Mobil hitam itu berhenti di depan gerbang rumah Quinn pukul sembilan pagi, lebih tepat waktu daripada tamu mana pun yang pernah Kaeta kenal. Dari balik tirai ruang tamu, ia dan Zeta mengintip seperti dua murid yang menunggu guru killer. Gans turun lebih dulu, membuka pintu belakang, lalu membantu Tuan Wesley turun dengan tongkatnya. Di tangan Gans terjinjing kotak karton putih yang diikat pita biru tua.
"Itu kue," bisik Zeta.
"Itu bukan kue."
"Kotak sebesar itu kalau bukan kue pasti bom."
"Bisa juga permintaan maaf."
"Permintaan maaf tidak dijual di toko kue, Kae."
"Mari kita lihat."
Xavier sudah menunggu di ruang tamu, berdiri di dekat jendela dengan kemeja yang rapi dan wajah yang tampak seolah ia tidak tidur sejak Senin. Ia memberi isyarat singkat pada Kaeta untuk turun. Zeta, tentu saja, ikut menyelinap sampai anak tangga ketiga dari bawah dan berhenti di sana, pura-pura merapikan tali sepatu.
Tuan Wesley masuk pelan, bertumpu pada tongkat, dan berhenti beberapa langkah dari pintu seperti orang yang menghormati ambang rumah orang lain. Ia tidak memakai jas. Hanya kemeja putih dan rompi, dan uban di pelipisnya tampak lebih putih daripada ketika Kaeta terakhir melihatnya.
"Dokter Xavier. Kaeta." Ia menunduk, bukan membungkuk, tetapi lebih dari anggukan. "Terima kasih sudah menerima orang yang tidak diundang."
"Silakan duduk, Tuan Wesley," ucap Xavier. Suaranya sopan dan keras seperti baja yang dilapisi kain.
"Aku berdiri dulu. Yang akan kuucapkan lebih baik diucapkan sambil berdiri." Tuan Wesley memberi isyarat pada Gans, yang meletakkan kotak putih itu di meja kecil dan mundur dua langkah. "Aku datang karena anakku datang padaku Selasa pagi dan mengaku. Semuanya. Pasokan rumah sakit, para investor, tawaran kepada kakak mendiang istrimu, dan apa yang ia janjikan kepada Vanessa atas namaku."
Xavier tidak bergerak. Kaeta menatap tongkat di tangan tamu itu. Buku-buku jarinya memutih di gagangnya.
"Aku tidak tahu," lanjut Tuan Wesley. "Itu bukan pembelaan. Seorang ayah yang tidak tahu apa yang dilakukan putranya dengan namanya sendiri hanya membuktikan ia ayah yang lalai. Karena itu aku minta maaf. Kepadamu, Dokter. Kepadamu, Kaeta. Atas apa yang ia lakukan dan atas apa yang kubiarkan terjadi karena tidak pernah bertanya."
Hening menggantung. Jam dinding di ruang tamu berdetak sembilan kali, sepuluh kali, dan Kaeta menyadari ia belum pernah mendengar rumahnya sehening ini sejak malam ia dan ayahnya membicarakan utang. Di anak tangga, Zeta menahan napas begitu keras sampai terdengar.
"Aku sudah memanggil pengacaraku," Tuan Wesley meneruskan. "Holt akan datang sore ini membawa surat. Seluruh utang rumah sakit dibatalkan, pokok dan bunganya, terhitung hari ini. Hak kepemilikan dikembalikan atas nama Nyonya Valere kepada yang berhak. Kalian tidak berutang apa pun lagi padaku."
Xavier menatapnya lama. Kaeta melihat rahang ayahnya bergerak sekali, seperti orang mengunyah kalimat yang tidak enak. Ayahnya tengah menimbang sesuatu yang bisa menyelamatkan rumah sakit istrinya dalam satu tanda tangan, dan yang sekaligus akan membuat tanda tangan itu tertulis dengan tinta yang salah. Ia hafal wajah itu. Wajah yang sama muncul tiap kali ia memutuskan operasi mana yang tidak akan ia lakukan.
"Tuan Wesley," ucap Xavier akhirnya. "Terima kasih. Saya tahu itu tidak mudah bagi Anda."
"Jadi?"
"Jadi saya menolak."
Alis tebal Tuan Wesley terangkat. Gans, di belakangnya, tampak mendadak tertarik pada pola karpet.
"Saya tidak menerima pembatalan utang yang diberikan karena putra Anda membuat saya malu," lanjut Xavier. "Saya tidak mau rumah sakit istri saya kembali kepada saya sebagai permintaan maaf. Rumah sakit itu akan kembali dengan cara yang benar, atau tidak sama sekali."
"Dad benar," sambung Kaeta. Ia melangkah maju sampai berdiri di sisi ayahnya. "Saya sudah bilang pada diri saya sendiri hari Senin, Tuan Wesley. Rumah sakit ibu saya tidak akan kembali sebagai hadiah dari pemerasan. Bukan dari tangan yang tadinya memegang rantainya."
"Itu bukan hadiah. Itu pengembalian."
"Dengan wajah Anda yang bersedih dan tongkat Anda yang gemetar, rasanya tetap seperti hadiah." Kaeta menarik napas. "Maaf. Itu terdengar kasar."
"Itu terdengar benar," ucap Tuan Wesley pelan, dan sudut bibirnya bergerak, tidak persis tersenyum. "Aku sudah bilang aku menyukai gadis ini sejak ia membuatku tertawa di meja makan. Alasannya tidak berubah."
Ia berdiri lama, menatap lantai, menimbang. Lalu ia menegakkan badan dan menatap Kaeta langsung.
"Kalau begitu aku tidak akan memaksa. Aku hanya meminta satu hal, dan itu bukan uang dan bukan surat." Suaranya pelan. "Jangan menutup telingamu selamanya. Bukan untuk Damian. Untukku. Aku sudah terlalu tua untuk kehilangan seseorang yang bisa tertawa pada leluconku hanya karena anakku bodoh."
Kaeta menatapnya. Pria tua ini bukan yang menjebaknya, ia tahu itu. Tetapi ia juga tahu pria ini berdiri di ujung tali yang sama dengan Damian, dan tali itu belum putus.
"Saya tidak berjanji apa pun," ucapnya.
"Aku tidak meminta janji."
"Kalau begitu, boleh saya katakan satu hal juga?"
"Silakan."
"Dia patuh." Kaeta menatap tepat ke mata Tuan Wesley. "Sejak Senin malam. Tiga larangan saya, tidak ada yang dilanggar. Saya tidak tahu apakah itu membuat saya senang atau membuat saya lebih marah. Mungkin dua-duanya."
Tuan Wesley mengangguk, lambat. "Ia memang bodoh. Tapi ia bukan pembohong yang berani melanggar janji kepada orang yang ia hormati."
"Bagaimana dengan janji kepada orang yang ia bohongi?"
"Itu," ucap Tuan Wesley, "pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan waktu."
Ia berpamitan dengan cara yang sama seperti ketika datang, berhenti di ambang pintu, menunduk sedikit, dan menunjuk kotak putih di meja. "Isinya kue ketan hitam. Gans yang memilih. Aku sudah menyuruhnya membeli permintaan maaf, tetapi toko-toko di kota ini kehabisan stok."
"Saya akan membagikannya pada perawat jaga malam," ucap Xavier setelah jeda. "Bukan sebagai penerimaan, Tuan. Hanya sebagai kue."
"Itu cukup."
Setelah mobil hitam itu menghilang di tikungan, rumah kembali bernapas. Xavier duduk di sofa, melepas napas panjang, dan menatap kotak putih di meja seperti menatap pasien yang tidak jelas diagnosanya. Zeta melompat dari anak tangga dengan mata berbinar. "Kae. Kamu menyebut pria itu 'bersedih dengan tongkat gemetar' di depan wajahnya."
"Aku tahu."
"Itu hebat."
"Itu kasar."
"Itu hebat dan kasar. Dua-duanya boleh."
Kaeta mengantar ayahnya ke mobil, memastikan jasnya rapi, mencium pipinya yang kasar karena belum bercukur, lalu kembali ke teras. Angin pagi membawa bau daun maple basah. Dari kejauhan ia mendengar tukang kebun tetangga memotong rumput, bunyi sehari-hari yang anehnya terasa seperti ejekan. Di seberang gerbang, di bawah pohon maple, berdiri seorang pemuda berjaket kulit hitam dengan ransel di satu bahu. Daniel. Ia menatap Kaeta tanpa mendekat, dan ketika Kaeta berjalan ke gerbang, ia hanya berkata satu kalimat.
"Aku mau bicara dengan pamanku, Kae. Tapi aku mau bilang dulu ke kamu."