Sopir keluarga menemukannya di halte tiga blok dari rumah tua Valere, duduk sendirian di bangku besi dengan sepatu dijinjing di tangan dan gaun biru tua yang basah bagian bawahnya. Pak sopir tidak bertanya apa pun. Ia hanya membukakan pintu belakang, menyalakan pemanas, dan menyetir pulang dengan kecepatan yang paling sabar yang pernah Kaeta rasakan.
Malamnya, rumah Quinn sunyi seperti rumah yang sedang menahan napas. Kaeta tidak di kamarnya sendiri. Ia berada di ujung lorong lantai atas, di kamar yang pintunya hampir selalu tertutup, kamar yang bau parfum samar-samar masih tertinggal di lemari yang tidak pernah dikosongkan. Tempat tidur dengan selimut krem. Meja rias dengan sisir kayu. Foto bingkai perak di sisi tempat tidur: seorang perempuan tertawa lebar, rambut terurai tertiup angin, tangan menggenggam tangan seorang anak kecil yang giginya ompong.
Kaeta duduk di lantai, bersandar pada sisi ranjang, lutut ditarik ke dada. Sejak sore ia sudah mencoba tiga hal: menertawakan dirinya sendiri, mengomel pada langit-langit, dan menghitung ubin. Tidak satu pun berhasil, dan hitungan ubin berhenti di angka sebelas karena ia teringat hitungan lain. Gaun biru itu sudah ia ganti dengan kaus kebesaran. Stetoskop kecil ibunya tergenggam di tangan, logamnya sudah hangat.
Ia menutup mata. Malam itu datang dengan sendirinya, lengkap dengan bunyi hujannya.
Kamar tidur orang tuanya. Lampu kuning. Hujan kecil di jendela. Kaeta kecil, sepuluh tahun, rambut dikepang dua, memakai jas putih kebesaran yang ia ambil dari lemari ayahnya, lengan yang digulung berkali-kali.
"Dokter Kaeta, spesialis Mama," ucapnya serius, menempelkan stetoskop mainan itu ke dada ibunya. "Pasien, tarik napas."
Ibunya terkikik. Rambutnya terurai di bantal. "Pasien menarik napas, Dok."
"Ada keluhan?"
"Pusing. Dan lapar. Dan rindu pada suami yang sedang di ruang operasi."
"Itu tidak bisa disembuhkan. Saya hanya bisa memberi resep... pelukan." Kaeta memeluk ibunya, dan keduanya tertawa sampai ranjang bergoyang.
Lalu ibunya mengusap kepala Kaeta dan berkata dengan nada yang lebih lembut. "Dengar, Dokter Kecil. Aturan permainannya begini. Mama pura-pura pingsan, kamu periksa, kamu bangunkan Mama. Tapi kalau ini bukan permainan lagi, baru kamu panggil 911. Mengerti?"
"Kenapa tidak langsung panggil saja? Biar seru."
"Karena 911 bukan mainan, Sayang. Nomor itu hanya untuk saat sungguhan." Ibunya mencium keningnya. "Janji?"
"Janji."
Ibunya merebahkan diri. Matanya terpejam, mulutnya setengah terbuka, tangan jatuh lunglai di sisi tubuh. Kaeta menekan stetoskop ke dadanya. Ia menahan tawa. Ia tahu ibunya jago berpura-pura, ia pernah melihatnya berpura-pura jadi tukang sulap dan jadi nenek-nenek pemarah.
"Pasien tidak bangun. Pasien perlu pernapasan buatan." Ia menempelkan bibir ke pipi ibunya dengan bunyi cium yang nyaring. "Pasien?"
Tidak ada jawaban.
"Mama, jangan curang. Sudah lama."
Hujan mengetuk jendela. Stetoskop mainan itu masih menempel di dada ibunya, tetapi yang ia dengar bukan dari alat plastik itu. Ia menempelkan telinga langsung, dan dari sana terdengar sesuatu yang bukan irama, melainkan getar tidak teratur, seperti kereta mainan yang menabrak rintangan. Ia mengira itu bagian dari akting. Ia sengaja bersabar. Ibunya selalu pandai bersabar dalam permainan.
"Mama menang. Mama boleh bangun sekarang."
Wajah ibunya pucat. Bibirnya berwarna aneh. Kaeta menghitung dalam hati, satu, dua, tiga, seperti diajarkan ibunya, sampai hitungannya kehilangan arah. Lalu sesuatu di dalam dadanya terbelah, dan ia berteriak.
Kaeta membuka mata. Wajahnya basah, dan ia tidak ingat kapan mulai menangis.
Stetoskop itu masih di tangannya. Logamnya tidak lagi hangat. Ia menggenggamnya begitu erat sampai ujung jari memutih.
"Kalau ini bukan permainan lagi," bisiknya pada kamar kosong. "Baru panggil 911." Lalu tertawa pendek, tawa yang tidak punya tempat untuk pergi. "Aku memanggilnya bertahun-tahun kemudian. Untuk membakar pos security."
Ketukan pelan di pintu. "Kae?" Suara Zeta, hati-hati. "Aku bawa roti panggang. Tidak ada pertanyaan. Kuletakkan di depan, ya? Atau boleh masuk?"
"Besok, Zet."
"Kamu tidak sendirian di sini."
"Aku tahu." Kaeta menarik napas. "Besok. Terima kasih."
Hening sebentar. Lalu bunyi piring diletakkan di lantai lorong, dan langkah yang menjauh sangat pelan.
***
Di markas, pukul sebelas malam, Damian duduk di bangku halaman dengan ponsel di tangan dan kopi yang sudah dingin. Jordi baru saja membaca satu pesan dari Zeta, satu-satunya sejak mereka berhenti bicara, dua baris dingin tanpa salam, dan wajahnya begitu pucat sampai Damian tahu sebelum ia mengucapkan apa pun.
"Rumah tua Valere," ucap Jordi. "Vanessa membongkar sesuatu. Zeta tidak tahu persisnya. Kaeta berlari keluar dan tidak bicara pada siapa pun."
Damian berdiri begitu cepat sampai kursi plastik di belakangnya terdorong dan menggelinding ke aspal. Ia sudah berjalan tiga langkah ke arah jip ketika berhenti. Bahunya bergetar sekali. Ia berbalik, mengusap wajah dengan kedua tangan, dan menarik napas yang terdengar menyakitkan.
"Dam. Kamu mau ke sana?"
"Aku tidak bisa."
"Kamu..."
"Dia melarangku datang." Suara Damian rendah dan serak. "Tiga larangan. Itu salah satunya."
"Ini darurat!"
"Ini bukan darurat yang dia minta aku datangi." Damian menekan ponsel ke telinga, menunggu nada sambung. "Aku akan menelepon ayahnya."
Xavier mengangkat pada dering ketiga. "Tuan Damian."
"Dokter. Saya mendengar ada kejadian. Apakah Kaeta baik-baik saja?"
"Jujur, tidak."
"Boleh saya datang?"
Hening di ujung sana. Lama, tetapi bukan hening yang dingin. "Bukan malam ini," ucap Xavier. "Saya menghargai Anda bertanya, bukan langsung datang."
"Saya mengerti."
Setelah telepon ditutup, Damian berdiri lama dengan ponsel di dada. Kunci jip masih di saku, dan jarinya menggenggamnya begitu erat sampai logam itu meninggalkan garis merah di telapak. Itu satu-satunya hal yang ia izinkan dirinya lakukan: menggenggam sesuatu yang bisa membawanya ke sana, dan tidak menggunakannya. Lalu ia mengetik satu pesan dan mengirimnya, lalu menaruh ponsel di bangku dan menatap langit tanpa bintang. Jordi duduk di sebelahnya tanpa suara. Mereka tinggal begitu sampai kopi benar-benar tidak mungkin diminum lagi.
***
Pukul dua belas kurang, Xavier berdiri di depan pintu kamar mendiang istrinya, ponsel di tangan. Layar masih menyala dengan pesan yang baru ia baca: Aku tidak akan datang kecuali dia yang minta. Aku bermalam di markas kalau Dokter butuh apa pun.
Ia membaca kalimat itu dua kali. Pria yang pernah menekan rumah sakitnya, pria yang pernah menawar putrinya dengan tanah, kini berdiri jauh dengan jarak yang ia tentukan sendiri, dan itu mengganggu Xavier lebih daripada seandainya pria itu menggedor gerbang. Ia menutup ponsel dan mengetuk pintu dengan satu buku jari.
"Kaeta. Ini Daddy. Daddy tidak akan masuk kalau kamu belum mau."
Hening. Lalu suara serak dari dalam. "Aku mendengarmu, Dad."
"Daddy hanya mau bilang satu hal." Xavier menempelkan dahi sebentar ke kayu pintu, lalu menegakkan tubuh. "Besok Daddy ceritakan semuanya."