Kaeta sengaja menunda tiga jam. Ia berkeliling tanpa tujuan, makan separuh roti yang tidak terasa apa-apa, dan menunggu tangannya berhenti gemetar sebelum berani menemui ayahnya. Lorong sayap lama rumah sakit berbau lantai yang terlalu sering dipel dan logam yang terlalu lama kedinginan. Kaeta berjalan di sana pukul tiga kurang, sendirian, dengan sepatu yang mengetuk keras di keramik. Di balik dinding sebelah kiri, genset yang diuji tiap pagi mendengung pelan dan sesekali batuk, seperti orang tua yang tidak mau mengaku sakit. Cat dindingnya mengelupas di bawah talang. Di ujung lorong tergantung foto mendiang ibunya dalam bingkai kayu, perempuan yang tertawa lebar dengan rambut ditiup angin, seolah tahu sesuatu yang lucu.
Kaeta berhenti di bawah foto itu. Ia ingin mengatakan sesuatu, lelucon atau salam, apa pun. Ia hanya menyentuh sudut bingkai dengan satu jari, memeriksa debunya, lalu pergi.
***
Xavier sedang menandatangani lembar rekam medis ketika Kaeta mendorong pintu ruangannya tanpa mengetuk. Pulpen di tangannya berhenti di tengah huruf, dan kacamata baca merosot sedikit di hidungnya. Di belakang meja, jendela memperlihatkan halaman parkir yang basah oleh gerimis yang baru berhenti, dan jam dinding di atas pintu menunjuk pukul tiga lewat sedikit.
"Kaeta." Ia meletakkan pulpen perlahan. "Daddy meneleponmu enam kali."
"Aku tahu."
"Pukul sepuluh, Princess. Kamu bilang..."
"Aku tidak datang, Dad. Aku tahu."
Xavier melepas kacamata, melipatnya, dan menaruhnya di atas rekam medis. Dari caranya meletakkan benda itu, hati-hati, seperti menaruh alat bedah, Kaeta tahu ayahnya sudah menebak setengah dari apa yang akan ia dengar dan sedang mempersiapkan sisanya.
"Duduklah."
"Aku berdiri saja."
"Kalau begitu Daddy juga berdiri." Xavier bangkit, memutari meja, dan bersandar di tepinya, sehingga mereka berhadapan sejajar. "Tuan Damian duduk di kursi itu satu jam dua puluh menit. Ia tidak menyentuh kopi yang Daddy suruh antar. Setiap sepuluh menit ia melirik pintu, dan setiap kali pintu terbuka bukan kamu, bahunya turun sedikit lagi. Daddy tidak pernah melihat seorang pria sebesar itu menciut di kursi biasa."
Kaeta melirik kursi tamu di depan meja, kursi kulit cokelat dengan sandaran yang sedikit melesak di bagian punggung, seperti masih mengingat bobot orang terakhir yang duduk di sana. Cangkir kopi masih di atas meja kecil di sisinya, terisi tiga perempat, dengan lingkaran cokelat tipis di tatakannya.
"Dad," ucapnya. Suaranya datar. "Aku mendengar rekaman suara Damian pagi ini. Dari Paman Mars."
Rahang Xavier mengencang. "Mars."
"Damian menawarkan tanah seratus lima puluh hektar dan rumah sakit ini kepada Paman Mars. Syaratnya, Paman membuat Daddy menyerahkanku. Itu bukan rekayasa, Dad, aku mengenali cara dia memenggal kalimat. Sekarang aku tanya, dan Daddy jawab sebagai Daddy, bukan sebagai dokter yang menenangkan pasien. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Xavier diam begitu lama sampai terdengar bunyi pendingin ruangan dan langkah perawat di lorong. Jemarinya menggosok cincin kawin di jari manis kirinya, kebiasaan lama yang Kaeta hafal sejak kecil, dan baru sekarang ia paham bahwa gerakan itu muncul tiap kali ayahnya menyembunyikan sesuatu. Lalu Xavier mengembuskan napas, panjang dan berat.
"Pada hari kamu menerobos ruangan ini untuk melapor kebakaran palsu," ucapnya pelan, "ia sudah lebih dulu bicara dengan Daddy di sini. Ia menawarkan pelunasan seluruh utang rumah sakit dan pengembalian hak kepemilikannya, asalkan Daddy mengizinkan kamu menjadi perisainya melawan perjodohan dari ayahnya. Daddy menolak. Hari itu juga."
"Dan sesudah itu?"
"Sesudah itu rumah sakit ini mendadak sulit membeli alat. Dua investor menarik diri tanpa alasan jelas. Daddy tahu siapa dalangnya, Kaeta, dan Daddy tidak menyebut apa pun padamu."
"Kenapa?"
"Karena kamu putri Daddy, dan Daddy mau menyelesaikannya tanpa membuatmu memikul urusan orang dewasa."
"Aku sudah memikulnya, Dad." Kaeta tertawa, pendek dan getir. "Aku memikulnya sambil memegang tangannya di depan gerbang rumah kita sendiri. Daddy berdiri di sana dan menatap. Daddy tahu waktu itu."
"Daddy tahu bahwa ia membatalkan semuanya di ruangan ini," ucap Xavier, matanya tidak menghindar. "Di depan Daddy. Dengan dua syarat. Ia menerimanya. Daddy memutuskan memberinya kesempatan mengaku sendiri kepadamu, karena kalau Daddy yang bicara, pria itu tidak akan pernah belajar menanggung perbuatannya."
"Daddy menjadikan aku taruhan."
"Daddy menjadikan keputusan itu ujian untuknya. Daddy keliru. Seharusnya ujian itu tidak memakai anak Daddy sebagai tali yang menegang."
Kaeta menggigit bagian dalam pipinya. Matanya panas, dan ia benci karena matanya melakukan itu di saat ia ingin tetap kokoh. Ia teringat genggaman tangan di jip, kata "boleh" yang diucapkan Damian dengan begitu hati-hati, dan betapa semua kehati-hatian itu kini terasa seperti naskah yang dihafal oleh seorang pria yang tahu persis di mana kebohongannya tersimpan.
"Daddy bilang akan selalu bercerita," bisiknya. "Aku minta begitu waktu malam kita bicara soal utang. Daddy janji."
"Daddy ingkar."
"Dan Daddy sekarang bilang ingkar seperti itu mudah."
"Tidak mudah." Suara Xavier bergetar tipis. "Itu hal tersulit yang pernah Daddy ucapkan kepadamu sejak ibumu pergi. Marahlah, Nak. Daddy pantas menerimanya."
Kaeta menatap ayahnya, pria yang tidak pernah membentaknya sekali pun, yang bahkan sekarang tidak mengangkat suara untuk membela diri. Ia ingin berteriak. Ia ingin membanting pintu seperti membanting pintu mobil di depan lobi, supaya semua orang di lorong tahu bahwa seseorang sedang terluka. Tetapi yang keluar dari mulutnya hanya satu kata, dan itu bukan teriakan.
"Dad."
Xavier membuka kedua lengannya, tanpa kata, dan Kaeta menabrak dadanya seperti anak kecil yang kehilangan pegangan. Ia menangis di bahu ayahnya, bahu yang berbau antiseptik dan kapas dan sedikit sabun cokelat, bahu yang sudah menyerap tangis yang sama pada malam-malam yang tidak pernah ia ceritakan. Tangan Xavier menepuk punggungnya pelan, teratur, seperti menghitung detak.
"Aku marah," isaknya.
"Daddy tahu."
"Pada Daddy. Pada Damian. Pada diriku sendiri."
"Tiga-tiganya boleh."
Ia tidak tahu berapa lama mereka berdiri begitu. Perlahan napasnya melambat. Dari balik bahu ayahnya, pandangannya jatuh kembali pada kursi tamu itu, pada cangkir kopi yang tak tersentuh dengan lingkaran tipis di tatakan, dan ia menyadari sesuatu yang membuat perutnya mengencang.
Pukul sepuluh tadi, Damian duduk di kursi itu menunggunya. Ia sudah mengatakan pada Kaeta, di beranda pondok dengan suara hampir memohon: Senin pukul sepuluh, di ruangan ayahmu. Dan ia datang. Ia datang tanpa ditagih, duduk, dan menunggu, sementara Kaeta duduk di bangku markas lalu mendengarkan Jordi mengaku atas nama sahabatnya.
"Dad." Ia mengangkat wajah, mengusap pipi dengan punggung tangan. "Dia ke mana sesudah itu?"
"Daddy bilang kamu mungkin terlambat. Ia menunggu sampai hampir setengah dua belas. Lalu ia bilang ia akan di markas malam ini, jaga sampai pagi, dan kalau kamu ingin bertemu, ia ada di sana."
"Pinjam kunci mobilnya."
"Princess..."
"Aku mau ke sana."
Xavier menatapnya lama. Lalu ia menekan tombol interkom di meja dan meminta sopir keluarga menunggu di lobi dalam sepuluh menit.
"Sopir yang menyetir," ucapnya, menutup interkom. "Dan Kaeta. Kalau kamu mau mengakhiri sesuatu, akhiri dengan rapi. Kembalikan apa yang bukan milikmu."
Kaeta belum menyebut jaket itu sepatah kata pun. Ayahnya, seperti biasa, sudah tahu.