Damian membuka pintu setengah, dengan satu tangan masih di kenop dan tubuhnya menutupi sisa celah. Itu bukan kebiasaannya. Biasanya ia membuka pintu seperti menyerbu gedung terbakar, lebar, cepat, dan tanpa bertanya siapa di baliknya. Tetapi malam ini kakinya sudah memilih lebih dulu.
Caline berdiri di lorong dengan mantel abu muda, rambut hitam lurus yang jatuh rapi di bahu, dan senyum yang dulu sanggup menghentikan seluruh rapat direksi. Wangi bunga putihnya sampai lebih dulu daripada suaranya.
"Halo, Dam."
"Caline."
"Kamu tidak mau bilang aku kelihatan baik?"
"Kau kelihatan baik."
"Itu pujian paling datar yang pernah kudengar." Caline tertawa kecil, lalu tawanya menipis ketika ia sadar pintu itu tidak bergeser satu senti pun. "Boleh aku masuk?"
Damian berpikir sebentar, dan jawabannya bukan soal Caline. Ia berpikir tentang seorang gadis di depan lampu markas yang memberinya tiga larangan, dan tentang betapa satu-satunya hal yang ia pegang sekarang adalah tidak menambah satu pun kebohongan. Ia membuka pintu sedikit lebih lebar, melangkah mundur ke ruang depan, dan membiarkan pintu apartemen tetap terbuka di belakang Caline.
"Di sini," ucapnya. "Pintunya tetap terbuka."
Caline menatap pintu itu, lalu menatapnya. "Kamu takut padaku?"
"Aku takut pada diriku, setiap kali aku bicara dengan kau dalam ruangan tertutup. Dulu aku selalu menjawab ya."
Senyum Caline bergeser, tidak jatuh, hanya bergeser, seperti gambar yang digantung miring. Ia berjalan dua langkah ke dalam dan berhenti di dekat meja konsol, tempat sebuah bingkai kosong menunggu foto yang tidak pernah dipasang.
"Aku dengar kabarnya," ucapnya. "Staf pemasaran selalu tahu lebih dulu dari siapa pun. Gadis dokter itu memutus hubungan denganmu."
"Kabar apa pun yang kau dengar, ia tidak ada hubungannya dengan kunjunganmu."
"Justru ada." Caline menarik napas. Suaranya turun satu oktaf, jujur sekarang, tanpa panggung. "Aku sudah selesai, Dam. Kontrak itu habis bulan lalu. Pria yang membiayai debutku tidak memperpanjang, dan aku tidak memintanya. Aku datang ke pesta Daddy-mu dengan semua rencana untuk bersikap anggun, dan kamu menolak aku di depan semua orang dengan cara yang begitu sopan sampai aku pulang dan mencari tahu apa yang salah. Dan aku sadar tidak ada yang salah. Aku yang pergi."
"Ya. Kau yang pergi."
"Aku mau kembali. Dari awal. Aku tidak minta kamu melupakan apa pun. Kita bisa pelan-pelan." Ia melangkah satu langkah lagi, tangannya terangkat setengah ke arah lengan baju Damian, lalu berhenti di udara ketika Damian bergeser mundur tanpa kata. Tangan itu turun. "Aku hanya minta kamu mempertimbangkan."
"Sudah kupertimbangkan di pesta."
"Kamu tidak pernah memintaku tinggal."
Kalimat itu meluncur tenang, terlatih, seperti anak panah yang dilepaskan dari busur yang sudah lama ditarik. Damian menerimanya tanpa mengelak.
"Benar," ucapnya. "Aku tidak pernah memintamu tinggal. Aku melihatmu berkemas, melihat pria yang membiayaimu menunggu di bawah, dan aku memilih buta. Itu salahku, dan aku membayarnya empat tahun. Tapi jangan memutarbalikkannya." Suaranya tetap rendah. "Kau pergi demi kariermu dan pria yang membiayainya. Bukan karena aku tidak meminta. Kau sudah memutuskan sebelum aku sempat membuka mulut, dan kita berdua tahu itu."
Caline membuka bibir, lalu menutupnya. Matanya berkilat, tetapi tidak ada air mata yang diizinkan jatuh. Ia terlalu terlatih untuk itu.
"Kamu masih menyalahkanku."
"Tidak. Aku berhenti menyalahkanmu sejak kau berdiri di aula pesta itu dan aku sadar tidak ada yang tersisa untuk disalahkan. Yang tersisa hanya aku yang terlalu lama menunggu seseorang yang sudah pergi." Damian menunduk sebentar ke bingkai kosong di konsol, lalu mengangkat wajah. "Aku tahu ini terdengar kejam, Caline. Hari ini aku memilih. Dan bukan kau."
Hening. Dari dalam apartemen terdengar bunyi gelembung kecil dari akuarium, dan Caline menoleh ke arah suara itu dengan senyum aneh yang hampir geli.
"Ikan oranye itu masih hidup."
"Kavea. Ia kembung bulan lalu."
"Ia terdengar lebih bahagia daripada aku." Caline merapikan kerah mantelnya dengan jari yang sedikit gemetar, lalu menatap Damian untuk terakhir kali. "Dia beruntung, gadis itu. Kamu menolak aku dengan hormat, dan dia bahkan tidak ada di sini untuk melihatnya."
"Ia tidak perlu melihatnya. Itu bukan untuknya. Itu untukku."
Caline mengangguk pelan. Ia berjalan ke pintu, berhenti di ambang tanpa menoleh, dan berkata dengan nada yang hampir lembut, "Semoga kamu tidak menunggu terlalu lama lagi, Dam." Lalu langkah sepatunya menjauh di lorong, teratur seperti ketukan jam, dan bunyi lift menelannya tanpa suara.
***
Sepuluh menit kemudian pintu apartemen terbuka lagi, kali ini dengan bunyi kunci diputar, dan Jordi menyelinap masuk sambil berjinjit, mirip pencuri yang takut membangunkan anjing.
"Aku berpapasan dengan wanita dengan wangi bunga mahal di lift," bisiknya. "Dia menatapku seperti aku furnitur. Jangan bilang itu..."
"Caline."
"Dam." Jordi membeku di tengah ruang, jaket kulitnya setengah dilepas. "Kau tidak memeluknya, kan. Atau memberinya teh. Atau..."
"Aku bicara di pintu yang terbuka. Aku bilang tidak. Aku tidak memeluknya."
Jordi menghela napas panjang yang terdengar seperti balon dilepas, lalu duduk di lengan sofa. "Aku bangga padamu, tapi itu terdengar menyedihkan kalau diucapkan keras-keras."
"Memang." Damian sudah duduk bersila lagi di karpet, buku catatan kuning di pangkuan. Ia mengambil ponselnya, mencari satu nomor di riwayat telepon, dan menekan tombol hijau sebelum keberaniannya habis.
"Siapa?"
"Restoran tempat Kaeta menyiram Mars."
Jordi menunjuk dirinya sendiri dengan jari yang gemetar. "Kau mau menyuruh makhluk itu makan malam di TKP?"
"Aku mau meminta maaf pada orang yang merekam suaraku." Nada sambung terdengar dua kali sebelum seorang manajer menjawab dengan nada sopan yang sudah lelah. Damian meminta meja di sudut yang sama, pukul delapan besok malam, atas nama Mars. Tidak untuk dua orang, ia menambahkan. Cukup satu kursi yang dilengkapi, dan satu lagi kosong menunggu. Manajer itu tertawa kecil, mengingat dengan jelas peristiwa segelas air yang melayang di ruangannya, dan mencatatnya dengan nada setengah geli, setengah cemas.
Ketika telepon ditutup, Jordi sudah menatapnya dengan alis terangkat. Ia menunggu sampai Damian meletakkan ponsel, lalu bertanya dengan suara yang lebih rendah dari biasanya, tanpa lelucon di ujungnya.
"Kau tidak apa-apa? Maksudku, bukan soal Caline. Soal yang satunya."
"Aku tidak boleh menanyakannya padamu."
"Aku tidak menjawab. Aku cuma bilang Zeta membalas satu pesanku hari ini." Jordi mengangkat satu jari. "Satu. Isinya titik."
"Titik."
"Hanya titik. Aku sudah membacanya empat puluh kali dan masih belum tahu itu titik marah atau titik koma yang salah ketik." Ia menggaruk tengkuk. "Tapi aku merasa itu tanda kemajuan."
Damian hampir tersenyum, dan Jordi melihatnya, dan wajah sahabatnya melunak seperti tanah yang akhirnya diguyur hujan. Ia tidak menambahkan apa-apa. Hanya duduk lebih dekat ke karpet, bersandar ke sofa di samping Damian, dan memandang Kavea mengapung dengan tenang yang tidak masuk akal. Mereka diam sampai Jordi merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebungkus biskuit remuk, dan membaginya dua tanpa bertanya, dan keduanya mengunyah sambil tertawa pendek, serak, seperti dua orang yang kehabisan cara lain untuk saling mengatakan bahwa mereka masih di sini.
Setelah itu Jordi bertanya lagi.
"Dan kalau Mars tidak datang?"
"Aku duduk di sana sampai restoran tutup." Damian menunduk ke buku catatannya, menulis satu baris baru dengan pulpen yang hampir kehabisan tinta. "Lalu aku datang lagi lusa."