Gans membukakan pintu rumah utama Wesley sebelum Damian sempat menekan bel. Kepala pelayan itu menatap wajah tuan mudanya, lalu seragam kusut yang dikenakannya sejak kemarin, dan menutup mulut sebelum sempat mengucapkan salam.
"Tuan muda. Tuan besar ada di taman belakang. Beliau sedang memberi makan Jenderal."
"Terima kasih, Gans."
"Tuan muda sudah sarapan?"
"Belum."
"Saya akan menyiapkan teh." Gans menunduk. "Dengan gula banyak."
Lorong lukisan leluhur terasa lebih panjang pagi ini. Damian melewati wajah-wajah berbingkai emas yang menatapnya dari dinding, para pria Wesley berkumis tebal dan berahang keras, dan ia berpikir bahwa mereka tampak seperti orang-orang yang menyimpan banyak hal yang tidak pernah mereka ucapkan.
Tuan Wesley berdiri di tepi kolam taman belakang, tempat koi besar berwarna merah putih berenang dengan khidmat di antara teratai. Tongkatnya bersandar di lengan kursi rotan, dan sebuah meja rotan kecil di sisinya menyangga toples pakan. Ia menaburkan butir demi butir dengan gerakan lamban, tidak menoleh.
"Kau tidak pernah datang sepagi ini kecuali ada yang rusak."
"Ada yang rusak, Dad."
Butir pakan berhenti jatuh ke air. Tuan Wesley meletakkan wadahnya dan akhirnya berbalik, wajah tuanya tenang dengan ketenangan yang Damian kenal sejak kanak-kanak, ketenangan sebelum badai paling buruk.
"Duduk."
"Aku berdiri saja."
"Kau duduk atau aku mengambil tongkat itu." Tuan Wesley menunjuk sofa. "Aku sudah terlalu tua untuk mendengar hal buruk sambil menengadah."
Damian duduk. Lalu ia bercerita, dari awal, tanpa dihias. Ia menyebut perjodohan dan gadis berjas dokter yang ia jadikan tameng, utang rumah sakit yang ia tawarkan pada Xavier, Magnus yang ia suruh mengganggu pasokan dan investor, tanah seratus lima puluh hektar yang ia tawarkan kepada Mars. Dan ketika sampai pada Vanessa, suaranya tidak goyah, tetapi pipinya bergetar sekali di bawah mata.
"Aku menemuinya," ucapnya. "Aku bilang Wesley Group tidak akan menagih pokok utang selama ia terus menekan Xavier. Itu janji atas namamu, Dad. Aku tidak punya wewenang untuk itu, dan aku mengucapkannya seolah punya."
Tuan Wesley tidak bergerak sedikit pun.
Lama sekali. Di belakangnya, Jenderal membalik tubuh di air, dan ekornya membuat riak yang menyebar pelan ke tepian.
Lalu tongkat itu menghantam meja rotan.
Bukan sekali. Tiga kali, keras, sampai toples pakan melompat dan sebagian butirnya berhamburan ke rumput. Tuan Wesley berdiri tegak, tubuhnya yang tua tampak mendadak lebih tinggi, dan matanya menyala dengan sesuatu yang belum pernah Damian lihat di sana.
"Kau memakai namaku." Suaranya rendah dan bergetar. "Kau memakai namaku untuk menekan seorang dokter yang menyelamatkan nyawa orang, dan keluarga gadis yang kuajak makan di mejaku sendiri. Kau membuatku tampak seperti rentenir di depan satu-satunya perempuan muda yang pernah menertawakan leluconku!"
"Dad..."
"Aku memberinya jas dengan nama miliknya sendiri. Kau ingat caranya memegang jas itu? Seperti memegang sesuatu yang bisa pecah. Dan kau berdiri di sebelahnya dengan kebohongan yang kau bawa dari rumah ini!"
"Aku tahu."
"Kau tahu? Kau tahu?" Tongkat itu terangkat lagi, lalu terjatuh pelan ke lantai karena tangan Tuan Wesley gemetar. Ia menarik napas panjang, memejamkan mata, dan membuka lagi dengan sorot yang berubah. Kemarahan masih ada, tetapi di bawahnya ada kekecewaan, dan kekecewaan itu lebih tajam.
"Mulai hari ini," ucapnya, "kau tidak menyentuh urusan Valere. Tidak utang, tidak jaminan, tidak tanah. Semua yang berkaitan dengan rumah sakit itu lewat aku. Dan Magnus kutarik dari tanganmu. Ia bekerja pada Wesley Group, bukan pada penyesalanmu."
"Baik, Dad."
"Kau tidak membantah?"
"Tidak ada yang bisa kubantah."
Tuan Wesley menatap putranya lama, lalu melirik Jenderal yang berenang di belakangnya. "Ikan ini tidak mau makan sejak pagi tadi karena aku marah. Bahkan ikan lebih tahu rasa malu daripada kau."
Damian menunduk. Gans muncul membawa teh dan menaruhnya tanpa suara di meja rotan di depan tuan mudanya, dua sendok gula penuh, lalu menyingkir lagi seperti bayangan.
***
Di rumah Quinn, tirai kamar Kaeta masih tertutup pukul sepuluh pagi. Zeta berbaring di karpet dengan selimut sampai dagu, buku anatomi menutupi dada, menatap langit-langit seakan di sana tertulis jadwal kuliah yang sengaja ia lewatkan.
"Kita seharusnya di kelas Profesor Sterling," ucap Zeta.
"Kita sedang sakit."
"Sakit apa?"
"Hatiku. Dan hatimu, karena kamu tidak mau bicara dengan Jordi."
"Itu bukan sakit. Itu pilihan." Zeta mengangkat buku dan menjatuhkannya lagi ke dada. "Kamu sudah makan?"
"Sudah."
"Bohong."
"Setengah roti."
"Itu bukan makan, itu penghormatan terhadap roti." Zeta berguling menghadap Kaeta. "Ada pesan dari dia?"
Kaeta mengambil ponsel dari tempat tidur, menatap layar yang kosong, lalu menaruhnya lagi. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan, tidak ada kiriman bunga di depan pintu. Damian menghormati ketiga larangan itu sepenuhnya, dan kepatuhan itu terasa seperti ruang hampa udara.
"Tidak ada."
"Bagus."
"Bagus," ulang Kaeta. Sambil berkata begitu, ia memeluk lututnya sendiri.
Ia bangkit, menyibak tirai sedikit, dan menatap halaman depan. Gerbang tertutup, jalan di luarnya kosong, dan pos security yang dulu ia bakar kini sudah berdiri lagi dengan cat baru, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di sana. Ia tahu persis apa yang ia cari di jalan itu: sebuah jip hitam yang diparkir dengan sopan, dan seorang pria yang berdiri di sebelahnya tanpa berani mengetuk. Jalan itu kosong. Ia yang melarang, dan pria itu patuh, dan kepatuhan itu mengajarinya sesuatu yang tidak ingin ia pelajari tentang dirinya sendiri.
"Kamu mau tahu hal paling bodoh?" tanyanya tanpa menoleh.
"Aku mau, asal kamu tidak menangis di selimutku."
"Aku sedikit kecewa dia benar-benar tidak datang."
Zeta tidak tertawa. Ia bangkit duduk, menarik selimut ke bahu, dan menepuk karpet di sebelahnya sampai Kaeta menyerah dan duduk di sana. "Itu bukan hal paling bodoh, Kae. Itu cuma hal paling manusia. Hal paling bodoh adalah aku, yang kemarin masih berpikir dia pria baik."
"Dia memang baik. Itu masalahnya. Dia baik dan dia juga melakukan semua itu."
***
Siang itu, di ruang kerja yang sunyi, Tuan Wesley duduk sendirian di depan meja mahoni dengan telepon di tangan dan wajah yang jauh lebih tua daripada pagi tadi. Damian sudah pergi. Gans berdiri di ambang pintu, menunggu perintah.
"Gans."
"Ya, Tuan besar."
"Panggil Holt. Katakan aku butuh dia di sini sebelum petang, dengan semua berkas utang rumah sakit itu, dan jangan biarkan dia membawa dasi yang kemarin, dasi itu bikin sakit kepala." Ia mengusap pelipisnya. "Kita akan membereskan ini sampai ke akarnya."
"Baik, Tuan besar."
"Dan Gans."
"Tuan?"
"Besok pagi, mobil siap. Aku mau ke rumah Dokter Xavier."
Gans menunduk, lalu berhenti di pintu dengan alis terangkat sedikit. "Apakah Tuan besar ingin saya menyiapkan sesuatu untuk dibawa?"
Tuan Wesley menatap lewat jendela ke arah kolam, tempat ikan merah putih itu masih menolak makan.
"Bawa permintaan maaf," ucapnya. "Kalau ada yang menjual, belikan."