Zeta mengancingkan gaun Kaeta dari belakang dengan wajah seorang ahli bedah yang sedang menutup sayatan. Di cermin, dua gadis itu saling menatap: satu terlalu tenang, satu terlalu berusaha tenang.
"Kalau mereka menyinggung ibumu," ucap Zeta, "aku mau kamu lakukan satu hal."
"Menyiram mereka?"
"Berdiri. Hanya berdiri. Dan kalau tidak kuat, kamu keluar. Tidak ada yang akan menghitung."
"Aku tidak akan keluar. Aku datang untuk Daddy."
"Aku tahu." Zeta merapikan kerah dan menepuk bahunya dua kali. "Tapi bawa stetoskop itu, ya. Dia di saku tasmu."
Kaeta menyentuh saku tas kecil itu dan merasakan bentuk keras stetoskop ibunya di dalam kain. Ia tidak menjawab. Mobil sudah menunggu.
***
Rumah tua keluarga Valere berdiri di ujung jalan berpagar besi, dua lantai dari batu abu-abu yang dirambati sulur kering, dengan jendela tinggi yang selalu tampak seperti mata yang menunggu seseorang berbohong. Kaeta mengenal rumah itu dari foto, dari Natal-Natal kecil yang separuh ia ingat dan separuh ia dongengkan pada dirinya sendiri, dan dari bau lilin dan kayu yang akan menyergapnya sebelum kakinya menyentuh keset.
Pukul empat kurang sepuluh, Xavier membuka pintu mobil untuknya. Ia memakai jas gelap, wajahnya seperti baja. Kaeta memakai gaun biru tua sederhana, kalung ibunya tersembunyi di balik kerah, dan senyum yang sudah ia latih di cermin hingga nyaris meyakinkan.
"Kalau ada yang bertanya aku siapa, aku jawab saja bahwa aku sepupu jauh yang hadir untuk mencicipi kue," bisiknya.
"Princess."
"Aku hanya mencoba menurunkan tekanan darah semua orang."
"Dimulai dari tekanan darah Daddy?"
"Daddy sudah normal, kan? Lihat, tidak ada urat di leher."
Sudut bibir Xavier bergerak, lalu ia memutuskan sebaliknya.
Ruang tamu besar Valere sudah penuh. Belasan orang duduk di kursi-kursi berlengan tinggi yang disusun melingkar, bibi bercincin tiga, paman berkumis putih, sepupu-sepupu jauh dengan wajah yang terlalu mirip ibunya sehingga dada Kaeta mengencang tiap kali ia menatap. Perapian menyala meski belum waktunya. Di tengah lingkaran, di kursi paling tinggi, duduk Vanessa dengan gaun hijau zamrud, rambut disanggul sempurna, dan senyum yang menyambut mereka seperti pelayan menyambut tamu yang sudah ia tahu akan dijatuhkan.
"Xavier. Kaeta sayang. Aku senang kalian datang."
"Vanessa," ucap Xavier dingin.
"Tante Vanessa," ucap Kaeta, manis sekali. "Kuenya mana? Saya dijanjikan kue."
Beberapa kerabat terkekeh kecil sebelum sadar tidak ada yang tertawa. Di sudut jauh dekat jendela, Kaeta melihat Mars duduk dengan jas abu-abu gelap, kaki disilangkan, wajah tanpa ekspresi. Mata mereka bertemu sekali. Mars membuang muka lebih dulu.
Pertemuan dimulai dengan basa-basi, lalu angka-angka. Vanessa berbicara dengan nada seorang penasihat keuangan yang prihatin: utang rumah sakit, bunga yang menumpuk, jaminan tanah seratus lima puluh hektar yang menurutnya "terlalu lama dibiarkan menganggur". Para bibi mengangguk-angguk. Seorang paman bertanya mengapa tidak dijual saja. Xavier menjawab dengan tenang bahwa tanah itu bukan miliknya sendiri untuk dijual, dan Vanessa tersenyum lebih lebar.
"Tentu, tentu. Xavier orang yang bertanggung jawab. Tetapi kita semua tahu, bukan, soal tanggung jawab itu?" Ia menyilangkan jari di pangkuan. "Siapa di antara kita yang malam itu tidak ada di rumah ketika kakakku membutuhkan seseorang?"
Ruangan membeku. Seorang sepupu berhenti menyendok gula ke dalam tehnya. Sendok itu menggantung di udara, beberapa butir jatuh ke tatakan dengan bunyi yang kedengaran seperti hujan pasir. Xavier berdiri perlahan.
"Vanessa. Kalau kamu mau menyerangku, serang aku. Bukan anakku."
"Aku tidak menyerang siapa pun." Vanessa menyentuh kalung mutiara di lehernya. "Aku hanya mengurutkan fakta, supaya keluarga ini bisa memutuskan dengan kepala dingin."
"Aku hanya bertanya," tambahnya kepada ruangan, dan seorang bibi mengangguk sambil memainkan cincinnya.
"Kamu tahu aku di ruang operasi."
"Dan siapa yang ada di rumah, Xavier?" Vanessa menoleh pelan. Matanya jatuh pada Kaeta seperti jarum jatuh pada kain. "Kaeta sayang. Kamu pasti tahu."
Kaeta merasakan sesuatu yang dingin merayap dari telapak kakinya naik ke tengkuk. Bagian dirinya yang jahil, yang selalu sigap mengeluarkan lelucon saat ruangan menjadi gawat, mencari kata di tempat biasa dan menemukan rak kosong. Ia tidak menjawab. Ia tidak pernah bercerita pada siapa pun, tidak pada Zeta, tidak pada ayahnya, tidak pada Damian. Tidak sekali pun.
"Tante, saya tidak mengerti..."
"Tentu kamu mengerti. Pelayan yang menemukan kalian malam itu bicara pada kami. Pelan-pelan, tetapi ia bicara." Vanessa mengembuskan napas panjang, seolah berat sekali membuka luka. "Malam itu kamu dan ibumu bermain dokter-dokteran. Ibumu berpura-pura pingsan. Lalu ia sungguh jatuh, dan kamu mengira itu masih permainan. Kamu terus memeriksanya. Berapa lama? Beberapa menit? Menunggu pasien bangun, tertawa-tawa kecil, sementara adikku..."
"Cukup."
Suara itu bukan dari Xavier. Mars sudah berdiri di sudut jendela, wajahnya pucat seperti kertas. "Vanessa. Cukup."
Tetapi kata itu datang terlambat, seperti petir yang menyusul cahaya.
Kaeta berdiri tanpa merasakan kakinya. Ia mendengar bunyi api di perapian, tik-tik halus kayu yang retak, dan menyadari bahwa itu satu-satunya suara yang tersisa di ruangan. Semua wajah menoleh padanya: bibi bercincin tiga dengan mulut menganga, paman berkumis yang menatap lantai, sepupu yang menutup mulut. Tidak ada yang berbicara. Ruang tamu yang tadinya hangat terasa seperti ruang bawah tanah. Ia ingin mengatakan sesuatu, lelucon, penyangkalan, apa pun. Ia membuka mulut, dan yang keluar hanyalah napas yang pecah.
"Itu..." ucapnya. Suaranya kecil. "Itu tidak..."
"Kaeta." Xavier melangkah ke arahnya, tangan terulur. "Kaeta, Nak, dengarkan Daddy..."
Tetapi Kaeta sudah berbalik.
Ia berlari. Melewati kursi-kursi berlengan tinggi, melewati perapian, melewati lorong yang berbau lilin dan tangis lama, pintu depan yang berat dan bergemuruh saat ia menghantamkan bahunya. Udara luar menampar mukanya, dingin, berbau tanah basah dan daun busuk. Ia melewati halaman depan, melewati dua mobil hitam yang terparkir miring, melewati seorang sopir yang menegakkan badan dan menatapnya seperti menatap seseorang yang baru keluar dari ruang gawat darurat. Di belakang, ia mendengar suara ayahnya memanggil namanya sekali, dua kali, lalu suara lain yang jauh lebih keras: suara Mars, yang membentak Vanessa dengan kata-kata yang tidak bisa ia dengar.
Kaeta tidak berhenti. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, hanya tahu bahwa kakinya lebih jujur daripada mulutnya. Gaun biru itu melekat di kakinya, sepatu hak tinggi mengetuk jalan setapak batu, dan di dalam kepalanya satu suara berulang-ulang, suara perempuan yang tertawa kecil, suara yang mengucapkan satu aturan sederhana, dan suara itu tidak pernah berhenti sejak malam itu.