Balasan Kaeta untuk pesan Zeta cuma satu kata, dikirim pukul sebelas malam: Masuk. Zeta, yang tidur di kamar tamu dua pintu dari kamar mendiang ibunya Kaeta, membalas dalam tiga detik dengan tiga tanda seru dan satu kalimat: Besok kubuatkan sarapan paling jahat se-New York.
Sarapan itu ternyata roti panggang yang hangus di satu sisi dan mentah di sisi lain, sebuah prestasi yang menurut Zeta membutuhkan bakat khusus. Ia berdiri di dapur Quinn dengan celemek milik koki rumah, dua cangkir kopi, dan wajah seseorang yang sudah berlatih kalimat pembuka sejak subuh.
"Duduk," perintahnya begitu Kaeta muncul dengan jas almamater. "Makan. Jangan komentar."
"Rotinya hitam."
"Itu komentar."
"Itu fakta klinis." Kaeta duduk, mengambil roti, lalu meletakkannya lagi tanpa menggigit. Matanya masih bengkak, tetapi sudut bibirnya sudah mau bekerja. "Zet. Soal pintu hari Sabtu."
"Itu pintu. Pintu boleh ditutup."
"Aku menutupnya di depan orang yang bawa roti panggang. Itu kriminal tingkat tiga."
"Tingkat dua. Rotinya enak waktu itu." Zeta menarik kursi dan duduk sangat dekat, lutut mereka bersentuhan di bawah meja. "Dengar, aku hampir mendobrak. Xavier berdiri di lorong sambil menggosok cincinnya seperti orang menyalakan lampu ajaib. Tapi aku ingat kamu pernah bilang, orang yang sedang tenggelam tidak butuh diceramahi cara berenang. Jadi aku taruh rotinya dan pergi."
"Terima kasih sudah pergi."
"Dan terima kasih sudah bilang besok." Zeta menyodorkan ponselnya. "Pesan ke-17 dari Jordi. Dia menulis: Aku tidak minta dimaafkan, aku minta diberi tugas. Aku sudah menyapu halaman markas dua kali."
Kaeta tertawa. Pendek, serak, dan sedikit berantakan, tetapi tawa sungguhan. Zeta menatapnya seperti orang yang baru melihat lampu kota menyala setelah mati listrik seminggu, dan cepat-cepat menunduk ke kopinya supaya tidak ketahuan berkaca-kaca.
Langkah sepatu terdengar dari lorong. Xavier muncul dengan jas dokter terlipat di lengan, rambut yang masih basah, dan wajah seseorang yang tidak tidur nyenyak tetapi berpura-pura sebaliknya. Ia berhenti di ambang dapur, melihat dua gadis yang sedang berbagi roti hitam, dan ia mengembuskan napas panjang yang sudah ditahan entah sejak kapan.
"Daddy antar ke kampus?" tanyanya, terlalu hati-hati.
"Daddy ada operasi jam delapan. Pak sopir yang antar."
"Kalau begitu Daddy antar sampai pintu depan." Xavier meletakkan telapak di puncak kepala Kaeta sebentar, lalu pergi sebelum ada yang sempat membalas. Zeta menatap punggungnya dan berbisik, "Calon ayah tiriku sudah tidak lucu lagi, ya. Sekarang cuma ayah."
"Dia selalu cuma ayah," jawab Kaeta, dan menggigit roti hitam itu pada akhirnya.
***
Ruang kerja Profesor Sterling ada di lantai tiga gedung anatomi, di ujung lorong yang berbau formalin dan kapur barus. Pintunya terbuka. Itu sendiri sudah aneh, karena seluruh kampus tahu pria itu mengunci kelas satu menit setelah jam dimulai, dan Kaeta sempat berpikir bahwa ruang kerjanya pasti punya jam yang sama.
"Ruang saya tidak punya jam, Nona Quinn," ucap Sterling tanpa mengangkat kepala dari tumpukan lembar ujian. Kacamata setengah bulatnya melorot di batang hidung. "Duduk."
Kaeta duduk. Di meja terdapat model jantung dari resin, belahannya terbuka, pembuluh berwarna merah dan biru.
"Enam hari Anda absen. Kelas anatomi bahkan memasang kursi kosong di barisan kedua, dan Tuan Reyhan menaruh permen di atasnya sebagai bunga duka."
"Saya tahu, Profesor."
"Saya tidak bertanya kenapa. Saya bertanya apakah Anda masih bagian dari daftar upacara jas putih."
Kaeta menarik napas. Kalimat itu sudah ia siapkan di mobil, dan sekarang terasa lebih berat daripada saat ia melatihnya. "Saya mau mundur, Profesor. Tangan saya pernah membeku. Waktu simulasi henti jantung, pasiennya jatuh sungguhan dan saya diam tiga detik. Tiga detik itu bisa jadi bedanya hidup dan mati. Orang seperti itu tidak pantas memakai jas putih."
Sterling meletakkan pulpennya. Ia mengambil model jantung dari meja dan menyodorkannya melewati tumpukan kertas. "Pegang."
"Profesor..."
"Pegang."
Kaeta menerimanya dengan kedua tangan. Resin itu dingin dan lebih berat dari kelihatannya, dan ia baru sadar tangannya gemetar ketika pembuluh biru di model itu ikut bergoyang.
"Tangan Anda gemetar," ucap Sterling.
"Iya, Profesor."
"Bagus." Pria tua itu bersandar, jari-jarinya bertaut di perut. "Tangan yang tidak pernah gemetar belum pernah memegang apa pun yang penting. Saya mengajar tiga puluh satu tahun dan saya khawatir justru pada mahasiswa yang tidak pernah goyah. Tiga detik itu, Nona Quinn. Apa yang Anda lakukan sesudahnya?"
"Saya... mengajarkan kompresi dada yang benar pada manekin. Supaya regu itu melihat caranya."
"Berarti bukan tangan yang membeku. Itu tangan yang sedang belajar, dan belajarnya terjadi di depan umum, yang paling mahal harganya." Sterling mengambil kembali model itu dan meletakkannya di tempat semula, seolah menutup perkara. "Upacara jas putih bukan penghargaan untuk orang yang tidak pernah gagal. Itu janji mahasiswa kepada pasien yang belum ia temui. Nama Anda tetap di daftar."
"Kalau saya tetap ingin mencoretnya?"
"Silakan, di depan saya, dengan pulpen." Sterling mengangkat pulpennya sendiri, memasukkannya ke saku jas, dan menepuk saku itu. "Pulpennya saya bawa. Satu menit setelah Anda keluar dari ruangan ini, Anda akan terlambat ke kelas saya, dan pintu itu, seperti yang Anda tahu, tidak dibuka lagi."
Kaeta berdiri, hampir tertawa, hampir menangis, dan akhirnya melakukan keduanya sedikit di tangga. Zeta menunggu di bordes lantai dua dengan dua gelas teh kertas, berlagak sedang membaca papan pengumuman yang isinya jadwal pembersihan freezer.
"Dicoret?"
"Pulpennya disita."
"Berarti tidak jadi." Zeta menyodorkan satu gelas. "Aku tahu dari ekspresimu. Kamu kelihatan seperti orang yang dimarahi dengan cara yang menyenangkan."
"Dia bilang tanganku sedang belajar."
"Tanganmu memang pintar belajar. Terutama melempar segelas air ke paman sendiri." Zeta menyeruput tehnya dan melirik ke samping. "Maaf. Terlalu cepat?"
"Sedikit." Kaeta menahan senyum. "Tapi lucu."
***
Pukul sepuluh malam, apartemen Damian sunyi sampai gelembung dari akuarium terdengar seperti percakapan. Ia duduk bersila di lantai, punggung bersandar ke sofa, memandangi Kavea yang berenang satu putaran lagi dengan wajah tidak peduli pada derita manusia.
Di pangkuannya ada buku catatan kuning dengan lima halaman penuh tulisan tangan yang rapat dan miring: tanggal, nama, perintah, siapa yang menerimanya. Ia sudah menulis sejak sore. Pengakuan di markas hari Senin lalu itu lisan, dan lisan bisa dikoreksi oleh ingatan yang baik hati. Yang tertulis tidak bisa.
Ponselnya tergeletak telungkup di karpet. Sepanjang hari ia menatap benda itu seperti menatap kompor yang tidak boleh disentuh. Jordi sudah menelepon dua kali, menanyakan apakah ia makan; jawabannya sama dua-duanya: Kavea sudah.
"Kau tahu ia masuk kuliah hari ini," ucapnya kepada ikan itu. "Zeta mengabari Jordi, Jordi mengabariku, padahal aku bilang jangan. Aku tidak bertanya. Aku hanya mendengar."
Kavea membalas dengan gelembung.
Bel pintu berbunyi.
Damian tidak bergerak. Jordi punya kunci cadangan dan tidak pernah membunyikan bel, Magnus sudah ditarik ayahnya, dan satu-satunya orang lain yang tahu kode lift lantainya sudah dilarang tahu.
Bel berbunyi lagi, dua kali, tekanan jari yang terlalu hafal pada tombolnya. Lalu tercium samar dari bawah pintu, wangi bunga putih yang tidak asing dan tidak ia undang.