Xavier menyiapkan sarapan sendiri pagi itu, sesuatu yang jarang ia lakukan sejak dapur diambil alih para maid. Telur orak-arik yang terlalu kering, semangkuk bubur instan yang mengental, dua cangkir kopi, dan satu cangkir cokelat hangat untuk Kaeta, yang ia letakkan di tempat yang biasa tanpa berkata apa-apa.
Kaeta turun pukul sembilan. Matanya sembab, rambutnya diikat seadanya, dan ia mengenakan kaus kebesaran yang sama dengan semalam. Ia berhenti di ambang ruang makan, melihat piring-piring, melihat ayahnya, dan sudut bibirnya bergerak seperti hendak mengatakan sesuatu yang lucu, lalu menyerah.
"Telurnya terbakar," ucapnya.
"Daddy tahu."
"Buburnya juga."
"Daddy tahu itu juga."
"Daddy dokter bedah. Daddy memotong tumor tanpa gemetar, tapi tidak bisa menyeduh bubur instan."
"Dua keahlian yang tidak berhubungan." Xavier menarik kursi untuknya. "Duduk, Princess. Makan dulu. Daddy ceritakan sambil kamu makan, supaya kalau kamu perlu marah, kamu punya sesuatu untuk dikunyah."
Kaeta duduk. Ia memegang sendok tetapi tidak menyendok apa pun. Di luar jendela, tukang kebun sedang menyiram bunga, dan bunyi air yang jatuh ke tanah terdengar seperti sesuatu yang terlalu normal untuk hari itu.
Xavier mengaduk kopinya sampai tidak ada lagi yang perlu diaduk.
"Ibumu sakit, Kaeta."
Sendok di tangan Kaeta berhenti.
"Bukan sakit yang kelihatan. Jantungnya. Irama jantungnya tidak seperti yang seharusnya, kelainan bawaan, yang menurun dari keluarga Valere. Ia sudah tahu sejak sebelum kita menikah." Xavier berbicara pelan, memilih kata satu per satu seperti memilih alat steril. "Hanya Daddy dan Paman Sam yang tahu. Ibumu yang meminta. Ia tidak mau keluarganya menatapnya seperti benda yang bisa pecah, dan ia tidak mau kamu tumbuh sambil menghitung detak jantungnya tiap malam."
"Dia merahasiakannya dari kami semua."
"Dari semua orang. Termasuk dari kamu. Daddy sempat membantah berkali-kali, dan ia selalu menjawab dengan hal yang sama: biarkan Kaeta jadi anak kecil selama mungkin."
Kaeta menatap piring. Telur orak-arik itu tampak seperti lukisan yang tidak ia kenal.
"Malam itu," bisiknya.
"Malam itu Daddy di ruang operasi. Dan Daddy memikul satu pertanyaan sejak itu: kalau Daddy ada di rumah. Kalau Daddy bukan dokter yang meninggalkan istrinya demi pasien orang lain." Suaranya pecah sedikit, tetapi ia melanjutkan. "Daddy tidak pernah berhenti menanyakannya. Dan Daddy tidak pernah menceritakannya kepadamu, karena kalau Daddy menyebut kelainan itu, Daddy harus menyebut semua yang lain."
Bel pintu berbunyi.
Dua kali, singkat, ketukan seseorang yang tahu waktunya tepat. Kaeta mendengar langkah maid menuju pintu, bunyi payung diletakkan, suara berat yang menyapa dengan nada rendah. Xavier tidak menoleh. Ia hanya meletakkan kedua tangannya di atas meja, telapak ke bawah, seperti seseorang yang bersiap menerima guncangan.
Paman Sam masuk dengan jas hujan abu-abu yang belum kering, kacamata bundar yang berembun, dan map cokelat tebal di bawah lengan. Ia berhenti begitu melihat Kaeta, dan wajah gemuknya yang biasanya ramah berubah menjadi wajah seseorang yang berjalan menuju sesuatu yang sudah lama ia hindari.
"Xavier sudah menelepon pagi tadi," ucapnya. "Aku bawa catatannya. Semua. Dari yang paling awal."
"Paman Sam..." Kaeta berdiri, lalu tidak tahu harus berbuat apa dengan tangannya. "Paman tahu."
"Aku tahu, Nak. Aku dokternya." Sam duduk dengan hati-hati, meletakkan map di meja, dan membukanya dengan tangan yang sedikit gemetar. "Aku dokter jantungnya. Dan aku yang berjanji pada ibumu akan menjaga rahasia itu sampai kau cukup besar. Aku ingkar sedikit karena Xavier memintaku. Maafkan aku."
Di dalam map ada lembar-lembar rekam jantung berpita panjang, grafik dengan garis naik-turun yang tampak seperti pegunungan di kertas, catatan tangan Sam yang miring, tanggal-tanggal. Kaeta menyentuh satu lembar dengan ujung jarinya. Nama di atasnya membuat tenggorokannya tersumbat.
"Ini apa?"
"Ini malam sebelum malam itu." Sam menunjuk satu bagian grafik yang bergerigi. "Irama yang kau lihat ini namanya fibrilasi ventrikel. Ketika itu terjadi, jantung berhenti memompa darah meskipun masih bergetar. Orang yang mengalaminya kehilangan kesadaran dalam hitungan detik."
"Detik," ulang Kaeta.
"Ya. Dan tanpa defibrilator, dalam beberapa menit, jaringan otak mulai rusak."
"Kalau ambulans datang cepat? Kalau seseorang memanggil sejak menit pertama?"
Sam menatap Xavier. Xavier mengangguk sangat kecil, memberi izin.
"Aku sudah ribuan kali memikirkan itu, Nak," ucap Sam. "Dengan irama seperti itu, bahkan kalau ambulans datang dalam tiga menit, bahkan kalau dokter terbaik ada di ruang itu, aku tidak berani bilang ibumu pasti selamat. Mungkin. Mungkin tidak. Hampir pasti tidak."
"Jadi nomor itu..." Kaeta berhenti. Bibirnya bergetar. "911 pun mungkin tidak cukup."
"Mungkin tidak cukup."
Kaeta menatap kertas-kertas di meja, garis-garis zig-zag yang menggambar detik-detik terakhir ibunya dengan bahasa yang tidak bisa ia bantah. Ia ingin merasa lega. Dokter yang ia percaya mengatakan itu bukan salahnya, dan ia ingin kata-kata itu bekerja seperti obat. Tetapi tubuhnya, bodoh dan jujur, hanya menangkap satu kata: mungkin. Mungkin berarti ia tetap tidak tahu. Mungkin berarti ada lima menit yang akan menghantuinya selamanya, entah lima menit itu berarti atau tidak.
Tangisnya datang tanpa suara dulu, hanya air mata yang jatuh ke lembar rekam jantung, bercak-bercak bulat yang menyebar di kertas tua. Lalu suaranya menyusul, pecah dan kekanak-kanakan, dan Xavier sudah berada di sisinya, merangkulnya, menariknya ke bahunya, sementara Paman Sam menutup map pelan-pelan dan memalingkan wajah, matanya memerah di balik kacamata.
"Aku belum bisa," isak Kaeta. "Aku tahu itu bukan salahku, tapi aku belum bisa merasakannya."
"Tidak apa-apa," ucap Xavier ke rambutnya. "Tidak harus hari ini."
"Apa itu menurun?" tanyanya tiba-tiba, di antara isak. "Jantungku?"
"Kita periksa," ucap Sam lembut. "Bukan sekarang. Kalau kau siap. Kau tidak perlu memutuskan apa pun hari ini."
***
Sore itu, ketika langit sudah kelabu dan Paman Sam sudah pulang membawa mapnya kembali, Kaeta berbaring di tempat tidur ibunya sambil menatap langit-langit. Ia sudah mandi, sudah makan separuh sup yang dibawa maid, sudah menjawab tiga pertanyaan Xavier dengan satu kata tiap kali. Kamar itu tidak lagi terasa seperti tempat yang harus dihindari. Rasanya seperti kamar yang akhirnya diizinkan terbuka, lengkap dengan segala hal yang disimpan di dalamnya. Di dadanya ada sesuatu yang berat, tetapi untuk pertama kalinya berat itu punya bentuk, dan benda yang punya bentuk, setidaknya, bisa dipikul. Ponselnya bergetar di perutnya.
Pesan dari Zeta. Profesor Sterling nyari kamu, Kae. Dua kali dia nanya di koridor. Katanya penting. Besok kamu masuk?