Pukul sepuluh lewat dua menit, ponsel di pangkuan Kaeta bergetar di bangku ruang jaga markas.
Aku sudah di ruangan Dokter Xavier. Beliau baru keluar dari OR dan menyuruhku duduk. Kamu di mana? Semua baik?
Kaeta membaca pesan itu dua kali, lalu membalik ponselnya telungkup di paha. Sudah satu jam lebih ia duduk di bangku kayu itu, di antara rak helm dan papan pengumuman jadwal piket, dan Jordi belum juga pulang dari panggilan pagi. Seorang petugas muda yang sedang melipat selang menawarinya cokelat panas dalam gelas kertas. Kaeta menerimanya, mengucapkan terima kasih dengan senyum yang tidak sampai ke mata, dan tidak meminumnya. Cokelat itu mendingin di tangannya selagi jam dinding merambat ke angka sebelas.
Pukul sebelas kurang sepuluh, pintu garasi bergemuruh naik. Truk merah masuk berbau asap dapur restoran, dan dari kursi penumpang turun Jordi dengan wajah berjelaga dan senyum lebar yang membeku begitu ia melihat siapa yang duduk di bangku itu.
"Nona Kaeta!" Ia menjatuhkan helm ke rak, nyaris mengenai kaki sendiri. "Pagi yang luar biasa! Komandan tidak ada di sini, kalau Nona mencari beliau, beliau..."
"Aku mencari kamu."
Kalimat itu pendek dan dingin, dan seisi ruang jaga mendadak sibuk menatap sepatu. Petugas muda yang menawarkan cokelat tadi menunduk begitu dalam sampai nyaris tersungkur ke gulungan selangnya sendiri. Jordi menarik napas, mengusap jelaga di dagunya, dan mengangguk seperti orang yang menerima vonis dengan sopan.
"Kalau soal pondok kemarin, aku bersumpah tidak ikut menyebar foto Nona yang sedang pura-pura..."
"Ruanganmu. Sekarang."
Ruangan Jordi hanya berupa kotak sempit dengan satu meja, satu lemari berkas, dan satu foto Jordi memeluk anjing dalmatian yang bukan miliknya. Kaeta menutup pintu di belakang mereka dan bersandar di sana, tas masih di bahu. Ia tidak duduk.
"Dua pertanyaan," ucapnya. "Kamu jawab pendek. Kamu boleh berbohong, tapi aku mau lihat apakah kamu bisa."
"Itu bukan penawaran yang adil."
"Pertanyaan satu. Apa Damian pernah mengancam rumah sakit ibuku?"
Jordi membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi. "Aku..." Daun telinganya memerah, bukan perlahan, melainkan seperti lampu indikator. "Kenapa kamu bertanya begitu?"
"Itu bukan jawaban."
"Aku tidak tahu apa-apa soal..." Ia menelan ludah, dan seluruh wajahnya menyerah. "Ya Tuhan, aku bahkan tidak bisa berbohong tentang warna kaus kaki sendiri."
"Jadi pernah."
"Pernah." Jordi mengusap wajah dengan kedua telapak. "Bukan ancaman. Lebih ke... pengaturan. Pasokan alat yang seret, dua investor yang tiba-tiba mengundurkan diri, proyek kerja sama yang dibekukan. Magnus yang mengerjakan, Damian yang memerintahkan. Itu terjadi sebelum kalian... sebelum Damian..." Ia mencari kata. "Sebelum semuanya berubah."
"Berubah kapan?"
"Itu pertanyaan ketiga."
"Pertanyaan kedua." Kaeta mengangkat dagu. "Apa dia pernah menyebut aku mainan, perisai, atau apa pun yang bisa dibeli?"
Hening. Dari balik pintu terdengar bunyi alat komunikasi dan seseorang tertawa terbahak-bahak di ujung lorong. Jordi menatap lantai, menatap foto dalmatian, menatap langit-langit.
"Aku yang bilang 'perisai'," ucapnya akhirnya. Suaranya kecil. "Di restoran. Aku bilang malang sekali gadis secantik dia harus menjadi perisai untuk pria kejam sepertimu. Damian tidak membantah. Dia bilang... dia bilang kata 'perisai' itu tidak salah, Kae, waktu itu."
Kaeta mengangguk sekali. Dalam dadanya ada sesuatu yang berdesing halus seperti genset yang batuk, tetapi wajahnya tetap tenang, dan ia kaget melihat betapa mudahnya itu. Ia teringat Damian di restoran waktu itu, duduk dua meja dari pamannya, membiarkan seorang gadis yang baru saja menyiram orang lain lewat di depannya tanpa menoleh. Pada hari itu ia merasa dikejar. Rupanya ia sedang dihitung.
"Dan percikan api?" tanyanya. "Ada orang yang menyuruhku bertanya soal Wesley dan rumah sakit. Kamu pernah dengar kata 'percikan api'?"
Jordi menutup mata. "Dia bilang cukup dengan sedikit percikan api saja, semua akan berjalan mulus. Maksudnya Vanessa. Dia menemui Vanessa sebelum hari kamu menyiram pamanmu, dan memberinya sesuatu supaya Vanessa terus menekan ayahmu. Aku tidak tahu persisnya apa. Hanya itu yang kudengar, aku bersumpah."
Pintu terbuka keras, membentur lemari berkas, dan foto dalmatian itu miring di dindingnya. Zeta berdiri di sana dengan rambut kusut, jaket dikancing salah satu, dan ponsel masih menyala di tangan; ia pasti berlari sejak turun dari taksi, karena napasnya tersengal dan satu sepatunya belum diikat. Pesan dari Kaeta di layarnya, singkat: Markas. Sekarang. Jangan tanya.
"Aku di taksi tadi sembilan menit," ucapnya terengah. "Aku tidak bertanya. Aku hanya datang. Ada apa?"
Kaeta menoleh, dan sesuatu di wajahnya membuat Zeta melangkah masuk tanpa diminta, menutup pintu, lalu menatap Jordi. "Om Jor. Apa yang kamu katakan?"
"Aku..."
"Katakan lagi. Semuanya. Dari awal."
Dan Jordi mengatakannya lagi, kali ini lebih pelan, lebih hati-hati, tanpa satu pun lelucon. Kaeta memperhatikan bahwa ia menghindari menatap Zeta tiap kali kalimatnya menyangkut Damian, seperti orang yang menyeberang jalan sambil menutup sebelah mata. Zeta mendengarkan dengan tangan mencengkeram sandaran kursi sampai buku-buku jarinya memutih. Ketika Jordi sampai pada bagian Vanessa, Zeta mundur satu langkah, lalu satu langkah lagi, hingga punggungnya menyentuh lemari berkas.
"Dia memakai Vanessa," bisik Zeta. "Vanessa yang memeras Dokter Xavier. Dan Damian yang..."
"Zet."
"Baru kemarin aku duduk di mobil yang sama dengannya, Nona Kaeta. Aku bahkan menawarinya permen."
"Aku tahu."
"Aku mau memukul sesuatu." Zeta menatap Jordi lurus-lurus. "Bukan kamu. Hampir bukan kamu."
"Pukul saja bantal di sofa depan," cicit Jordi. "Tapi itu milik..."
Pintu diketuk dua kali, sopan, dan sebelum ada yang menjawab, kenop terputar. Magnus berdiri di ambang pintu dengan setelan hitam, dasi lurus tanpa satu pun kerutan, dan wajah yang tidak membaca apa pun. Map cokelat terselip di bawah lengannya, mungkin berkas Wesley Group yang harus ditandatangani Damian. Matanya menyapu ruangan: Jordi yang pucat, Zeta yang gemetar, Kaeta yang berdiri tegak.
"Nona Kaeta," ucapnya.
"Magnus." Kaeta menatapnya tanpa kedip. "Kamu mengganggu pasokan rumah sakit ibuku?"
Magnus tidak berkedip, tidak mengalihkan pandang. "Atas perintah Tuan Damian, ya."
"Magnus!" Jordi melompat. "Kau boleh sedikit pura-pura lupa!"
"Saya tidak menyimpan kebiasaan itu." Magnus berbalik ke Kaeta dengan nada yang rata, tanpa pembelaan. "Perintah itu dihentikan sebelum Anda bertanya, Nona. Tuan Damian sendiri yang menghentikannya."
"Sebelum?" Jordi nyaris menjerit. "Sesudah berminggu-minggu! Sesudah dia sendiri yang menyalakannya! Kau bicara seperti dia yang menolong rumah sakit itu!"
"Saya menyampaikan urutan, bukan pujian."
"Kau menyampaikan alasan dengan dasi!"
"Dan Anda menyampaikan lelucon dengan mulut penuh donat, Tuan Jordi."
"Cukup," ucap Kaeta.
Dua pria itu terdiam serentak. Kaeta merapikan tali tas di bahunya, dan untuk sesaat ruangan sempit itu begitu hening sampai terdengar mesin pendingin air di ujung lorong. Ia menatap Magnus, yang balas menatap tanpa membela diri, dan hal itu anehnya lebih sulit ditanggung daripada bantahan. Lalu ia menatap Jordi, lama.
"Kalau kamu mengaku semuanya, kenapa aku masih merasa kamu belum bilang yang paling penting?"
Jordi menggeleng, matanya merah. "Karena itu bukan aku yang boleh ceritakan, Nona Kaeta. Aku sudah terlalu banyak bicara. Sisanya..." Ia menarik napas. "Tanya ayahmu."