Jaket itu tergantung di lemari Kaeta, di antara blus dan jas almamater, di tempat yang sama sejak malam ia menerimanya di bahu. Jaket dinas Damian berwarna gelap, tebal, dengan strip pemantul cahaya di lengan dan nama markas yang dijahit di dada. Kaeta menurunkannya dari gantungan pukul enam sore, dan benda itu jatuh ke dalam pelukannya lebih berat daripada yang ia ingat.
Ia mendekatkan kain itu ke hidung sekali saja. Bau sabun, solar, sedikit asap, sedikit Damian. Lalu ia mengumpat pelan, melipat jaket itu dengan lipatan kaku, dan memasukkannya ke kantong kertas bekas belanja. Di meja rias, stetoskop kecil ibunya mengintip dari saku tas yang terbuka. Kaeta menutup resletingnya dengan gerakan yang terlalu keras.
Dari halaman terdengar mesin mobil keluarga yang menyala, dan sopir yang menunggu dengan sabar, tanpa sekali pun membunyikan klakson.
***
Lampu halaman markas sudah menyala ketika mobil Quinn berhenti di depan gerbang, pukul tujuh lewat dua puluh. Sopir pribadi itu menoleh ke kursi belakang, ragu, dan Kaeta berkata singkat, "Tunggu di sini, Pak. Tidak lama," lalu turun sambil memeluk kantong kertas cokelat di dadanya.
Halaman itu sama seperti saat Damian meminta maaf di depan seluruh regu: aspal bergaris putih, truk merah berbaris, bangku panjang di dekat tiang bendera. Hanya sekarang kosong. Para petugas rupanya sudah menghilang ke barak, dan Kaeta menduga sebagian dari mereka mengintip dari balik jendela lantai dua, karena tirai di sana bergoyang tiap kali ia menoleh.
Damian berdiri di bawah lampu, di tempat yang sama persis seperti hari itu. Seragam dinasnya rapi, lengan digulung sampai siku, dan ia tidak bergerak maju. Hanya matanya yang bergerak, naik ke wajah Kaeta, turun ke kantong kertas, naik lagi.
"Kau datang," ucapnya.
"Pukul sepuluh tadi kau yang datang. Aku tidak."
"Aku tahu. Jordi menelepon pukul dua belas dan mengaku seperti anak sekolah dasar yang memecahkan jendela." Suaranya tenang, rendah, tanpa hiasan. "Ia menangis sedikit. Aku menyuruhnya makan."
Kaeta melangkah sampai jarak dua meter dan berhenti. Ia sudah menyiapkan kalimat pembuka sepanjang perjalanan, tiga versi, satu paling sarkastik, satu paling dingin, satu paling ia butuhkan. Ketika membuka mulut, tidak satu pun yang keluar.
"Aku mendengar rekamannya," ucapnya akhirnya. "Dari Paman Mars. Suaramu. Tanah seratus lima puluh hektar, rumah sakit ibuku, dan Daddy yang menyerahkan aku."
"Aku mengatakannya."
"Aku sudah bertanya pada Daddy. Aku sudah bertanya pada Jordi. Aku sudah bertanya pada Magnus, yang ternyata tidak punya kemampuan berbohong dengan setelan sebagus itu." Ia menarik napas. "Sekarang aku bertanya padamu, dan kau jawab, dan jangan pakai kata 'tapi' di kalimat pertama."
Damian mengangguk sekali. Ia tidak menyilangkan tangan, tidak menunduk, tidak menyalahkan siapa pun.
"Semua yang kaudengar benar. Awalnya kau perisai. Aku butuh seseorang untuk menggagalkan perjodohan dari ayahku, dan aku melihat gadis di ruang kerja Dokter Xavier yang berpura-pura jadi dokter. Aku menawarkan utang rumah sakit lunas, dan hak kepemilikannya kembali, kalau ayahmu mengizinkan. Ia menolak. Lalu aku menyuruh Magnus mengganggu pasokan dan investor supaya ayahmu berubah pikiran." Ia berhenti sedetik, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan. "Aku juga menemui Vanessa, beberapa hari sebelum kau menyiram pamanmu. Aku memberinya keberanian. Aku berjanji Wesley Group tidak akan menagih pokok utang selama ia terus menekan ayahmu. Itu yang Jordi sebut percikan api, dan percikan itu aku yang menyalakan."
Angin malam membawa bau solar dan roti panggang dari dapur barak. Kaeta merasakan jari-jarinya dingin pada kantong kertas. Ia sudah mengira akan mendengar bantahan atau setidaknya pembelaan berbelit, dan karena itu pengakuan yang datar dan lengkap ini terasa lebih buruk: seperti membuka pintu yang sudah ia siapkan untuk didobrak, lalu mendapati ruangan di baliknya benar-benar kosong.
"Kenapa kau tidak bilang di pondok?"
"Aku memutuskan bilang di depan ayahmu."
"Itu alasan."
"Iya. Itu alasan." Damian tidak mengelak. "Dan aku menyesalinya sejak pagi ini."
"Kau bilang berhenti sebelum pesta."
"Aku berhenti menyuruh Magnus sejak kau membuatku sadar bahwa aku sedang menyakiti orang yang kucintai. Tetapi aku tidak berhenti menyembunyikannya. Dua hal itu tidak sama, dan aku tahu bedanya sekarang."
Kaeta tertawa kecil, tanpa suara. Suara yang keluar lebih mirip batuk.
"Sejak kapan jadi nyata?" tanyanya. "Semua yang kauucapkan padaku di dermaga, di pasar malam, di beranda. Sejak kapan itu bukan bagian dari rencana?"
Damian terdiam lama. Ia tidak menjawab dengan cepat, dan Kaeta menghormati itu, karena jawaban yang cepat pasti dusta.
"Aku tidak punya tanggalnya," ucapnya. "Aku hanya tahu hari ketika aku menyuruh Magnus berhenti. Aku duduk di apartemen dan menyadari bahwa aku tidak lagi berani membayangkan bahwa semua ini rencana. Itu bukan pembelaan. Itu satu-satunya jawaban jujur yang kupunya."
"Itu terdengar seperti pembelaan."
"Mungkin. Kau berhak menilainya begitu."
Hening. Dari tiang bendera terdengar bunyi tali yang menampar logam. Kaeta mengangkat kantong kertas itu dan mengulurkannya, tanpa mendekat, hingga lengannya lurus penuh.
"Jaketmu."
Damian tidak segera mengambilnya. Ia menatap kantong itu dengan wajah yang seolah menolak percaya bahwa benda sesederhana itu bisa membuat dadanya sesesak ini. "Simpanlah. Aku sudah bilang..."
"Ambil."
Ia mengambilnya. Jari-jarinya tidak menyentuh jari Kaeta, dan Kaeta baru sadar bahwa ia menahan napas tadi.
"Aku punya tiga larangan," ucapnya. Suaranya datar sekali sekarang, seperti seseorang yang membaca resep. "Pertama, jangan datang. Bukan ke rumahku, ke kampusku, ke rumah sakit, ke kafe mana pun yang kududuki. Kedua, jangan kirim apa pun. Bunga, makanan, pesan, dokumen, hadiah, dan kalau kau berpikir mengirim Kavea dengan pita, jangan."
Sudut bibir Damian bergerak, nyaris tersenyum, lalu padam seketika. Kaeta tidak membalas.
"Ketiga, jangan suruh siapa pun. Bukan Jordi, bukan Magnus, bukan Zeta, bukan ayahku. Kalau ada yang harus kuketahui, aku yang akan mencarinya."
"Baik."
Hanya satu kata itu. Tidak ada tawar-menawar, tidak ada "tolong dengarkan dulu", tidak ada janji yang dibesar-besarkan. Kaeta menunggu sesuatu yang lain, entah apa, mungkin kemarahan, mungkin permohonan, dan baru ketika kata itu tetap berdiri sendirian di antara mereka ia menyadari betapa ia berharap Damian melanggarnya.
Ia berbalik. Sepatunya mengetuk aspal, lima langkah, sepuluh. Di belakangnya tidak terdengar langkah apa pun.
Pintu mobil menutup. Dari kaca spion samping, Kaeta melihat Damian masih berdiri di bawah lampu, kantong kertas itu di kedua tangannya, bahunya turun sedikit lagi. Ia tidak menyusul. Mobil bergerak. Gerbang markas menyusut menjadi lampu kuning kecil, lalu belokan menelannya.