Pesan Damian masuk pukul sembilan lewat tujuh menit. Aku di beranda bawah. Kalau kamu belum siap, aku menunggu sampai kamu siap atau sampai subuh, mana yang lebih dulu.
Kaeta membaca pesan itu sambil duduk di tepi tempat tidur, rambut masih lembap dari mandi, dan Zeta, yang menyelinap dari kamar sebelah dan tengkurap di ujung ranjang dengan buku anatomi menutupi wajah, mengintip dari bawah sampul.
"Pergi," bisiknya.
"Aku belum bilang apa-apa."
"Napasmu sudah bilang."
"Kamu mengintip."
"Aku mengintip dengan niat baik." Zeta menutup buku itu dan menunjuk pintu dengan dagu. "Satu pintu, satu kunci. Bawa kuncimu. Kalau pintu terkunci dari luar karena kamu lupa, aku tidak akan membukakan sampai pagi."
Beranda bawah rumah kayu itu diterangi satu lampu kuning yang digantung rendah. Damian duduk di anak tangga terbawah dengan jaket tipis di bahu dan kedua tangan terlipat di antara lutut, menatap danau yang kini hanya terdengar tanpa terlihat. Ia berdiri begitu Kaeta muncul, lalu berhenti, menunggu.
"Aku boleh duduk di sini?" tanya Kaeta, menunjuk anak tangga di sebelahnya.
"Boleh."
Mereka duduk dengan jarak seukuran satu orang dewasa dan satu rahasia. Malam berbau pinus dan kayu basah. Dari kejauhan terdengar kodok danau yang berdebat dengan irama tidak teratur, dan dari jendela dapur, di balik tirai yang bergerak sedikit terlalu kebetulan, sebuah siluet laki-laki berdiri sangat diam, memenuhi janjinya untuk menjadi pohon yang sedih.
"Jordi," ucap Damian tanpa menoleh.
"Aku bukan Jordi," sahut suara dari balik tirai. "Aku pohon."
"Pohon sebaiknya tidur."
"Pohon sedang menimbang."
Dari dalam rumah terdengar langkah cepat menuruni tangga, lalu bunyi pukulan pelan, buku anatomi mengenai kepala, dan suara Zeta berbisik, "Pohon, tidur." Siluet itu menghilang dengan dengusan. Kaeta menutup mulut dengan punggung tangan. Damian menatap kayu di bawah sepatunya, menahan sesuatu yang mungkin tawa.
"Tadi pagi kamu bilang ada yang harus kamu katakan," ucap Kaeta. "Malam ini."
"Iya."
"Ini malamnya."
Damian menarik napas. Kaeta melihat dadanya naik dan turun dua kali sebelum ia bicara, seperti orang yang menghitung ketinggian sebelum melompat.
"Aku mencintaimu."
Kaeta diam. Ia sudah menyiapkan seribu kalimat jahil untuk menghadapi berbagai versi malam ini, dari yang paling ringan sampai yang paling buruk, dan tidak satu pun dari kalimat itu muat untuk kalimat sependek ini.
"Itu yang harus kamu katakan?"
"Itu yang pertama." Damian menatapnya lurus, dan lampu kuning memantul di matanya seperti dua titik kecil yang menolak berkedip. "Aku mau kamu mendengarnya lebih dulu, sebelum sisanya. Supaya kalau sisanya membuatmu mau pergi, kamu tahu bahwa yang tadi bukan taktik."
"Sisanya apa?"
"Hal yang belum kuceritakan." Rahangnya mengeras. "Tentang rumah sakit. Tentang ayahmu. Tentang bagaimana semua ini dimulai, dan hal-hal yang kulakukan sebelum aku mengenalmu dengan benar."
Hening yang jatuh sesudahnya berat. Kaeta menarik lututnya ke dada.
"Seburuk apa?"
"Cukup buruk untuk kutakutkan."
"Dan kamu mau menceritakannya sekarang?"
"Aku mau menceritakannya dengan Dokter Xavier duduk di sebelahmu." Damian menelan ludah. "Aku tahu itu kedengarannya seperti penundaan lagi. Mungkin memang begitu. Tapi ini bukan ceritaku sendirian, Kae, dan kalau kuceritakan padamu malam ini, itu cuma versiku. Kamu berhak mendengarnya dari dua sisi sekaligus, tanpa ada yang bisa kamu curigai sudah dipoles."
"Kamu berhenti di hampir tiap kesempatan."
"Aku tahu."
"Senin pukul sepuluh?"
"Di ruangan ayahmu. Aku sudah bilang pada Jordi, dan pada diriku, dan sekarang padamu." Ia menatap tangan sendiri. "Kalau kamu memutuskan tidak mau menunggu sampai Senin, aku bicara sekarang. Tapi aku mohon, jangan karena aku yang memaksa."
Kaeta menimbang. Ia memikirkan kalimat Mars di teras, tentang pasokan yang seret dan penanam modal yang menjauh. Ia memikirkan jari ayahnya yang menggosok cincin kawin. Ia memikirkan ciuman tadi pagi, dan betapa mudahnya ia memberi sesuatu yang selama ini ia tahan.
Ragu itu nyata, sepenuhnya nyata. Tetapi pria di sebelahnya memilih berkata "aku mohon" kepada seseorang yang tidak punya kewajiban mengabulkannya.
"Senin," ucap Kaeta akhirnya. "Pukul sepuluh. Dengan Daddy."
"Terima kasih."
"Jangan berterima kasih dulu." Ia mengangkat dagu. "Aku mencintaimu juga. Itu kuucapkan sekarang supaya kamu tidak berpikir aku mengucapkannya karena sudah tahu semuanya. Jadi kalau Senin nanti aku marah, kamu tahu kemarahan itu terjadi di atas hal yang sungguhan."
Mata Damian menyipit, sedikit lembap, sedikit terang. Ia tidak menjawab dengan kata. Ia hanya mengangkat tangan, telapak terbuka, dan Kaeta menautkan jarinya ke sana. Mereka duduk begitu cukup lama. Lampu kuning berayun sedikit karena angin, menggeser bayangan keduanya naik turun di dinding kayu.
"Dam."
"Hmm."
"Kalau aku tidak memaafkanmu Senin, aku tetap tidur nyenyak malam ini."
"Itu syaratnya?"
"Itu hakku."
"Baik," ucapnya, hampir tersenyum. "Aku akan tidur tidak nyenyak untuk kita berdua."
***
Minggu pagi mereka mengemasi tas dengan keheningan tertib yang jarang dimiliki rombongan itu. Jordi menggulung kabel ekstensi tanpa satu pun lelucon, Zeta mengunci semua jendela dua kali, dan Daniel menyapa Kaeta dengan senyum biasa, hanya sedikit lebih cepat berpaling. Ketika tas terakhir dimasukkan ke bagasi, ia berhenti di samping Kaeta.
"Selamat," ucapnya pelan.
"Kamu lihat?"
"Dermaga itu terlihat jelas dari beranda atas. Salahku punya mata." Daniel mengangkat bahu, dan senyumnya kali ini tidak dipaksakan. "Jangan minta maaf. Itu bagian dari kesepakatan kita, ingat? Aku yang memutuskan berhenti menunggu, kamu tidak perlu menanggung akibatnya."
Kaeta mengangguk. Beberapa hal paling sopan bila dibiarkan menjadi milik orang yang membawanya, dan ia memilih tidak menambahkan sepatah kata pun.
Mobil melaju menyusuri jalan berpinus. Jordi menyetir, Zeta di sebelahnya tidak mengacungkan peta, dan di kursi belakang mereka duduk dalam susunan baru: Daniel di dekat jendela kiri, Damian di jendela kanan, dan Kaeta di tengah, yang setelah satu jam perjalanan menoleh pada Damian.
"Bahumu kosong?"
"Selalu kosong untukmu." Damian tidak langsung bergerak. "Boleh?"
"Aku yang bertanya, kamu yang bilang boleh atau tidak."
"Boleh."
Kaeta menyandarkan kepala di bahu itu. Aroma sabun dan pinus dan sedikit asap api unggun melekat di kaus Damian. Tangan pria itu tidak bergerak, tidak melingkar, tidak menarik, hanya diam di pangkuan, memberi tempat. Itu cukup. Itu lebih dari cukup.
Di depan, Zeta menyalakan radio dengan volume sangat rendah. Sebuah lagu lama, lembut, tentang seseorang yang pulang. Tak seorang pun mengganti salurannya.
Ponsel di saku Kaeta bergetar satu kali.
Ia mengeluarkannya hati-hati agar tidak menggeser kepala, menahan layar di antara perut dan lutut. Nomor yang tidak disimpan. Pesannya pendek dan tanpa salam.
Senin pukul delapan pagi. Restoran tempat kau menyiramku. Datang sendiri.
Kaeta tidak bergerak. Jantungnya berdetak satu kali lebih keras daripada yang ia butuhkan. Di sebelahnya Damian mengira ia tertidur, dan dengan hati-hati, sangat hati-hati, menurunkan sedikit bahunya agar sandaran itu lebih nyaman.
Kaeta menatap layar sampai redup sendiri. Aku datang, katanya dalam hati, tanpa membuka mulut. Pukul delapan aku datang. Lalu pukul sepuluh aku dengar versi Damian.