak perlu mendengar pasal-pasalnya, dan Holt memahami itu; ia melewati bagian hukum dan hanya menyebut akibatnya satu per satu, seperti seseorang menyebut isi tas yang ditinggalkan.
"Hak atas tanah seratus lima puluh hektar mengikuti rumah sakit," tutup Holt. "Utang pokok dan bunganya dihapuskan pada tanggal yang disepakati penerima. Tanpa persetujuan penerima, tanggalnya tak pernah ada."
"Penerima belum setuju," ucap Damian.
"Penerima menolak hadiah dari pemerasan." Tuan Wesley mengetuk meja dengan satu jari. "Kata-katanya sendiri, di ruang tamu ayah gadis itu, dan aku tidak bisa membantahnya. Jadi dokumen ini disimpan di brankas Holt sampai ia yang minta. Tidak dikirim, tidak diantar, tidak dititipkan pada siapa pun."
"Baik."
"Berikutnya."
Map kedua memuat pengalihan saham pribadi Damian di Wesley Group, seluruhnya, sebagai ganti rugi atas kerusakan yang ditimbulkan oleh perintahnya. Damian membacanya sendiri, halaman demi halaman, dan membubuhkan tanda tangan di tempat Holt menunjuk dengan ujung pensil. Tangannya tidak gemetar. Hanya pada tanda tangan ketiga ia berhenti sedetik, menyadari bahwa itulah sebagian besar yang ia miliki di atas kertas, dan ia tidak sanggup menawarnya.
"Satu lagi," ucap Holt, dan mendorong lembar tunggal ke tengah meja.
Itu surat pencabutan: Wesley Group dan Damian Sinclair Wesley secara pribadi menarik seluruh janji, tertulis maupun lisan, yang pernah diberikan kepada Nyonya Vanessa Valere terkait penagihan pokok utang dan tekanan terhadap Dokter Xavier Quinn. Damian membacanya dua kali. Di baris terakhir ia menambahkan satu kalimat dengan tangan sendiri: Janji ini saya berikan tanpa sepengetahuan keluarga saya dan saya yang bertanggung jawab. Lalu ia menandatanganinya dan menutup pulpennya.
Ruangan sunyi. Di luar jendela, seekor burung hinggap di pagar dan terbang lagi.
"Tanpa syarat," ucap Tuan Wesley akhirnya, "berarti tanpa tepuk tangan. Kau tahu itu."
"Aku tidak mengharapkan tepuk tangan, Dad."
"Aku tahu. Itu yang membuatku marah." Tongkat itu diketukkan sekali ke lantai, bukan karena marah, tetapi seperti orang menandai titik di akhir kalimat. "Delapan hari lalu kau duduk di kursi itu dan mengaku bahwa putraku menekan seorang dokter yang kehilangan istrinya dengan cara yang membuatku malu mengakui nama belakangku. Hari ini aku melihat putraku datang dengan pulpen yang ia beli sendiri. Aku tidak tahu harus merasa apa. Jadi aku merasa marah dengan hormat."
"Itu perasaan yang bagus."
"Jangan bercanda dengan ayahmu." Tetapi sudut bibir tua itu bergetar, dan ia memalingkan wajah ke jendela. "Satu syarat dariku. Kita tidak mengirim apa pun. Bukan bunga, bukan kue ketan hitam, bukan ikan. Sampai gadis itu sendiri yang mengatakan ya. Termasuk aku."
"Termasuk Dad."
"Aku sudah cukup mempermalukan diri dengan kue itu." Tuan Wesley menarik napas, dan kali ini suaranya bukan suara pemimpin perusahaan. "Bagaimana dia?"
"Aku dilarang bertanya."
"Aku bertanya padamu bagaimana pendapatmu."
Damian memandang pulpen di tangannya. "Aku pikir ia sedang belajar bertahan hidup di tempat yang tidak punya pintu keluar. Dan aku ingin sekali menjadi satu pintu, tapi aku bukan siapa-siapa yang boleh menawarkannya."
Holt menutup map dengan klik pelan, dan Tuan Wesley menutup mata sebentar, seolah menyimpan kalimat itu di tempat yang tidak ia perlihatkan kepada siapa pun.
***
Pukul tujuh malam, dapur Quinn dipenuhi bunyi pisau dan bau bawang goreng. Zeta mengiris tomat dengan kecepatan seseorang yang merasa wajib membuktikan diri, sementara Kaeta duduk di kursi tinggi di seberang meja pulau dengan sebuah amplop cokelat tebal di depannya.
Amplop itu tiba sore tadi, dibawa oleh seorang kurir berjas abu-abu yang menolak menyerahkannya kepada siapa pun kecuali Xavier. Di dalamnya, lima halaman ketikan rapi dengan tanda tangan basah, dan secarik catatan dari Holt: Atas permintaan Tuan Damian, ini salinan untuk Dokter Xavier. Tuan Damian tidak mengirimnya sendiri.
"Daddy membacanya di mobil," ucap Xavier dari ambang pintu. Ia membawa jasnya di lengan lagi. "Dua kali. Lalu memberikannya padamu tanpa komentar. Daddy rasa kamu berhak menimbang sendiri."
"Isinya tidak ada yang baru, Dad."
"Itu yang membuat Daddy berpikir."
Kaeta membalik halaman ketiga. Kata tapi tak muncul sekali pun, begitu pula alasan. Hanya tanggal, nama, perintah, dan satu kalimat di akhir yang membuatnya berhenti membaca: Saya tidak menuliskan ini supaya dimaafkan. Saya menuliskannya supaya tidak ada satu pun yang tersisa bagi saya untuk disembunyikan lagi.
"Zet," ucapnya.
"Hm?"
"Kalau aku bilang aku belum memaafkannya, tapi aku mau lihat apakah ia berani datang kalau kusuruh, itu kejam atau waras?"
Zeta berhenti mengiris. "Keduanya. Lanjutkan."
Kaeta mengambil ponsel dari meja. Jari-jarinya sempat ragu di atas layar, lalu mengetik dengan kecepatan orang yang sedang menyebar tinta di air supaya tidak sempat berpikir. Ia membaca ulang sekali, menghapus satu kata sifat, lalu menekan kirim.
Jumat pukul lima. Atap rumah sakit. Datang sendiri dan tangan kosong.
"Atap?" Zeta mengangkat alis. "Kenapa atap?"
"Di atap aku tak bisa membanting pintu." Kaeta meletakkan ponsel telungkup, lalu menatap ayahnya, yang berdiri di ambang pintu dengan ekspresi seseorang yang sedang berusaha tidak terlihat bangga atau cemas. "Dan tinggi. Kalau aku mau berteriak, ada langit."
Di markas, di halaman yang sepi, ponsel Damian bergetar di saku seragamnya. Ia membaca pesan itu sekali, dua kali, ketiga kali. Jordi, yang sedang menyapu aspal dengan setia, melihat bagaimana wajah komandannya berubah dan menjatuhkan sapunya tanpa menyadarinya.