Manajer restoran itu menyambut Damian pukul tujuh empat puluh dengan senyum profesional yang tidak sanggup menyembunyikan ingatan. Ia mengantar Damian ke meja sudut yang sama, di bawah lukisan pelabuhan yang agak miring, lalu menarik satu kursi dan berbisik, "Kami sudah mengganti taplak yang basah itu, Tuan Komandan. Dan karpetnya sudah kering sejak bulan lalu."
"Terima kasih," ucap Damian. "Saya tidak akan menyiram siapa pun."
"Itu bukan Anda yang saya khawatirkan." Manajer itu berdeham dan menyingkir, meninggalkan Damian dengan dua kursi, satu cangkir kopi hitam, dan sebuah map plastik bening berisi lima halaman dari buku catatan kuning yang sudah ia ketik ulang rapi semalam, dengan tanda tangan basah di tiap halaman.
Sambil menunggu, ia memperhatikan lukisan pelabuhan di atas kepalanya dan mendapati bingkainya miring tiga derajat. Tangannya sudah terulur untuk membetulkannya sebelum ia sadar ini bukan lukisannya. Ia menarik tangan kembali, lalu menyadari manajer berdiri di kejauhan dengan wajah pucat, mengira ia hendak menurunkan lukisan itu untuk dijadikan senjata.
Pukul delapan, kursi di seberangnya masih kosong. Pukul delapan lewat dua belas, pelayan datang menawarkan pesanan, dan Damian menjawab ia menunggu. Pukul delapan dua puluh lima, pintu kaca dibuka, dan kursi itu tidak lagi kosong sebelum Damian sempat berdiri.
Mars tidak menyapa. Ia melepas mantel panjangnya sendiri, menyerahkannya kepada pelayan, dan duduk dengan punggung tegak. Satu asistennya berhenti di dekat pintu, yang lain tidak terlihat. Matanya gelap dan lurus seperti mata Kaeta, tetapi tanpa tawa di sudutnya.
"Manajer restoran ini menelepon kantorku sore tadi," ucapnya. "Katanya ada yang memesan meja atas namaku dan menyebut Wesley. Aku datang karena penasaran. Bukan karena undangan."
"Saya mengerti."
"Kau berdiri."
"Saya menunggu diizinkan duduk."
"Duduklah, Wesley. Aku sudah cukup melihat orang berdiri di depanku minggu ini." Mars menunggu sampai Damian duduk, lalu menepikan menu tanpa membukanya. "Katakan."
Damian mendorong map plastik itu melintasi taplak. "Itu pernyataan tertulis saya. Tanggal, nama, dan perintah. Magnus untuk pasokan dan investor rumah sakit, nama dua investor yang mengundurkan diri atas tekanan saya, tawaran kepada Anda di meja ini, dan pertemuan saya dengan Vanessa. Tiap halaman saya tandatangani. Salinannya akan sampai ke Dokter Xavier lewat pengacara ayah saya besok, bukan lewat saya."
Mars tidak menyentuh map itu. "Kenapa kau memberikannya kepadaku?"
"Karena Anda orang pertama yang mendengar kebohongan saya dan menyimpannya, bukan menggunakannya." Damian menahan tatapannya. "Saya tidak datang untuk dimaafkan. Saya datang untuk meminta maaf. Itu dua hal yang berbeda, dan saya baru belajar bedanya."
"Minta maaf untuk apa?"
"Untuk menawar keponakan Anda dengan tanah. Untuk memperlakukan Anda seperti harga yang bisa ditawar. Untuk membuat Anda duduk di kursi ini dan menyimpulkan bahwa pria seperti saya tidak akan berhenti."
Mars mengangkat map itu akhirnya, membuka halaman pertama, membaca dengan wajah tanpa ekspresi sampai halaman ketiga. Ketika ia menyentuh bagian dadanya dengan dua jari, singkat, seperti orang menyingkirkan sendawa, Damian memperhatikan tetapi tidak berkomentar. Pria itu mengembalikan jarinya ke atas kertas.
"Aku merekam kau," ucap Mars.
"Saya tahu. Kaeta bilang ia mendengarnya dari Anda."
"Aku bukan merekam untuk menjualmu." Suaranya merendah tanpa kehilangan kerasnya. "Aku merekam karena kau terlalu mulus. Orang yang menawarkan seratus lima puluh hektar demi seorang gadis tidak sedang jatuh cinta, Wesley. Ia sedang membeli. Dan satu-satunya yang kupercaya akan melindungi Kaeta dari pembeli itu adalah bukti. Aku tidak bisa memeluknya, tidak bisa bertanya, dan tidak berani mengatakan apa pun karena setiap kali aku membuka mulut kami bertengkar. Jadi aku merekam."
Damian terdiam. Itu penjelasan yang tidak ia duga, dan untuk beberapa detik ia hanya mengamati pria di depannya: bahu tegap yang terlalu kaku, tangan yang menggenggam map lebih erat daripada perlu.
"Anda melindunginya."
"Dengan cara yang buruk. Itu satu-satunya cara yang kupunya." Mars menutup map. "Aku salah tentang satu hal. Aku bilang kau tidak baik untuknya. Hari ini kau datang membawa kertas yang bisa menghancurkan namamu di mata Wesley Group. Pria yang tidak baik tidak membawa kertas itu."
"Itu bukan..."
"Aku belum selesai." Mars mengangkat satu tangan. "Vanessa. Kau memberinya keberanian dengan janji tidak menagih pokok utang. Dia hidup dari janji itu. Kalau kau mencabutnya, dia akan mengamuk, dan dia tidak akan berdiri di tengah ruangan dengan tenang. Dia akan menghitung kepala."
"Saya akan mencabutnya tertulis besok."
"Bagus. Siapkan dirimu untuk akibatnya." Mars mengambil menu akhirnya, membukanya, dan menatap deretan hidangan dengan konsentrasi yang tidak ada hubungannya dengan makanan. "Satu hal lagi. Kau akan bertanya apakah aku mengizinkanmu mendekati Kaeta."
"Saya tidak akan bertanya itu."
"Bagus, karena jawabannya tetap sama. Jauhi dia."
Damian menarik napas. "Itu hak Kaeta, bukan hak Anda atau saya. Saya akan menjauh kalau ia menyuruh. Saya akan dekat kalau ia mengizinkan. Dan kalau ia tidak pernah mengizinkan lagi, saya tetap akan membayar yang saya utang."
Mars menurunkan menu sedikit, hanya cukup untuk menatapnya di atas tepinya. Sesuatu di sudut matanya melunak sepersekian detik, lalu hilang sebelum sempat dipastikan.
"Kau boleh meminta maaf pada Kaeta," ucapnya. "Bukan padaku."
"Itu juga yang akan saya lakukan."
"Maka sebaiknya kau tidak memulainya dari makan malam." Mars memanggil pelayan dengan satu jari. "Pesankan saya sup sayur. Dan untuk Tuan ini, apa pun asal tidak ada gelas berisi air di dekatnya."
***
Pukul sembilan lewat sepuluh, Damian duduk di jip yang diparkir di sudut parkiran, mesin mati, kunci masih menggantung di lubang kontak. Ia belum menyentuh sup yang akhirnya dipesan manajer atas nama Mars, karena ia tidak sempat. Map plastik yang kosong tergeletak di kursi sebelah, karena Mars membawa isinya pergi di dalam saku mantelnya.
Ia menekan satu nama di daftar telepon. Dering ketiga, empat, lima. Suara berat yang akhirnya menjawab terdengar seperti seseorang yang sudah menunggu sejak tadi dan menolak mengakuinya.
"Aku tidak punya anak yang menelepon pukul sembilan malam."
"Dad."
"Apa?"
"Aku siap."
Hening panjang, hanya bunyi tongkat yang mengetuk lantai kayu dari seberang. Ketukan itu berhenti.
"Siap untuk apa."
"Pengembalian hak rumah sakit. Tanpa syarat, tanpa nama Wesley di dokumen mana pun, tanpa apa pun yang membuat Kaeta merasa berutang. Dan sahamku, sebagai ganti rugi. Aku tidak minta kau memaafkanku, Dad. Aku minta kau membantuku membereskan yang kurusak."
"Gadis itu tahu kau menelepon?"
"Aku dilarang menghubunginya, jadi tidak. Ini urusanku dan urusanmu, bukan urusannya. Ia tidak perlu tahu sampai semuanya selesai dan ia sendiri yang bertanya."
"Hm." Hanya itu, tetapi Damian mengenal arti tiap jenis "hm" dari ayahnya sejak kecil, dan yang ini bukan penolakan.
Tuan Wesley tidak menjawab selama waktu yang cukup untuk Damian menghitung sembilan tetes hujan pertama di kaca depan.
"Besok pukul sepuluh. Rumah ini. Holt akan ada di sini." Ketukan tongkat terdengar lagi, pelan. "Dan Damian."
"Ya."
"Bawa pulpenmu sendiri. Aku tidak akan meminjamimu."