Jordi sedang mengelap spion truk nomor dua ketika sesuatu di ujung matanya bergerak. Seorang pemuda berjaket kulit hitam berjalan masuk lewat pintu samping markas dengan langkah lurus, tidak menyapa siapa pun, dan matanya terpasang pada satu titik di halaman belakang seperti anak panah yang sudah dilepas. Jordi tidak tahu bahwa semalam Kaeta sudah menjawab permintaan izin pemuda itu dengan satu kalimat: Silakan, satu kali saja.
"Daniel?" Jordi menjatuhkan kain lap. "Hei, Dan. Mau cari siapa? Kalau cari Nona Kaeta, dia tidak..."
"Aku cari pamanku."
"Pamanmu ada di..." Jordi berhenti. Ia membaca wajah itu, rahang yang dikatupkan, tangan kanan yang mengepal setengah, dan memutuskan bahwa kebohongan, untuk kesekian kalinya pekan ini, bukan pilihan yang cerdas. "Halaman belakang. Dia sedang memeriksa selang. Dan, dengar, jangan..."
Terlambat. Daniel sudah lewat.
Damian berdiri membelakangi pintu, satu kaki menekan gulungan selang yang terbentang di aspal, mencatat sesuatu di buku saku kecilnya. Seragamnya rapi, rambutnya rapi, dan di bawah matanya ada kantong gelap yang tidak bisa disembunyikan oleh dua hari tidur seadanya. Ia mendengar langkah, menoleh setengah, lalu menutup buku sakunya.
"Daniel."
"Paman."
Hanya itu yang diucapkan keduanya sampai Daniel berdiri tiga langkah dari Damian dan menarik napas panjang dengan bahu naik turun.
"Kau menekan rumah sakit ayahnya," ucap Daniel. Suaranya rendah sekali, dan itu lebih menakutkan daripada jeritan. "Kau menyuruh Magnus mengganggu pasokan. Kau berbicara dengan Vanessa. Kau menawarkan tanah dan rumah sakit pada Paman Mars supaya Kaeta bisa diserahkan seperti barang."
"Ya."
"Tidak membantah?"
"Tidak ada yang kubantah."
"Aku mengalah," ucap Daniel. Ia tertawa, pendek dan serak. "Di bukit, di pesta, di pondok. Tiga kali. Aku mengalah karena kupikir Paman akan memperlakukannya lebih baik daripada yang bisa kulakukan. Karena Paman orang dewasa dan aku cuma mahasiswa yang gombalannya garing."
Damian diam. Matanya tidak bergeser.
"Aku mengalah untukmu," lanjut Daniel. "Untukmu, bukan untuk kebohonganmu."
Lalu tinjunya melayang.
Bunyinya lebih keras daripada yang ia sangka, dan lebih keras daripada yang Damian siapkan. Kepala Damian berputar ke samping, kakinya tergelincir pada selang, ia mundur setengah langkah dan menahan diri dengan satu tangan di bumper truk. Darah tipis keluar dari sudut bibirnya. Buku saku itu jatuh ke aspal.
Hening. Dari jendela lantai dua tiga kepala menyembul lalu menghilang secepat kura-kura.
Damian menegakkan tubuh. Ia menyeka bibir dengan punggung tangan, menatap bercak merah di sana, dan tidak mengangkat tangan untuk membalas. Tidak ada kuda-kuda, tidak ada tatapan balas dendam.
"Kalau satu belum cukup, ada satu lagi untukmu," ucapnya tenang. "Aku tidak akan menghindar."
Daniel menatap kepalan tangannya sendiri, membuka-menutup jari, lalu meringis. "Cukup satu. Tanganku sakit sekali, dan kepalamu keras sekali."
"Itu keturunan."
"Jangan melucu."
"Maaf."
"Dan jangan minta maaf padaku. Aku bukan yang kausakiti."
"Daniel!" Jordi muncul dengan kotak P3K di dada, napas terengah. "Dan, Dam, astaga, aku melarang kalian bertengkar hari ini dalam doa tadi pagi! Duduk! Dua-duanya! Aku punya plester dan lelucon, dan aku tidak ragu memakai keduanya sekaligus!"
"Aku pergi," ucap Daniel. Ia memungut buku saku Damian dari aspal, membersihkan debunya dengan telapak, dan menyodorkannya tanpa menatap mata pamannya. "Ini jatuh."
Damian menerimanya. Jari mereka tidak bersentuhan.
"Kaeta tahu kau di sini?" tanya Damian pelan.
"Dia tidak menyuruhku. Dia cuma bilang ia bukan alamatmu." Daniel menyampirkan jaketnya dan berbalik. "Dan satu lagi, Paman. Kalau kau mau menebusnya, jangan lewat aku."
"Aku tidak akan."
Daniel mengangguk, lalu melangkah pergi dengan bahu yang lebih ringan daripada ketika datang, meski tangannya masih ia pegang di dada seperti burung terluka.
Jordi menunggu sampai pintu samping menutup, lalu menyodorkan kapas beralkohol. Damian menekannya sendiri ke bibir tanpa meringis.
"Kau seharusnya membalas satu."
"Tidak."
"Kau seharusnya setidaknya menghindar. Aku melihatmu membaca gerakannya dari tiga langkah, Dam. Kau tahu pukulan itu datang."
"Aku tahu." Damian melipat kapas yang kotor menjadi persegi kecil, dengan ketelitian orang yang butuh sesuatu untuk dikerjakan. "Itu bagian yang paling mudah ditanggung dari semua ini."
Jordi membuka mulut, mungkin untuk melucu, lalu menutupnya. Pagi itu ia sudah kehabisan lelucon, dan ia sadar hal itu jarang sekali terjadi.
"Zeta tidak membalas apa pun," ucapnya akhirnya, pelan.
"Aku tahu."
"Aku mengirim empat belas pesan."
"Terlalu banyak."
"Terlalu sedikit?"
"Terlalu banyak. Ia butuh ruang, bukan hujan." Damian menatap kapas di telapaknya. "Beri dia ruang. Dan jangan menanyakan Kaeta kepadaku, kepada Zeta, atau kepada siapa pun. Itu bukan hakku sekarang."
Jordi menatapnya, dan kali ini ia tidak memakai nada bercanda sedikit pun. "Kau tahu, bagian yang menakutkan darimu bukan kau membohongi mereka. Bagian yang menakutkan adalah kau bisa sebaik ini sesudahnya."
***
Ponsel Kaeta bergetar pukul sebelas, di tengah kelas yang tidak ia hadiri. Ia memandang layar dari tempat tidur. Pesan dari Daniel: Sudah. Satu kali. Tanganku sakit, dia tidak bergeming. Maaf kalau aku tidak izin.
Kaeta membaca sampai habis, menatap langit-langit, lalu mengetik dua kata: Terima kasih. Ia menghapusnya. Mengetik lagi: Es batu. Kompres. Ia mengirim yang itu, karena bagian dirinya yang bersifat dokter menang atas bagian yang bersifat sakit hati.
Di lantai, Zeta duduk bersila dengan ponselnya sendiri dan wajah yang tampak sedang membaca laporan otopsi.
"Empat belas pesan," ucapnya. "Dari Jordi. Sejak subuh."
"Dibaca?"
"Dibaca semua. Dijawab nol." Zeta mengetuk layar. "Yang terakhir berbunyi: 'Aku bukan pohon lagi. Aku orang yang menyesal. Tolong beri tahu aku kalau menyesal ada ujian akhirnya.'"
"Itu lucu."
"Itu lucu." Zeta membalik ponselnya telungkup di karpet. "Dan aku tidak mau dibuat tertawa oleh orang yang menyembunyikan hal sebesar ini dariku."
"Dia menyembunyikannya dari aku, Zet. Bukan dari kamu."
"Dia menyembunyikannya dari sahabatku. Itu sama dengan dari aku."
Kaeta tidak membantah. Ia hanya menepuk pelan lantai di sebelah Zeta, dan Zeta bergeser, bahu mereka bersentuhan, dua orang yang sama-sama kehabisan cara bercanda.
***
Pukul enam sore, Xavier pulang membawa amplop krem di tangan. Ia tidak membukanya di pintu, tidak di lorong, tidak di tangga. Ia membawanya ke ruang makan, menaruhnya di tengah meja, dan menunggu Kaeta turun.
"Dari siapa?"
"Vanessa."
Kaeta duduk. Zeta, yang mengikuti dari belakang, berhenti di ambang pintu. Amplop itu berat, kertasnya mahal, tintanya biru tua. Di depannya tertulis: Dokter Xavier Quinn dan Nona Kaeta Calliope Quinn.
"Undangan pertemuan keluarga Valere," ucap Xavier, membukanya dengan satu jari. "Sabtu, pukul empat sore, di rumah tua Valere. Semua kerabat akan hadir. Katanya untuk membicarakan masa depan rumah sakit dengan cara yang tenang dan beradab."
"Dan nama saya tertulis di sana."
"Namamu ditulis dengan tinta yang sama."
"Daddy akan pergi?"
Xavier menatap lembar itu lama. Jari-jarinya menggosok cincin kawin, pelan, tiga kali.
"Daddy akan pergi," ucapnya. "Kalau Vanessa ingin bicara, lebih baik Daddy mendengar apa yang ia katakan di depan semua orang daripada di balik pintu."
"Kalau begitu aku ikut."
"Princess..."
"Namaku ada di sana, Dad."