Pukul enam lewat lima puluh, rumah Quinn sudah sepi. Kaeta turun dengan rambut dikuncir asal dan menemukan sepiring roti panggang di meja makan, tertutup serbet, dengan memo menempel di tepi piring. Tulisan tangan Xavier, miring dan nyaris tak terbaca, seperti semua resep dokter di dunia.
Daddy dipanggil OR pagi-pagi. Pukul sepuluh Daddy tunggu di ruangan. Jangan telat, Princess. Makan rotimu.
"Siap, Dok," gumam Kaeta pada kertas itu.
Ia makan separuh roti sambil berdiri, lalu berhenti, karena ponselnya bergetar di atas meja. Pesan dari Damian, hanya satu baris, dan justru karena itu terasa berat.
Selamat pagi. Aku di pos distrik barat sejak subuh, ada inspeksi sampai jam sembilan. Sudah sarapan. Kamu juga ya. Sampai jam sepuluh.
Kaeta mengetik balasan, menghapusnya, mengetik lagi. Akhirnya ia hanya mengirim satu kata: Iya. Ia tidak menyebut restoran. Ia tidak menyebut Mars. Itu bukan bohong, bantah batinnya sambil memasukkan ponsel ke tas. Itu cuma menunda cerita. Lalu ia mendengar kata menunda itu menggema dan membuatnya mengernyit, karena kata itu sudah terlalu sering dipakai orang lain untuk hal yang sama.
***
Restoran itu belum berubah. Lantai kayu mengilap, lampu gantung berbentuk lonceng terbalik, dan pelayan berompi hijau yang begitu melihat Kaeta di ambang pintu langsung berhenti membawa nampan.
"Nona," bisiknya, seperti orang menyapa hantu. "Selamat pagi."
"Pagi. Tolong gelas di mejanya jangan diisi air putih."
"Maaf?"
"Bercanda." Kaeta mengangkat tangan. "Saya ke meja Tuan Mars."
"Beliau di sudut, Nona. Sudah satu jam."
Satu jam. Berarti Mars datang pukul tujuh, sebelum pesan tadi dibaca siapa pun. Pria itu memang selalu datang lebih dulu supaya bisa memilih kursi yang menghadap pintu.
Meja sudut itu dibatasi pot palem. Mars duduk di sana dengan jas abu-abu gelap, secangkir teh yang sudah dingin, dan sebuah benda hitam sebesar kotak korek api di atas serbet. Ia tidak berdiri. Ia tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk ke kursi di seberangnya, dan Kaeta duduk dengan tas dipangku, punggung lurus.
"Kau datang sendiri."
"Katanya begitu."
"Paman kira kau akan membawa temanmu yang suka bicara itu."
"Zeta sedang tidur dan masih menyimpan dendam pada pagi." Kaeta menyilangkan kaki. "Saya duduk di sini bukan karena kangen, Paman. Bilang saja apa yang mau Paman bilang."
Mars menatapnya cukup lama. Di balik wajah dinginnya ada sesuatu yang bergeser sekilas, seperti orang yang menghitung beban sebelum mengangkat, lalu pergeseran itu hilang.
"Paman tidak akan berpidato. Dengarkan saja sampai selesai. Sampai kalimat terakhir, jangan hanya sampai bagian yang membuatmu marah." Ia menekan tombol di benda hitam itu dengan satu jari.
Terdengar desis halus, denting sendok di kejauhan, lalu suara laki-laki yang begitu dikenal Kaeta sampai kulitnya meremang.
"Luas tanah seratus lima puluh hektar, Rumah Sakit milik mendiang Nyonya Valere yang sedang menjadi rebutan keluarga Anda, akan saya berikan pada Anda secara cuma-cuma, asalkan Anda bisa membuat Dokter Xavier menyerahkan putrinya pada saya."
Kaeta tertawa.
Tawa pendek, nyaring, hampir sempurna. Ia sendiri terkejut betapa meyakinkannya. "Paman, serius? Ini suara Damian yang direkayasa? Sekarang anak SMA pun bisa menempel kalimat dari rekaman lain pakai aplikasi gratis."
"Dengarkan sampai habis."
"Paman merekam Damian bilang..."
"Dengarkan." Suara Mars tidak naik, tetapi jari-jarinya yang menekan tepi meja memutih. Kaeta baru sadar tangan pamannya sedang menahan sesuatu yang lebih besar daripada kemarahan, dan ia belum tahu apa.
Suara di rekaman itu berhenti. Berikutnya suara Mars sendiri, lebih muda oleh jarak, datar: "Saya kira Tuan Damian bisa mengendalikan semuanya tanpa bantuan siapapun. Rumor tidak pernah menyebut bahwa untuk mendapatkan seorang gadis kecil ia masih butuh bantuan orang lain."
Kaeta masih tersenyum. Senyum itu sudah menempel di wajahnya, dan ia lupa cara melepasnya.
"Saya hanya menawarkan kerja sama," jawab suara Damian.
"Saya tidak tertarik, Tuan Damian."
Mars menekan tombol sekali lagi, dan restoran kembali terdengar normal: sendok, uap mesin kopi, tawa pelan dari meja lain. Kaeta menatap kotak hitam itu. Senyumnya turun pelan-pelan, bukan karena ia memutuskan, melainkan karena otot-otot di pipinya menyerah.
"Itu kapan?" tanyanya.
"Hari ketika kau menyiramku di meja ini." Mars menunjuk lantai di sebelah kursi Kaeta dengan dagu. "Tepat sesudah kau pergi. Kau tidak melihat dia duduk dua meja dariku, karena kau terlalu sibuk marah."
Kaeta menoleh ke meja kosong dua baris dari sana, meja yang kini ditempati sepasang pegawai kantor yang berdebat soal tagihan. Tidak ada tanda apa pun bahwa pernah ada seseorang yang duduk di sana sambil menawar dirinya dengan tenang.
Kaeta ingat. Ia ingat gelas kosong di tangannya, ingat rasa bangga yang bodoh sesudahnya, ingat pintu restoran yang ia dorong dengan dada membusung. Dan ia ingat bahwa hari itu juga sore harinya ia membakar pos security demi sebuah nomor telepon. Semuanya terjadi dalam satu hari yang sama, hari ketika ia merasa dunia ini sebuah arena main-main.
"Kenapa Paman memberikannya pada saya?"
"Karena kau berhak mendengarnya dengan telingamu sendiri."
"Dan Paman tidak menjual ini kepada siapa pun?"
"Kalau Paman mau menjual, kau tidak akan duduk di kursi itu." Rahang Mars mengeras. "Paman tidak minta kau percaya Paman. Paman minta kau bertanya. Tanya ayahmu soal utang. Tanya orang-orang pemadam itu apa yang Wesley lakukan pada rumah sakit ibumu sejak hari rekaman itu. Tanya pria itu sendiri kalau kau berani."
"Saya akan bertanya."
"Bagus."
"Tapi saya tidak akan menjawab apa-apa sekarang."
"Paman tidak meminta jawaban."
Kaeta berdiri. Kursinya berderit di lantai kayu, dan ia merapikan tas di bahu dengan gerakan yang lebih kaku daripada yang ia niatkan. Mars tidak ikut berdiri, tetapi tangannya menggeser kotak hitam itu sejauh dua jari ke arah Kaeta, lalu menariknya kembali.
"Kae."
Hanya itu. Kaeta menunggu kelanjutan. Tidak ada.
"Terima kasih untuk tehnya, Paman," ucapnya, padahal cangkir di depannya kosong.
***
Di luar, udara pagi basah oleh sisa embun dan asap knalpot. Jam di layar ponsel menunjukkan 08:41. Satu jam sembilan belas menit sampai pukul sepuluh. Cukup untuk sebuah pertanyaan, tidak cukup untuk menunggu.
Ponselnya bergetar lagi: pesan Damian yang kedua. Kamu sudah di jalan? Inspeksiku hampir selesai. Kalau mau, aku bisa jemput sebelum ke rumah sakit.
Kaeta menatap tulisan itu sampai hurufnya seperti bergerak sendiri. Satu pesan, tiga kalimat, dan tidak satu pun terdengar seperti pria yang pernah berbisik kepada Mars bahwa seorang gadis kecil bisa dibeli dengan tanah. Dua suara yang tidak mungkin milik satu orang. Justru itu yang membuat dadanya sakit, karena ia tahu keduanya milik satu orang.
Ia tidak membalas. Pos barat ada di seberang kota, jadi di markas distrik pagi ini ada Jordi tanpa Damian di sebelahnya, satu-satunya orang yang mulutnya tidak bisa menjaga rahasia. Sebuah taksi kuning berhenti di tepi trotoar, seolah sudah menunggu aba-aba, dan Kaeta membuka pintunya tanpa melihat.
"Ke mana, Nona?"
"Markas pemadam kebakaran distrik," ucap Kaeta, menutup pintu dengan bunyi yang membuat sopir itu terlonjak. "Cepat, tapi jangan pakai sirene. Saya sedang tidak dalam keadaan darurat. Belum."